Senin, 10 Mei 2010

KAMBING HITAM

Kambing, kambing, kambing, setiap saat negeri ini selalu perlu an memerlukan yang namanya kambing hitam.

Semua orang kenal kambing, sekalipun sering keliru dengan saudara dekatnya domba. Namun mereka yang sudah pernah belajar sedikit tentang peternakan akan tahu perbedaanya, punya jenggot bagi yang jantan dan ekornya mencungak keatas yang tampak jelas apabila dilihat dari belakang, tertutup bulu licin tersram minyak alami dengan bau khas menyengat yang selalu mengkilatkannya.
Seperti halnya domba, ada yang berbulu coklat, putih ataupun hitam. Bahkan yang terakhir memegang rekor karena jumlahnya dibantu dengan antrian kambing jadi-jadian.
Kambing termasuk makhluk yang suka beramal. Selalu mengikhlaskan namanya dicatut pihak manapun, mulai sesama hewan sampai manusia yang sering mengaku makhluk ciptaan Tuhan sebagi makluk paling sempurna sekalipun paling doyan menurunkan derajat, atau mungkin hanya menunjukan jiwa sosial mereka dengan merndahkan diri sebagai rasa toleransi terhadap makhluk lain?
Keistimewaan kambing memang patut dicatut. Serat kenyalnya patut dipuji sekalipun banyak yang harus menghindari anjuran Bu Dokter, kelincahan dan kelihaiannya panjat-memanjat patut di acungi jempol untuk kaki empat sebesar ukuran badannya, demikian juga kemampuan si jenggot nongkrong di pundak lawan jenis sering membuat manusia risih tapi iri dan kepincut ingin juga nyatut dan menirunya, sekalipun belum pernah di beritakan bahwa pria mampu menyaingi kehandalan bandot yang sanggup main 32 babak sehari semalam.
Kadang ada untungnya dicatut, terutama oleh pengipas bara. Sate kambing yang banyak dijual di seantero Jakarta misalnya, sekalipun di etalase disertai karkas bergantung plus kepala kambing lengkap dengan jenggotnya, bagi yang mengerti akan segera tahu kalo yang dimakan tidak mengandung minyak sengak khas kambing. Memang tidak semua begitu, namun banyak karkas yang bergantung dan daging cacah yang ditusuk-tusuk itu memiliki domba yang tentu berbeda dengan judul cerita.
Manusia Indonesia lebih sering lagi mencatut karena propesi sebagai plagiat masih cukup terbuka lebar. Apalagi kambing tidak pernah mendaftarkan hak kehitamannya di Biro Hak Paten swasta yang mulai bermunculan. Tidak heran yang pencatut kambing lebih banyak yang bukan mamaliasekalipun jagoannya sama berjenggot, namun jari kaki demapnnya lebih sempurna sekalipun yang sebelah kiri kebahagian menyetuh ampas buangan. Tetapi sering merasa beberapa tingkat lebih tinggi sekalipun tidak hanya insting, lebih suka nyate walaupun sekali-kali juga disate sesamanya dan berbagai keutamaan lain yang lebih sering hanya dikumandangkan ayat suci dari pada diamalkan sehingga tidak sedikit martabat mereka yang terlaknat daripada mahluk yang bernama kambing.
Sebagimana yang dibanggakan, mahluk yang sempurna tentu tidak sembarang catut. Tidak mengherankan kalau dalam aliran masa kehidupan sering bermunculan kambing-kambing pilihan. Bukan kambing sembarang kambing, hanya kambing hitamlah yang sering jadi obyekan. Tidak jarang mereka juga terpaksa ditangkap basah pada saat malam gulita kecebur lumpur kolam kelam penuh polutan di tengah hutan nan tanpa kebutuhan.
Kambing-kambing dalam berbagai warna banyak bermunculan, sedari zaman nabi Adam masih sendiran. Istimewahnya yang hitam lebih dominan dari hari ke hari.
Sengkon dan Karta adalah dua makhluk mulia yang sempat menderita setelah lelah melewai lika liku laki-laki perjalanan panjang yang harus dilalui dan akhirnya terpaksa pasrah disihir menjadi kambing hitam. Makan, minum dan tidur gratisdi hotel prodeo. Mereka berdua adalah bandot jadi-jadian yang sengaja dibikin untuk menyelamatkan yang mau selamat sekalipun mesti salah alamat, meratap di balik terali besi yang sama sekali bukan atraksi ilusi David Copperfield.
Manusia memang suka kambing, terutama yang hitam. Tidak mengherankan kalau masyarakat pun banyak yang rela dan tidak sedikit yang suka bila gadis cantik pujaannya disulap menjadi kambing hitam. Yurike Prastika yang sedang praktek sempat berubah kulit sebagai tumbal produsr film tanpa teks yang sudah kehabisan ide cerita sampai-sampai kualat gara-gara berani nyerempet kehidupan sangat pribadi Nyi Roro Kidul, senyum ceria Ria Irawan juga sempat tak lagi menawan ketika sempat diberitakan akan tega meninggalkan pengemar karena ingin hidup di bulan namun pesawatnya tersangkur. Beruntung masih nyangkut di bulan-bulanan sebagai imbas seorang kawan. Banyak lagi cewek lain yang telanjur di jerat sesama dalam kandang embek, termasuk Zarimah yang jari-jemari gemulainya lengkap lima. Bahkan yang disebut terakhir ini, sekalipun banyak yang mengelarinya Sang Ratu tetap saja harus menikmati hari-hari berjubah biru di luar shooting sinetron atau ... akibat sulap Mr. Robin yang salah sasaran?
Namun karena kelamnya malam, tidak semua kambing hitam yang terjerat harus sekarat seperi Karta ataupun mendekam lama di kandang situmbin seperi Zarima. Edy Tanzil adalah contoh kambing yang sangat lihai melumuri tubuhnya dengan berbagai jenis dan merek minyak-minyakan sehingga bukan hanya baunya yang sudah tidak karuan tetapi juga licin bulu alaminya bukan main dan dengan mudah aji belut putih warisan titisan Dewa Korup diterapkannya.
Kepopulerannya pun lenyap dan senyap bersama sirnahnya harta negara kaya raya ini dan cukup dengan kalimat sim salabim berubah wujudlah semuanya itu menjadi beban hutang rakyatnya.
Kambing hitam kadang bikin repot pandangan, Tan Hok Ling yang sekarang berjubah putih dianggap sebagai biang dari massa yang mengamuk, menjarah dan membakar hangus griya Oom Liem, kelihatan hitam. Apalagi dunia yang dulu diguleti Anton Medan itu memang hitam.
Kambing-kambing hitam berkeliaran. Kambing hitam pun bukan hanya hak milik para madani, apalagi belum dipatenkan di paramadina. Kasus penculikan aktivis meluluh lantakkan karir sang kambing hitam yang berbintang-bintang. Demikian juga penembakan mahasiswa Trisakti diawal gejolak reformasi juga tidak mau ketinggalan kereta. Sate kambing bukan hanya idola orang sipil, kelezatannya bisa dinikmati semua orang. Kecuali bagi yang sudah di-warning si jantung-mati.
Sejak dulu kambing tidak pernah pandang bulu, kalau sudah saatnya tiba pasti bandot akan memenuhi kewajibanya tanpa pilih-pilih. Kambing hitam pun demikian, lebih-lebih karena memang bulunya jarang ditampakkan. Sehingga orang nomor satupun bisa dibidiknya. Kegagalan Orde Lama misalnya sempat menghitamkan jasa Bung Besar sekian lama, demikian juga keruntuhan masa berikutnya melegamkan kulit Anak Desa. Bagaimana seterusnya? Mudah-mudahan tidak demikian, sebab yang berbuat bukan kambing hitam tetapi oknum manusia yang paling demen mengatasnamakan kambing kepada sesama, patut di curigai.
Kambing-kambing yang sebagian berbulu hitam, damai di kandang peternak, dijual dipasar dalam tangan taoke dan menjatuhkan leher di mata pisau jagal, sebagian sempat teriak minta tolong dengan dengan jawaban mantap echo dinding slaughter house.
Kambing-kambing hitam jadi-jadian pun demikian, akankah terus berkembang atau bahkan makin jadi? Sebab paling mudah mendapatkannya sekalipun cahaya matahari telah surup mirip lampu 5 watt, bahkan saat sudah terlalu gelap untuk disebut kelam. Suatu peluang bisnis yang sangat menantang bagi yang suka melanggar pantangan dan ingin berekspresi dengan pentungan.
Sekarang, di saat rumah Allah terbesar di Asia Tenggara porak-poranda seperti judul sebuah berita sebuah harian yang terbit di Barat Sumatra, basar harapan agar yang ditangkap bukanlah kambing hitam. Mereka hanya tahu rumput yang telah disabit dan tidak tahu rakit-merakit dinamit apalagi sekolah BOMB yang tentunya jauh lebih rumit.
Sudah waktunya manusia menunjukan jati diri, tanpa harus malu-malu sehingga tega menutupinya dengan atas nama kambing hitam yang terhormat sekalipun perilakunya kadang kelewat jahat. Tidak perlu merendahkan diri sampai mengibaratkan badan hina bak bintang apalagi direndahkan, dengan berbagai amcaman pula!

PESAN SPONSOR======================================================

Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :

http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto

========================================================TERIMAKASIH

ASPIRASI POLITIK BOLAK BALIK

Seorang Kepala Dinas pernah menggelari saya sebagai Pengamat Politik setelah membaca tulisan ini. ”Lulusan dari mana ?” Tanya beliau. ”Institut Politik Bogor, Pak!” Sebuah jawaban yang ringan itu membuat kami berdua tergakak-galak, sangat bebas. Sebuah kenangan lebih dari dua-belas tahun yang lalu ....

Mengamati perkembangan politik negara kita akhir-akhir ini tidak bisa dilepaskan dari krisis ekonomi yang berkepanjangan yang akhirnya melibas juga kepercayaan terhadap Pemerintah, dan mencpai puncaknya saat presiden kedua yang bercokol teramat lama di singgasananya, tergilas arus reformasi yang dipelopori mahasiswa.
Kejadian yang seperti ini bukanlah yang pertama di republik yang kita cintai, tetapi seperti merupakan ualangan dari masa lalu yang terjadi secara periodik, seiring berputarnya roda kehidupan. Akankah ini merupakn yang terakhir dan dijamin tidak terjadi ualangan yang sama di masa-masa yang akan datang?
MMasa Lalu 1
Melengok ke masa lalu, mulai dari merdeka sampai saat-saat terakhir pemerintahan Bung Besar. Presiden pertama republik ini namun meletakan jabatannya karena atas nama ketidak percayaan pemilik negeri tehadap kepemimpinannya, diikuti sikap pelucutan sikap politik, ajaran dan pemikiran sebangsanya yang tiba-tiba berubah menjadi barang najis yang harus dijauhi. Bung Karno dan segala berbau Penyambung Lidah Rakyat dikubur dalam-dalam di tanah air yang diproklamirkannya.
Nama dan jasa Pemimpin Besar Revormasi dalam membidani kelahiran Ibu Pertiwi dan menjalankan roda kehidupan berbangsa dan bernegara berakhir tragis di tangan bangsanya sendiri. Bahkan karena ualh segelintir orang memanipulasi sejarah dan memutarbalikkan fakta untuk kepentingan pribadi dan golongannya.
Bapak Bangsa ini hanya dikenal sebagai generasi pewarisnya sebagai proklamator bersama Bung Hatta, dan tidak lain tidak bukan hanya seonggok makhluk tua penyakitan tidak beradaya tetapi penuh ambisi, tak tahu malu. Semua terlihat jelas dalam film ”Penghianatan G 30 S/PKI” yang wajib diputar semua stasiun televisi dalam negeri, setahun sekali.
Putera Fajar yang akhirnya diakui juga oleh penggantinya sebagai Penggali Pencasila dasar negara negeri yang diproklamirkannya, terpatri dengan kekuasaan yang penuh korupsi, kesewenang-wenangan, ambisi pribadi dan sgala kebobrokan yang lain.
Adegium lama mengingatkan ”Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama”. Namun akibat kesan yang serba salah dan negatif itu maka mendengar namanya saja sudah sulit didapat sekarang ini, kecuali Soekarno sebagai bagian dari Dwi Tunggal bersama Proklamator Bung Hatta. Universitas Bung Karno berubah menjadi Universitas Pancasila dan banyak lagi usaha penghapusan yang dilakukan pada saat penguasaan baru memproklamasikan Orde Baru dan mengutuk habis-habisan masa lalu yang dinamakannya Orde Lama.

Masa Lalu II
Pengalaman masa lalu yang dianggap salah dan negatif oleh Orde Baru. Orde Baru konsisten dengan ke-Baru-annya dan berusaha memberi pelajaran berharga dalam menjalankan perputaran roda pemerintahan negeri ini ke arah yang lebih baik. Segala yang berbau Orde Lama dihancurkan, kalau masih diperlukan maka diganti dengan yang baru.
Begitulah kenyataannya, perbaikan dan kemajuan pembangunan seprti selalu digembar-gemborkan corong negara tercapai di segala bidang. Kesetabilan politik dan keamanan tidak diragukan tercipta diseluruh penjuru plosok tanah air. Masyarakat adil dan makmur tercapai sudah. Semua merupakan wujud nyata dari koreksi terhadap kesalahan masa lalu, katanya.
Disamping perubahan-perubahan kearah yang lebih baik, ada juga yang berubah wujud bak macan berbulu ayam, nyata-nyata tidak pas tetapi dipaskan. Presiden seumur hidup gaya MPRS diproklamirkan sebagai presiden seumur-umur, pembreidelan partai berubah menjadi fusi partai yang akhirnya disertai penyusupan calon jadi pemimpin baru. Belum lagi korupsi, kolusi dan nepotisme yang sedemikian rapih bak mahluk halus sehingga tak kasat mata. Tidak dapat dipungkiri kalau semua itu juga, merupakan manifestasi dari belajar kepada kegagalan Orde Lama.
Jadi kesimpulan sementara, yang namanya orde baru itu sama saja atau setali tiga uang alias sami mawon dengan segala borok yang dituduhkannya kepada masa lalu. Seperti menelan ludah yang sudah dibuang.
Dilihat dari kejatuhannya pun tidak berbeda nyata, sama-sama berasal dari krisis perut naik ke kepala menghasilkan ketidakpercayaan. Seakan ada memandang keruntuhan Bung Karno lebih terhormat, karena sebelum meletakkan jabatan sudah mempertanggungjawabkannya kepada mandat dengan Jasmerah yang akhirnya menjadi lampu merah bagi dua windu kekuasaannya. Lebih parah lagi, lengsernya Pak Harto diikuti penjarahan dan gugatan harta pribadi dan keluarga yang semua orang tahu tidak semuanya berasal dari gaji dan penghasilan seorang presiden.
Yang menarik, hal kedua ini tidak terjadi di masa lalu. Padahal kekayaan Sang Arsitek bercecer disepanjang jalan. Tidak ada masa yang menjarah huruf alif raksaksa di Masjid Istiqlal, memboyong patung pemuda ke rumah atau mimindahkan air mancur menari-nari ke halaman tempat tinggal pribadi, bahkan puluhan kilogram emas di Monumen Nasional tidak dilirik.
Kepergian Pak Harto dari singgasana juga diusir oleh kadernya sendiri, orang-orang yang sebelumnya matur dan nutur untuk dapat duduk dikursi dewan yang terhormat. Puncak pimpinan yang secara resmi memaklumatkan ketidakpercayaan masyarakat atas kepemimpinannya juga tidak lain dari orang yang semula dimomong dan ditimang-timangnya.
Barisan strategis yang telah disusun sedemikian rupa porak-poranda pada akhir kekuasaannya. Berubah haluan, berbalik menyerang. Tidak sedikit yang tanpa malu-malu menjadi Pahlawan Kesiangan menyalamatkan diri dan berkoar, mencaci-maki. Padahal saat beliau berkuasa, mereka bertekuk lutut jadi penurut yang selalu manggur-manggut dan rajin berdzikir, ”Inggih, Inggih, Inggih !”
Senasib dengan orator ulang yang digantikannya, kepergian Anak Desa dengan diikuti pengikis habisan segala bentuk dari yang berbau Soeharto. Semua dikubur dalam tumpukan jutaan lembar kertas-kertas pidato yang pernah dibacakannya.
Masa Kini
Reformasi total, mengoreksi segala yang diwariskan Bapak Pembangunan. KKN yang sudah membudaya dari tingkat pusat sampai ke RT, bahkan mencemari organisasi kecil sekalipun baik yang berhubungan dengan pemerintah maupun tidak, kebebasan yang terkekang atas nama demi kestabilan politik dan keamanan negara dengan penciptaan Undang Undang dan peraturan dan masih banyak lagi PR-PR lain yang harus dikerjakan Pemegang Tampuk Pimpinan Masa Reformasi kalau tidak mau didepak karena krisis kepercayaan berikutnya.
Tidak dapat dipungkiri banyak yang berubah pasca puncak aksi reformasi, angin kebebasan mulai berhembus. Partai-partai baru tumbuh subur bak cendawan di musim hujan. Mulai organisasi tua seperti Kosgoro, NU, Muhammadiyah dan saudara-saudara se-jaman-nya sampai kepada partai yang tidak bisa dilepaskan dari munculnya koreksi terhadap Orde Baru seperti PUDI.
Yang sangat memprihatinkan justru mulnculnya partai-parti yang diproklamirkan oleh para Pahlawan Kesiangan yang sebenarnya hanya mendomleng momentuk reformasi padahal, sama sekali tidak ikut andil dan bisa jadi anti reformasi itu sendiri. Bahkan ditengah kebutaan generasi muda tentang Proklamator bangsanya, muncul pula partai-partai yang berusaha memunculkan ajaran-ajaran beliau......Sang Marhaen.
Kegamangan generasi muda akan politik yang merupakan wujud nyata keberhasilan kurikulum sekolah ciptaan Orde Lama. Ironisnya dimanfaatkan menjadi ajang pesta partai yang lebih banyak menyorti keadaan politik yang sangat menarik sebab di sanalah tersebunyi harapan dan ambisi. Sementara krisis ekonomi tetap dibiarkan menjadi tontonan, sekali-sekali menjadi materi pidato yang enak untuk diucapkan. Padahal, akan jadi seperti apa bangsa ini kalau dikendalikan oleh orang-orang yang terus menari-nari di atas penderitaan rakyat, dengan dalih atas nama reformasi. Tidak mengherankan kalau keadaan yang dihasilkan hanyalah repot-nasi.
Retrospeksi kedua masa sebelumnya, tanpa belajar yang sebenar-benarnya dan mengambil pelajaran dari masa lalu maka Ibu Pertiwi akan kembali menangis karena putra bangsa yang sangat sedikit wawasan politiknya dan rakyat jelata yang merupakan kebanyakan anak-anak yang dilahirkannya hanya akan menjadi benteng nyawa bagi kenyamanan cita-cita para Pahlawan Kesiangan yang penuh semboyan. NATO, No Action Talk Only. Keadaan masa lalu yang dulu dikutuk. kembali terbentuk.
Clifford Ceertz tahun tujuh puluhan mengungkapakan pendapatnya tentang Orde Lama dimana dikatakanya bahwa Indonesia selalu tersandung dari satu sisitem ke sistem yang lainnya. Tetapi raun-raun tanpa ujung kejelasan ujungnya atau dikatakannya sebagai ”A State Manque” yang berarti suatu keadaan negara dimana aspirasi politiknya hanya bolak-balik dari satu sistem kesistem yang lain tetapi semuannya tak kunjung tercapai.
Bagaimana tidak, kenangan Orde Lama yang selama empat windu dikubur sekarang dibangkitkan lagi dengan segala pujian kefair-annya dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara. Akankah itu benar-benar terjadi? Hal ini tidak dapat dilepaskan dari kebiasaan untuk yang selalu mengutuk Si Terpuruk, memuja penguasa atau akan berkuasa dan mengenang masa lalu yang tidak pernah dialami langsung, sebagai sesuatu yang lebih indah indah dari segalanya.
Tidak menutup kemungkinan Orde Baru yang sekarang dihajat habis-habisan pada saat ini juga akan menjadi barang berharga penuh pujaan disuatusaat nanti, dipasca reformasi? Akankah terus bolak-balik seperti ini? Tanpa ujung pangkal yang jelas dan mantap.

PESAN SPONSOR======================================================

Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :

http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto

========================================================TERIMAKASIH

IBU

Tidak ada manusia yang pernah meremehkan peran-mu, kecuali mereka yang termasuk golongan bukan manusia !


Ibu. Begitu besar makna tiga huruf itu bagi kelangsungan perputaran roda bumi sehingga penghuninya sangat mengagumkannya.
Dalam tangis, anak kecil memulai isaknya dengan, ”Ibu...! Keselamatan disyukuri sebagai, ”Berkat doa Bunda,” Ketidaksengajaan dan keterkejutan pun diselingi, ”Duh, Biyung !” ”Akh, Ibu”. Juga menjadi awal kesalahan yang tetap dijalankan. Masih banyak kejadian lain yang menyentakkan hati nurani lebih sering membuat latah,”.....Ibu”.
Ibu pun merupakan suatu gelar kehormatan yang disandang seorang istri. Orang rumah Pak Lurah otomatis dipanggil Bu Lurah. Istri Pak Guru tidak sedikit memanggilnya sebagai Bu Guru. Tidak ada pembawa acara yang berani menolak bila harus menyebut pendamping setia Pak Gubernur sebagai ”Ibu Gubernur yang kami hormati”.
Namun sebaliknya kepada pendamping hidup Ratu Britania Raya di singgasana, tentu tidak akan ada wartawan yang menulisnya sebagai ”Raja Inggeris” karena artinya bertolak belakang. Demikian juga suami Bu Desa tidaklah patut disebut Pak Desa karena sekalipun setiap hari beliau hadir di Kantor Kepala Desa bukan untuk ngantor tapi untuk ngantar isteri ngantor.
Penghargaan untuk ibu bukan hanya sampai di situ, hubungan personal semata, tetapi terkait dengan hal lain sehingga melahirkan berbagai pesonifikasi. Penduduk negeri nan indah permai bak hamparan zamrud di katulistwa ini denan bangga menyebut tanah leluhurnya sebagai Ibu Pertiwi. Penghuni Batavia juga lebih senang menyebut dirinya tinggal di Ibukota, sama sekali bukan Ibukota Kecamatan ataupun Ibukota Kabupaten atau bahkan Ibukota Provinsi DKI Jakarta.
Dunia sana punya The Mother’s Day. Selain itu, negeri permai ini punya hari khusus untuk kaum ibu, yang diperingati setiap tanggal 22 Desember seperti yang baru saja kita peringati bersama yang belum lama ini. Terlepas dari anggapan bahwa hari yang lain adalah milik bapak-bapak toch sampai sekarang tetap tanpa peringatan hari Bapak. Pencetusan Hari Ibu merupakan pengejawantahan dari penghargaan yang sangat tinggi terhadap ketulusan seorang ibu.
Makna ibu sedemikian agung, tetapi berbeda nasib dengan ciri, sifat serta fungsi ibu sendiri. Di KTP ibu-ibu di tulis jenis kelaminya wanita, ada juga yang menuliskannya sebagai perempuan. Biodata yang dibagikan kepada peserta penataran-penataran sering mencantumkan status kawin/janda tetapi jarang yang menyertainya dengan kata duda buat pilihan janda jantan.
Konotasi negatif diarahkan orang bila kata ”wanita” disebut. Ada Wanita Tuna Susila (WTS), buat penghibur pria hidung belang yang lebih favorit daripada PTS, Pria Tuna Susila yang boleh jadi jumlahnya lebih banyak lagi bahkan bisa jadi pabrik WTS. Padahal kata WTS tidak selalu miring, bisa jadi sebutan yang pas untuk istri-istri yang ditinggal merantau oleh suami tercinta Wanita Tinggal Suami, demikian juga pas untuk gadis tetangga yang wajib dilirik Wanita Tetangga Sebelah.
Wanita sering dipanjangkan sebagai ”wani ditata” yang artinya bisa diatur alias bisa dibentuk sesuai keinginan, sehingga banyak ibu-ibu yang tidak mau menulis jenis kelaminnya dengan wanita. Banyak yang lupa, ada Polisi Wanita yang dikenal lebih konsisten dalam menjalankan tugasnya daripada yang tanpa embel-embel wanita.
Denikian juga kata ”perempuan” tidak lebih baik nasibnya daripada kata wanita. Per-empu-an, dapat di-empu-kan persembahan, dapat dipersembahkan. Tidak sedikit yang terpengaruh oleh pandangan sinis Motinggo Busye dalam romannya ”Perempuan” yang menceritakan perempuan pendamping hidup Maeda sebagai mahluk misterius yang dengan bangga dapat menari-nari lemah gemulai di balik kelambu perih dan derita suami yang sebenarnya sangat tahu apa yang selalu dilakukannya.
Sekarang dikalangan jet set populer istilah PIL yang lebih diartikan sebagai Perempuan Idaman Lain daripada Pria Idaman Lain yang menjadi penyebabnya. Tidak kalah negatifnya istilah perek (permpuan eksperimen) untuk menggantikan sebutan WTS. Bagi yang cuma sekedar bisa dipandang disebut sebagai perek juga, perempuan eksotis. Demikian juga kalau tingkatnya dianggap sedikit ganjil yang bisa dijadikan pengamatnya kelewat usil, permpuan eksentrik.
Banyak yang lupa perek-perek yang lain, yang sangat berjasa memanjakan sesama mahluknya dengan barang-barang elektronik yang tercipta dari kepiawaian tangan trampil mereka, perempuan elektro yang banyak bekeja di berbagai perusahaan elektronika.
Status janda, terutama yang cantik dan kaya akan segera diarahkan ke makna yang sangat buruk terutama oleh mereka yang merasa tersaingi, sebagai penggoda suami-suami daripada bahan koreksi para ibu dalam melayani para suami yang tanpa di goda sekalipun sudah lebih dulu menggoda karena sangat tergoda. Padahal status demikian tentu bukanlah harapan seorang istri, bahkan mungkin tidak terbayang tentunyakan sebelumnya. Apalagi dulu, saat-saat indah merangkai kata berencana untuk membentuk sebuah bahtera rumahtangga. Dia adalah tamu tak diundang yang datang dan memaksakan diri untuk disandang. Apapun sebabnya.
Ironisnya ejekan kepada para janda yang lanjut usiapun tidak kalah menyiksa. Tidak banyak yang berfikir, bahwa tanpa ibu yang merelakan suaminya berlaga di medan juang, tanpa ke ikhlasan mereka bila memikul gelar yang sering menjadi bahan cemoohan itu, maka Taman Makam Pahlawan yang sampai sekarang masih banyak lowongan itu akan lebih kekurangan penghuni lagi.
Istri-istri yang jelas-jelas punya suami sekarang dapat juga diartikan menyimpang. Istri simpanan makin jadi sorotan tetapi kameramen lupa atau pura-pura tidak tahu, siapa orang yang menyimpan istri bahkan digambarkan sebagai monster yang menakutkan. Sementara suami-suami yang penuh pengertian akan kebersamaan dalam mengarungi lautan kehidupan berumahtangga dianggap sebagai angota ISTI, Ikatan Suami Takut Isteri. Tauladan dari Siti Khodijah, istri Nabi Muhammad SAW sering dilupakna.
Dalam lajang awalpun, sebelum menjadi seorang istri, calon ibu yang disebut sebagai perawan sering menjadi bahkan gunjingan. Bukan terpengaruh ”Perawan di Sarang Penyamun” atau pun keberhasilan detektif swasta dalam ”Mencari Pencuri Anak Perawan”. Mereka yang baru tumbuh dewasa itu disebut juga ABG, Anak Baru Gede, suatu sebutan yang seharusnya juga diberi kepada anak laki-laki yang baru minginjak akil baligh. Demikian juga ada yang mengolok-olok dengan kepangkatan militer, Prada dan Pratu. Jarang yang melirik kilas balik perjuangan perawan suci Maryam yang melahirkan Utusan Allah, Nabi Isa a.s.
Kembali ke soal ibu-ibu yang begitu berat fungsi dan tugasnya sekalipun sekarang bisa tidak berkurang karena tidak langsung menjadi ketua Organisai ini-itu dan sebagainya. Seorang ibu mantan walikota mengungkapkan bahwa tugas yang paling membebaninya adalah tugas sehari-hari di rumah. Kewajiban sebagai ibu rumah tangga.
Ibu tersebut memang sarat dengan pengalaman bertahun-tahun menjadi ibu nomor satu di puluhan organisasi. Beliau sangat menyadari tugasnya sebagai seorang istri.
””Rumah tangga adalah nomor satu !” Begitu beliau selalu mengingatkan kami,” kata Bu RT yang pernah dicatat penghulu sebagai seorang istri mantan Ketua RT kami almarhum menimpali.
”Tugas-tugas yang lain, sesulit apapun akan dapat diatasi dengan otak ataupun tangan. Sendiri, berkelompok atau bisa juga minta bantuan orang lain. Namun soal beban membebani, itu bukan sembarang masalah, Nak!”

PESAN SPONSOR======================================================

Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :

http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto

========================================================TERIMAKASIH

MINYAK

Suatu saat, negeri kaya raya dengan hasil alam melimpah ini pernah harus mengimpor minyak goreng untuk masyarakatnya yang sebagian besar harus hidup di bawah garis kemiskinan ....

Yang dibaca seorang sarjana baru pertama kali yang baru lulus dari almamater tercintanya koran atau tabloid atau majalah setebal apapun tidak lain kecuali salah satu kata kunci ”lowongan”.
Entah makna apa yang lebih jauh menusuk nurani dan menjadi sangat berarti dari makna literlijk yang dikandungnya sehingga rangkaian delapan huruf tersebut sangat menentukan masa depan seorang intelektual muda. Sehingga berbingar-bingarlah hati ketika saat disibukkan membolak-balik halaman mencari judul iklan tersebut, ada yang menawarkan lowongan sebuah pekerjaan yang sangat menantang. Di pertamina pula.
Namun apa daya, tidak semua sarjana dapat diterima di perusahaan BUMN itu. Tetapi tawaran kali itu ternyata lain dari biasanya, semua jurusan bisa diterima. Akan ditraining sebagai tenaga pemasaran. Marketing executive, sebuah posisi ujung tombak bagi setiap perusahaan yang sangat menggelitik semua insan muda yang menyukai tantangan.
Tenaga marketing memang sangat menjanjikan. Bukan hanya penghasilan lebih yang dapat dicapai (tentu saja tergantung prestasi) tetapi juga sarana yang diberikan perusahaan biasanya maksimal. Anak emas perusahaan. Apalagi produk pertamina adalah kebutuhan yang sangat diperlukan masyarakat secara keseluruhan, tentu akan sangat mudah memasarkannya. Soal fasilitas, tentu saja lebih baik dari pada perusahaan BUMN lain yang bila dikalkulasikan dari tahun ke tahun hanya menggerogoti uang negara yang sudah kelewat baik.
Ternyata bukan hanya sarjana, bahkan yang tidak pernah menginjak bangku sekolahan pun dapat ikut meperebutkan tantangan itu. Bukan hanya yang pandai berdiplomasi dalam meyakinkan konsumen, karena produk perusahaan ini dapat dipasarkan siapa saja. Sampai yang gagap atau bisu sekalipun, sebab yang diperlukan hanya meneriakkan satu kata atau menuliskannya besar-besaran, ’Minyak !’.
Terlepas dari rumor yang menggelitik tentang sarjana baru di atas, kehidupan manusia memang tidak bisa lepas dari benda bernama ’minyak’.
Plastik tipis yang digunakan sehari-hari untuk membunkus ikan asin sekalipun berasal dari minyak bumi yang diolah dengan teknologi modern, demikian juga aspal yang menguatkan ataupun hanya mengotori jalan adalah bagian dari minyak bumi yang telah lama digali dan diolah di negeri kita. Sekarang bahkan minyak bumi dimanfaatkan sedemikian rupa sehingga residunya pun dapat digunakan untuk memperindah wajah yang sudah cantik, padahal selama ini terbuang atau bahkan mengotori produk yang dihasilkan.
Melirik masa lalu, nenek moyang kita pun sudah telah mewariskan berbagai macam minyak. Minyak kelapa yang diolah dari kopra dengan cara yang sangat sederhana tetapi sangat besar manfaatnya sampai minyak untuk kepentingan tertentu seperti minyak nyong-nyong untuk mendekatkan satu hati ke hati lain yang menghendaki. Ada juga minyak landak untuk mengobati luka dan borok yang tidak dapat disembuhkan dokter karena jaman mereka memang belum ada dokter. Selain itu ada lagi minyak binatang yang lain seperti minyak lintah dan minyak kecoa untuk kepentingan calon ibu dan bapak.
Sesuai dengan perkembangan teknologi, maka minyak yang dikenal masyarakat pun sudah dalam berbagai bentuk dan dari berbagai negara. Sejak bayi merah baru lahir paraji yang menanganinya sudah mengenalkan mereka dengan minyak bayi atau yang lebih populer dengan baby oil. Anak kecil pun sekarang bisa menikmati ekstrak penghuni laut raksaksa yang ganas cukup dengan menelan butiran bening minyak ikan. Yang dewasa lagi dapat memperindah rambutnya dengan minyak rambut.
Bau khas yang menjadi ciri manusia hidup warisan leluhur yang melekat dengan keringat pun dapat berubah setelah hidung menciumnya, dikelabui minyak wangi ekstra melekat dan sebangsanya. Ketika ada yang tidak sadarkan diri untuk sementara maka minyak kolonyo mengambil peranan. Bahkan saat jasad melepas dari alam kehidupan untu selama-lamanya pun kepergiannya masih di iringi dengan minyak wangi air mata duyung.
Ternyata manusia semenjak hadir ke permukaan dunia menjemput hayat sambai akhirnya disholatkan sebelum ditinggalkan sendirian di liang lahat tidak pernah terlepas dari benda ajaib bernama ’minyak’.
Berbicara tentang minyak dan teknologi, maka entah hanya sekedar rumor atau ejekan bahwa negara kita ternyata beberapa langkah lebih maju. Bukan hanya mengolah minyak bumi yang makin maksimal ataupun pemanfaatan sumber daya hayati sebagai bahan ekstarak yang makin meluas tetapi juga penggunaan bahan baku non hayati yang sudah dari dulu ada.
Minyak angin adalah bagian kehidupan penghuni pertiwi. Menurut sumber yang dapat dipercaya, selama perjalanan keliling dunia, seorang pejabat mendapat kesulitan bahkan tertawaan ketika berusaha membeli untuk bahan yang namanya air oil di apotik. Tidak pernah ada. Apalgi tejual bebas di warung-warung kecil seperti disini.
Di tengah kencangnya promosi untuk mencintai produk dalam negeri ternyata justru makin banyak beredar minyak import. Setidak-tidaknya import numpang nama semata. Minyak lintah dan minyak kecoa misalnya, keduanya lebih dikenal para bapak dan ibu sebagai minyak Cina. Padahal sama sekali bukan produk asal impor dari negeri Ho Chi Min tetapi hanya buatan lokal. Seratus prosen produk lokal, karena di Indonesiapun banyak kampung Cina, bahkan tidak jauh dari Batusangkar ada juga Guguak Cino yang dilafalkan dengan bahasa Indonesia sebagai Guguk Cina.
Sampai sekarang, kehidupan manusia tidak dapat terlepas dari minyak. Mungkin karena menurut perhitungan yang menuturkan bahwa keberadaan manusia itu sendiri tidak pernah lepas dari minyak! Itu hanya cerita, entah siapa narasumber utama cerita itu, mungkin dari si Parni Hastjuti atau pun Parno Gentolet bin Porno Amat.
Oleh karena itu betapa keras jeritan ketika harga minyak naik, sebagai dampak hukum pasar ataupun karena standar harga disesuaikan oleh pemerintah. Tak sedikit mengundang protes. Tentu saja teriaknya akan lebih garang dan lantang lagi. Apalagi minyak sempat menghilang di pasaran.
Dari sekian banyak yang menjadi jalan hidup ataupun melengkapi kehidupan manusia, maka minyak goreng merupakan minyak yang paling dibutuhkan sekaligus paling gampang naik. Sebagaimana minyak lainnya, minyak goreng pun selalu mendapat kesulitan menurunkan harga dirinya.
Minyak goreng atau orang Batusangkar dan masyarakat Minangkabau menyebutnya sebagai minyak makan, sekitar dua atau tiga tahun lalu menjadi pembicaraan yang sangat hangat karena harganya yang semakin menanjak. Bahkan beberapa waktu yang lalu saat krismon menjadi bagian latah lidah nenek-nenek sekalipun. Cairan pengisi penggorengan ini sempat sembunyi dari bisingnya teriakkan ibu-ibu di pasar, kalau tidak dibilang lenyap dari pasar dan disertai harga yang melambung tinggi, kalaupun ada.
Problematika kenaikan harga minyak goreng sebenarnya dari tahun ke tahun sama saja alias sama mawon. Harga bahan baku Crude Palm Oil atawa minyak kelapa sawit yang merupakan bahan baku minyak goreng sangat banyak diproduksi di Indonesia, mencapai 4,5 juta ton per tahun. Kemudian kapasitas produksi pabrik minyak goreng juga tidak sedikit, mencapai 4,0 juta ton per-tahun. Belum lagi minyak goreng yang diimpor atau berbahan lain selain CPO itu, seperti minyak jagung, minyak zaitu, minyak kedelai dan sebagainya.
CPO yang dihasilkan perkebunan tanah negeri ini, 1,9 juta ton diantaranya diizinkan untuk diekspor yang berarti kebutuhan untuk dalam negeri berkurang. Jangan harap kapasitas produksi pabrik minyak goreng yang kekurangan bahan baku itu dimaksimalkan dengan CPO impor. Soalnya harga CPO di pasar internasional jauh lebih tinggi daripada minyak goreng yang dihasilkan dalam negeri sekalipun.
Sebagai bandingan, sekalipun pada dua tahun terakhir sempat dikenakan pajak ekspor sebesar 40 hingga 70 prosen, pengusaha tetap meraih keuntungan yang menggiurkan dengan mengalirkan CPO ke negeri seberang. Nah, kalau demikian, tentu bisa saja bukan hanya 1,9 juta ton jatah ekspor itu saja yang keluar. Maklum, namanya minyak, daya kohesinya cukup tinggi. Apalagi ditambah gaya tarik yang membengkakkan kocek.
Kalau dipikir balik, dua tahun lalu, dimana uang mata uang Monica baru beberapa ribu lebih sedikit saja pengusaha lebih memilih mengekspor CPO-nya yang notabene disubsidi dengan pajak rakyat. Apalagi saat sekarang, ketika reformasi bergulir dan kurs dollar setinggi Monica dan berbanding terbalik dengan Ateng yang makin jungkir balik. Tidakmengherankan apabila minyak goreng makin hengkang dari pasaran dalam negeri. Sekalipun ada, harganya susah direm seperti halnya ibu-ibu yang sangat sulit mengurangi laju keinginannya menggunakan minyak goreng diantara kepul dapurnya.
Minyak goreng bersama saudara lain pabriknya, mentega, merupakan salah satu bahan pokok yang sangat diperlukan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan ditetapkan dengan keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan nomor 115/MPP/Kep/2/1998 tanggal 27 Februari 1998, minyak gorang dan mentega sebagai salah dua bahan pokok dari sembilan bahan pokok setelah beras dan gula pasir. Kemudian baru disusul daging sapi dan ayam, telur ayam, susu, jagung, minyak tanah dan garam beryodium.
Di tengah krisis yang terus membuntuti, harga minyak goreng juga bervariasi menyesuaikan dengan keadaan. Sungguh bertolak-belakang dengan penghasilan masyarakat yang relatif tetap atau bahkan makin berkurang, kecuali bagi sebagian petani yang disaat seperti ini justeru sedang menikmati harga produk perkebunannya yang sangat melambung. Tidak ada kata yang lebih tepat kecuali berhemat !
Menghemat minyak goreng berarti menghemat dalam banyak hal. Bukan hanya minnyak goreng cair yang dapat dibeli saat pasar murah dan disimpan lamadalam drum sampai tengik. Tetapi juga harus memikirkan masa depan, menghemat biaya kesehatan akibat mengkonsumsi lemak tak jenuh. Mulai dari obesitas yang membuat badan semakin gembul dan berat, jerawat yang ringan sehingga dengan mudahnya menempel di hidung remaja, sampai beberapa gangguan kesehatan lainnya yang berhubungan langsung dan tak langsung dengan konsumsi minyak goreng.
Mengurangi pemakaian minyak goreng tanpa mengurangi nikmat masakan memang tidak mudah tetapi akan sangat banyak manfaatnya untuk meningkatkan nikmat sehat. Menggunakan minyak goreng secara berulang-ulang juga bukan bukan cara penghematan yang tepat. Bahaya kanker mengincar konsumen yang umumnya tidak tahu pasti kalau minyak goreng yang digunakan adalah jelantah.
Kalau upaya yang ditempuh untuk menghemat tidak tepat dan menjadi rawan kanker maka buka lagi menghemat namanya. Apalagi kalau tidak ada usaha untuk melakukan penghematan, apalagi disaat sulit seperti sekarang ini. Kanker ganas yang lebih ganas dari yang paling ganas siap mengintai.
Bisa-bisa kantong kering atau kata Dewi Sukarno, ”Saku rata !” alias indak bapitih ....

PESAN SPONSOR======================================================

Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :

http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto

========================================================TERIMAKASIH

Minggu, 09 Mei 2010

K K N

Banyak sekali kepanjangan KKN, dirangkai menjadi kalimat atau sekedar dipantas-pantaskan saja.

Karuhun Kenegerian Ngastina mungkin satu-satunya dialami ini yang dulunya tgak berdiri dengan sponsor para mahasiswa yang hampir mengakhri masa kuliahnya, dengan mengabdikan kepada masyarakat atawa kuliah kerja nyata. Selain jelas berbeda dengan Negeri Astina yang ada dalam alam pewayangan juga sebenarnya Ngastina hanya merupakan bagian dari Negeri Khayal yang tidak ada di alam nyata.

Sebagai negeri yang didirikan oeleh para idealis dari pusat penggodongan intelek, tentu saja Ngastina sustu negeri republik yang menanut sistem demokrasi. Ada Kongres Kenegrian Ngastina yang tidak kalah majemuknya daripada Kongres di Negeri Paman Sam. Demikian juga ada Kabinet Kekayaan Ngastina merupakan susunan dewan menetri yang berada dibawah Kepala Kabinet Ngastina setingkat Perdana Mentri di Buckinghum. Tetapi sebagai bagian dari Negeri Khayal tentu pucak tertinggi kekuasaan dijalankan oleh seorang raja.

Adalah merupakan salah stu kisahkasih kalau dalm kekuasaan raja yang telah turun temurun juga sedikit imbas negatifyang juga ikut-ikutan turunmenurun plus senggol sana senggol sini sehingga kedamaian demokrasi Ngastina yang dirintis para pelopor makin lama makin jauh dari harapan., makin melenceng dari tujuan negara seperi halnya yang tertuang dalam undang-undang.

Perhatian yang berlebihan terhadap golongan tertentu misalnya, yang jelas-jelas melanggar aturan main yang telah digariskan bukan hanya menyebabkan kelompok yang lain merasa tersingkirkan tetapi benar-benar dibuang jauh-jauh dari kekuasaan atau bahkan terpuruk ke dalam kandang sitimbin. Keadaan demikian merupakan salah satu warisan kecil-kecil numpuk, mungkin lama ngastina mengarungi kedemokrasianya ternyata makin ada kecenderungan ke arah sana.

Boleh saja kalau kantong-kantong nasi yang dikambinghitamkan, boleh jadi dialah sebab utamanya yang akhirnya mendorong untuk menghalalkan segala cara termasuk kasak-kusuk nyebeng. Hal inilah yang akhirnya terwujud dalam bentuk personil Karena Korupsi Nyangkut, Kenal Kolusi Nempel dan tidak boleh dilupakan Kong Kalingkong Nepotisme pun ada disegala bidang kehidupan bangsa dan bernegeri.

Perjalanan panjang yang di alami ngastina dalam mengarungi peredaran galaksinya yang sudah demikian mengakar atu bahkan boleh disebut mendarah daging atu tidak bisa lagi menolak kalau dikatakan sudah membudaya, tentu hal yang demikian yang berlangsung dari waktu ke waktu menjadi bahan kajian para intelek. Kaum Kerja Negeri ngastina tidak lepas menjadi sorotan, karena memang mereka adalah salah satu penikmat semacam upeti yang disetor masyarakat kepada bangsanya tercinta. Sementara para pembayar sendiri sebenarnya kebanyakan termasuk pelaku kerja ngelangsa alias menderita. Sehingga tak mengherankan, begitu gelombang kehidupan ekonomi negeri terguncang menyulut terbakarnya kumpulan krisis nyusup atau tersembunyi termasuk Krisis Kepercayaan Negeriawan yang dianggap sebagai bagian yang terlibat dalam menodai nilai perjuangan para pendahulu.
Sorotan utama tentu saja diarahkan kepada para wakil masyarakat yang duduk di Kursi Kerja Ngantuk, yang mestinya mereka menyerahkan jeritan hati nurani rakyat dengan kekhasan gayanya, kritis-kritis ngomongnya. Bukan hanya Keluh Kesah Nangis seperti merasa ketakutan Kehilangan Kursi Nantinya, pada periode pemilihan umum kedua setengah tahun berikutnya. Sehingga mereka tidak berbeda dengan Kumpulan Kepala Nunduk karena asik merasakan kontak kantuk nikmat dan kalau ada ketukan palu ketua sidang jadilah suara mereka alunan Koar Kepala Ngangguk.

Padahal anggota Kongres Kenegrian Ngastina jelas-jelas dipilih melalui prosedur yang sangat lama dan mahal serta melibatkan segenap isi negeri Ngastina tetapi ternyata tidak lepas dari intaian inyiak balang untuk Kedap-Kedip Numpang, sehingga muncullah orang-orang yang kadang tak tentu rimbonya tapi bisa dikenal dari empal-empal di belakang nama kecilnya ada hubungan dengan si anu plus dan ada gesekan dari si Ani dan tidak lupa salam tempel untuk si Ana. Jadilah pemilihan umum menjadi pemilihan orang-orang tak dikenal orang partainnya seklipun tetap harus jadi karena memang Kecil-Kecil Nomornya.

Padahal betapa sulitnya untuk dapat sepuluh besar sekalipun kontestan pada setiap pemilu tidak pernah kurang kurang dari oleh 123 partai. Berberapa ketua partai malah harus hilang dari peredaran, namanya sekalipun tidak dalam daftar yang di umumkan kepanitiaan pemilu, ngastina atawa tidak kebahagiaan nomor. Nama-nama meraka hanya ada di Kepanitiaannya Kepiluan Ngastina.

Sementara itu cendiak pandai membuktikan kekonsistenan dan kecendekiawanan mereka dengan menyeruhkan suara hati rakayat yang makin menderita dalam berbagai krisis dan tiba-tiba ditambah dengan kebijakan baru yang justeru makin menindih kehidupan Keluarga Kecil Ngisor (dibawah) sehingga mereka bak jatuh dari tangga kejebur sumur, eh dinding sumurnya runtuh! Reformasi total! Mau tidak mau harus dilakukan sehingga roda kenegerian tidak jadi kenegerian, jalan normal seperti harapan seluruh rakyat dan cita-cita pendiri negeri di alam kelanggengan. Tentu saja sorotan tajam reformasi pada keadaan sumber daya manifulasi eh manusia di Ngastina yang sudah begitu melekat dengan korupis, kolusi dan nepotisme yang merupakan sumber musibah bagi rakyat tetapi menjadi ladang berkah bagi para pejabat.

Kurung Koruptor Negeri! Kikis Kolutor Nyinyir! Dan juga singkirkan sistem Kerabat Keluarga Nepotis! Dan berbagai jargon lain bermunculan memenuhi semua sudut jalan di Negeri Ngastina yang memang cuma sedikit. Inti dari semuanya tidak jauh berbeda memerangi jajaran kenegerian dari para koluptro, kolutor, dan nepotis.

Namun demikian karena ketebatasan news, entah bagaimana kelanjutan perjuangan para intelek itu sekarang. Tetapi berita terakhir yang sempat tersiar melalui media elektronik yang makin dekatdan berpihak kepada para reformis, mereka tidak sikucapang sikuacapeh sikua tabang sikua lapeh yang akhirnya malah dapat mngakibatkan iklim kehidupan bernegeri makin ngeri dan tidak menentu tetapi akan selalu mehasilkam produk reformasi yang dapat membangkit batang tarandam karena sadar akan nasib negeri Ngastina yang makin terpuruk dimata negeri ngeri khayal tetangganya.

PESAN SPONSOR======================================================

Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :

http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto

========================================================TERIMAKASIH

DEMONSTRASI INTELEK DAN DEMONSTRASI IN TELEK

Demo, demo dan demo. Setiap ari ada demo, itulah keadaan kita saat menuju orde impian, repot-nasi, eh ... reformasi.

Intelek dan in Telek adalah dua buah kata yang boleh saja dibilang ’bagai pinang dibelah dua’ dengan mandau karatan, tumpul pula. Jadilah kedua belahannya tidak saling sama.

Dalam kamus umum bahasa Indonesia (KUBI) yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, tertulis, bahwa intelek dapat diartikan sebagai daya atau proses pikiran yang lebih tinggi yang berkenaan dengan pengetahuan, daya akal budi, dapat juga diartikan sebagai terpelajar atau cendekia.

Sedangkan in Telek adalah dua kata yang tidak hanya mengandung kesatuan arti tetapi juga asal muasalnya dari dua negeri yang saling berjauhan. In sendiri berasal dari negeri Tante Elizabeth dan Telek adalah salah satu kata yang ada dalam bahasa sehari-harinya Si Mas yang beratnya tidak pernah dinyatakan dalam gram.

In artinya di dalam dan Telek kira-kira analog dengan ransum bermutu tinggi yang di patuk ayam, selanjunya mengalami proses biologis yang sedemikian rumit dalam tubuh dan setelah zat-zat yang berguna untuk hajat hidupnya sebagian besar terserap, ya.....dikeluarkan! Kira-kira begtulah telek dan jadilah telet untuk sebutan jelek-jelek.

Lantas apa hubungannya dengan demonstrasi? Sekali lagi, kata KUBI yang sama, demonstrasi adalah pernyataan proses yang dikemukakan secara massal atau unjuk rasa. Suatu kegiatan yang sedang marak akhir-akhir ini.

Tidak boleh dilupakan bahwa sangat besar peran demonstrasi dalam perjuangan berdiri dan tegaknya Orde Baru yang penuh liku-liku. Kalau diumpamakan Orde Baru adalah suatu mahluk dengan sejuta nyawa, maka tidak kurang dari puluhan atau ratusan bahkan ribuan nyawa cadangannya adalah demonstrasi.

Demonstrasi-demonstrasi intelek yang dilakukan para cendekia yang digodog dalam Kawah Candradhimuka, penuh pemikiran murni dan jernih menyebulkan inspirasi suci dalam menjalankan roda kehidupan berbangsa dan bernegara.

Namun demikian tidak boleh dilupakan atau diabaikan, bahwa demonstrasi intelek pun bisa tiba-tiba berubah menjadi demonstrasi in Telek. Karena dalam ketertiban unjuk massal cendekia muda dengan misi sucinya sering menyusup oknum-oknum yang sengaja ataupun tidak sengaja tetapi dapat merusak keluhuran perjuangan mahasiswa, memanfaatkan situasi untuk perut yang perlu diisi dengan sedikit aksi atau cuma sensasi.

Demonstrasi intelek mempunyai misi yang berbeda dengan para demontrasi in Telek yang sering tiba-tiba ada di tengah-tengah dan tidak bisa dibedakan lagi (sekilas) dengan para cendekia. Warga kampus membawa pemikiran idealis yang realistis, sedang golongan penyusup berpola pikir kolonialis yang kapitalis, sehingga tidak jarang merampas hak-hak orang lain seperti halnya penjajah dan tidak segan-segan menjadi penjara dan tempat yang paling tepat buat mereka sebenarnya bukan ikut dalam barisan demonstrasi intelek tetapi membuat aksi sendiri berbondong-bondong masuk penjara.

Penyusupan pendatang gelap dan akibat-akibat yang ditimbulkannya dalam unjuk rasa bukanlah masalah baru. Sejarah negeri ini mencatat suatu kejadian yang tidak boleh dilupakan, Malari. Peristiwa yang hampir membumihanguskan Ibukota tercinta dan seluruh negeri ini.

Malapetaka 15 Januari, tepatnya terjadi tahun 1974. Yang semula hanya aksi mahasiswa di lingkungan Kampus Kuning. Kemudian turun ke jalan penuh yel-yel tapi akhirnya masuklah para intelek diantara gegap gumita langkah intelek dan suasana menjadi huru-hara yang brutal. Perusakan pembakaran dan penjarahan!

Sementara Hariman Siregar, Sang Singa Dewan Mahasiswa The Yellow Jaclet (DM-UI), jadilah Bung kita ini bak singa ompong yang tidak lagi dapat mengendalikan massa yang semula digerakkannya. Karena memang sebagian bukan lagi massanya, para singa kampus. Fatalnya gigi palsu buat sing belum ada atau tidak ada yang mau ambil resiko untuk memesangkannya? Sudah bisa ditebak, tak lama kemudian perintah penahanan terhadapnya turun langsung dari Pangkopkamtib Jendral Soemitro. Jadilah Bung gagah kita Penghuni Hotel Prodeo.

Salah satu arsitek Orde Baru yang baru saja meninggalkan kesemua fana ini menghadap Sang Kholiq, Jendral Soemitro mewariskan Kepada kita catatan kejadian yang sangat memprihatinkan dan tejadi hampir 2 windu yang lalu itu scara rinci, gambalng dan jelas dalam ”Pengkopkamtib Jendral Soemitro dan Peristiwa 15 Januari 1974” yang diterbitkan sebuah penerbit di Jakarta.

Belajar dari sejarah maka par cendekiawan muda dalam menyampaikan aspirasi sucinya bukan bukan hanya harus tetap lurus dalam jalur ke-intelekkannya tetapi juga harus membentengi barisannya dari para intelek yang punya niat jelek. Pagar betis lengan dan pikiran!

Yang lalu biarlah berlalu sekarang tinggal penghuni kawah candradimuka wujudkan suatu penyampaian aspirasi yang intelek dalam situasi yang intelek pula, sehingga semuanya benar-benar menunjukan ke-Intelekan.

PESAN SPONSOR======================================================

Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :

http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto

========================================================TERIMAKASIH

KRISIS MONETER

Krisis Moneter, sebuah kenangan .... Saat yang menyedihkan, lebih sedih lagi kalau saja Tuhan tidak memperkenankan saya menjadi saksi kenyataan itu.


Menikah :

CHRIST (Ish)

dengan

MONT (Ether)



Mungkin baru kali ini judul sebuah tulisan merupakan bagian dari sebuah undangan atau pemberitahuan tentang pernikahan sepasang merpati. Boleh jadi untuk pertama kali pula ada pernikahan yang lebih sepektakuler dari pada pernikahan Charles-Diana yang super dahsyat itu. Dan tidak akan pernah terjadi bagi Raja-Ratu Sehari yang lain adalah nikmat pernikahannya bukan hanya diperbolehkan menjadi buah bibir yang suka mencibir tetapi juga kenikmatannya boleh dinikmati kalau tidak dibilang harus dirasakan oleh semua orang.

Begitu mahalnya harga sebuah pesta pernikahan, sampai-sampai menimbulkan efek yang menyebabkan harga barang berpindah. Sabun colek yang sebenarnya tercolek sedikit dalam pesta itu karena dibutuhkan untuk cuci piring hijrah memakai ke tangga Rinso yang entah akhirnya harus melejit ke barisan yang lebih tinggi. Kiwi pindah lokasi ternyata bukan hanya terjadi di Chilie sebagai peristiwa tahunan tetapi harus tiba-tiba mengepakan sayapnya yang tidak pernah untuk terbang karena mungkin sudah sangat tidak betah harus memoles-moles alas kaki, tanpa balas kasih seorang ibu maka kaleng yang tidak jarang menjadi ”ibu-ibu” bagi tangis rengek balita pun berdenteng-denteng melantunkan irama turut meramaikan pesta pernikahan Christ dan Month. Barang-barang Pramuniaga berinisiatif bertanya, ” Nyari apa sich, Bang?” Bukankah menjadikan orang kreatif suatu hal yang baik?

Sebagai orang awam, bisa saja terima alasan kalau semua ini terjadi disebabkan oleh pernikahan keduanya yang keberat-beratan sehingga kurs dollarnya The Six Million Dollar Man naik daun. Terutama untuk barang-barang import atau bahan bakunya harus didatangkan dari manca negara yang notebennya harus dibayar dengan mata uang Oom Clinton. Tetapi juga ada yang tidak bisa diterima akal sehatnya Bimoli sekalipun, harga seikat bayam saja tiba-tiba menjadi seiris paha ayam, harga kangkung tiba-tiba bergelayutan di leher kaya kalung. Atau kita tiba-tiba jadi linglung demi untung memenfaatkan suasana yang seharusnya kita tidak bingung.

Sehingga produk lokal yang jelas-jelas tumbuh berkembang di tanah warisan leluhur ini, dipelihara oleh tenaga ahli yang sama sekali tidak pernah tahu bau sabun import sekalipun, disuburkan oleh pupuk yang bukan hanya produk dalam negeri tetapi juga berasal dari diri sendiri, eh dengan alasan krismon ikut-ikutan pindah harga.


Sementara lidah masyarakat semakin fasih mengucapkan ”krismon”, terbentuknya kabinet pembangunan VII yang dimotori oleh Presiden dan BJ Habibie sebagai wakilnya merupakan titik cerah yang sepenuhnya haus didukung oleh segala lapisan masyarakat. Tidak ikut-ikutan mencari ikan di limbah pabrik kimia kecuali kalau ingin mati karena kalau makan ikan yang keracunan ataupun mampus sebelum dapat ikan.

Kalau melihat aksi-aksi mahasiswa di ”dunianya” yang semakin semarak, karena dalam dunia mereka semua bisa dengan mudah dapat diatur seperti membalikkan telapak tangan. Hanya satu hal yang sangat sulit dilakukan mahasiswa dalam menjelajahi kehidupannya, yaitu memikirkan studi dan masa depannya sendiri! Padahal itulah perasan keringat orang tuamereka, mereka memasukkan mereka ke bangku perkuliahan yan tidak murah. Fatalnya pemikiran seperti itu mukin belum ada di dunianya.

Ketegaran dan ketenangan masyarakat dalam menghadapi cobaan dari Yang Maha Kuasa ini akan melapangkan setiap jalan dari segala usaha yang dilakukan Pemerintah. Semua kita percayakan kepada mereka membidani dampak pernikahan Christ dan Month ini.

Kebijakan Pemerintah untuk menikan suku bunga Sertifikasi Bank Indonesia (SBI) hingga 45 persen untuk waktu satu bulan yang mau tak mau mencongkel bunga deposito bank-bank hingga melambung tinggi mencapai 67.5 persen merupakan usaha untuk menyiasati pernikahan sejoli yang tidak dikehendaki di atas, yang seharusnya mendapat dukungan plus memanfaatkannya (kalau punya rupia berlebih tentunya). Setidak-tidaknya tidak iktan sikap Kurt Schuler dengan pengalaman Schulernya bersama CBS alias Dewan Mata Uang untuk menjadi Dewan Penyelamat Uang bagi beberapa negara.

Sebagai bagian akhir dari tulisan ini tidak da salahnya kalau penulis berpesan agar Christ dan Month yang memaksakan diri menikah untuk segera berpisah setidaknya pisah ranjang yang akhirnya cepat bercerai atau:

Hai Month dan Christ
Kalian bikin kami harus makin irit
Padahal kehidupan sudah sedemikian pahit
Atau kalian puas melihat kami semakin pelit
Jangan bikin kami semakin sulit
Berpisahlah walau sakit
Segeralah pergi walau ke lanit
Atau....Kami usir kau hingga terbelit-belit!

PESAN SPONSOR======================================================

Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :

http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto

========================================================TERIMAKASIH

PERUT UNTUK PARIWISATA ATAU PARIWISATA UNTUK PERUT

Tulisan 1997-an nich, mengomentari tentag iklan film seronok yang terpampang setiap hari di koran-koran lokal. Dimuat di KABA LUHAK NAN TUO kebanggaan kami ....

RAMADHAN kemarin yang baru saja berlalu meninggalkan kesan tersendiri, betapa kita sangat mudah menilai pihak lain sementara pula menilai perilaku sendiri. Dikaitkan dengan hari Pers Nasional yang juga diperingati beberapa hari setelah lebaran, maka pers yang kita cintai (Alhamdulillah tidak termasuk KABA LUHAK NAN TUO) kebanyakan adalah pemasang iklan film yang melakukan hal yang sangat di sayangkan tersebut. Oleh karena itu ulasan ini hanyalah merupakan media pengingat yang mudah-mudahan bisa mengingatkan yang masih ingat kalau saat itu memang benar-benar tidak ingat dan tentu saja perlu diingatkan tetapi tidak ada yang mengingatkan.

Sandra Bulloc tersenyum manis dalam peluk Chirs O’Donnel. Ia mencuri pandang dengan kedipan matanya yang menantang, in the war they found each other… in each other they found love…. Jodie Foster pun tak mau ketinggalan, dalam Nell-nya dia berpose seronok.

Sementara itu ’orang-orang kita’ yang mengaku selalu lebih bersih, benar-benar bersih tubuhnya dari pakaian yang layak-untuk gembel di kolong langit sekalipun. Dan sebagaimana biasa, sebagai daya tarik film-film tanpa teks (terjemahan resmi) judulnya selalu mengajak yang shaum, ”Batalin yo, Da!” Mulai dari bisikan nafsu yang membangkitkan keliaran tak pelak lagi bisa menimbulkan gairah terlarang. Kalau sudah begitu selingkuh jadi jalan keluar. Tidak heran kalau akhirnya menjamur Jaringan Terlarang yang memproduksi para Gigolo...!

Perut. Masih sekitar perlut dan poster-poster itupun di buat demi perut-perut pengolah kanvas, produser plus yang perutnya digambar dan banyak lagi perut perut lain, termasuk orang orang koran yang mengemas poster-poster dalam bentuk kecil sehingga dapat makin menerobos masuk melanglangbuana kemana perut sesukahati.

Sucinya ramadhan sekarang kemarin pun diwarnai panasnya dapur KFC dan CFC disiang bolong. Memang, survey membuktikan... secara akal sehat, memang harus panas kalau ayam goreng yang dihasilkan ingin renyah! Lagi-lagi ajakan, ”Batalin dong Nii”.

Perut, terus-terusan nich bilang perut... Dan maaf, banyak kata kata ’perut’tertulis disini karena tulisan ini juga dibuat demi perut!

Dua nasib perut boleh berbeda. Perut cewek cantik yang sebagaimana terjadi sekarang sepertinya aman-aman saja, sekalipun tempatnya lebih memohok dan menyolok mata seperti di tempat keramaian umum plus embel-embel agar menimbulkan rasa iba bintangnya dijadikan melarat dengan bagian tertutup koran bekas yang sudah koyak. Dan batal puasa Ramadhan karena perut yang satu ini sangat berat sanksinya, sekalipun harus menggantinya dengan 60 hari puasa atau memberi makan 60 rang miskin ! Tidak perlu dibahas kalau dengan yang nggak sah.....sementara penggoda batal yang lain, yang kalau dilanggar setiap hari sekalipun,sanksinya maksimal 50% dari sekali pelanggaran diatas.

Koran-koran lokal saat ini ramai memberitakan bahwa dengan dalih pariwisata bersih maka dengan wibawanya Pak Wako Padang memojokkan tempat-temat yang enak untuk mojok ini. Rupanya keliru, ”Pariwisata bukan untuk perut...!”

Perut yang ditarik oleh para pengusaha waralaba pun sebenarnya tidak sembarang perut, hanya perut-perut tertentu. Misalnya perut yang selalu senang sembunyi dibalik kemudi mobil pribadi pada Ramadhan. Awas yang plat merah jangan coba-coba! Nol koma sekian permilnya pangsa pasar perut liarnya Kiki Fatmala dan manusiawat-nmanusiawati seprofensinya yang lain.yang bisa dinikmati oleh semua orang berbola mata, dari anak balita sampai kakek-kakek balita juga (baik,lincah,tampan,jujur dan gagah), dan ya.. menggoda! Seolah olah menimbukan tanya, ”Perut ko, untuk pariwisata?”

Slogan atau mungkin jargon atau bahkan semboyan untuk menghormati yang berpuasa dan sejenisnya yang sampai ada terpasang didepan sebuah gereja (Maaf lho, kalau boleh berbagi pengalaman anak asrama, yang paling doyan mengabungin kita dipagi yang dingin untuk shalat shubuh juga saudara kita yang katolik/protestan!) dan lain-lain termasuk himbauan, peraturan dan program pemerintah seolah-olah hanya disentuhkan keperut ayamnya KFC dan CFC, yang sekali lagi amat terbatasi! Mungkin sudah saatnya Chintami yang gak doyan mi juga dikasih tahu tentang semua itu, kalau bisa sementara puasa ini, gimana kalau rapih-rapih sebelum keluar. Soalnya yang melihat haruus tutup mata dengan lima jari...yang terbuka!

Tidak keliru kalau ditengok juga tinggalan Pujangga Lama, ”Semut diseberang lautan tampak sedangkan gajah dipelupuk mata tidak terlihat. ” Itu saja sebabnya maka berkaitan dengan kedua perut diatas untuk insan pers dapat diplesetkan menjadi, ” Perut ayam tercincang tenggelam dalam minyak kelam dibalik kaca hitam tampak, perut para bintang nempel di halaman koran gak kelihatan.” Yang lain lain tinggal menyesuaikan.

Sebaagai akhir dari tulisan ini, tidak salah kalau sma sama kita interopeksi. Apakah nasib dua perut diatas yang begitu bertolak belakang diperlukan media masa sudah merupakan indikasi pola pikir masyarakat kita yang sudah cenderung maklum kalau perut untuk pariwisata? Tetapi tidak pariwisata untuk perut. Mungkin sudah saatnya perut perut tersebut - karena sama sama perut diperlakukan sebagaimana perut layaknya.

Sebagai akhir yang paling akhir, ada sebait puisi karya pujangga yang tidak mau disebut sebagai Pujangga karena tidak ada alasan untuk menjadi sebagai Pujangga’

Kalau perut ayam dilarang
Gimana perut para bintang
Yang sering taruh pakaian tempat sembarang
Padahal suka lupa kalau sudah asyik di kolam renang
Akhirnya tak tahu diambil orang
Biasanya kegemaran para bujang
Jadinya ya gitu dech, ditelan......jang!

PESAN SPONSOR======================================================

Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :

http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto

========================================================TERIMAKASIH

Selasa, 04 Mei 2010

COMMUNITY EMPOWERMENT SEMINAR

Abstrak ini sesungguhnya adalah barang baru tetapi menjadi bagian dari cerita lama karena yang saya akan ungkap dalam makalah nanti adalah sebuah perjalanan yang cukup lama dalam waktu relatif lama.
Sama seperti waktu seminar 50 Tahun Planologi di ITB beberapa bulan lalu, masih seputar cerita tentang pengalaman bergelut dengan masyarakat dalam kegiatan Lokakarya Pemberdayaan Masyarakat dalam Upaya Pencegahan dan Penanganan Flu Burung. Namun dikaloborasikan dengan industri peternakan secara umum dengan satu harapan bahwa dengan memberdayakan masyarakat sekitarnya maka industri peternakan akan langgeng, berkelanjutan, tanpa permasalahan non-teknis dengan masyarakat sekitarnya. maju bersama masyarakat.
Abstraknya saya tulis dalam Bahasa Indonesia yang kemudian diterjemahkan oleh anak saya Jasmine Kusumawardani (13 tahun, tahun ini mohon do'anya bisa masuk SMAN 2 Kota Cirebon)ke dalam Bahasa Inggeris. Soalnya seminar ini merupakan internasional dan disampaikan nantinya dalam bahasa tersebut.
Jika abstrak ini terpilih untuk disajikan maka seminar bertajuk The 5th INTERNATIONAL SEMINAR ON TROPICAL ANIMAL PRODUCTION (ISTAP)akan dilaksanakan beberapa bulan lagi di Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Mohon do'anya. Terimakasih.

ABSTRAK
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MENUJU INDUSTRI PETERNAKAN YANG BERKELANJUTAN
Belajar dari Lokakarya Pencegahan dan Penanganan Flu Burung

Pendahuluan
Dalam pengertian masyarakat umum, industry peternakan identik dengan gangguan terhadap lingkungan. Bukan hanya limbah padat, cair dan gas tetapi juga tetapi juga gangguan suara yang ditimbulkan sering menjadi permasalahan tersendiri.
Sekalipun pada akhirnya industry peternakan sering menjadi pihak yang salah dan kalah, namun sebenarnya tidaklah selalu demikian. Banyak peternakan yang terlebih dahulu berdiri, kemudian masyarakat datang berduyun menghuni di sekitarnya. Semakin lama semakin padat, dan peternakan yang terlebih dahulu ada pun menjadi factor pengganggu lingkungan.
Permasalahan yang timbul diantara keduanya ternyata tidak selalu kesalahan teknis peternakan tetapi cenderung ke arah permasalahan social. Industri peternakan dengan kemapanannya sering menjadi menara gading diantara kehidupan lingkungan masyarakat sekitar yang berkembang secara dinamis.
Industry peternakan merupakan investasi jangka panjang, memerlukan lahan yang relative luas, usaha padat modal, kegiatan yang melibatkan banyak orang dan keahlian yang beraneka. Penutupan sebuah industry peternakan merupakan kerugian yang sangat besar baik bagi pemilik ataupun orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Oleh karena itu diperlukan sebuah jalan tengah agar terjadi perpaduan yang serasi antara industry peternakan dan masyarakat sekitarnya, yaitu melalui pemberdayaan masyarakat. Hal ini dapat dilakukan pada industry peternakan yang baru direncanakan ataupun yang sudah berjalan, atau bahkan industry peternakan yang saat ini sedang bermasalah dengan masyarakat sekitarnya.

Metode
Kegiatan yang dapat dijadikan sarana menuju keserasian industry peternakan dengan masyarakat sekitar adalah lokakarya. Pelajaran ini kami ambil dari melaksanakan Lokakarya Pemberdayaan Masyarakat dalam Upaya Pencegahan dan Penanganan Flu Burung di Kabupeten Indramayu.
Dalam lokakarya ini masyarakat diberdayakan untuk mengetahui permasalahan yang ada di lingkungannya, diajak bicara dan berani mengemukakan pendapat tentang permasalahan yang ada, mencoba mencari akar permasalahan dan berupaya mencari jalan keluar untuk mengatasinya. Masyarakat diarahkan untuk bisa membuat perencanaan sederhana dalam mengatasi segala permasalahan yang ada dengan segala potensi dan kemampuan yang tersedia secara mandiri.

Kesimpulan
Lokakarya yang berlangsung lebih dari setahun itu telah dilaksanakan di 31 desa dan menghasilkan 31 Rencana Aksi Desa yang dilaksanakan masyarakat secara mandiri. Beberapa desa bahkan menindaklanjutinya dengan Rencana Aksi Desa baru.

Saran
Kegiatan Lokakarya Pemberdayaan Masyarakat dalam Upaya Pencegahan dan Penanganan Flu Burung dapat dijadikan model untuk menghasilkan perencanaan menuju keserasian antara industry peternakan dan masyarakat sekitarnya.


ABSTRACT
COMMUNITY EMPOWERMENT FOR SUSTAINABLE ANIMAL INDUSTRY
A Learn from Prevention and Handling of Avian Influenza Workshop
D I N O T O
Bappeda Kabupaten Indramayu

Purpose
In the definition of society, livestock industry is identical with the disturbance of environment. Not only solid waste, liquid and gas but also voice disturbance which is effected often becomes an own problem.
Although finally animal industry often becomes the wrong and loses side, yet actually it is not always like that. Many animal industries which stand first and the society around come to live around it. Longer more crowded, and animal industry which stands first becomes environment disturbance factor.
Problems which appear between them are actually not always technical missing of the animal industry, but mostly to social problems. Animal industry with its richness often becomes a gap between the environmental livings of the society around that grows dynamically.
Animal industry is a long time infestation, needs relative wide area, full of modal, activity which involves many people and various abilities. Closing of them, are very big lose for the owner or people who are involved in it.
Therefore, is needed a middle way so happen a balance combination between livestock industry and society around by society empowerment. This can be done to livestock industry which is just planned or has been undergone or even livestock which is having problem with the society around.

Method
Activity which can be made as equipments toward harmony between livestock industry and society around is workshop. We took this lesson from doing workshop of society empowerment in prevention effort and handling of avian influenza in Indramayu Regency.
In this workshop, society is empowered to know problems in their environment, persuaded to talk and brave to tell opinion about problems which exists, try to look for root problem and try to find ways out to handle it. Society is directed in order to they can make simple planning in overcoming all problems which exists with all potency and ability which is available independently.

Results
Workshop which is held for about one year has been held in 31 villages and produced Village Action Planning which is done independently by society. Some villages even follow up it with new Village Action Planning

Conclusions
Activity of workshop of society empowerment in prevention effort and handling of avian influenza can be model to create planning toward harmony between animal industry and society around.

PESAN SPONSOR======================================================

Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :

http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto

========================================================TERIMAKASIH

TRIK TEMBUS TES PTN (3) BELAJAR ENAM JAM SEHARI

Dua tulisan terdahulu hanya menggambarkan kesuksesan yang sangat indah, sedikit sekali pengulas kerja keras untuk mendapatkan semua itu. Belajar, belajar dan belajar! Kuasai soal-soal UMPTN sejak dini dan disiplin belajar yang sangat ketat. Disiplin, kata yang sangat mudah diucapkan tetapi teramat mudah di terapkan, maksudnya diterapkan untuk dilanggar !
Dibalik disiplin dan mengenal soal Tes PTN sejak dini ternyata ada faktor yang sangat penting, yaitu penerapannya. Penggunaan waktu harus sedemikian rupa pengaturannya, termasuk watu main ataupun kegiatan lainnya.
Bagaimana tidak ? Belajar selama 6 jam sehari ! Suatu pekerjaan yang tidak mudah. Sangat gampang kalau semuanya dihitung. Bukankah di sekolah saja sudah lebih dari 6 jam? Masuk 6.45 dan pulang 13.30.
Sebenarnya tidak ada aturan yang mewajibkan kami belajar 6 jam sehari. Sama sekali tidak ada. Kebiasaan menjalankannya adalah datang dari diri kami sendiri. Namun harus diakui, hal ini tidak terwujud begitu saja, harus ada yang membakarnya !
Bapak guru yang amat kami cintai, Drs. Mardikun (almarhum) adalah pengobar semangat belajar yang amat kami patuhi itu. Ketika itu kami masih bercelana pendek plus lambang SLTP asal kami masing-masing, komplit dengan topi kuncung dari koran bekas. Berkumpul di lapangan basket di tengah gedung baru yang mengitarinya.
Dari atas podium, beliau berpesan, ”Kalian sebagai siswa SLTA harus menyesuaikan kebiasaan baru. Tidak lagi sekedar belajar seperti waktu di SLTP.” Suaranya berapi-api, ”Belajar 6 jam sehari, di luar jam sekolah!”
Bisa dibayangkan, betapa wajah kami tampak putih memucat walaupun sudah beberapa hari disengat ganasnya panas matahari pantai utara Jawa Barat. Belajar 6 jam sehari, sama sekali tidak terbayangkan sebelumnya.
Sebagai langkah awal tentu saja terasa amat berat. Tetapi bukan halangan bagi yang mau. Oleh karena itu penulis mencoba menguraikan langah-langah yang sudah jadi kenangan dan lebih dari seperempat abad terpendam, yaitu:
1. Yakinlah bahwa Allah itu maha adil. Semua mahluk-Nya dari yang gaib, nyata dan sebagainya diberi waktu yang sama, yaitu 24 jam saja sehari.
2. Catat kegiatan harian yang sudah menjadi rutinitas dan tidak boleh tidak harus dijalankan plus waktunya. Misal jam-jam sekolah (JJS) sudah termasuk persiapan dan perjalanannya (8 jam), tidur (8 jam) tidak lupa belajar dirumah 6 jam. Waktu untuk kegiatan rutin itu sudah 8 + 8 + 6 = 22 jam, jadi tinggal 2 jam lagi yang dapat dipakai untuk kegiatan lainnya. Bagi yang dapat mengurangi jam tidur tentu akan lebih banyak waktu lagi yang bisa dimainkan.
3. Dari data di atas dapat dibuat jadwal harian seperti yang pernah penulis terapkan selama 3 tahun kala itu.

JAM KEGIATAN
0 Tidur
1 Tidur
2 Belajar
3 Tidur
4 Tidur
5 Lain-Lain
6 JJS
7 JJS
8 JJS
9 JJS
10 JJS
11 JJS
12 JJS
13 JJS
14 JJS
15 Belajar
16 Tidur
17 Belajar
18 Lain-Lain
19 Belajar
20 Belajar
21 Belajar
22 Tidur
23 Tidur

Kalau cuma ada tidur, belajar, JJS dan lain-lain bukan berarti tidak ada shalat dan kegiatan keagamaan lainnya. Tinggal diatur sedemikian rupa, tokh tidak memakan waktu lama. Soal sabtu sore dan minggu ? Tinggal diatur, yang jelas waktu tidur tidak boleh menggerogoti jadwal hari berikutnya.
Tidak semua beruntung, sebagai anak kost kami lebih mudah dalam mengatur waktu. Banyak teman seangkatan penulis yang harus membantu orang tuanya mencari nafkah. Demikianlah juga ada yang harus mengantarkan kue di pagi hari dan harus menagih uang pada sore harinya selain harus mencurahkan banyak waktu dan tenaga untuk membantu membakar dapur supaya tetap ngebul.
Tetapi tidak ada yang terganggu pelajarannya. Terbukti dari prestasi mereka yang tidak pernah di jajaran bawah. Sebuah bukti bahwa mereka adalah pembelajar dan pekerja keras.
Cara mengatur waktu juga beraneka ragam. Tidak semua sama, kalau tidak di bilang tidak ada yang sama. Seperti ada jagoan kelas yang kalau pulang sekolah terus nonton film (tentu saja sudah lepas seragam plus atribut, soalnya bisa kena hukuman berat kalau ketahuan pakai seragam di tempat seperti ini). Ada juga yang pulang sekolah langsung ke main sepakbola di terik matahari. Kalau sore, ba’da magrib, jangan harap akan ada yang masih berkeliaran.
Tidak selalu mereka pada jam itu sedang belajar serius, ada juga yang asyik tertidur pulas. Teman kami itu memang unik, ternyata dia punya jam belajar yang pasti yaitu dari 22.00 sampai subuh datang. Ternyata menjadi kalong pun harus disiplin kalau mau sukses.
Perlu dibeberkan disini, kebiasaan belajar teman-teman baru terungkap ketika diadakan reuni. Bongkar-bonkaran rahasia sukses, termasuk rahasia belajar di SMA kami yang super competitive itu!
Sebagai akhir dari tiga tulisan Trik Tes PTN, penulis berpesan kepada semua siswa SLTA semua :
a. Disiplin: Atur dan gunakan waktu semaksimal dan seefisien mungkin.
b. Belajar, belajar dan belajar: di luar materi pelajaran sekolah sekalipun termasuk soal-soal test masuk PTN.
c. Baca, baca dan baca: nongkrong di perpustakaan jauh lebih terhormat daripada sikap sempurna di cafe.
Selamat berusaha dan semoga sukses menyertai kerja keras kita semua. Amien.

PESAN SPONSOR======================================================

Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :

http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto

========================================================TERIMAKASIH

TRIK LULUS TES PTN (2) KUASA SOAL TES PTN SEJAK DINI

PTN tetap menjadi impian utama sebagian besar alumni SLTA sekalipun telah banyak PTS yang statusnya disamakan. Dari data yang ada memang kadang terjadi peserta seleksi PTN menurun dibadingkan dengan tahun sebelumnya sekalipun jumlah lulusan SLTA sebenarnya relatif meningkat.
Tidak mengherankan karena sekarang banyak PTN menjaring calon mahasiswa sedini mungkin, berebut siswa SLTA berprestasi dengan iming-iming yang sangat menarik, tanpa tes. PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan) bukan lagi milik IPB, hampir semua PTN menerapkannya. Bahkan beberapa PTS pun menerapkan cara tersebut, diiringi dengan kesempatan meraih beasiswa dan sebangsanya.
Mungkin juga karena sekarang telah banyak berdiri lembaga-lembaga pendidikan keahlaian praktis (maaf kalau penulis tidak menyebukan sebagai lembaga pendidikan siap pakai).
Tetapi apakah gejala ini bukan tidak mungkin tejadi karena ketidaksiapan siswa dalam dalam menghadapi pesta tahunan itu?
Itulah sebabnya penulis ingin mencoba berbagi pengalaman, walaupun hal ini telah begitu lama terjadi, sebab kalau belum terjadi tentu saja bukan pengalaman namanya. Dari lima kelas IPA di sekolah kami seangkatan lebih dari 30 orang tersebar di berbagai PTN lewat jalur kiri alias PMDK dan sukses ini kemudian disusul oleh sebagian besar rekan kami yang lolos via jalur kanan alias Tes Masuk PTN yang saat itu bernama SIPENMARU (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru).
Beberapa orang diantaranya bahkan bisa mulus studi keluar negeri setelah lewat beasiswa BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) yang saat itu dimotori BJ Habibie. Tidak sedikit juga diterima di perguruan tinggi kedinasan seperti STAN, APDN (sekarang STPDN) dan lain-lain. Bahkan ada satu kelas yang cuma satu orang yang harus kuliah di PTS, tapi malah bikin yang lain berigidik, soalnya sohib yang satu ini diterima di FE sebuah PTS papan atas di negeri ini ?
Keberhasilan mengentaskan alumni yang mau tak mau harus ke PT ini teryata telah dirintis sejak kami duduk dibangku kelas I. Soal-soal test masuk perguruan tinggi negeri menjadi kosumsi harian. Demikian juga soal-soal tes masuk ITB tahun 60 sampai 70-an juga menu yang lezat. Apalagi daun-daun muda (soal-soal Sipenmaru terbaru) merupakan lalapan yang enak untuk dakaredok (dibikin pecel) bersama pelajaran yang sesuai dengan kurikulum (waktu itu Kurikulum 1975).
Jangan beranggapan siswa di sekolah kami menjadi korban ulah oknum guru yang selingkuh dengan penerbit XYZ apabila semuanya mempunyai buku kumpulan soal tes masuk PTN atau buku lainnya yang sama, terbitan XYZ. Tidak sama sekali.
Dipintu masuk jelas-jelas terpampang ”Dilarang Jual Beli Buku Jenis Apapun” pada sehelai kertas seperempat folio tetapi konsekuensinya yang dikandungnya mungkin bisa seperempat dunia ! Bahkan buku-buku terbitan swasta itu hampir tidak pernah disuruh dibuka di kelas, kami sudah lebih dari kenyang kalau pun hanya menyantap terbitan Balai Pustaka yang dapat diperoleh dari perpustakaan sekolah.
Kalau kami beli terbitan swasta hanyalah sebagai pelengkap yang banyak membantu untuk belajar dirumah dan kalau pembaca baca Trik Lulus Tes PTN (3) nanti pasti tahu betapa kami sangat perlu buku begitu banyak. Yang harus dipahami adalah bahwa membeli buku dan memilikinya bukanlah suatu tujuan akhir, tetapi merupakan langkah awal dari suatu pekerjaan yang sangat berat, belajar!
Penguasaan soal tes masuk PTN sejak dini yang diterapkan di sekolah kami telah membawa kegelimangan, sebagian besar lulusnya memasuki jenjang pendidikan tinggi sesuai dengan hasrat masing-masing. Tentu tidak semua dapat diterapkan, bahkan sebagian besar sekolah akan menolaknya.
Oleh karena itu, siswalah yang menentukan. Kalau sekolah tidak menerapkan, maka menerapkannya di rumah adalah alternatif terbaik. Penolakan guru tentu beralasan, mulai dari tidak sesuai dengan kurikulum sampai masalah klasik yang selalu disembunyikan, ”Saya tidak siap !”
Rentetan langkah-langkah yang dapat ditempuh agar dapat menguasai soal Tes PTN sejak dini secara mandiri adalah sebagai berikut:
1. Memiliki buku-buku soal test masuk PTN atau perguruan tinggi swasta favorite ataupun perguruan tinggi kedinasan. Jangan pedulikan tahunnya, walaupun sudah tua sekalipun. Buku-buku ringkasan materi untuk persiapan UMPTN yang banyak beredar di pasaran akan sangat bermanfaat. Apakah sejak kelas I SLTA harus sudah memiliki? Akan lebih afdol lagi.
2. Cari tahu segera materi pelajaran yang sesuai dengan kurikulum yang berlaku (setiap tingkatan, kelas I, II dan III). Dibuat coretan ringkasan kisi-kisi untuk setaip pelajaran, terutama yang biasa menjadi bahan untuk Tes PTN. Dapat diambil dari Daftar Isi buku pelajaran yang menjadi buku wajib di sekolah.
3. Kalau buku yang dimiliki hanya kumpulan test masuk PTN tahunan atau bahkan tahunnya sudah tidak di ketahui lagi, ya... pelajari satu per satu soal dan tandai dengan tanda yang mudah diingat. Misalnya ”II/3” bila soal tersebut sesuai dengan materi pelajaran kelas II semester ke-2 dan seterusnya. Bagi siswa yang masih kelas I, soal yang sesuai dengan materi kelas I itu saja yang ditandai, yang lain tetap dikosongkan untuk mengfindari kekeliruan nantinya.
4. Lebih mudah kalau bukuknya merupakan ringkasan materi plus contoh-contoh soal test UMPTN yang pernah keluar atau soal-soal yang telah di kumpulkan atau di kelompokkan oleh editornya sesuai dengan materi pelajaran. Tinggal menyesuaikan daftar isinya dengan cara seperti di atas.
5. Kalau sudah begitu, mau apa lagi? Belajar dan belajar. Belajarlah sebelum ada aturan ”dilarang belajar !”
Pengenalan sejak dini soal-soal test masuk PTN sangat membantu siswa dalam memperdalam materi pelajaran yang sesuai dengan kurikulum. Yang paling penting tentu menjadikan siswa siap menghadapi soal-soal test yang diadakan oleh pihak manapun, termasuk tentunya soal Tes Masuk PTN itu lho ! Alhasil sekolah kami pernah rangking 1 tingkat propinsi dengan nilai rata-rata 7,2. Suatu prestasi yang bukan hanya di banggakan tetapi juga harus dipertanggungjawabkan.
Tentu tidak hanya sampai disitu, anekdot ”Angkatan terakhir kurikulum 1975 mau tidak mau harus dinaikan!" sungguh tidak berlaku. Karena memang tidak ada yang memenuhi syarat untuk tidak naik kelas !
Penguasaan materi tingkat tinggi ini sering juga merepotkan guru praktek PT tetangga yang tidak jarang kelimpungan dan memeras otak. Apalagi jika mahasiswa praktek itu sok menonjolkan diri, sering dibuat uring-uringan dengan soal-soal yang jauh lebih dari sekedar sulit.
Sebagai akhir tulisan bagian kedua ini penulis ingin berbagi pendapat dengan para guru untuk memperkenalkan soal test masuk PTN atau soal-soal yang berbobot lain kepada siswanya sejak dini, baru kelas I sekalipun.
Bagi para siswa, hendaknya mempunyai tekad dan tujauan yang disertai disiplin belajar untuk mencapainya. Karena sebenarnya yang dituntut adalah kreativitas siswa itu sendiri. Sekalipun terkadang kreativitas tidak berkembang tanpa disulut dulu oleh guru.
Mulailah dari sekarang, tidak ada kata ”terlalu cepat” seperti halnya tidak ada kata ”terlalu lambat” untuk memulai.
Semoga bermanfaat.

PESAN SPONSOR======================================================

Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :

http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto

========================================================TERIMAKASIH

TRIK TEMBUS UMPTN (1) DISIPLIN

”Karena banyak kegiatan di sekolah, waktu itu gue tidak sempat mengerjakan PR. Sebenarnya tidak banyak seperti biasanya, cuma 75 soal !” Seorang teman kuliah menceritakan tentang Bimbingan Tes yang diikutinya, ”Gue disuruh berdiri dengan kedua tangan di atas meja.”
”Plok!” Dengan keras sebatang rotan yang diayunkan pengajar tunggal itu mendarat di pantat. ”Gue cuma bisa meringis kesakitan.”
Para sesepuh kita yang menjalani pendidikan masa kolonial tentu tidak akan asing dengan kejadian seperti itu. Demikian juga para senior yang sempat mengenyam pendidikan pada awal kemerdekaan akan menganggap hal itu biasa di zamannya. Pendidik dengan rotan di tangan !
Namun jangan kaget, cerita di atas ternukil dari pengalaman teman kost. Seorang alumni sekolah favorit yang lulus SMA tahun 1986. Terjadi di kota Megapolitan, Jakarta ! Apakah Anda termasuk orang yang menganggap hal semacam itu sebagai sesuatu yang luar biasa -untuk memperhalus kalimat ”Pelanggaran HAM” ?
Bimbingan belajar atau lebih dikenal saat itu sebagai Bimbingan Test tempat kejadian feodal itu berlangsung adalah tempat yang paling disegani di Jakarta. Sudah puluhan tahun Sang Guru mengantarkan lebih dari 90 persen siswa bimbingannya berhasil memasuki perguruan tinggi yang diidamkan. Secara sportifnya beliau tidak lupa dengan bangga mengucapkan selamat kepada mereka dengan memasang iklan besar-besar di media massa nasional atas keberhasilan mereka yang ’dihajarnya’ itu.
Disiplin. Semata-mata hanya disiplin. Itulah yang sangat ketat diterapkan di bimbingan belajar yang sangat mahal itu. Itulah sebabnya muridnya pun selalu berjubel. Tidak adakah protes dari orang tua siswa? Kalau boleh penulis bilang, teman yang satu itu juga ayahnya seorang perwira di Disbintal TNI-AD. Dan peserta lain pun tentunya tidak akan dapat ikut belajar di tempat yang keras itu kalau tidak punya uang jutaan rupiah (dengan kurs sekarang sekarang sudah mencapai puluhan juta rupiah !).
Kalau bimbingan belajar semacam itu dibuka di Batusangkar atau kota kecil lainnya, penulis kira tidak akan ada siswanya. Bukan hanya karena ngeri, tetapi biaya yang sangat tinggi. Bahkan bisa diserbu masa yang tidak terima anaknya diperlakukan seperti itu. Atau malah pegajarnya yang tidak ada, karena dikeroyok murid.
Generasi sekarang kurang disiplin ? Semangat belajarnya kendor ? Ya, namanya juga murid. Bukankah sejak di sekolah dasar kita kenal pepatah, ”Guru kencing berdiri, murid kencing lari.’ Jadi kalau guru masih suka merokok di luar rumah maka murid pun akan dengan bangga dapat membuang puntung rokok di halaman sekolah. Bermakna juga kalau guru tidak mau belajar, jangan salahkan kalau siswanya malas. Demikian juga jangan berharap siswa menguasai materi pelajaran kalau gurunya saja tidak memahami dengan baik. Kembali ke pokok persoalan, jika mengharapkan murid berdisiplin sementara gurunya hare-hare maka hanya keajaiban yang menyebabkan harapan itu tercapai.
Pengajar datang tepat waktu dan siap untuk mengajar. Semua itu akan membawa siswa ke arah ”kedisiplinan” yang rumit sekalipun. Seperti contoh di atas, soal-soal yang jumlahnya sekitar 100 buah pada setiap pertemuan yang 5 kali dalam seminggu. Karena diimbangi dengan kesiapan dan kedisiplinan serta kekonsekuenan pengajar menimbulkan kepuasan tersendiri bagi siswanya. Tanpa penolakan siswa, apalagi ancaman dari orangtua.
Mungkin bisa saja mengelak dengan mengatakan bahwa disiplin mereka terwujud karena animo untuk memasuki perguruan tinggi idaman yang sangat tinggi dan kemauan belajar yang luar biasa. Atau terpaksa harus belajar karena orangtuanya telah membayar sedemikian mahal ?
Sedisiplin inikah mereka yang les di guru kelas yang notabene selalu diiringi dengan perbaikan nilai rapor ? Bukan rahasia kalau bagi mereka adegium yang berlaku adalah ”Nilai rapor yang ikut les minimal 7, sementara hanya maksimal 7 bagi yang tidak ikut les.” Namun jangan harapkan hasil bimbingan ini menjamin siswa bernilai cemerlang itu untuk bisa menembus Tes PTN.
Pemberian sanksi yang teramat berat seperti di atas sebenarnya tidak mudah diterapkan. Hal ini menuntut konsekuensi, bukan sekedar penolakan, protes ataupun pelaporan pelanggaran HAM tetapi yang paling penting adalah keteladanan dari pemberi sanksi itu sendiri.
”Yang mahal kan, upah algojonya!” Tukas rekan yang juga alumni dari Bimbingan Belajar yang sama itu menimpali.
Tetapi kami punya pengalaman tersendiri, membawa adik-adik siswa SLTA ke PTN jempolan dengan cara tersendiri. Semboyannya sederhana bahkan terkesan prokem, ”Ga’ mau belajar, tak perlu bayar, silakan keluar.” Salah satu cara yang diterapkan adalah memberikan PR yang cuma 20 sampai 30 soal saja setiap pertemuan. Kalau pada waktunya tidak di kerjakan, ya...silakan keluar. Untungnya tidak ada yang berani melanggar sampai 3 kali pertemuan, karena sesuai konsensus awalnya adalah 3 kali melanggar adalah tanda minta keluar. Berarti good bye.
Itu suasana di Bimbing Belajar, dimana mungkin pengajar dapat menerapkan peraturan tersendiri, bagaimana dengan di sekolah ? Sebenarnya adegium ”Tidak siap silakan keluar!” bisa diterapkan. Bukan hanya murid yang harus mengerjakan PR dan mempelajari materi yang akan diajarkan tetapi juga pengajar tidak perlu memaksakan diri kalau memang tidak siap. Itu prinsip yang pernah penulis terapkan ketika dalam waktu yang sangat terbatas (hanya 5 kali pertemuan) harus membekali siswa kelas III-IPS yang tidak pernah belajar matematika di kelas akhir tersebut, padahal EBTANAS 1996/1997 saat itu sudah di depan mata. Alhasil, kerja keras itu mengantarkan mereka meraih NEM matematika terbaik di tingkat kabupaten.
Pengajar siap mengajar membawa murid ke arah kedisiplinan terpenting, siap untuk belajar. Bukankah dengan disiplin semua persoalan bisa diatasi ? Termasuk keinginan tembus UMPTN.
Sampai sekarang Anda tidak bisa berdisiplin diri dalam belajar ? Sudah sangat Terlambat ? Sama sekali tidak ! Mulailah dari sekarang. Semoga bermanfaat.

PESAN SPONSOR======================================================

Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :

http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto

========================================================TERIMAKASIH

TRIK TEMBUS TES MASUK PTN SEBUAH PENGANTAR

Tes Masuk PTN dengan berbagai nama yang pernah disandangnya seperti SKALU, Proyek Perintis I, SIPENMARU, UMPTN dan sebagainya adalah sebuah agenda rutin tahunan yang pada dasarnya sama. Dia selalu datang tepat pada waktunya, dan untuk tahun ini akan datang beberapa bulan lagi. Moment itu akan datang sangat dekat bila dilihat dari persiapan untuk menghadapinya yang benar-benar harus sudemikian matang dan siap.
Tes Masuk PTN adalah pesta tahunan yang menjadi ajang adu prestasi dan gengsi serta senggol-senggolan dalam memperebutkan kursi di Perguruan Tinggi Negeri yang didamkan dan sesuai dengan jurusan yang diinginkan.
Tanpa mengabaikan siswa-siswa yang terpilih masuk Perguruan Tinggi harapan lewat jalur PMDK yang tentu saja perintisannya sudah diawali sejak nilai rapor semester pertama, penulis mencoba menguraikan pengalaman pribadi yang juga di mulai dari memasuki bangku SLTA. Kemudian menjalani pendidikan ekstra ketat yang akhirnya dapat mengantar sebagahian besar siswanya memasuki PTN.
Pengalaman menjadi siswa ini dipadu dengan sedikit pengalaman mengajar bidang-bidang studi eksakta di beberapa SLTA dan juga Bimbingan Belajar. Kesemuanya terangkum dalam 3 buah tulisan, yaitu:
a. Trik tembus Tes PTN 1. Disiplin
b. Trik tembus Tes PTN 2. Kenali Soal-soal Tes PTN Sejak Dini
c. Trik tembus Tes PTN 3. Belajar 6 Jam Sehari
Ketiganya bisa diakses di :
a. http://www.ziddu.com/download/9522896/Trik Lulus Tes Masuk PTN 1.doc.html
b. http://www.ziddu.com/download/9522897/Trik Lulus Tes Masuk PTN 2.doc.html
c. http://www.ziddu.com/download/9522898/Trik Lulus Tes Masuk PTN 3.doc.html
Semoga tulisan yang tidak lebih dari sekedar obrolan santai ini dapat bermanfaat bagi yang memerlukan. Semoga.

PESAN SPONSOR======================================================

Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :

http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto

========================================================TERIMAKASIH