Selasa, 01 Juni 2010

TEROWONGAN DAN JEMBATAN KERETAAPI

Paduan Kekuatan, Keindahan dan Kelestarian Alam


“Ini sich, belum seberapa,” ujar Ade, asisten masinis kelahiran Banjar, ketika KA Parahyangan yang dibawanya memasuki terowongan Sasaksaat, “Terowongan ke Banjar Baru, lebih panjang lagi,” lanjutnya. “Sayang, sudah tidak dipakai lagi.”

Terowongan yang dimaksud Ade tidak lain semula bernama Terowongan Wilhelmina, menghubungkan Banjar dan Cijulang. Terowongan yang panjangnya mencapai 1,116 km ini diresmikan 80 tahun lalu, tepatnya tanggal 1 Juni 1921 bersama dua terowongan di dekatnya yang relatif pendek, masing-masing 105 dan 147 meter saja. Ketiganya merupakan tripariat yang sekarang diberi nama Terowongan Sumber.

Sedangkan terowongan antara stasiun Sasaksaat dan stasiun Maswati yang baru dilalui Ade panjangnya mendekati, 949 meter. Pada dinding masuknya tertera angka “1902 – 1903”, mungkin pada tahun tersebut terowongan itu dibuat tetapi baru diresmikan 3 tahun kemudian. Sampai sekarang kegelapan terowongan ini masih dapat dinikmati penumpang keretaapi menuju Bandung seperti KA Argo Gede dan KA Parahyangan dari stasiun Gambir, keretaapi kelas ekonomi KA Cipuja dan KA Citrajaya dari stasiun Jakartakota atau KA Galuh dari stasiun Tanah Abang.

Dua terowongan di atas beru sebagian kecil dari rangkaian rel yang secara mengagumkan menembus gunung dan bebetuan. Masih banyak terowongan leretaapi warisan penjajah yang ditinggalkan kepada ahli waris para korban penembus bebatuan.


Tabel 1. Terowongan Keretaapi Terpanjang


NO NAMA TEROWONGAN PANJANG (meter) TANGGAL PERESMIAN
1. Sumber 1.116 01 Januari 1921
2. Sasaksaat 949 02 Mei 1906
3. Sawahlunto 827 01 Januari 1896
4. Mrawen 690 10 September 1902
5. Lampengan 687 10 Mei 1883
6. Ijo 580 20 Juli 1887
7. Muara Kalaban 545 01 Maret 1924
8. Tebingtinggi 424 01 Nopember 1932
9. Lahat 368 01 Nopember 1932
10. Batulawang 281 15 Desember 1916

Sumber : Sejarah Perkeretaapian Indonesia Jilid 2, Angkasa (1995)


Selain terowongan, asset PT Keretaapi yang sangat berharga adalah jembatan-jembatan tua yang merupakan paduan serasi antara faktor kekuatan dengan seni artistik merangkai baja.

Sebagai contoh adalah kerangka baja di Lembah Anai perbatasan Kabupaten Kanah Datar dan Kabupaten Padang Pariaman, jaraknya beberapa kilometer dari Padangpanjang menuju Padang Sumatera Barat. Bukan hanya kekuatannya menahan beban serangkaian panjang wagon penuh batubara yang mengandung decak kagum, tetapi juga lenggak-lenggok besi berpadu dengan tata-kait sekrup yang sangat artistik. Lebih mengagumkan lagi apabila dilihat tahun pembuatannya, akhir abad XIX, tepatnya tahun 1891 !

Keindahan alam Parahyangan juga makin lengkap dengan 3 buah jembatan keretaapi terpanjang di negeri ini (Tabel 2). Pengguna jalan raya Bandung – Jakarta via Purwakarta misalnya, dapat melihat dari jauh rangkaian indah baja yang menghubungkan dua bukit menjelang Pandeglang. Sementara dari balik kaca para penumpang keretaapi Bandung – Jakarta dapat melongok penataan lahan lestari secara teras sering di bawah ketiga jembatan yang dilewati.

Semua penumpang keretaapi menuju Jakarta atau sebaliknya pun bisa menatap anggunnya lekuk tubuh jembatan kembar yang melintasi Sungai Citarum dekat Stasiun Kedung Gedeh. Keindahannya dapat pula dinikmati para pengguna jalan raya yang mengapit kedua jembatan tersebut.

Masih banyak jembatan kuno yang panjangnya berbilang ratusan meter, yang paling tua adalah Jembatan Porong di Jawa Timur yang panjangnya mencapai 222,70 meter dan diresmikan lebih dari seabad lalu, yaitu tahun 1886. Selain Jembatan Batang Anai yang telah diulas di atas, jembatan lain yang juga dibuat abad XIX adalah rangkaian 4 buah Jembatan Bratas sepanjang 180 meter, diresmikan tahun 1899.



Tabel 2. Jembatan Keretaapi Terpanjang


NO NAMA TEROWONGAN PANJANG (meter) TAHUN PERESMIAN
1. Cikubang 300 1906
2. Cibisoro 290 1906
3. Cipembokongan 270 1912
4. Sungai Tulas 228 1912
5. Serayu 225 1916
6. Porong 223 1886

Sumber : Sejarah Perkeretaapian Indonesia Jilid 2, Angkasa (1995)


Hebatnya, selain berhasil memadukan kekuatan dengan keindahan, pembangunan jembatan dan terowongan khususnya dan pemasangan rel keretaapi pada umumnya itupun menunjukkan betapa concern-nya bangsa penjajah terhadap konservasi lahan. Sekalipun harus dengan investasi yang sangat mahal. Asal tahun saja, sebelum Perang Dunia II, perkeretaapian dan trem merupakan investasi terbesar Belanda di Indonesia, yang nilainya mencapai Rp. 500 juta. Sama besarnya dengan investasi bidang perminyakan saat itu (Djojohadikusumo, 1949).

Oleh karena itu jangan gondok dulu kalau ada yang mengatakan, “Untung kita pernah dijajah Belanga !” Namun ungkapan itu dapat dipetik sebagai cambuk bagi warga bangsa merdeka ini yang untuk membangun jalur ganda rel keretaapi Cikampek – Cirebon saja tidak pernah selesai. Atau yang lebih penting lagi adalah warning bagi pengambil kebijakan, agar dalam pembuatan jalan tol tidak lagi harus mengorbankan lahan produktif dan pembantaian aktifitas pertanian yang notabene menjadi jantung kehidupan sebagian besar warganya.

PESAN SPONSOR======================================================

Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :

http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto

========================================================TERIMAKASIH

CILAKA ....

Dulu kecelakaan keretaapi selalu diakibatkan "human error" semata, masinis pun tak berdaya menolaknya. Sanksi dan hukuman adalah jatah orang kecil seperti mereka. Namun perlahan tapi pasti kenyataan pun sanggup mengubah anggapan jajaran pejabat penting di institusi perbuhungan itu. Sekarang, berbagai kecelakaan yang terjadi makin memudarkan anggapan kuno itu ....

CILAKA ....

Akhirnya Menteri Perhubungan Kabinet Gotong Royong, Agum Gumelar, mengumumkan bahwa penyebab tabrakan antara keretaapi langsam Tanah Abang – Rangkasbitung (KA 930) dengan KA 1213 yang mengangkut batubara adalah technical error. Yaitu blong-nya rem KA 930 ketika memasuki tujuan akhir, Stasiun Rangkasbitung. Walaupun seperti biasa, masih dibumbui dengan kemungkinan sabotase (Liputan 6 Terkini, 26/10/01).

Sudah terlalu lama jajaran perkeretaapian Indonesia khususnya dan insan perhubungan umumnya, selalu mencari kambing hitam bila kecelakaan armadanya terjadi. Human error, human error dan human error, ironisnya human error ini selalu tertuju kepada masinis. Sementara para teknisi yang bertanggungjawab terhadap peralatan selalu lepas dari tuduhan.

Adman bin Sunardi sekarang dapat tenang di pangkuan Sang Khalik, menyusul Suwanto yang sampai sekarang masih mewariskan PR misterius buat jajaran perkeretaapian negeri ini. Tetapi kalau pengakuan Agum Gumelar yang tulus ini, tanpa tindak lanjut yang terarah, maka kecelakaan-kecelakaan berikutnya akan tetap mengancam kelangsungan hidup PT Keretaapi.

Untuk menghentikan laju keretaapi yang dibawa Adman bin Sunardi dini hari itu, sebenarnya tidak terlalu perlu diganjal lokomotif BB 30421, apabila rem-nya tidak blong dan dead man pedal-nya aktif. Atau setidaknya bisa mewanti-wanti dahulu, seandainya radio lokomotif yang ada di sampingnya berfungsi.

Suwanto pun akan damai di akhirat jikalau jajaran PT Keretaapi mencabut ucapanya terdahulu, bahwa kecepatan KA Empu Jaya mencapai 70 km/jam ketika menghantam sebuah lokomotif yang sedang langsir di Cirebon. Karena besar kemungkinan, jangankan orang lain, Suwanto sendiri sejak dari Stasiun Jakartakota tidak pernah tahu secara tepat laju keretaapi yang dikendalikannya.

Speedometer, dead man pedal, radio lokomotif dan rem adalah peralatan vital tempat jejalan penumpang bertaruh nyawa. Cilaka … bila mengabaikan salah satu diantaranya, apalagi kombinasinya. Korbannya bukan hanya penumpang yang tidak pernah tahu permasalahan pokoknya, tetapi juga akan mencetak arwah masinis yang harus terus bertanya-tanya, apakah namanya tercatat di batu nisan sebagai pahlawan atau tertulis dalam daftar antre tukang sate, sebagai kambing hitam.

PESAN SPONSOR======================================================

Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :

http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto

========================================================TERIMAKASIH

ANTRI

Lebih dari 10 tahun lalu saya menulis untuk KABA LUHAK NAN TUO, tabloid milik Pemda Kabupaten Tanah Datar – Sumatera Barat. Aktivitas itu, saya bawa ketika pindah ke Indramayu. Sekalipun proposal yang saya ajukan dapat penolakan dan tantangan, akhirnya saya bangga ketika beberapa tahun kemudian “melihat dan dapat menjadi saksi” bahwa Pemda Kabupaten Indramayu berhasil menerbitkan tabloid yang secara fisik persis sama dengan tabloid kesayangan kami dulu ….
Sebagian tulisan penuh kenangan itu saya coba nukil di sini, mohon maaf kalau masih banyak menggunakan koso-kata urang awak alias dialek Minang. Selamat turut mengenang ….

A N T R I

Ibuk Maimunah, isteri Bapak Harun Al Rasyid yang mantan Bupati kabupaten Dati II Tanah Datar zaman pergolakan dulu, pernah menceritakan tentang kecanduannya berbelanja di sebuah took yang sama sekali bukan milik urang awak.
“Baru di pintu, pelayannya sudah menghampiri dan menyapa sopan.” Beliau memulai pembicaraan, “Atau kalau mereka semua sibuk dengan pembeli yang lain maka si-empunyanya terjun langsung. Dengan sabar pula melayani sesuai kebutuhan dan tidak mengeluh, apalagi marah karena sudah direpotkan.”
Dilain pihak, Bundo Kanduang itu juga punya pengalaman yang sangat sulit dilupakannya saat berbelanja di Pasar Kampung Jawa (tentu saja tidak ada di peta Pulau Jawa !), tepatnya di sekitar Matahari Departemen Store – Padang.
Ketika itu beliau datang ke sebuah took busana, tidak ada tanda-tanda bahwa pemuda yang ada di took itu ada perhatian, sekalipun mereka sesungguhnya seorang pelayan. Terus sahut-sahutan satu sama lain. Ketika ditanyakan harga sebuah barang, salah satu diantara mereka langsung menghampiri. Tetapi, sebelum sebuah katapun terucap, masuklah seorang gadis dan segenap perhatian para pelayan pun tertuju kepadanya. Sama sekali tidak peduli calon pembeli yang sudah sedari tadi menunggu jawaban. Pada saat itu juga beliau hengkang dengan penuh kesal dan bersumpah untuk tidak datang lagi ke took itu !
Dari pengalaman di atas dapat ditarik sebuah pelajaran, perlunya pelayanan yang baik bagi setiap konsumen. Salah satu strategi yang dapat ditempuh adalah menerapkan budaya antri. Antri dapat dikaitkan dengan menunggu, sebuah pekerjaan yang sangat membosankan seperti kata pepatah.
Namun demikian ada juga yang tidak mau antri gara-gara poster MINOLTA yang menggambarkan “Antri Dooooong”- nya dengan DOD (Day-Old-Duck), anak bebek umur sehari yang berduyun-duyun.
Pelayanan merupakan unsure utama yang sangat menentukan dalam keberhasilan suatu usaha di bidang barang ataupun jasa. Sebab dari pelayanan itulah mereka hidup . Dengan kata lain, pelayanan adalah nyawa mereka yang sesungguhnya.
Adegium lama selalu mengingatkan, konsumen adalah raja. Hal ini tidak hanya berlaku bagi dunia usaha tetapi juga dalam pemerintahan yang merupakan pelayan bagi masyarakat. Dalam hal jual beli seperti cerita di atas maka rajanya adalah pembeli, sementara dalam pelayanan kepada masyarakat maka yang menjadi the king of the king adalah rakyat !
Namun demikian, dalalam kehidupan sehari-hari malah terjadi sebaliknya. Penjual buah-buahan di Pasar Batusangkar misalnya, tidak jarang mengumpat dengan kata-kata tak sedap kepada calon pembeli yang menawar barang dagangannya yang dihargakan mereka setinggi langit. Demikian juga oknum aparat, masih terlalu banyak yang masih rela mengombang-ambingkan dalam melayani masyarakat agar dianggap orang penting.
Padahal di era Otonomi Daerah yang dititikberatkan di daerah Tingkat II maka pelayanan kepada masyarakat harus sebaik mungkin untuk dapat mendongkrak PAD. (Catatan: Kabupaten Dati II Tanah Datar merupakan Kabupaten/Kota Otonomi Daerah Percontohan terbaik di negeri ini, jadi ketika tulisan ini dibuat (Juli 1999) sudah beberapa tahun menjalankan otonomi daerah).
Sehingga sangat ketinggalan zaman kalau masih berpedoman pada istilah “Kalau bisa dipersulit, mengapa dipermudah ?” Jika masih memegang adegium lama seperti itu, jangan harap bisa melayani masyarakat secara memuaskan. Tragisnya, kadang-kadang, kalau tidak dibilang –betapa sering, urusan sesame korps pun masih di bawah garis kepuasan.
Oleh karena itu, sudah saatnya adegium lama itu diputar-kata menjadi kalimat yang sangat mudah diucapkan tetapi teramat sulit dilakukan “Kalau bisa dipermudah, mengapa harus dipersulit ?”
Pelayanan sector swasta sering diagungkan pun banyak dijumpai kejadian yang tidak seindah gaungnya. Padahal seperti dikemukakan di atas, kehidupan mereka tergantung pada pelayanan yang diberikan. Misalnya, antrian pengambilan gaji di sebuah bank swasta ternyata lebih menyiksa daripada rangkaian panjang pembayaran rekening listrik di Kota Budaya ini.
Sebab utamanya adalah pelayanan yang dikaitkan dengan budaya antri. Kalaulah yang datang duluan harus ngantuk dulu di kursi tunggu dan mimpi sudah sampai ke rumah dengan membawa uang bulanan, lumrah saja, mengingat banyaknya nasabah. Tetapi, kalau saat yang sama, tiba-tiba ada beberapa orang yang baru datang, dapat pelayanan langsung ekstra cepat, mereka segera hengkang membawa harapan. Sungguh luar biasa !
Apalagi tidak jarang kuliah terbuka yang sangat memalukan biasa digelar, materinya yang itu-itu juga, “Nasabah membludak, bukan hanya Saudara yang kami layani !” Sebuah ucapan yang semestinya diiringi istighfar, mereka keberatan dengan banyaknya nasabah.
Jadi tidak selalu pelayanan swasta yang sering diharapkan orang sebagai pelarian dari birokrasi yang sering dianggap terlalu panjang-lebarnterkadang lebih menjengkelkan.
Belum lama ini ada nasehat yang dilontarkan Profesor Emil Salim kepada seorang perantau dari seberang yang merasa tertekan dengan perbedaan pelayanan tukang sayur di komplek tempatnya tinggal antara kepada urang awak dengan pendatang, “Kalau mau bisa hidup di sini, belajarlah cara mencerca seperti orang di sini. Sangat menusuk hati, bagi yang mengerti.”
Namun untuk kondisi sekarang, di saat globalisasi akan datang menjelang, dimana persaingan akan berjalan sebagaimana hokum pasar yang tidak akan lepas dari pelayanan, maka petuah Begawan Muda Ekonomi itu sangat tidak realistis, kecualikalau yang sedang kita tuju adalah zaman gombalisasi. Konsumen yang kena caruik akan dapat dengan mudah lari ke pelukan Si Ramah. Lebih parahnya, mereka pun akan menjadi agen promosi kebobrokan yang sangat ampuh.
Antri adalah bagian kecil dari pelayanan, bukan harga mati karena masih banyak aspek pelayanan yang lain. Tetapi antri merupakan barang antik, gratis tetapi sangat tak ternilai harganya. Senilai dengan senyum pramugari Garuda yang sering mendapat kritik dari banyak wisatawan asing, agar mereka ikut kursus senyum, karena sesungguhnya mereka berasal dari sebuah negeri yang terkenal murah senyum !

PESAN SPONSOR======================================================

Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :

http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto

========================================================TERIMAKASIH

Kamis, 27 Mei 2010

KIAT TENANG MENGHADAPI PLAGIATOR

Sungguh suatu hal yang sangat mengejutkan, ketika kami membaca sebuah koran nasional, pada kolom artikel muncul sebuah tulisan dengan judul yang sangat akrab di benak. Era .... ! Tercatat sebagai penulis adalah Dr. X, M. Pd.

Lebih sulit dimengerti lagi adalah, bahwa ketika kami baca setiap kata yang tertuang dari awal paragraf pertama sampai tanda baca terakhir, maka hampir semuanya adalah kata-kata yang pernah kami tuangkan dalam tulisan yang dikirim ke beberapa media 5 tahun sebelumnya.

Perasaan gundah gulana menyodok dada. Tentu saja ! Dan puncaknya adalah ketika mengobrak-abrik arsip, maka dari disket tua muncul sebuah tulisan yang persis sama.

Ketika ngobrol kiri-kanan, sebagian orang menyarankan untuk maju ke jalur formal. Mulai menuntut ganti rugi sampai lewat hukum karena kelakuan Sang Intelek itu melanggar hak cipta.

Namun demikian, saran dan pendapat itu hanyalah angin lalu. Karena dalam benak sudah tertanam sebuah pendapat seorang calon pendeta yang masih sangat belia. Pada suatu kesempatan Pelatihan Menulis Buku Ilmiah di ITB, anak muda itu menggugah para hadirin yang umumnya penulis senior untuk mencoba bersyukur atas karunia Tuhan.

“Dari awal pembicaraan, hampir semua hadirin dan pembicara membicarakan soal hubungan isi buku dan isi perut.” Katanya memulai pembicaraan. “Seolah-olah itulah puncak segalanya. Tulisan berarti uang, hak cipta pun ujung-ujungnya tuntutan uang.”

“Tidak kah ada sedikit tersisa dalam hati Saudara-saudara keinginan untuk bersyukur ?” Hadirin senyap. “Bukankah wajar kalau kita bersyukur bahwa kita dikaruniai kemampuan untuk menulis. Ribuan orang tidak memiliki kemampuan itu.”

“Tidak adakah keinginan dalam benak Saudara mencoba untuk bersyukur dan ikhlas kalau orang lain dapat dengan bebas menikmati apa yang Saudara bisa perbuat ?”

Sungguh sulit dipercaya kalau rangkaian kata anak muda itu merupakan karunia bagi kami pribadi, yang saat itu sedang gundah gulana akibat salah satu konsep perencanaan pembangunan untuk Kabupaten Indramayu yang kami buat ternyata di-ekspose orang lain.

Itulah awal bangkitnya kembali perasaan untuk menulis. Tetapi ternyata sulit. Sangat sulit sekali. Berbekal modal ikhlas dan niat baik, alhamdulillah, secara bertahap jari-jemari ini kembali bisa menuangkan isi otak secara bertahap.

Hanya Allah subhana wa taala yang mengakaruniakannya. Terimakasih sahabat, calon pendeta yang tidak pernah saya kenal sebelum dan sesudahnya.

PESAN SPONSOR======================================================

Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :

http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto

========================================================TERIMAKASIH

SARJANA MEMBANGUN DESA (SMD) DEPARTEMEN PERTANIAN

LOWONGAN KERJA

DIBUTUHKAN RIBUAN ORANG
SARJANA PETERNAKAN,
DOKTER HEWAN,
DIPLOMA III ILMU-ILMU PETERNAKAN DAN
KEDOKTERAN HEWAN
UNTUK DITEMPATKAN DI DAERAH MASING-MASING.

HUBUNGI PERGURUAN TINGGI NEGERI TERDEKAT !


Dulu, tidak mungkin ada lowongan kerja seperti di atas. Sekarang, dengan adanya program Sarjana Membangun Desa (SMD), iklan lowongan kerja seperti di atas mungkin saja terpampang di media cetak atau bahkan situs pertemanan dunia maya sekalipun.
Program yang sudah berjalan 3 tahun ini memang bukan hanya membantu para lulusan Fakultas Peternakan dan Kedokteran Hewan dalam mengamalkan ilmu yang telah dipelajarinya tetapi juga terbukti memberikan nilai tambah tersendiri bagi masyarakat peternak. Transfer teknologi berjalan reversible, pengetahuan teoritik dari kampus sampai kepada peternak dan sebaliknya pengalaman praktek menjadi bahan pelajaran berharga bagi SMD.
Sebuah pelajaran yang sangat berharga adalah pembelajaran jiwa enterpreunership yang dimiliki peternak. Keterbatasan ilmu, kesempatan belajar, pola pikir, pergaulan dan berbagai halangan lainnya tidak menyebabkan jiwa kewirausahaan masyarakat terhambat. Hal inilah yang dapat dipetik oleh seorang SMD yang pada beberapa sisi memiliki banyak kelebihan untuk tertantang menjadi lebih bisa mandiri.
Oleh karena itu, dengan dana bantuan dari Departemen Pertanian yang besarnya berkisar antara 70 juta sampai ratusan juta rupiah ini, diharapkan seorang SMD bukan hanya menghantar anggota kelompok ternak yang dibinanya maju dan mandiri tetapi yang lebih penting lagi adalah bahwa SMD yang bersangkutan dapat membina dan mengentaskan dirinya sendiri.
Untuk mencapai tujuan tersebut tentu bukanlah hal yang mudah, banyak kendala yang dihadapi, mulai dari diri SMD itu sendiri, lingkungan da berbagai factor lainnya. Bahkan, setelah program ini berjalan beberapa tahun, para nyamuk pers pun sudah mulai mengintainya sebagai sasaran gigitan.
Namun demikian, berbagai kendala itu sesungguhnya tidaklah terlalu perlu dirisaukan apabila semua pihak berpedoman pada ketentuan yang sama, yaitu Pedoman Pelaksanaan Program Sarjana Membangun Desa (SMD) yang diterbitkan Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian. Sebab buku kecil inilah kitab yang membeberkan keleluasaan dan sekaligus membatasi gerak orang-orang yang terlibat dalam program ini serta tanggungjawab dan hak masing-masing.
Beberapa pelajaran yang dapat dipetik dari pelaksanaan program SMD tiga tahun berjalan adalah sebagai berikut :
1. Panitia dan peserta, baca dan patuhi pedoman !
Mungkin ini adalah sesuatu yang sangat tidak patut terjadi dan bagi beberapa program hal semacam ini tidak perlu terjadi. Tetapi di program SMD, benar-benar terjadi.
Sebagai contoh adalah dalam hal penerimaan SMD, perguruan tinggi dan wilayah kerjanya sudah diatur dan jelas sekali tertera pada halaman 33-34 (untuk tahun 2009). IPB dalam hal ini membina wilayah DKI, Propinsi Banten dan beberapa kabupaten/kota di Jawa Barat (Boogor, Bekasi, Cianjur, Cirebon, garut, Indramayu, Depok, Kuningan, Sukabumi dan Karawang). Sementara Unpad membina sebagian kabupaten/kota, yaitu Majalengka, Purwakarta, Subang, Sumedang, Ciamis, Tasikmalaya, Bandung, Bandung Barat, Bandung Selatan, Bandung Utara, Cimahi dan Banjar.
Pada pendaftaran tahun SMD 2009, beberapa calon SMD dari Kabupaten Indramayu ngotot untuk mendaftar ke Unpad. Alasan yang utama adalah, sangat picik, “Saya alumni Unpad, kalau daftar ke IPB tidak akan diterima !” Alasan yang lain adalah bahwa dosennya pun menganjurkan agar mereka daftar ke Unpad, “Tidak masalah, sama saja !”
Karena saya selaku pembantu pimpinan tidak mau merekomendasi bagi yang daftar ke Unpad, mereka pun menempuh berbagai upaya, yang penting mendapatkan rekomendasi untuk daftar sesuai anjuran dosennya itu. Merekapun lolos untuk daftar SMD via almamater tercintanya.
Seleksi pun dilaksanakan, dari 4 (empat) orang calon SMD, salah satunya dinyatakan lulus. Sikap optimis terpancar di wajahnya, wajah merona penuh kegembiraan. Sementara 3 orang yang lain meratapi kegagalan dalam persaingan yang menimbulkan tanda tanya besar, “Mengapa saya gagal, padahal semua pertanyaan saya jawab dengan benar !”
Tetapi, keceriaan itupun pada akhirnya harus berakhir pedih. Calon yang lulus dari seleksi di Unpad itu dinyatakan tidak layak oleh tim dari IPB. IPB melakukan seleksi hanya terhadap calon yang diusulkan Unpad ini, yang 3 lagi tidak, karena berkasnya pun hanya sampai di Unpad.
Ketika keputusan kelulusan sudah dipastikan, tim IPB dipimpin oleh Dekan Fakultas Peternakan berkunjung ke Kabupaten Indramayu untuk suatu kegiatan. Beliau terkesan sekali dengan kelompok sapi potong di Desa Cikawung Kecamatan Terisi, bukan hanya perkandangan dan potensi hijauan yang sudah siap tetapi juga pengalaman nyata dan jiwa kewirausahaan ketua kelompok akan sangat berarti dalam mengantar kemandirian SMD. Pola pikir peternak pun akan sangat berarti jika dilengkapi dengan keilmuan teoritik dari SMD. Kebetulan sekali salah satu kelompok ternak yang dikunjungi adalah calon binaan calon SMD yang gagal.
Tentu hal ini tidak perlu terjadi jika calon SMD itu mendaftarkan dirinya ke PTN yang memang menjadi pembinanya. Bukan gagal di tengah jalan, diseleksi oleh pihak yang tidak berwenang menyeleksinya !
Oleh karena itu, kepada calon SMD, jangan segan-segan untuk daftar ke lain almamater. Asal sesuai dengan aturan yang berlaku. Bagi alumni PTN/S lain, jangan takut daftar ke IPB, kata seorang teman, “IPB itu perguruan tinggi nasional yang didirikan seorang nasionalis bernama Soekarno. Oleh karena itu, pola pikirnya pun nasional, bukan terkotak-kotak dalam kedaerahan dan kesukuan !”
Banyak ketentuan lain yang dapat dipetik menjadi pedoman dan juga pengetahuan tambahan yang dapat menjadi bekal dalam seleksi SMD yang dilakukan PTN Pembina terurai panjang lebar di buku kecil itu. Oleh karena itu, kuasai isinya sebelum memutuskan melamar menjadi SMD !
Sebagai catatan, bagi yang ingin mendapatkan Petunjuk Pelaksanaan SMD Tahun 2009 bisa kirim e-mail ke dinoto.indramayu@gmail.com.

2. Kenali diri dan kelompok ternak binaan
Tidak dapat dipungkiri, sekalipun calon SMD adalah orang asli yang sedaerah dengan kelompok ternak yang akan dibinanya sering sekali keduanya tidak saling mengenal secara dekat. Berbagai perbedaan dan jarak tempat tinggal menyebabkan keduanya menjadi pihak yang berbeda satu dengan yang lain.
Oleh karena itu, perlu dilakukan pendekatan terhadap kelompok yang akan dibina. Pendekatan formal sedapat mungkin dihindarkan, kecuali terpaksa. Memahami berbagai faktor yang berhubungan dengan menjadi sangat penting. Bahkan sekedar mengetahui keanggotaan kelompok tetapi juga harus menjadi bagian tak terpisahkan dari kelompok itu sendiri.
Sebelum mengenal orang lain, tentu yang paling penting adalah seorang calon SMD dapat mengenali dirinya sendiri dengan baik. Mulai dari tingkat kemampuan, pengetahuan sampai soal minat berwirausaha dan komoditi yang disenanginya. Persoalan jenis ternak misalnya, jangan dianggap sepele, jika minatnya condong ke budidaya itik maka jangan sekali-sekali mengubah pikiran untuk membina kelompok ternak sapi dengan asumsi dana yang diterima 2 kali lipat lebih banyak ataupun alasan lainnya.
Jadilah calon SMD yang sudah mengenali diri dan kelompok ternaknya sebelum orang lain menanyakan tentang hubungan keduanya. Calon SMD dan kelompok ternak harus satu bahasa dan kesepahaman, karena tim seleksi bukan hanya menyeleksi calon SMD tetapi juga memverifikasi ke lapangan bertemu dengan kelompok ternak dan masyarakat sekitarnya.

3. Bersikaplah wajar-wajar saja
Dalam menghadapi tim seleksi, banyak upaya dilakukan untuk menjadi lebih unggul dibandingkan peserta lain. Boleh saja, tetapi jangan berlebihan. Dalam wawancara, selalu hindarkan bahwa calon mempunyai kesan jelek terhadap pihak lain, misalnya terhadap birokrasi, teman yang lain, apalagi kelompok ternak yang akan dibinanya.
Dalam menerima tim verifikasi pun jangan terlalu berlebihan sekalipun memang sudah melekat di masyarakat untuk menghormati tamu bak raja. Bahkan jangan kaget jika mereka tidak mau dijamu, apalagi diberi amplop (tentu berisi uang) untuk bekal pulang !
Penerimaan yang berlebihan hanya akan menambah kecurigaan akan banyaknya factor X yang disembunyikan. Hargailah mereka sewajarnya, sebagai tamu yang sudah dibekali semua kebutuhannya oleh Departemen Pertanian yang mengutusnya.

4. Persiapkan diri dengan baik
Bekal teoritis tentu sudah banyak diperoleh dari kampus, bahkan praktek dalam bentuk yang terbatas pun sudah sering dilakukan. Pelajari kembali bagian-bagian yang berhubungan dengan komotitas ternak yang akan dipelihara kelpompok ternak binaan. Beberapa pengetahuan tambahan, pasca panen dan pengolahan limbah tentu akan sangat berarti. Jangan lupa bahwa pengetahuan tambahan yang diperoleh dari kelompok ternak akan sangat berarti dalam menambah wawasan.

5. Jaga hubungan baik dengan birokrasi
Birokrasi selalu dianalogkan dengan kata menyulitkan. Sekalipun mungkin memang senyatanya demikian, calon SMD harus menerima keadaan ini dengan lapang dada. “Itulah birokrasi !” Memang sesungguhnya,birokrasi tidaklah mempersulit tetapi menyesuaikan dengan aturan yang berlaku. Namun sikap birokrat ini tidaklah selalu dapat diterima, apalagi oleh mereka yang biasa aktif mengurus kegiatan kampus yang tanpa harus bertele-tele bisa langsung terlaksana sesuai proposal dan harapan.
Hubungan dinas yang membidangi peternakan harus baik sejak seorang calon SMD memutuskan untu melamar program ini. Sebuah rekomendasi dari pihak birokrasi diperlukan waktu melamar dan akan menjadi pertimbangan utama terpilihnya seorang calon SMD.
Mungkin ada pengalaman SMD yang sudah terpilih tanpa adanya rekomendasi dari birokrasi, mungkin ada, tetapi janganlah hal tersebut ditiru. Jika perbuatan melanggar aturan ini dilaksanakan maka birokrasi bisa lakukan skak-ster, mengirim surat ke panitia dan Departemen Pertanian tentang pelanggaran yang dilakukan calon SMD. Akibatnya, cuma satu, paling banter, gagal.
Hubungan pun harus tetap baik setelah semua dana cair dan program yang dilaksanakan berjalan. Laporan bulanan dan triwulanan menjadi kewajiban SMD untuk membuat dan melaporkannya. Kinerja seorang SMD dan kelompoknya tidak bisa dihindarkan dari kesaksian brokrasi yang membinanya.

Selain ke-lima hal tersebut di atas, program yang sangat baik ini ternyata di lapangan menuai beberapa opini yang harus disikapi secara arif, diantaranya :
1. SMD adalah program PKS
Tidak dipungkiri kalau dua periode kepemimpinan SBY diwarnai dengan hadirnya Menteri Pertanian yang selalu dari PKS (Partai Keadilan Sejahtera). Mungkin juga erat kaitannya dengan asal PTN mereka berasal, IPB. Jika menterinya berasal dari PKS maka bukan rahasia kalau semua jajaran eselon I dan dua di bawahnya berasal dari partai yang sama, sekalipun cuma simpatisan. Oleh karena itu, program-programnya pun tidak akan jauh dari program partai, memberdayakan partai !
Anggapan di atas bukanlah sebuah opini yang benar, oleh karena itu calon SMD harus mengenyahkan anggapan itu jauh-jauh. Apalagi kalau sampai pada kalimat, “Gampang jadi SMD asal dapat rekomendasi dari Ketua PKS kabupaten/kota. “
Seorang calon SMD harus berpikiran luas. SMD adalah program pemerintah yang harus diperebutkan secara professional, hanya yang memiliki berbagai keunggulanlah yang dapat meraihnya.

2. Dosen menjadikan SMD pekerja
Beredar kabar tak sedap yang berhembus bahwa para penyeleksi menjanjikan kepada seseorang untuk lulus menjadi SMD asalkan nantinya modal yang diperoleh digunakan untuk usaha yang dikehendaki oleh penyeleksi. Toch, honor SMD selama setahun saja sudah cukup besar, Rp. 15.000.000,- an.
Jangan pedulikan opini buruk itu, kalaupun hal itu memang terjadi, maka beranilah untuk menolak sekalipun resikonya tidak diluluskan.
Jangan takut pada ancaman karena jika penyeleksi melakukan pelanggaran seperti itu, ketegasan dari calon SMD akan jauh lebih menakutkan mereka. Misalnya melaporkan perilaku tak terpuji itu kepada Departemen Pertanian.
Berjalanlah di atas rel yang sudah ditentukan, kreativitas memang diperlukan tetapi bukan dengan cara menjalankan kereta api di atas jalanan berhotmik atau melayarkannya ke lautan ataupun menerbangkannya ke udara bebas .
Jika saja tahun ini direncanakan 6.000 orang SMD akan diberdayakan oleh Departemen pertanian maka peluang ini bukan hanya menjadi tantangan bagi alumi Fakultas Peternakan dan Fakultas Kedokteran Hewan tetapi juga berdampak luas bagi pemerataan kesejahteraan masyarakat petani ternak serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi dari grass-root yang selama ini sangat kecil kontribusinya. Selain itu, Tim Seleksi dari setiap PTN yang diberi kepercayaan pun harus memposisikan diri sebagai professional dalam menjalankan tugasnya, lepas dari keinginan dan berbagai kepentingan sesaat yang sering menyesatkan.

PESAN SPONSOR======================================================

Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :

http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto

========================================================TERIMAKASIH

QUO VADIS,PAHLAWAN TANPA TANDA JASA

"Umar Bakri, Umar Bakri, Pegawai Negeri ...."

Lirik di atas tentu sangat dekat dengan masyarakat Indonesia selama puluhan tahun. Iwan Fals membawakannya dengan penuh perasaan diiringi melodi yang sangat menunjang, sangat menyentuh siapapun yang mendengarkannya.
Ketika zaman berubah, teknologi semakin murah, motor menggantikan sepeda kumbang terlalu mahal untuk dipedal.
“Ojek, Mas !”
Tanpa basa-basi aku pun nyelonong duduk di jok, motor menderu kencang meninggalkan pangkalan ojek di sisi jalan pantura Pulau Jawa. Tidak ada kata terucap, tujuan sekalipun, tetapi Mas Ojek sangat tahu jalan mana harus dilalui dan dimana berhenti. Pas di depan rumahku.
Aku sangat terkejut, ternyata beliau adalah guru SD kami.

Cerita di atas hanyalah sebagian kecil dari gunungan balada kehidupan Pahlawan Tanpa Tanda Jasa di negeri ini. Berbagai suratkabar memberitakannya dengan bahasa mendayu dan menyayat hati. Pahlawan seakan terlupakan, terkubur jasanya sendiri yang tak ternilai.
Tetapi tidak semua orang setuju dengan balada yang banyak dijadikan bahan cerita itu. PNS selain guru banyak yang merasa iri dengan barbagai fasilitas yang diberikan kepada mereka. Mereka bukan hanya dapat gaji tetapi juga tunjangan fungsional. Sekarang, bagi yang lolos sertifikasi ada tambahan setara gaji. Kenaikan pangkat pun bisa ngebut dua tahun sekali.
Bila dihitung-hitung maka seorang guru tamatan sarjana pendidikan akan menikmati fasilitas finansial mendekati 4 juta sebulan. Dua tahun berikutnya akan naik pangkat dan golongannya menjadi III/b. Sewindu usia bekerjanya, maka golongan IV/a sudah di tangan.
Sarjana yang berkarir di non guru tentu tidak sedemikian beruntung. Pangkat IV/a hanya akan dicapai apabila yang bersangkutan sudah duduk di jabatan setara eselon III (Kasubdin, Kabag, Kabid, Sekretaris, Camat, dll). Puncak pangkat hanya sampai III/d kalau hanya sampai duduk di eselon IV (Kasi, Kasubag, Kasubid, Kaur, Lurah, dll). Kenaikan pangkat 4 tahun sekali, sehingga ketika rekan guru sudah IV/a maka pegawai non-guru baru merangkak ke III/c. Pangkat III/c ini sering mentok kalau tidak punya jabatan.
Soal gaji, jangan tanya, bisa hanya sepertiga guru! Kalau ada jabatan tentu ditambah tunjangan jabatan. Kan ada tunjangan jarahan ???
Akh, bahasanya terlalu vulgar. Kalau soal itu sudah bukan rahasia lagi, baik non-guru maupun guru punya cara sendiri untuk mendapatkan rezeki yang seimbang dengan kebutuhan. Tidak mengherankan kalau banyak PNS bergaji minimal atau bahkan minus setiap bulannya tetapi tetap bisa hidup layak sebagaimana para tetangganya yang harus bercucuran keringat untuk dapat sesuap emas.
Berbicara soal fasilitas guru, memang tidak bisa dipukul rata. Guru PNS sangat berbeda fasilitasnya dengan yang masih honor dan sukwan. Tidak mengherankan kalau sebagian besar guru yang mengajar di lembaga bonafid sekalipun ingin mendapat status PNS. Terdapat jurang yang sangat dalam antara dua status satu profesi ini.
Kalau guru PNS penuh fasilitas seperti yang disampaikan terdahulu, sebaliknya guru non-PNS umumnya tidaklah demikian. Honor bulanan yang menyentuh angka jutaan, tentu sangat jauh dari mereka yang menjalankan tugas di pedesaan. Upah Rp. 100.000,- sebulan pun masih banyak yang menjalani, dengan satu harapan, suatu saat diangkat menjadi PNS.
Dua kubu yang sangat bertolak belakang ini sering dimanfaatkan secara tidak seimbang. Ketika bicara peningkatan kesejahteraan guru, maka nasib para sukwan dan honorer sering dicatut. Penderitaan mereka punya nilai jual yang tinggi untuk menggugah hati siapapun.
Begitu kebijakan pemerintah turun, nasib mereka tetap seperti semula. Kesejahteraan bertengger di titik nadir kesengsaraan. Nasib tetap dalam ketidak berdayaan. Manfaat hanya dinikmati mereka yang sudah mempunyai NIP.
Tetapi, bukankan tidak sedikit guru PNS yang harus kerja keras di luar jam mengajar? Bahkan harus menarik ojek demi dapat mencicil motor?
Jawaban seloroh yang sangat mengena adalah, “Salah penempatan. SK mereka ditempatkan di Bank Jabar atau BRI atau bank lainnya, tetapi ditugaskan sebagai guru.”
Bukankah kalau menurut SK ditempatkan di bank, semestinya mereka juga kerjanya harus lembaga keuangan itu? Bukan sebagai guru atau profesi lainnya. Ketidaksesuaian antara SK dan tugas inilah yang menyebabkan hidup oknum guru itu menderita batin.
Tentu saja dua paragraf di atas hanya seloroh, tetapi sangat mengena. Tidak sedikit para guru yang menyekolahkan SK-nya di bank untuk dapat kucuran dana segar. Ketika ada kenaikan pangkat atau fasilitas lain maka pihak lembaga keuangan sangat jeli, segera mendatangi mereka dan menawarkan pinjaman yang jauh lebih banyak dan berbagai keuntungan lainnya sehingga sangat disayangkan untuk tidak diambil.
Jeratan ini berlangsung terus, tidak sedikit yang tergoda sampai usia pensiun tiba. Bukan rahasia umum kalau banyak guru yang SK pensiunnya terbit bersamaan dengan selesainya SK wisuda dari bank. Lembaga keuangan juga tidak mau menanggung resiko kalau mereka sudah pensiun.
Tetapi tidak selalu begitu, SK pensiun pun masih laku untuk menarik dana segar. Masih ada jaminan untuk membayar bulanan, biarpun sudah tua masih ada saja yang memburu. Banyak bank bersaing meraih peluang.
Ketajaman lembaga keuangan akan kepastian nasib pegawai negeri, sekarang SK calon PNS saja sudah dapat dijadikan agunan berbagai macam pinjaman. Mulai dari dana segara sampai barang-barang konsumtif.
“KHUSUS GURU, BEBAS UANG MUKA!” Iklan sebuah merek sepeda motor tampil secar mencolok. Tentu hal ini bukan semata penghargaan perusahaan terhadap jasa para Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, tetapi salah satu pancingan yang akan menyeret mereka ke dalam lembah kehidupan konsumtif. Banyak sekali rayuan, salah-salah bisa terjerumus dalam lembah hutang yang tak terbayarkan.
Kebijakan pemerintah yang selalu memanjakan para guru dengan fasilitas finansial yang terus bertambah sudah saatnya diiringi pendidikan mental menuju kehidupan yang realistis. Para guru juga manusia yang tidak boleh berhenti berguru.....
Pendidikan mental inilah yang akan mempu menghalau berbagai ajakan ke arah kehidupan konsumtif yang selalu datang menggoda. Sebab penghasilan mereka, khusus yang PNS lho, jauh di atas UMR daerah manapun. Tinggal pemanfaatannya, paling tidak, kalau uang gaji dan fasilitas lainnya itu sempat mampir ke rumah tentu akan berbeda ceritanya. Sebagian telah merasakannya, sangat berlebih, bahasa sopannya, “cukuplah!”
Selamat ulang tahun para guru, “tanpa engkau, aku bukan apa-apa” tetapi aku lebih takut kalau para Pahlawan Tanpa Tanda Jasa ini terjebak dalam kurungan kehidupan konsumtif yang berani menghardik “tanpa aku, engkau bukan apa-apa!”

PESAN SPONSOR======================================================

Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :

http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto

========================================================TERIMAKASIH

TUHAN SETENGAH SENTI SAJA

Mohon maaf kalau judul yang digunakan disini terinspirasi dari Tuhan Sembilan Sentimeter-nya Uda Taufik Ismail. Keduanya samasama telah menjadi bagian dari masyarakat, juga akan dapat mencabut nyawa sebagian dari mereka.
Benda kecil itu terbuat dari karet, hitam, kenyal dan berbentuk silinder dengan tinggi kurang dari satu sentimeter, tidak jauh dari setengah sentimeter saja. Tempatnya yang pas di muara keluarnya gas alam dari tabung gas program konversi minyak tanah dan sejenisnya.
Tetapi jangan disangka, karet kecil itu sanggup mencabut puluhan nyawa yang mengabaikan tugas dan fungsinya, yaitu menyambung-rapatkan antara tabung gas dengan kompor melalui regulator dan selang.
Bukankah pengalaman menunjukkan penggunaan kompor gas sangat selain nyaman juga aman ? Itu masa lalu, ketika kompor gas masih jadi barang langka. Pemakainya relatif terbatas pada kalangan tertentu, paling tidak mereka yang berpendidikan atau pengalaman. Saat itu sebagian besar masyarakat Indonesia masih bergaul dengan tungku atau paling banternya kepulan kompor minyak tanah.
Sekarang, kompor gas sudah menjadi bagian yang terpaksa harus ada di setiap rumah tangga. Produksi massal ini bukan hanya menghadapi kendala internal institusi penghasilnya tetapi juga masyarakat awam belum siap dengan bahan mudah terbakar ini. Kebanyakan mereka beralih ke gas karena terpaksa, terpaksa karena tidak ada lagi minyak tanah setelah terpaksa menerima pemberian gratis dari pemerintah.
Tidak mengherankan, baru beberapa hari tabung gas 3 kg dibagikan sudah ada berita tentang meledaknya satu-dua kompor gas. Korban jiwa dan harta tak terhindarkan. Siapa yang bertanggungjawab?
Pertamina melalui beberapa iklannya terkesan membela diri, penggunaan gas bukan hanya aman tetapi juga lebih hemat daripada menggunakan kompor minyak tanah. Bukan hanya itu, perabotan memasak juga jadi bersih dan lingkungan bebas dari jelaga. Itu, kalau diiringi dengan pendidikan yang baik kepada masyarakat. Pertamina dan stasiun pengisian gas juga harus mau dikoreksi untuk perbaikan terhadap pelayanan. Kalau tidak maka kejadian yang menelan korban tidak akan berhenti.
Tanpa bermaksud menyudutkan pihak tertentu, kami belum 2 bulan menggunakan tabung gas 3 kg, sudah beberapa kali mengalami hal yang tidak diinginkan, yaitu :
1. Ketika regulator dipasangkan maka terdengar suara gas dengan kencangnya. Bau gas begitu menyengat memenuhi ruang dapur. Kejadian ini sudah 2 kali terjadi.
2. Kompor gas tidak menyala padahal tabung gas yang dipakai baru saja dibuka segelnya.
Menghadapi kejadian pertama, kami sangat kaget. Beruntung kompor tidak terus dinyalakan dan ventilasi udara dapur menggunakan exchaust sehingga bau gas segera hilang. Lebih beruntung lagi, kami punya 2 tabung sehingga ketika salah satunya mengalami kendala seperti ini dapat melihat apa gerangan penyebabnya. Ternyata ada karet, kemungkinan dari situlah permasalahan. Ternyata benar, setelah karetnya ditukar, suara gas tidak muncul lagi.
Ternyata hal ini tidak hanya dialami kami, teman di kantor juga mengalami hal yang sama. Dia panik sehingga memanggil beberapa tetangga. Kejadian ini juga terulang dua minggu kemudian. Karetnya ternyata sudah agak encer melekat di dalam mulut tabung.
Kalau saja saat itu kompor gas dibiarkan menyala, ledakan tak akan terhindarkan. Mungkin beberapa kasus meledaknya tabung gas yang terjadi disebabkan oleh tidak rapatnya karet dengan regulator, ditunjang oleh tidak adanya batas antara tabung gas dengan letak kompor.
Kasus tidak keluarnya gas dari tabung juga ternyata tidak sendiri. Ketika kami hendak mengembalikan tabung yang masih penu itu kepada penjualnya, ternyata sudah ada 2 orang ibu yang juga kebingungan karena kompor gasnya tidak mau menyala padahal tabung gasnya yang masih penuh.
Penjual yang kebetulan menyediakan kelengkapan kompor gas, dengan semangat menawarkan regulator yang terbaik. Tetapi si ibu tidak langsung menerima karena sudah 2 regulator tetangganya dicoba tetapi tidak juga menyala. Namun akhirnya mengalah juga, membeli regulator merek terkenal.
Kamipun dikecoh dengan anggapan kemungkinan kendala berasal dari regulator. Tetapi segera kami sanggah, kompor dan regulator yang kami pakai adalah merek terkenal dengan garansi seumur hidup. Penjual terkejut, sehingga dia segera mengambil tabung gas kami dan menusukan obeng. Gas menyembur keras, bau menyengat. Setelah itu dicobanya ke kompor miliknya.
“Sudah beres, pak!”
Mudah saja. Dia menjelaskan kalau terjadi kasus gas macet seperti itu, tusuk saja jalan keluar gas dengan obeng. Katanya, suka ada penyumbatan di pintu keluar. Jangan sampai mengarah ke badan karena tekanan sangat kuat.
Sampai di rumah, ketika diterapkan ternyata kompor gas tidak juga menyala. Maka kami melakukan saran penjual. Menyemburkan gas beberapa detik. Menyalalah kompor sekalipun beberapa menit tetap tidak normal, satu jam kemudia menyala sebgaimana mestinya.
Kejadian-kejadian di atas sudah pasti merupakan kendala dan solusinya harus diketahui oleh masyarakat. Pertamina dan para mitranya juga semestinya berusaha memberikan pelayanan terbaik.
Oleh karena itu, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan maka kami sarankan :
1. Masyarakat komsumen hendaknya mempunyai tabung gas lebih dari satu. Minimal 2, sehingga ketika satu tabung kosong maka yang satunya bisa segera mengganti. Atau kalau yang satu misalnya karetnya rusak, maka dapat digunakan karet dari tabung gas satunya lagi. Dengan demikian kegiatan di dapur tidak terganggu apabila di tengah aktivitas, gas tiba-tiba habis.
2. Ketika gas sudah kosong, maka dengan bantuan obeng kecil, keluarkan karet penyumbat. Disimpan untuk pengganti kalau-kalau suatu saat kebagian tabung gas yang sumbat karetnya rusak yang ditandai dengan suara desis gas dari ujung bawah regulator. Hal ini juga dimaksudkan agar stasiun pengisi gas menggunakan sumbat karet yang selalu baru. Dengan mencabut sumbat karet ini berarti kita telah menyelamatkan beberapa nyawa yang suatu saat akan kegiliran menggunakan tabung gas yang pernah kita gunakan.
3. Tempatkan tabung gas dengan jarak maksimal, tergantung panjang selang. Kalau bisas ada pembatas antara tabung gas dengan kompor. Sehingga apabila terjadi gas nyasar tidak langsung disambar api.
4. Ventilasi dapur diusahakan sebaik mungkin. Udara bersih setelah menggunakan kompor gas seiring dengan tingkat bahaya yang tingg apabila ventilasi diabaikan. Bila masih ada bau gas di ruangan, jangan sekali-sekali menyalakan api, termasuk kompor gas.
Demikian beberapa pengalaman yang kiranya dapat menjadi pelajaran berharga bagi para pemakai tabung gas. Tentu saja masih banyak persoalan lain yang akan dihadapi masyarakat pengguna kompor gas program konversi, misalnya ketersediaan gas yang suka tiba-tiba lenyap dari pasaran. Jangan disangka, kami yang tinggal 5 km saja dari pengolahan minyak dan gas tidak lepas dari permasalahan ini.
Selain itu, dengan adanya pembagian tabung gas, kompor dan regulator gratis dari pemerintah ternyata menyebabkan beberapa perusahaan yang selama ini menjadi penyedia perlengkapan itu sedikit gerah. Sehingga, kebijakan yang seharusnya dipandang sebagai potensi (masyarakat menjadi terbiasa dengan kompor gas) dianggap sebagai ancaman.
Oknum pemasar yang demikian, dengan otak liciknya mendatangi pengguna dengan berbagai motif, mulai dari sebagai petugas pertamina atau lainnya. Mereka mencoba mengotak-atik regulator yang terpasang, sampai akhirnya dicobakan regulator yang dibawanya dan pengguna dipaksa membeli regulator tersebut dengan harga yang relatif tinggi.
Sungguh banyak tantangan masyarakat obyek konversi minyak tanah ke gas ini dan menjadi tugas kita semua untuk tidak membiarkan masyarakat menjadi korban secara terus-terusan.

PESAN SPONSOR======================================================

Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :

http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto

========================================================TERIMAKASIH

MANGGA GEDONG GINCU

Gedong Incu, eh, sekarang mah Gedong Gincu kali ....

Indramayu identik dengan mangga. Itulah sebabnya Mangga Cengkir yang sangat khas pulen-nya di masuarakat luas terkenal dengan nama Mangga Indramayu. Namun budidaya Mangga Gedong Gincu (MGG) dengan dana milyaran rupiah di daerah ini akan mengancam citra Mangga Cengkir menjadi Mangga Cengir (silakan tersenyum).

MGG memang mudah tumbuh, cocok sekali dikembangkan di Indramayu dan Cirebon. Sesuai dengan namanya, pada bagian atas buahnya terdapat bercak merah merata seperti gincu. Baunya harum melebihi Mangga Kweni, seratnya yang sangat lembut menambah kenikmatan waktu disantap. Itulah sebabnya harga MGG relatif tinggi, 3 sampai 5 kali lipat daripada Mangga Cengkir. Namun sayang, populasinya masih sangat sedikit.

Melalui Proyek Pengembangan Agribisnis Hortikultura Mangga Gedong Gincu (P2AH-MGG) yang bekerjasama dengan Pemerintah Jepang, selama 3 tahun terakhir tepatnya sejak tahun 1997/1998 di Kabupaten Indramayu ditanam 100 ribu bibit MGG hasil okulasi pada lahan seribu hektar. Kabupaten Cirebon pun mendapat jatah yang sama. Seorang pejabat Dinas Perkebunan Kabupaten Cirebon membanggakan keberadaan MGG di kedua daerah ini sebagai komoditi unggulan di Kawasan Ciayu Majakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan atau Wilayah III Cirebon).

Namun menjelang tanaman tahun pertama harus belajar berbuah masalah seperti berdatangan, kematian mendadak tak terhindarkan. Sejak Januari 2001 Laju Tingkat Kematian rata-rata MGG di Indramayu mencapai 3,26 prosen yang berarti 6.260 pohon mati tiap bulannya. Nasib MGG di Cirebon lebih memprihatinkan, dengan tambahan sulaman 24 ribu ternyata sekarang hanya tersisa 84 ribu saja. Walaupun 40 ribu tanamannya mati, Pimbagpronya tetap optimis akan keberhasilan proyek mercusuarnya dan memaksakan kehendak untuk segera membangun 2 buah gedung sortir di tahun 2002.

Memang tahun depan mangga yang ditanam tahun pertama akan mulai belajar berbuah, musim buah berikutnya yang lain mengikuti, setahun kemudian tambahan produksi terus meningkat. Itulah harapan sesuai dengan perjanjian dalam proposal. MGG pun akan tercatat sebagai komoditi unggulan jikalau tanaman itu tidak keduluan tercacat dan ditunggulkan (dibiarkan mati dan menjadi monumen ).

Pada akhirnya, nama MGG dipertaruhkan. Apakah tetap Mangga Gedong Gincu sebagai bahasa Indonesia atau beralih asal menjadi bahasa Sunda dengan sedikit meleset, “Mangga, Gedong Incu” (Silakan, rumah untuk cucu) !

PESAN SPONSOR======================================================

Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :

http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto

========================================================TERIMAKASIH

MIRASGATEL-MIRASGAET-MIRASGATE

Anomali kehidupan ini dulu pernah terjadi ….

Perang terhadap minuman keras juga terjadi di Indramayu seperti halnya daerah lain. Di wilayah paling barat, ribuan miras sitaan Polsek Haurgeulis dihancurkan. Demikian juga di tingkatan polsek kecamatan yang lain, aksi serupa bukan hal yang baru.

Tetapi ceritanya menjadi lain ketika dua bak truk besar miras sitaan diamankan di ingkungan Kantor Bupati, tepatnya di gudang bekas kantor Bagian Perlengkapan. Pada kawasan yang 24 jam dijaga ketat Satpol PP ini, sekitar 5.000 dus berisi 50.000 botol miras lenyap tanpa krana. Padahal upacara pemusnahan tumpukan botol miras itu rencananya akan dilaksanakan oktober lalu, langsung dipimpin Bupati.

Selidik punya selidik, ternyata timbunan botol itu membuat gatel oknum yang mesti menjaganya akibat alergi Mirasgatel. Satu dua kali garukan belum terasa dampaknya. Dengan dukungan seorang oknum pejabat, bakat Mirasgaet-nya pun tumbuh dan berkembang, satu demi satu dus digaet sampai ludes.

Media lokal membombardir kasus ini dengan berbagai pemberitaanya sehingga masyarakat Indramayu menjadi akrab dengan kata Mirasgate.

Hasilnya tidak sia-sia, Bupati Indramayu H. Irianto M. S. menepati janjinya. Setelah melalui proses yang cukup lama, palu diketuk. Oknum Satpol PP yang berstatus sukwan dipecat, Kasubag Ratel yang menggoda mereka dicopot jabatannya, ada juga yang ditunda kenaikan pangkatnya satu tahun dan teguran tertulis disampaikan kepada pejabat yang berkaitan sampai dengan level Asisten I.

Penyitaan miras memang selalu identik dengan menghilangnya botol itu dari peredaran yang berbanding terbalik dengan membludaknya permintaan sering menyebabkan alergi Mirasgatel. Kalau sudah terkena penyakit ini orang-baik-baik pun akan kejangkitan Mirasgaet. Masih akan ada hasilnya kalau akhirnya berkembang menjadi Mirasgate. Kalau tidak, nasibnya akan lama terkatung-katung seperti Bulogate.

PESAN SPONSOR======================================================

Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :

http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto

========================================================TERIMAKASIH

BAHASA ASING : BASA SUNDA

Amit-amit, jabang bayi, yang seperti ini tak boleh terulang lagi ….

Walaupun Indramayu secara administratif berada di wilayah Jawa Barat yang selalu identik dengan budaya Sunda, namun sebagian terbesar masyarakatnya berbahasa Jawa.

Dengan berlakunya Perda Propinsi Jawa Barat No. 6 Tahun 1996 yang menjadikan Basa Sunda sebagai pelajaran wajib muatan lokal maka jadilah anak-anak SD di Indramayu mengenal bahasa asing sejak dini. Palajar SLTP dan SLTA harus melahapnya bersamaan Bahasa Inggeris atau Bahasa Arab sekaligus. Bahasa asing dimaksud tidak lain adalah bahasa yang paling dekat dengan masyarakat Jawa Barat, yaitu Basa Sunda.

Lucunya Basa Sunda bukan hanya asing bagi siswa yang lahir dan besar dalam budaya Jawa totok tetapi juga para guru yang kebanyakan berasal dari Jawa Tengah dan Yogyakarta atau bahkan guru senior dari daerah Pasundan sendiri seperti Ciamis, Bandung, Majalengka dan Kuningan. Apalagi bagi masyarakat yang jadi tumpuan bertanya anak-anaknya. Jadilah Basa Sunda bahasa asing untuk semua.

Tidak heran kalau pembelajaran Basa Sunda di Indramayu gagal total, kecuali berhasil membentuk image bahwa Bahasa Jawa Indramayu sangat kasar ! Anak-anak Indramayu sekarang hanya bisa Jawa Ngoko, tidak bisa mengerti ketika mendengar orang-orang tua Bebasan (bertegur sapa dengan Jawa Krama). Padahal dulu, bahasa jenis ini yang dibekalkan kepada para siswa.

Saking asingnya Basa Sunda bagi masyarakat Indramayu, pengamat budaya Hendro pernah menulis pada Dwimingguan lokal Dermayon, “Salah satu peristiwa cukup menggelikan di sebuah SD ketika diselenggarakan TPB akhir caturwulan. Murid-murid kelas VI SD tersebut menerima lembar naskah soal Bahasa Daerah Sunda dengan perintah, “Eusian titik-titik dihadapan ieu !” yang jumlahnya 10 soal. Tetapi yang terjadi kemudian membuat guru bersangkutan kebingungan, pasalnya bagaimana guru akan memberikan nilai atas pekerjaan siswanya, apabila dari kesepuluh soal tersebut hanya diisi dengan titik-titik ( … ) belaka.”

PESAN SPONSOR======================================================

Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :

http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto

========================================================TERIMAKASIH

HP = HANJAKAL PISAN

Sungguh luar biasa perkembangan teknologi handphone sekaran ini. Teknologinya yang makin canggih dan lengkap dihadirkan dalam bentuk yang makin praktis dan manis dipandang. Sementara itu, daya beli penduduk Indonesia sangat bisa mengimbanginya.
Soal daya beli, ada yang meragukan karena berdasarkan hasil survey lembaga berwenang. Di banyak daerah, salah satu komponen IPM (Indeks Pembangunan Manusia) ini ternyata relatif rendah. Ironisnya di daerah tersebut sebagian besar masyarakat sudah berkomunikasi dengan HP dan tentu saja perlu pulsa yang tidak ssedikit.
Sekalipun harga alat komunikasi yang satu ini semakin murah menyentuh tanah, bahkan ada yang “gratis” sehingga hanya dengan membeli pulsa dapat HP. Namun tidak pernah ada penelitian resmi yang mencoba meneliti besarnya biaya ikutan yang didapatkan setelah memiliki handphone.
Biaya yang paling dekat adalah pembelian pulsa. Sekalipun ada operator seluler yang tidak memberikan batas waktu pemberlakuan kartu yang dijualnya, masih banyak yang membatasi sehingga jika tidak diisi ulang pada jangka waktu tertentu akan tidak berlaku lagi.
Untuk permasalahan di atas, mudah saja pemecahannya. Cukup dengan uang sedikit bisa dapat kartu perdana lagi. Biaya yang jauh lebih besar adalah pembelian pulsa yang dilakukan untuk berkomunikasi, baik SMS, MMS ataupun bicara serta keperluan lainnya seperti ber-internet-an.
Sekalipun besarnya biaya pembelian pulsa ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan, setelah sekian kali isi ulang maka nominalnya bisa melebihi harga perangkat HP itu sendiri. Sesungguhnya kebutuhan pulsa sering tidak dapat menyesuaikan, baik kebutuhan ataupun keadaan isi saku sekalipun.
Sering dijumpai, masyarakat dengan ekonomi pas-pasan asyik-masyuk tenggelam dalam pembicaraan dengan perangkat canggih ini. Mungkin gratis, tetapi banyak waktu yangdimilikinya tersita untuk ngobrol berkepanjangan sehingga lupa bahwa ada keluarga yang mesti dihidupi. Keadaan tentu akan menjadi parah ketika untuk berkomunikasi itu diperlukan biaya tambahan.
Banyak orang yang selalu mengaku serba kurang dan harus kerja keras untuk sesuap nasi anak dan isteri, ternyata untuk memanggil anaknya yang hanya beberapa meter saja melalui SMS. Mungkin gratis, tetapi tidak akan selamanya gratis dan yng paling tidak gratis adalah bahwa orangtua itu telah mendidik anaknya untuk konsumtif. Disamping itu, tentu tidak ada operator seluler yang selamanya mau merugi. Promosi terus sampai bangkrut !
Tidak sedikit anak-anak menderita gizi buruk harus masuk ke rumah sakit dengan biaya dari pemerintah daerah setempat. Sementara ibunya selalu berhubungan baik dengan para tetangga menggunakan handphone. Mereka tidak mampu membelikan anaknya makanan bergizi karena sangat tidak tahan tidak unjuk gigi. Orangtua itu tidak sempat mencari bahan pangan bergizi buat anaknya tetapi banyak kesempatan menerima telepon dan menjawab SMS.
Budaya berkomunkasi dengan barang kecil ini sudah semakin merajalela. Berhubungan dengan sesama menjadi sangat mudah, sambil duduk, berdiri, berjalan, berlari sampai bermobil dan berkendaraan motor lainnya.
Biaya tidak sedikit harus dibayar akibat kebiasaan berkendara sambil ber-HP. Pencopetan perangkat komunikasi yang sedang digunakan sudah hal yang lumrah, termasuk relatif beruntung karena kerugiannya hanya seharga HP. Tidak sedikit mereka yang terjebak dalam keasyikan berkomunikasi dan mengalami kecelakaan.
Awal tahun 2009, seorang pelajar tewas di Indramayu setelah handphone-nya digasak pencopet. Tentu bukan karena kaget dan jantungan, tetapi gadis itu mengejar pencopet yang menkabret HP-nya. Kejar-kejaran terjadi di jalan sepanjang pinggir Sungai Cimanuk, dari jalan hotmix ke jalan berbatu dan bertanah. Ketika jalan menyempit maka penjambret menggunakan tendangan ampuh sehingga pengejarnya terpelanting. Masyarkat yang ada segera menolong korban, mengangkatnya dari sisi sungai. Alhamdulillah, siuman.
“Pak, mana teman saya ?” Sebuah pertanyaan yang membuat kaget semua keluarga besar yang sedang berkumpul.
Mayat seorang gadis itu terbujur kaku di sungai yang tidak mengalir lagi setelah semalam harus meregang nyawa dalam hampa. Tanpa teman dan saudara. Sebuah pengorbanan yang tidak sedikit sebagai dampak dari penggunaan teknologi yang tidak pada tempatnya.
Dua Orang Tewas Disambar Truk ! Judul suatu berita. Alhamdulillah salah. Isi berita mengingkari judul. Astagfirullah ! Justeru motornya yang menyambar truk. Pengendara berhelm itu terpecah perhatiannya, menjawab SMS dalam keadaan laju kendaraan yang kencang. Oleng dan menyambar truk yang ada di posisi tengah jalan.
Kemudahan berkomunikasi juga telah sedemikian mudah merasuk ke dalam keluarga. Suami tidak lagi harus tahu dengan siapa isterinya berkomunikasi, apalagi teman anak-anak dan pembicaraan diantara mereka. Keakraban seperti dulu seakan punah dengan adanya teknologi yang bukan hanya bisa menyambungkan tetapi juga menyembunyikan ini.
Tidak dapat dipungkiri, bahwa banyak keluarga yang bisa berhubungan dengan sanak keluarga yang jauh di sana seakan menjadi sangat dekan cuma sedikit pulsa. Sahabat dan kawan lama atau yang tidak pernah dikenal sama sekalipun dengan mudah bisa mudah tersambung menjadi dekat dan bersaudara. Manfaat handphone sangat banyak dalam menjalin komunikasi lebih baik dan efektif.
Tetapi, banyak juga keluarga yang hancur berantakan setelah benda kecil ini menjadi bagian penting dari seisi rumah. Ketidaksalingtahuan komunikasi yang berlangsung telah mengubah makna SMS menjadi Sangat Mudah Selingkuh. Tidak sedikit pengaduan dari tetangga, “Suami Mu Selingkuh !” Banyak juga permintaan maaf dan penyesalan, “Sayang, Mamah Selingkuh.”
Tanpa perlu biaya pulsa tambahan, gambar mati dan bergerak pun dapat bertukar. MMS, Memperindah Makna Selingkuh. Fasilitas blue-tooth pun menjadi sarana pertukaran blue-film dan sebangsanya.
Mungkin tidak ada kerugian finansial sedikitpun bagi masyarakat kalau melihat di layar televisi, para anggota Dewan yang terhormat sedang asyik masyuk dalam tawa di ruang sidang. Bahkan ketika berlangsung acara pun, banyak yang masih tenggelam dalam komunikasi, bicara dan SMS.
Tetapi sesungguhnya, kerugian yang tidak tampak itulah yang sesungguhnya sangat besar. Produk gedung setengah telur itu merupakan acuan yang menentukan maju mundurnya bangsa ini. Bisa dibayangkan, kualitas produknya akan seperti apa kalau dihasilkan oleh mereka yang konsentrasinya terpecah belah seperti itu.
Pajak dan pendapatan lain yang digunakan untuk menggaji dan memenuhi berbagai fasilitas mereka sangatlah tidak seberapa dibandingkan dengan banyaknya biaya dan dampak yang ditimbulkan dari pelaksanaan berbagai produk aturan yang dihasilkan dengan setengah konsentrasi.
Tidak sedikit perilaku mereka dijadikan pijakan, menjadi alasan pembenaran perilaku berkomunikasi dengan HP yang tidak terkendali di masyarakat.
“Anggota Dewan saja begitu !”
Handphone memang sangat dibutuhkan, sangat banyak manfaatnya, tidak sedikit membuat sesuatu yang sulit menjadi mudah. Operator seluler pun telah sangat kreatif bercipta, sesuatu yang tidak mungkin dapat dengan mudah menjadi mungkin. Semuanya membawa manusia ke kehidupan baru penuh kemudahan mencapai keindahan.
Satu hal yang harus dibatasi adalah mencegah agar budaya konsumerisme tercipta untuk kebutuhan yang satu ini dengan mengabaikan kebutuhan lain yang lebih pokok. Bukan semata-mata kebutuhan yang berkaitan dengan perut tetapi juga kebutuhan hidup yang utuh, bersama anak-anak dan keluarga. Keluarga besar bangsa Indonesia.
Jika hal ini terus berlangsung, maka bangsa ini hanya akan tenggelam dalam teknologi yang tidak pernah dipahami masyarakat dengan sebenarnya. Ketidaktahuan akan arti dan makna kehadirannya, akan membawa masyarakat Indonesia suatu saat dalam penyesalan mendalam. Penyesalan yang terlambat, teramat dalam, menyesal sekali, Hanjakal Pisan !

PESAN SPONSOR======================================================

Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :

http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto

========================================================TERIMAKASIH

HP = HAMPA PEKERTI

Anekdot yang sudah sangat mahfum di Zaman Orde Baru adalah bahwa para anggota Dewan yang terhormat sering terkantuk-kantuk saat bersidang sehingga ketika Ketua Dewan mengetuk palu semua serentak berseru, “Setuju !”.
Di Era Reformasi ini ternyata ada kemajuan, khususnya di Ruang Sidang DPRD Kabupaten Indramayu tanggal 9 Juni 2003. Pada saat Wakil Bupati membacakan Nota Penjelasan Rencana Perubahan APBD Tahun 2003 itu tidak ada satupun anggota Dewan yang sampai pulas. Ruang Sidang yang menjadi penentu masa depan pembangunan Kabupaten Indramayu itu tetap meriah dan sangat ramai, dering ringtone HP ataupun tit-tit-tuit SMS yang masuk silih berganti.
Sungguh suatu kemajuan, dari era tidak sopan menjadi sangat tidak berbudi-pekerti alias HP (Hampa Pekerti).
Hampir dua tahun lalu kami mengkritisi (pada Mingguan DERMAYON) seorang kepala unit kerja yang ongkang-ongkang di meja depan memainkan HP tanpa peduli pentingnya acara tersebut bagi pembangunan Kabupaten Indramayu, apalagi sedikit menghargai rekan-rekan di depannya yang mencoba menghargai posisi Sang Kepala.
Mungkin Sang Kepala masih sangat bangga akan barang kecil di tangannya, mengingat saat itu HP masih baru dimiliki segelintir orang saja. Para pejabat eselon II dan III yang hadir saat itu pun baru beberapa gelintir yang ber-HP dan satu-dua diantaranya sempat berdering meramaikan ruang rapat.
Saat ini, dalam waktu yang sangat singkat HP merebak bak kacang goreng. Bukan lagi pejabat yang sanggup mententengnya. Harganya yang relatif terjun payung menyebabkan semua karyawan sanggup memilikinya, terlepas dari PNS, honorer sampai sukwan sekalipun. Bahkan jangan heran kalau ada pelajar SLTP apalagi SMU/SMK bahkan SD dan TK sekalipun yang mejeng mempertontonkan benda kecil itu di saku jeans ketatnya. Sungguh luar biasa.
Kembali ke Ruang Sidang DPRD tanggal 9 Juni 2003, ring-tone berganti-ganti di sudut belakang tempat hadir. Ada yang tanpa risih langsung menjawabnya di saat hadirin lain berkonsentrasi memikirkan nasib rakyat se-Kabupaten. Sebagian menjawabnya setelah meninggalkan ruang.
Ironisnya, di pojok kiri belakang dua orang anggota yang terhormat justeru ber-SMS dan saling menunjukkan hasilnya satu sama lain.
Pertanyaan yang sampai saat ini belum terjawab adalah adanya kehampaan pekerti dengan memasyarakatnya hand-phone ? Tanpa adanya batas-batas yang menjadi etika maka para pemiliknya bisa menjadi budak dari benda kecil itu, terlepas dari harkat dan derajat yang disandangnya.

PESAN SPONSOR======================================================

Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :

http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto

========================================================TERIMAKASIH

NIKMATNYA PETAI

Bau hangseur petai memang sudah dari sononya. Bahkan begitu baunya melintas di ujung hidung, nikmat petai sudah terasa di sudut bibir. Bau khas ini sudah ada sebelum nenek moyang manusia menjadi penggemarnya.
Bau tajam petai memang bukan hanya sebatas urusan mulut. Sisa terakhirnya pun harus dibuang dengan hati-hati. Apalagi kalau di tempat umum atau sedang bertandang di rumah orang. Bisa membuat repot tuan rumah.
“Anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu.” Adegium lama yang sangat dipatuhi penggemar petai. Walaupun sikap seperti itu kadang-kadang menjadi bumerang yang dapat memalukan diri sendiri.
Namun demikian penggemar petai tidak berkurang karena termakan zaman, malah terus berkembang. Padahal pergaulan sekarang berbanding terbalik dengan bau pesing itu. Oleh karena itu berbagai upaya dilakukan untuk meredam bom bau yang ditimbulkan sementara kenikmatan petai tetap dirasakan.
Dengan rekayasa genetika mungkin suatu saat bisa tercipta petai dengan bau yang lebih dikehendaki. Tapi akan sangat mahal dan masih perlu menunggu waktu. Atau mungkin juga akan mengurangi cita rasa yang menjadi makna dasar petai itu sendiri. Petai tanpa bau adalah bukan petai, hanya serupa.
Sambil menunggu teknologi terapan itu mencapai sasaran, maka untuk menikmati petai dengan bau yang agak berkurang dapat ditempuh dengan berbagai cara, baik sebelum petai dikonsumsi maupun sesudah remah di dalam perut.

Untuk mengurangi ketajaman bau petai dengan sedikit mungkin mengurangi daya tarik selera maka dapat dilakukan beberapa cara seperti :

a. Petai Bakar
Petai segar dibakar secara langsung di perapian sampai timbul gelembung kecil bagian luar kulitnya dan terbakar. Bau tajamnya semakin berkurang dengan menghitamnya kulit petai. Hati-hati saja, kalau kelewat hitam bisa menjadi arang.

b. Petai Panggang
Untuk menghindari terlalu matangnya petai maka dapat dilakukan dengan memanggang baik dengan cara seperti membakar sate ataupun mmenaruhnya di atas seng tanpa diberi minyak seperti mensangrai. Selain menghindarkan hangusnya petai, cara sederhana dengan cara kedua ini menghasilkan petai yang lebih renyah.

c. Petai Goreng
Masyarakat Sumatera Barat biasa menggoreng petai berkulit yang telah dipotong-potong dan menuanginya dengan tumbukan cabai keriting. Jadilah sambal bumbu petai yang sangat lezat. Apalagi bila ditaburi dengan ikan bilih yang sudah dikeringkan, atau setidaknya ikan teri yang tidak asin.
Untuk menjadikannya sebagai teman sambal maka sebelum digoreng dikupas dulu kulitnya. Selain tidak terlalu mengubah cita rasa, baunya pun relatif berkurang dengan sedikit resiko kegosongan. Kematangan petainya pun dapat disesuaikan dengan selera.

d. Petai Kukus
Cara ini merupakan metode pengurangan bau petai yang paling sering dilakukan di Pulau Jawa, termasuk di Jawa Barat yang dikenal doyan mentahan. Pengukusan bukan hanya mengurangi bau hangseur tetapi juga menghilangkan rasa renyah. Petai kukusan melepes. Tapi kalau anda suka, apa salahnya.

Bagi sebagian orang, keempat perlakuan seperti di atas akan dapat mengganggu selera. Petai segar memang sangat menggoda walalupun baunya sering tidak dapat dihindarkan. Bahkan setelah petai dikukus, dibakar ataupun digoreng maka problema belumlah berakhir, bahkan merupakan awal dari permasalahan bau selanjutnya.
Ada beberapa cara agar problema bau ini dapat dikurangi, baik efeknya yang langsung terasa sebagai bau mulut ataupun kelanjutannya yang berhubungan dengan kamar kecil, yaitu dengan mengkonsumsi atau hanya mengunyah bahan makanan lain yang sudah akrab di sekitar kita seperti :

a. Teh
Teh dapat mengurangi bau yang ditinggalkan petai. Dapat sebagai seduhan kental setelah mengkonsumsi petai atau hanya menguyahnya mentah-mentah seperti sirih. Rasa pahit yang ditimbulkan sebanding dengan bau mulut yang kembali segar dan berkurangnya bau yang mengganggu kamar kecil.

b. Kopi
Selain teh maka kopi pun dapat digunakan dengan cara yang sama bila anda menyukainya dan tidak ada masalah kesehatan. Bahkan masyarakat telah terbiasa menggunakan kopi untuk menumpas bau yang tidak sedap, bukan hanya urusan petai.

c. Mentimun
Sambil menyelam minum susui, begitulah kalau kita memadu lalapan petai dengan mentimun. Bukan hanya keduanya menimbulkan cita rasa baru tetapi juga bau yang biasanya timbul setelah makan petai sirna. Bau mulut tidak lagi menjadi masalah, demikian juga problema kamar kecil.
Bila tidak suka dengan paduan keduanya, mentimun pun dapat dilalap secara tunggal di akhir hidangan. Bahkan walaupun dikonsumsi beberapa jam setelah petai bersarang di perut, pengaruh mentimun menumpas bau masih sangat kuat.
Kalau tidak suka mentimun segar bisa juga dibuat acar ataupun mengukusnya. Namun kalau ada permasalahan kesehatan, hati-hati sedikit.

d. Kacang panjang
Kalau tak ada rotan, akar pun berguna. Bila tidak ada mentimun atau karena alasan lain maka kacang panjang akan sangat membantu menghilangkan bau petai. Sama seperti mentimun, kacang panjang tidak harus dikonsumsi bersamaan dengan petai.

Beberapa cara sederhana di atas terbukti dapat mengurangi bau petai baik sebelum dikonsumsi ataupun bila sudah terlanjur masuk perut. Jangan ragu untuk mencobanya.

PESAN SPONSOR======================================================

Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :

http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto

========================================================TERIMAKASIH