Setiap peternak ayam broiler tentu amat mendambakan lancarnya jalan usaha peternakannya, selain tidak adanyahambatan dan rintangan dalam melaksanakan pemeliharaan juga mulusnya jalur pemasaran yang menjadi kunci utama keberhasilan usahanya, peterna (terutama peternak kecil) tidak jarang harus berjuang keras untuk tetap dapat terus hidup dalam gelimangan tantangan dan hambatan.
Hal ini terjadi karena peternak ayam potong umumnya sangat tinggi ketergantungannya terhadap pihak lain, anak ayam umur sehari yang biasanya disebut bibit atau DOC, pakan komplit atau ransum lengkap, obat-obatan dan sarana produksi ternak (sapronak) yang lain harus didapatkan dari agen atau penyalur atau toko sapronak (Poultry Shop) Biasanya diantara kedua belah pihak telah terjalin kerjasama yang sangat baik terutama dalam hal hutang piutang yang dari satu sisi saling menguntungkan keduanya dan sisi lain menjepit ruang gerak peternak, demikian juga dalam hal pemasaran hasil pemeliharaannya, tidak jarang sangat tergantung pada tengkulak yang tentu saja tidak akan menjadi tengkulak kalau tidak menguntungkan.
Dalam dilema keterjepitan inilah peternak ayam pedaging harus dapat berbuat maksimal sehingga dapat menghasilkan keuntungan yang optimal sesuai dengan jerih payahnya.
Kematian pada Minggu Pertama
Seperti disebutkan diatas peternak sangat bergantung kepada Poultry Shop misalnya akan pakan, bibit, obat-obatan dan sapronak lainnya. Hal ini berarti harga yang berlaku di pasaran tidak dapat diganggu gugat kecuali mungkin bagi peternak yang lebih besar atau langganan khusus ada sedikit discount tambahan. Demikian juga harga ayam hidup yang dihasilkan, sebagai pemilik tunggal sekalipun peternak tidak dapat menentukan harga sendiri. Harga pasaran yang berlaku. Bahkan terkadang peternak ayam pedaging dihadapkan pada dilema yang makin mencekam terjepit diantara dua pilihan, meneruskan memelihara dengan resiko menambah biaya pakan atau menjual dengan harga pasaran? Pada pilihan yang pertama tersembunyi juga macam kerugian yang siap menerkam. “Apakah akan ada pasarannya kalau ayam terus dipelihara? “karena hanya konsumen tertentu saja yang mau menerima ayam besar.
Oleh kerena itu agar dapat sedikit bernafas lega diantara himpitan kedua dilema yang menghimpit dan terkaman harimau kerugian yang selalu mengintai maka peternak ayam broiler harus dapat mengelola peternakannya semaksimal mungkin. Merencanakan usaha ternaknya dengan jeli, memilih strain ayam potong yang paling sesuai dengan kondisi alam sekitarnya, menggunakan pakan ternak yang berkualitas, melakukan pemeliharaan yang sebaik-baiknya dan tidak melupakan aspek pasar yang menguntungkan. Dan pada tulisan ini akan dibahas lebih lanjut tentang pemeliharaan khususnya mengenai perlakuan sederhana yang ternyata dapat mengurangi kematian anak ayam pada minggu pertama pemeliharaan.
Terlepas dari adanya wabah penyakit maka umur 1 sampai 7 hari bagi ayam broiler merupakan suatu saat yang sangat rawan terhadap kematian. Bukan hanya karena kondisi bawaan anak ayam yang relatif lemah begitu keluar daricengkeraman kulit telurnya tetapi kondisi ini juga diperparah lagi dengan perlakuan selanjutnya baik pada saat di hatchery, gudang, perjalanan, agen lainnya yang tidak sedikit mengurus waktu dan energi anak ayam yang lebih banyak tidak lagi tepat disebut DOC pada saat diterima peternak dikandangnya. Keadaan makin parah apabila perlakuan dari peternak dan lingkungan barunya yang tidak mendukung. Hal ini tidak mengherankan apabila kematian pada minggu pertama biasanya selalu lebih besar dari pada minggu-minggu berikutnya. Tentu saja terlepas dari adanya serangan penyakit dan bencana yang lainnya.
Air Gula dan Kematian
Pada saat datng ke lokasi peternakan kondisi DOC sedemikian stres-nya (terutama untuk DOC yang bukan grade I) sehingga perlu perlakuan khusus untuk menyambut kehadirannya. Suhu brooder house yang dihangatkan, pemberian air vitamin, antibiotika dan gula pasir sangat diperlukan untuk mengembalikan bahkan meningkatkan kondisi tubuhnya.
Bagi peternak yang sudah berpengalaman tentu perlakuan istimewa ini bukanlah hal yang san aneh, sudah tentu biasa. Kecuali pemberian gula dalam campuran vitamin dan antibiotik banyak yang melupakan atau mengabaikannya. Padahal peran energi yang dikandung dalam pasir putih itu sangat berarti bagi kelangsungan hidup anak ayam.
Dari pengamatan terhadap peternakan ayam potong di sebuah farm di daerah Bekasi – Jawa Barat yang DOC-nya didatangkan dari sebuah Breeding Farm di Bekasi-juga Jawa Barat yang dapat ditempuh dengan jalan dart seitar 6 jam perjalanan ternyata penambahan 3 kg gula pasir dalam larutan vitamin dan antibiotika dalam250 liter air yang cukup untuk 10.000 ekor sangat besar pengaruhnya dalam mengurangi kematian pada minggu pertama. (Tabel)
Tabel 1 : Pengaruh pemberian gula pasir terhadap kematian anak ayam pada minggu pertama
Perlakuan Kematian (ekor) Keterangan
1. Diberi gula pasir 57 Populasi masing-masing 10.000 ekor dengan DOC
2. Tanpa diberi gula pasir 101 Grade I pemberian vitamin dan antibiotika sesuai dengan dosis yang dianjurkan
Dari tabel dapat dilihat kematian anak ayam yang tanpa diberi gula pasir dalam campuran antibiotika dan vitaminnya hampir 2 kali lipat lebih banyak. Hal ini tentu saja akan sangat merugikan peternak.
Kerugian yang diderita peternak bukan hanya karena uang pembelian DOC yang amblas tetapi biaya pembelian pakan yang sangat mahal juga lenyap mengikuti kematian anak ayam demikian juga biaya-biaya lainnya yang tidak dikeluarkan. Padahal kematian yang fantastis ini dapat dicegah dengan cara yang sederhana dan mudah serta murah. Cuma dengan pemberian gula pasir yang sangat sedikit, 3 kg untuk 10.000 ekor!
Yang lebih penting dari berkurangnya kematian anak ayam pada minggu pertama adalah semangat beternak dari peternak dalam menggeluti usaha ternaknya. Itulah yang lebih mahal dan tidak dapat dibeli karena tidak ada yang menjual!
PESAN SPONSOR======================================================
Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :
http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto
========================================================TERIMAKASIH
Cerita tua bukan hanya sekedar kenangan masa lalu tetapi merupakan cermin atau bahkan kenyataan itu sendiri.
Selasa, 01 Juni 2010
FLU BABI
“Tiga jenis babi yang akrab dekat dengan masyarakat :
Babi Lu, Lu Babi dab Flu Babi.”
Rangkaian kata pada jenis babi yang pertama dengan segala variannya memang sudah tak asing lagi. Sajian khusus koki caci dan maki menjadi santapan lawan bicara berbumbu ekspresi penuh kemarahan yang sulit disembunyikan.
Sebaliknya kemarahan lebih besar terpendam dalam hati ketika mengucap kalimat kedua. Intonasi rendah tidak menyurutkan anggapan bahwa lawan bicara adalah tertuduh.
Ada yang mengatakan bahwa dua kalimat pertama memang sudah sedemikian dekat dengan masyarakat Indonesia yang dikenal sopan dan santun. Ditakuti untuk diterima telinga tetapi sulit dihindarkan akibat dari sedemikian dekatnya dengan bibir. Tentu tidak semua pembaca setuju. Tetapi bisa dibuktikan bahwa “babi” dengan “bibir” bukan hanya dekat tetapi juga menyatu, misalnya dalam rangkaian kata “bibir babi”.
Berbicara soal kedekatan, telinga masyarakat Indonesia tiba-tiba harus akrab dengan Flu Babi. Sebuah hubungan yang unik, dekat tetapi ditakuti. Penyakit mematikan ini seakan menjadi momok yang menggantikan posisi saudara lain ibunya (apalagi ayah-nya!), Flu Burung.
Banyak pendapat tentang isyu besar yang mendunia tersebut, pro dan kontra. Antara yang percaya dan menganggapnya sebagai isyu belaka. Sebagian setuju wabah mematikan itu harus dicegah sedini mungkin jangan sampai masuk nusantara. Salut dengan petugas yang segera tanggap di setiap pintu masuk dengan masker sampai baju astronot mempraktekan keahlian barunya, mendeteksi gejala flu dengan cepat. Sementara yang lain hanya tersenyum geli dan berdo’a, “Semoga mereka kelihatan lebih ramah dengan mulut tertutup. Amien!”
Tidak sedikit kernyitan dahi menggantikan segala daya upaya dan kerja keras yang sangat terencana itu dengan kata “Politis!” Sekali lagi, alasan yang terlontar sebagian diakibatkan kejadian sebelumnya, Flu Burung.
Masih terngiang di telinga pemberitaan berbagai media ketika seorang penghuni perumahan mewah menjadi korban flu burung pertama di Indonesia maka tumbalnya adalah babi-babi tak berdosa milik penghuni bantaran Sungai Citarum. Peternak babi hanya bisa mengelus dada melepas peliharaan yang sudah sedemikian lama menjadi teman se-gubuk-nya untuk dimusnahkan. Protes pun percuma, tidak akan mengembalikan peliharaan mereka karena babi-babi itu telah disulap para aparat menjadi “kambing hitam”.
Gejolak jutaan tanya membuat hati peternak babi semakin bingung akibat makin banyaknya pendapat para ahli yang berbanding lurus dengan jumlah korban yang berjatuhan akibat penyakit ini, baik manusia maupun unggas. Kebingunan pun akhirnya lenyap ketika ada asumsi yang mendukung pendapat mereka bahwa tindakan tidak berperike-babi-an itu seharusnya tidak perlu dilakukan sebab jika dugaan aparat itu benar maka korban pertama adalah mereka. Sebab keduanya bukan semata-mata sa-udara tetapi juga sudah se-nafas.
Oleh karena itu, agar tidak mau salah untuk yang kedua kali maka mereka mengambil sikap sebagai politisi dadakan, “Jangan-jangan sebutan Flu Babi yang sekarang gencar menyerang pun suatu saat dianggap salah, karena korban flu tersebut lebih banyak manusia daripada babi itu sendiri. Sehingga lebih tepat kalau namanya berubah menjadi Flu Insan atau Flu Man atau Flu Wong dan sejenisnya.”
Terlepas dari dua kutub yang saling menjauhkan diri, pengetahuan tentang Flu Babi tentu akan sangat berguna untuk diketahui. Adegium lama mengatakan, tak kenal maka tak sayang. Diharapkan dengan mengenal tentang Flu Babi maka masyarakat akan makin sayang dengan perilaku hidup sehatnya.
Flu Babi yang sungguh menakutkan ini merupakan penyakit hewan yang dapat menular kepada manusia ataupun sebaliknya. Uniknya, sekalipun dapat menyebabkan tingkat kesakitan yang sangat banyak kepada babi tetapi tingkat kematiannya sedikit saja, berkisar 1 sampai 4 prosen saja. Atau bahkan ada yang mengatakan dibawah satu prosen. Sebaliknya terjadi apabila biang flu ini menyerang manusia.
Namun demikian ada khabar gembira bagi penggemar dading yang satu ini, bibit penyakitnya mudah sekali mati. Dalam pemanasan 80º C selama 1 menit saja virus H1N1 sudah keok. Apalagi kalau digodog dalam air mendidih (100º C) atau digoreng dengan titik didih minyak lebih tinggi lagi.
Sekalipun banyak sosialisasi telah dilakukan untuk mengabarkan bahwa penyakit ini tidak dapat ditularkan melalui makanan namun tak urung pasar daging babi sempat sepi. Kenapa harus takut, sepanjang sesuai dengan kaidah agama yang dianut, dimasak dengan benar dan anda suka menyantapnya. Tetapi sekedar catatan, kehigienisan dan kehati-hatian sangat perlu diperhatikan pada saat mengolah daging babi mentah.
Kembali kepada Flu Babi, babi yang terserang penyakit ini menunjukkan beberapa gejala yang umum seperti nafsu makan menurun, malas bergerak akibat otot yang kaku dan nyeri, demam sampai hampir 42º C, batuk dan bersin bahkan memuntahkan eksudat lendir jika cukup parah. Gejala lainnya adalah mata kemerahan dan mengeluarkan cairan, pernafasan perut dan keluar leleran dari hidung.
Sekali lagi, angka kesakitannya sangat tinggi tetapi kematian yang ditimbulkan relatif rendah. Pada banyak kasus, babi sembuh dengan sendirinya pada hari ke-5 sampai ke-7 setelah terlihat tanda klinis.
Sementara maunusia yang terserang Flu Babi menunjukkan gejala demam, lsu, kurang semangat, keluar lendir dari hidung, sakit tenggorokan, mual dan muntah, diare, sesak nafas dan dapat menimbulkan kematian.
Sebuah keyakinan yang sudah sangat melekat di masyarakat adalah bahwa penyakit apapun yang diturunkan kepada manusia sesungguhnya Tuhan telah menyertakan obatnya. Paling tidak, Dia telah memberikan alternatif pencegahannya. Pepatah nenek-moyang menuntun, “Mencegah lebih baik daripada mengobati.” Tukang dagang berbagi resep, “Mencegah relatif mudah dan murah, sementara sakit sangatlah menderita dan berbiaya.”
Cara mencegah yang murah meriah adalah dengan membiasakan berperilaku hidup bersih dan sehat selaras dengan lingkungan dan alam. Bersih diri dan lingkungan.
Bersih diri terkadang gampang-gampang susah bahkan rutinitas pun sering keliru.
Misalnya kebiasaan mencuci tangan dengan sabun sesudah makan yang bertujuan menghapus semua bau tak sedap dan kotoran yang tersisa. Kebiasaan ini tentu akan lebih banyak manfaatnya jika dilakukan sebelum makan, aneka bau hilang juga bibit penyakit yang menempel. Di mata umum kebiasaan kedua yang sebenarnya lebih baik adalah suatu kejanggalan.
Bersih lingkungan tentu jauh lebih sulit karena banyak yang faktor yang mempengaruhi, termasuk empati sebagai bagian dari makhluk Tuhan yang paling sempurna. Khusus lingkungan ber-babi, maka kesehatan piaraan dan kebersihan kandangnya sangatlah vital.
Nah, kalau bersih dan sehat sudah menjadi perilaku yang melekat di masyarat, kenapa harus takut dengan berbagai penyakit yang menghendaki kita sakit ?
PESAN SPONSOR======================================================
Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :
http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto
========================================================TERIMAKASIH
Babi Lu, Lu Babi dab Flu Babi.”
Rangkaian kata pada jenis babi yang pertama dengan segala variannya memang sudah tak asing lagi. Sajian khusus koki caci dan maki menjadi santapan lawan bicara berbumbu ekspresi penuh kemarahan yang sulit disembunyikan.
Sebaliknya kemarahan lebih besar terpendam dalam hati ketika mengucap kalimat kedua. Intonasi rendah tidak menyurutkan anggapan bahwa lawan bicara adalah tertuduh.
Ada yang mengatakan bahwa dua kalimat pertama memang sudah sedemikian dekat dengan masyarakat Indonesia yang dikenal sopan dan santun. Ditakuti untuk diterima telinga tetapi sulit dihindarkan akibat dari sedemikian dekatnya dengan bibir. Tentu tidak semua pembaca setuju. Tetapi bisa dibuktikan bahwa “babi” dengan “bibir” bukan hanya dekat tetapi juga menyatu, misalnya dalam rangkaian kata “bibir babi”.
Berbicara soal kedekatan, telinga masyarakat Indonesia tiba-tiba harus akrab dengan Flu Babi. Sebuah hubungan yang unik, dekat tetapi ditakuti. Penyakit mematikan ini seakan menjadi momok yang menggantikan posisi saudara lain ibunya (apalagi ayah-nya!), Flu Burung.
Banyak pendapat tentang isyu besar yang mendunia tersebut, pro dan kontra. Antara yang percaya dan menganggapnya sebagai isyu belaka. Sebagian setuju wabah mematikan itu harus dicegah sedini mungkin jangan sampai masuk nusantara. Salut dengan petugas yang segera tanggap di setiap pintu masuk dengan masker sampai baju astronot mempraktekan keahlian barunya, mendeteksi gejala flu dengan cepat. Sementara yang lain hanya tersenyum geli dan berdo’a, “Semoga mereka kelihatan lebih ramah dengan mulut tertutup. Amien!”
Tidak sedikit kernyitan dahi menggantikan segala daya upaya dan kerja keras yang sangat terencana itu dengan kata “Politis!” Sekali lagi, alasan yang terlontar sebagian diakibatkan kejadian sebelumnya, Flu Burung.
Masih terngiang di telinga pemberitaan berbagai media ketika seorang penghuni perumahan mewah menjadi korban flu burung pertama di Indonesia maka tumbalnya adalah babi-babi tak berdosa milik penghuni bantaran Sungai Citarum. Peternak babi hanya bisa mengelus dada melepas peliharaan yang sudah sedemikian lama menjadi teman se-gubuk-nya untuk dimusnahkan. Protes pun percuma, tidak akan mengembalikan peliharaan mereka karena babi-babi itu telah disulap para aparat menjadi “kambing hitam”.
Gejolak jutaan tanya membuat hati peternak babi semakin bingung akibat makin banyaknya pendapat para ahli yang berbanding lurus dengan jumlah korban yang berjatuhan akibat penyakit ini, baik manusia maupun unggas. Kebingunan pun akhirnya lenyap ketika ada asumsi yang mendukung pendapat mereka bahwa tindakan tidak berperike-babi-an itu seharusnya tidak perlu dilakukan sebab jika dugaan aparat itu benar maka korban pertama adalah mereka. Sebab keduanya bukan semata-mata sa-udara tetapi juga sudah se-nafas.
Oleh karena itu, agar tidak mau salah untuk yang kedua kali maka mereka mengambil sikap sebagai politisi dadakan, “Jangan-jangan sebutan Flu Babi yang sekarang gencar menyerang pun suatu saat dianggap salah, karena korban flu tersebut lebih banyak manusia daripada babi itu sendiri. Sehingga lebih tepat kalau namanya berubah menjadi Flu Insan atau Flu Man atau Flu Wong dan sejenisnya.”
Terlepas dari dua kutub yang saling menjauhkan diri, pengetahuan tentang Flu Babi tentu akan sangat berguna untuk diketahui. Adegium lama mengatakan, tak kenal maka tak sayang. Diharapkan dengan mengenal tentang Flu Babi maka masyarakat akan makin sayang dengan perilaku hidup sehatnya.
Flu Babi yang sungguh menakutkan ini merupakan penyakit hewan yang dapat menular kepada manusia ataupun sebaliknya. Uniknya, sekalipun dapat menyebabkan tingkat kesakitan yang sangat banyak kepada babi tetapi tingkat kematiannya sedikit saja, berkisar 1 sampai 4 prosen saja. Atau bahkan ada yang mengatakan dibawah satu prosen. Sebaliknya terjadi apabila biang flu ini menyerang manusia.
Namun demikian ada khabar gembira bagi penggemar dading yang satu ini, bibit penyakitnya mudah sekali mati. Dalam pemanasan 80º C selama 1 menit saja virus H1N1 sudah keok. Apalagi kalau digodog dalam air mendidih (100º C) atau digoreng dengan titik didih minyak lebih tinggi lagi.
Sekalipun banyak sosialisasi telah dilakukan untuk mengabarkan bahwa penyakit ini tidak dapat ditularkan melalui makanan namun tak urung pasar daging babi sempat sepi. Kenapa harus takut, sepanjang sesuai dengan kaidah agama yang dianut, dimasak dengan benar dan anda suka menyantapnya. Tetapi sekedar catatan, kehigienisan dan kehati-hatian sangat perlu diperhatikan pada saat mengolah daging babi mentah.
Kembali kepada Flu Babi, babi yang terserang penyakit ini menunjukkan beberapa gejala yang umum seperti nafsu makan menurun, malas bergerak akibat otot yang kaku dan nyeri, demam sampai hampir 42º C, batuk dan bersin bahkan memuntahkan eksudat lendir jika cukup parah. Gejala lainnya adalah mata kemerahan dan mengeluarkan cairan, pernafasan perut dan keluar leleran dari hidung.
Sekali lagi, angka kesakitannya sangat tinggi tetapi kematian yang ditimbulkan relatif rendah. Pada banyak kasus, babi sembuh dengan sendirinya pada hari ke-5 sampai ke-7 setelah terlihat tanda klinis.
Sementara maunusia yang terserang Flu Babi menunjukkan gejala demam, lsu, kurang semangat, keluar lendir dari hidung, sakit tenggorokan, mual dan muntah, diare, sesak nafas dan dapat menimbulkan kematian.
Sebuah keyakinan yang sudah sangat melekat di masyarakat adalah bahwa penyakit apapun yang diturunkan kepada manusia sesungguhnya Tuhan telah menyertakan obatnya. Paling tidak, Dia telah memberikan alternatif pencegahannya. Pepatah nenek-moyang menuntun, “Mencegah lebih baik daripada mengobati.” Tukang dagang berbagi resep, “Mencegah relatif mudah dan murah, sementara sakit sangatlah menderita dan berbiaya.”
Cara mencegah yang murah meriah adalah dengan membiasakan berperilaku hidup bersih dan sehat selaras dengan lingkungan dan alam. Bersih diri dan lingkungan.
Bersih diri terkadang gampang-gampang susah bahkan rutinitas pun sering keliru.
Misalnya kebiasaan mencuci tangan dengan sabun sesudah makan yang bertujuan menghapus semua bau tak sedap dan kotoran yang tersisa. Kebiasaan ini tentu akan lebih banyak manfaatnya jika dilakukan sebelum makan, aneka bau hilang juga bibit penyakit yang menempel. Di mata umum kebiasaan kedua yang sebenarnya lebih baik adalah suatu kejanggalan.
Bersih lingkungan tentu jauh lebih sulit karena banyak yang faktor yang mempengaruhi, termasuk empati sebagai bagian dari makhluk Tuhan yang paling sempurna. Khusus lingkungan ber-babi, maka kesehatan piaraan dan kebersihan kandangnya sangatlah vital.
Nah, kalau bersih dan sehat sudah menjadi perilaku yang melekat di masyarat, kenapa harus takut dengan berbagai penyakit yang menghendaki kita sakit ?
PESAN SPONSOR======================================================
Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :
http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto
========================================================TERIMAKASIH
FLU BURUNG DAN BURUNG PELUH
Kalau ditanyakan kepada sekumpulan orang tentang penyakit yang paling menakutkan mereka saat ini, tentu sebagian akan menjawab flu burung. Tetapi jangan sangka, ternyata tidak sedikit yang jauh lebih ketakutan kalau burung peluh yang menyerang.
Burung peluh bukan hanya berarti burung yang berkeringat kecapaian, tetapi bagi beberapa daerah artinya lebih parah dan sangat pribadi. Bahasa asingnya mah impoten alias tidak berdaya.
Impoten dan flu burung sekalipun dapat dikemas dalam judul di atas menjadi kaitan yang sangat mirip, sebenarnya merupakan dua hal yang sangat berbeda. Tetapi, jangan kaget kalau menurut pendapatku ternyata keduanya memang sangat dekat, dekat sekali kaitannya.
Soal flu burung yang jadi makanan harianku saat ini pun, aku tidak pernah mau bergiming dari pola pikir sendiri. Tahun sembilan puluhan, ketika wabah ini merebak di asia daratan, ada berita Indonesia mengimpor ribuan DOC (day old chicken) bibit ayam dari Thailand melalui pelabuhan udara Kota Medan. Waktu itu aku yang masih bertugas di BAPPEDA Kabupaten Tanah Datar, pernah berkomentar bahwa kegiatan itu sama dengan kita sedang berbaik hati membagi derita para korban di daratan Asia. Saking berjiwa sosialnya!
Selang beberapa tahun, ayam petelur pamanku di kampung, Desa Sumbon Kecamatan Kroya Kabupaten Indramayu diberitakan mati mendadak dengan ciri-ciri mengarah ke flu burung. Aku yang sudah pindah ke BAPEDA Kabupaten Indramayu tak dapat berkomentar banyak, apalagi menurut teman dari Dinas Pertanian dan Peternakan belum ada kejadian avian influenza pada unggas di Inonesia.
Tapi aku sama yakinnya dengan penduduk kampungku, bahwa flu burung sudah menyerang ayam-ayam itu. Dua tahun kemudian, pengumuman resmi adanya wabah flu burung pada unggas akhirnya ada juga dari Menteri Pertanian. Menurutku, sudah sangat terlambat.
Selain soal waktu, aku pun tidak sependapat dengan kebijakan pemerintah yang mengkambinghitamkan ayam kampung milik masyarakat sebagai penyebab merebaknya flu burung di Indonesia. Pemeliharaan ayam unggas di masyarakat kita memang sangat sederhana, untuk makan saja sering harus berkeliaran mencari sendiri. Dengan kandang masih sederhana atau bahkan cukup tidur di pepohonan.
Saat aku alih tugas ke Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Indramayu, kebetulan pada posisi yang paling dekat dengan flu burung, tim kami bukan hanya aktif menjalankan program pemerintah dengan obyek utama ayam kampung milik masyarakat tetapi juga merambah ke broiler yang dipelihara dengan lebih baik. Tidak meleset anggapanku selama ini, setelah banyak diskusi dengan masyarakat pemelihara dan juga Technical Service dari perusahaan inti maka terkuaklah berbagai informasi yang selama ini sangat dirahasiakan dan bagaimana mereka menutup rapat informasi itu.
Kematian broiler sudah sejak tahun 2002 terjadi, tetapi begitu ada kematian dengan gejala mengarah ke flu burung maka pihak perusahaan melarang peternak membuang bangkainya sembarangan atau bahkan menjual bangkai ke peternak lele, apalagi menjual ayam yang sakit ataupun sehat untuk dikonsumsi masyarakat sekitar. Perusahaan akan menanggung kerugian yang diderita, kecuali untuk upah tenaga kerja.
Tetapi yang namanya masyarakat awam, tumpukan ayam yang mati akan membuat kerepotan baru apabila dikubur. Mengali lubang besar bukan biaya yang murah. Dibuang ke kali adalah salah satu alternatif paling mudah dan murah, dijual ke peternak lele yang sudah menunggu di pinggir kandang tentu lebih menguntungkan !
Tidak berapa lama, penyakit yang sangat mudah menular pun berjangkit menjadi wabah bagi ayam kampung dan beberapa jenis unggas yang dipeliharan masyarakat. Mungkin karena sangat percaya dengan sistem sanitasi dan kesehatan hewan di peternakan besar, maka pemerintah begitu saja memvonis bahwa unggas masyarakat ini sebagai kambing hitam wabah flu burung di Indonesia.
Setelah hampir lima tahun penanganan flu burung pada unggas terus dilaksanakan tanpa penyelesaian yang pasti, barulah pada akhirnya kecurigaan terhadap peternak besar diakui. Unggas milik masyarakat kecil yang selama ini naik kelas menjadi kambing hitam dan jutaan diantaranya harus dikurbankan tidak pada “Hari Raya Qurban dan Hari Tasyrik”.
Belum terlambat untuk mengubah keputusan.... Daripada terus menerus bertindak dalam kesalahan.
Soal penularan flu burung dari unggas kepada manusia yang membuat Menteri Kesehatan dan jajarannya ngotot membumihanguskan unggas, secara pribadi aku menolak. Bahkan sampai sekarang pun aku tetap tidak percaya datang dari unggas yang dipelihara masyarakat. Kalau ada kasus kematian manusia, aku selalu melihat ada kejanggalan yang lebih sering cukup disimpan dalam hati. Namun tentu aku sangat menghargai pendapat itu, bahkan menjalankan kebijakan yang ditempuh pemerintah.
Pertengahan Januari 2006, pemusnahan massal (stamping out) unggas yang ada di dua blok di Desa Cipedang Kecamatan Bongas Kabupaten Indramayu harus terjadi. Ribuan unggas yang terdiri dari ayam kampung, itik, entog, angsa dan burung disembelih sebelum akhirnya masuk ke dalam lubang untuk dibumihanguskan. Aku adalah salah satu penanggung-dosa dari kegiatan yang menunjukkan ke-impotenan bangsa merdeka ini dalam menghadapi tekanan pihak luar.
Perwakilan badan dunia datang, WHO dan FAO, bahkan NAMRU yang pernah bersitegang dengan Ibu Menteri Kesehatan juga. Apa yang dilakukan mereka ?
Aku merasa benar-benar impoten ketika dapat telepon dari rekan di luar Jawa tentang kebenaran bahwa kucing dari Indramayu ada yang mengindap H5N1. Barulah ingat, bahwa staf NAMRU itu ketika di Bongas menangkap kucing dan mengambil darahnya.
Soal NAMRU ini, jangankan orang kecil kaya aku, Bu Menteri Kesehatan pun sebenarnya hanya menunjukkan ke-impotenannya ketika gembar-gembor soal sample darah penderita flu burung dari Indonesia yang harus menjadi milik kita. Buktinya, sekarang beberapa produsen vaksin flu burung yang sesuai dengan strain di Indonesia sudah siap beredar. Salah satu diantaranya, bahkan mau memberi ribuan sample secara gratis.
Percaya kan, kalau flu burung dengan burung peluh ternyata sangat dekat?
PESAN SPONSOR======================================================
Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :
http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto
========================================================TERIMAKASIH
Burung peluh bukan hanya berarti burung yang berkeringat kecapaian, tetapi bagi beberapa daerah artinya lebih parah dan sangat pribadi. Bahasa asingnya mah impoten alias tidak berdaya.
Impoten dan flu burung sekalipun dapat dikemas dalam judul di atas menjadi kaitan yang sangat mirip, sebenarnya merupakan dua hal yang sangat berbeda. Tetapi, jangan kaget kalau menurut pendapatku ternyata keduanya memang sangat dekat, dekat sekali kaitannya.
Soal flu burung yang jadi makanan harianku saat ini pun, aku tidak pernah mau bergiming dari pola pikir sendiri. Tahun sembilan puluhan, ketika wabah ini merebak di asia daratan, ada berita Indonesia mengimpor ribuan DOC (day old chicken) bibit ayam dari Thailand melalui pelabuhan udara Kota Medan. Waktu itu aku yang masih bertugas di BAPPEDA Kabupaten Tanah Datar, pernah berkomentar bahwa kegiatan itu sama dengan kita sedang berbaik hati membagi derita para korban di daratan Asia. Saking berjiwa sosialnya!
Selang beberapa tahun, ayam petelur pamanku di kampung, Desa Sumbon Kecamatan Kroya Kabupaten Indramayu diberitakan mati mendadak dengan ciri-ciri mengarah ke flu burung. Aku yang sudah pindah ke BAPEDA Kabupaten Indramayu tak dapat berkomentar banyak, apalagi menurut teman dari Dinas Pertanian dan Peternakan belum ada kejadian avian influenza pada unggas di Inonesia.
Tapi aku sama yakinnya dengan penduduk kampungku, bahwa flu burung sudah menyerang ayam-ayam itu. Dua tahun kemudian, pengumuman resmi adanya wabah flu burung pada unggas akhirnya ada juga dari Menteri Pertanian. Menurutku, sudah sangat terlambat.
Selain soal waktu, aku pun tidak sependapat dengan kebijakan pemerintah yang mengkambinghitamkan ayam kampung milik masyarakat sebagai penyebab merebaknya flu burung di Indonesia. Pemeliharaan ayam unggas di masyarakat kita memang sangat sederhana, untuk makan saja sering harus berkeliaran mencari sendiri. Dengan kandang masih sederhana atau bahkan cukup tidur di pepohonan.
Saat aku alih tugas ke Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Indramayu, kebetulan pada posisi yang paling dekat dengan flu burung, tim kami bukan hanya aktif menjalankan program pemerintah dengan obyek utama ayam kampung milik masyarakat tetapi juga merambah ke broiler yang dipelihara dengan lebih baik. Tidak meleset anggapanku selama ini, setelah banyak diskusi dengan masyarakat pemelihara dan juga Technical Service dari perusahaan inti maka terkuaklah berbagai informasi yang selama ini sangat dirahasiakan dan bagaimana mereka menutup rapat informasi itu.
Kematian broiler sudah sejak tahun 2002 terjadi, tetapi begitu ada kematian dengan gejala mengarah ke flu burung maka pihak perusahaan melarang peternak membuang bangkainya sembarangan atau bahkan menjual bangkai ke peternak lele, apalagi menjual ayam yang sakit ataupun sehat untuk dikonsumsi masyarakat sekitar. Perusahaan akan menanggung kerugian yang diderita, kecuali untuk upah tenaga kerja.
Tetapi yang namanya masyarakat awam, tumpukan ayam yang mati akan membuat kerepotan baru apabila dikubur. Mengali lubang besar bukan biaya yang murah. Dibuang ke kali adalah salah satu alternatif paling mudah dan murah, dijual ke peternak lele yang sudah menunggu di pinggir kandang tentu lebih menguntungkan !
Tidak berapa lama, penyakit yang sangat mudah menular pun berjangkit menjadi wabah bagi ayam kampung dan beberapa jenis unggas yang dipeliharan masyarakat. Mungkin karena sangat percaya dengan sistem sanitasi dan kesehatan hewan di peternakan besar, maka pemerintah begitu saja memvonis bahwa unggas masyarakat ini sebagai kambing hitam wabah flu burung di Indonesia.
Setelah hampir lima tahun penanganan flu burung pada unggas terus dilaksanakan tanpa penyelesaian yang pasti, barulah pada akhirnya kecurigaan terhadap peternak besar diakui. Unggas milik masyarakat kecil yang selama ini naik kelas menjadi kambing hitam dan jutaan diantaranya harus dikurbankan tidak pada “Hari Raya Qurban dan Hari Tasyrik”.
Belum terlambat untuk mengubah keputusan.... Daripada terus menerus bertindak dalam kesalahan.
Soal penularan flu burung dari unggas kepada manusia yang membuat Menteri Kesehatan dan jajarannya ngotot membumihanguskan unggas, secara pribadi aku menolak. Bahkan sampai sekarang pun aku tetap tidak percaya datang dari unggas yang dipelihara masyarakat. Kalau ada kasus kematian manusia, aku selalu melihat ada kejanggalan yang lebih sering cukup disimpan dalam hati. Namun tentu aku sangat menghargai pendapat itu, bahkan menjalankan kebijakan yang ditempuh pemerintah.
Pertengahan Januari 2006, pemusnahan massal (stamping out) unggas yang ada di dua blok di Desa Cipedang Kecamatan Bongas Kabupaten Indramayu harus terjadi. Ribuan unggas yang terdiri dari ayam kampung, itik, entog, angsa dan burung disembelih sebelum akhirnya masuk ke dalam lubang untuk dibumihanguskan. Aku adalah salah satu penanggung-dosa dari kegiatan yang menunjukkan ke-impotenan bangsa merdeka ini dalam menghadapi tekanan pihak luar.
Perwakilan badan dunia datang, WHO dan FAO, bahkan NAMRU yang pernah bersitegang dengan Ibu Menteri Kesehatan juga. Apa yang dilakukan mereka ?
Aku merasa benar-benar impoten ketika dapat telepon dari rekan di luar Jawa tentang kebenaran bahwa kucing dari Indramayu ada yang mengindap H5N1. Barulah ingat, bahwa staf NAMRU itu ketika di Bongas menangkap kucing dan mengambil darahnya.
Soal NAMRU ini, jangankan orang kecil kaya aku, Bu Menteri Kesehatan pun sebenarnya hanya menunjukkan ke-impotenannya ketika gembar-gembor soal sample darah penderita flu burung dari Indonesia yang harus menjadi milik kita. Buktinya, sekarang beberapa produsen vaksin flu burung yang sesuai dengan strain di Indonesia sudah siap beredar. Salah satu diantaranya, bahkan mau memberi ribuan sample secara gratis.
Percaya kan, kalau flu burung dengan burung peluh ternyata sangat dekat?
PESAN SPONSOR======================================================
Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :
http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto
========================================================TERIMAKASIH
BAHAYA UREA UNTUK TERNAK
Tahun 1980-an, ketika pemerintah mengimpor sapi perah secara besar-besaran, negeri subur makmur gemah ripah loh jinawi ini pun merasa kekurangan rumput berkualitas. Alternatif termudah yang ditempuh saat itu adalah “meningkatkan” kualitas jerami padi yang secara kuantitas ketersediaannya tidak pernah kekurangan, dengan teknologi yang dikenal sebagai urease ataupun amoniase.
Penulis lebih memilih istilah urease karena di Indonesia, untuk melakukan amoniase pun cara mendapatkan amoniak yang paling mudah adalah dengan memperlakukan panas dan tekanan tertentu terhadap larutan urea sebagaimana ditemukan nutrisionis Jerman Bergner (1974) ataupun yang dilakukan Van der Merme (1976) di Afrika Selatan.
Urease yang diperkenalkan merupakan proses pengolahan jerami padi menjadi hijauan berkualitas untuk pakan sapi perah dengan menggunakan urea (yang oleh kebanyakan masyarakat Indonesia hanya digunakan untuk tanaman). Urea dicampur air dengan perbandingan tertentu, disiramkan ke jerami yang sudah disusun kemudian ditutup plastik kedap udara selama waktu tertentu (metode Dolberg, 1981). Alternatif lain adalah dengan memberi panas dan tekanan tertentu sehingga larutan urea menguapkan gas amoniak, uapnya yang berbau sengak diserap oleh tumpukan jerami padi di sekelilngnya. Proses ini dilakukan dalam kontainer kedap udara (metode yang dilakukan Bergner dan Van der Merme serta diperbaiki pada tahun 1981 oleh Coredesse).
Peternak sapi perah pun dibekali ilmu “ghaib” untuk menyulap jerami padi yang semula hanya hangus dibakar di pesawahan menjadi pengganti rumput hijau yang semakin sulit diperoleh. Tidak lupa kontainer pun dikirimkan kepada koperasi peternak sapi perah. Dengan berbagai upaya tersebut, kiranya pemerintah makin optimis bahwa dalam beberapa tahun setelah itu imbangan antara susu impor dan produk dalam negeri mencapai 50 : 50.
Para peternak sapi perah sangat antusias mempraktekan ilmu barunya. Pakan hijauan tidak akan ada masalah lagi ketersediaannya sepanjang musim. Namun, ketika hijauan berkualitas hasil urease ini diberikan kepada sapi yang sedang laktasi maka produksi susunya tiba-tiba berkurang. Makin hari makin sedikit sampai beberapa dinataranya harus berhenti sebelum masa kering tiba.
Jerami padi berkualitas tinggi juga dengan bangga mereka diberikan kepada sapi jantan yang sedang digemukan (fattening). Sapi-sapi jantan FH yang sedang dalam proses akhir pemeliharaan penggemukan pun beberapa diantaranya menemui ajal setelah beberapa hari urinenya kuning kemerahan sampai benar-benar keluar darah segar.
H. Abdoeri (almarhum) yang waktu itu menjabat sebagai ketua GKSI Cirebon pun segera menghentikan penerapan teknologi baru tersebut. Urease ternyata tidak seindah hasil penelitian Dr. Ir. Abdel Komar di Perancis. Bagusnya kesimpulan hasil riset di laboratorium ternyata berakibat fatal setelah diterapkan begitu saja di lapangan.
Atep, seorang peternak sapi perah di Desa Sukasari Kecamatan Pangalengan pun mengalami nasib serupa. Pada awal tahun 1990-an, anggota KPBS tersebut hanya bisa mengurut dada ketika beberapa ekor sapi laktasi andalannnya tiba-tiba produksi susunya turun drastis. Salah satunya bahkan sakit-sakitan dan terpaksa ditolong Pak Jagal. Saat itu, sapi perahnya mendapatkan awetan hijauan berprotein tinggi, silase jagung yang dibuat dengan tambahan larutan urea.
Kejadian belum lama pun terjadi di peternakan domba milik pesantren, Peternakan Domba Al-Mustaghfirun Desa Jatimulya Kecamatan Terisi Kabupaten Indramayu. Lebih dari 35 % domba yang dipeliharanya terkapar secara bertahap setelah penggunaan UMB selama 2 – 6 bulan, 75 ekor harus menemui ajal dari total populasi 200 ekor. Ahmad Syifa, teknisi yang menangani peternakan tersebut mengatakan bahwa gejala yang muncul diare akut, bahkan disertai dengan perdarahan. Kalau sudah demikian, maka paling lambat 4 hari kemudian harus dikebumikan di liang lahat masal.
Jauh-jauh sebelum praktek-praktek mematikan itu berlangsung menelan banyak korban, para mahasiswa Fakultas Peternakan IPB selalu mendapat perhatian agar terjebak dalam masalah karena tertipu oleh nutrisi semu. Hasil penelitian laboratorium, selalu dan akan selalu menghasilkan adanya perbaikan nitrisi terhadap bahan makanan ternak yang diberi larutan urea.
Protein, nutrisi terpenting dan relatif mahal ini menjadi begitu murah dan mudah didapat dengan pemberian urea. Bahan pakan pun secara laboratorium menunjukkan berbagai perbaikan. Serat kasar yang sulit dicerna rumen pun menjadi lebih bisa bermanfaat setelah melalui proses urease.
Hasil penelitian pengolahan jerami padi IR 38 dengan pemberian urea 4 % bukan hanya meningkatkan protein kasar secara drastis tetapi juga meningkatkan daya cernanya 50 % lebih baik, serat kasar bahkan menunjukan perbaikan daya cernanya lebih dari itu. Perbaikan juga terjadi pada daya cerna bahan kering dan bahan organik. (Komar, A, 1984 : 51).
Sekali lagi, mahasiswa mendapatkan amanat yang harus dipegang teguh bahwa sekalipun hasil kerja di laboratorium menunjukkan berbagai keindahan tetapi harus hati-hati dalam penerapannya di lapangan. Penggunaan protein semu tersebut telah menunjukkan berbagai bahaya. Misalnya, sapi laktasi tiba-tiba turun drastis produksinya, menyebabkan kemandulan, dan lain-lainnya. Masalah sosial-budaya peternak yang tidak setinggi manusia laboratorium memperparah keadaan, angka kematian tidak dapat dihindarkan.
Sejalan dengan bekal dari Kampus Rakyat, seorang nutrisionit dari Kansas University, Profesor Keith Bolsen, pada awal tahun 1990-an mengatakan bahwa, “Penggunaan urea untuk ternak, dengan metode dan cara apapun, lebih banyak kerugiannya daripada manfaatnya.”
Bila ditarik garis merah ke masa lalu, Penulis menemukan sebuah buku kecil yang sangat berharga tentang penggunaan urea pada peternakan di Amerika Serikat. Tidak tanggung-tanggung, terbitan 1918, sama dengan terjadinya Perang Dunia Pertama. Ternyata, sejak awal abad ke-20 atau bahkan abad sebelumnya, urea sudah lazim digunakan disana sebagai bagian penting dalam proses pengawetan hijauan, khususnya silase.
Buku kuno itu menjelaskan tentang berbagai aplikasi pengunaan urea dalam berbagai kadar terhadap berat badan sapi potong penggemukan. Juga terdapat berbagai informasi lain yang masih mengagungkan penghematan biaya produksi yang diperoleh dengan pemberian hasil urease ini.
Dikaitkan dengan pendapat Profesor Keith Bolsen di atas, maka diantara awal abad dan menjelang akhir abad ke-20 ini tentu ada perkembangan hasil penelitian dan penerepan penggunaan urea dalam pakan ternak di Negeri Paman Sam. Dapat dipastikan bahwa perkembangannya negatif, oleh karena itu di sana tidak lagi disarankan.
Ironisnya, banyak ahli nutrisi Indonesia, yang menggembar-gemborkan kehebatan urea sebagai sumber nutrisi dan bahkan bisa memperbaiki nutrisi pakan ternak. Para ahli lulusan dalam dan luar negeri itu tetap pada pendiriannya sekalipun di hadapan matanya banyak korban bergelimpangan. Mungkin mereka tidak menyadari bahwa ternak yang meregang nyawa tesebut adalah efek negatif dari formula yang di benaknya akan melejitkan pertumbuhan dan produksi ternak yang mengkonsumsinya. Kejadian ini bukan hanya terjadi pada ternak milik masyarakat awan tetapi juga terjadi di berbagai balai penelitian yang semestinya menjadi tempat berguru masyarakat dan praktisi serta ahli.
PESAN SPONSOR======================================================
Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :
http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto
========================================================TERIMAKASIH
Penulis lebih memilih istilah urease karena di Indonesia, untuk melakukan amoniase pun cara mendapatkan amoniak yang paling mudah adalah dengan memperlakukan panas dan tekanan tertentu terhadap larutan urea sebagaimana ditemukan nutrisionis Jerman Bergner (1974) ataupun yang dilakukan Van der Merme (1976) di Afrika Selatan.
Urease yang diperkenalkan merupakan proses pengolahan jerami padi menjadi hijauan berkualitas untuk pakan sapi perah dengan menggunakan urea (yang oleh kebanyakan masyarakat Indonesia hanya digunakan untuk tanaman). Urea dicampur air dengan perbandingan tertentu, disiramkan ke jerami yang sudah disusun kemudian ditutup plastik kedap udara selama waktu tertentu (metode Dolberg, 1981). Alternatif lain adalah dengan memberi panas dan tekanan tertentu sehingga larutan urea menguapkan gas amoniak, uapnya yang berbau sengak diserap oleh tumpukan jerami padi di sekelilngnya. Proses ini dilakukan dalam kontainer kedap udara (metode yang dilakukan Bergner dan Van der Merme serta diperbaiki pada tahun 1981 oleh Coredesse).
Peternak sapi perah pun dibekali ilmu “ghaib” untuk menyulap jerami padi yang semula hanya hangus dibakar di pesawahan menjadi pengganti rumput hijau yang semakin sulit diperoleh. Tidak lupa kontainer pun dikirimkan kepada koperasi peternak sapi perah. Dengan berbagai upaya tersebut, kiranya pemerintah makin optimis bahwa dalam beberapa tahun setelah itu imbangan antara susu impor dan produk dalam negeri mencapai 50 : 50.
Para peternak sapi perah sangat antusias mempraktekan ilmu barunya. Pakan hijauan tidak akan ada masalah lagi ketersediaannya sepanjang musim. Namun, ketika hijauan berkualitas hasil urease ini diberikan kepada sapi yang sedang laktasi maka produksi susunya tiba-tiba berkurang. Makin hari makin sedikit sampai beberapa dinataranya harus berhenti sebelum masa kering tiba.
Jerami padi berkualitas tinggi juga dengan bangga mereka diberikan kepada sapi jantan yang sedang digemukan (fattening). Sapi-sapi jantan FH yang sedang dalam proses akhir pemeliharaan penggemukan pun beberapa diantaranya menemui ajal setelah beberapa hari urinenya kuning kemerahan sampai benar-benar keluar darah segar.
H. Abdoeri (almarhum) yang waktu itu menjabat sebagai ketua GKSI Cirebon pun segera menghentikan penerapan teknologi baru tersebut. Urease ternyata tidak seindah hasil penelitian Dr. Ir. Abdel Komar di Perancis. Bagusnya kesimpulan hasil riset di laboratorium ternyata berakibat fatal setelah diterapkan begitu saja di lapangan.
Atep, seorang peternak sapi perah di Desa Sukasari Kecamatan Pangalengan pun mengalami nasib serupa. Pada awal tahun 1990-an, anggota KPBS tersebut hanya bisa mengurut dada ketika beberapa ekor sapi laktasi andalannnya tiba-tiba produksi susunya turun drastis. Salah satunya bahkan sakit-sakitan dan terpaksa ditolong Pak Jagal. Saat itu, sapi perahnya mendapatkan awetan hijauan berprotein tinggi, silase jagung yang dibuat dengan tambahan larutan urea.
Kejadian belum lama pun terjadi di peternakan domba milik pesantren, Peternakan Domba Al-Mustaghfirun Desa Jatimulya Kecamatan Terisi Kabupaten Indramayu. Lebih dari 35 % domba yang dipeliharanya terkapar secara bertahap setelah penggunaan UMB selama 2 – 6 bulan, 75 ekor harus menemui ajal dari total populasi 200 ekor. Ahmad Syifa, teknisi yang menangani peternakan tersebut mengatakan bahwa gejala yang muncul diare akut, bahkan disertai dengan perdarahan. Kalau sudah demikian, maka paling lambat 4 hari kemudian harus dikebumikan di liang lahat masal.
Jauh-jauh sebelum praktek-praktek mematikan itu berlangsung menelan banyak korban, para mahasiswa Fakultas Peternakan IPB selalu mendapat perhatian agar terjebak dalam masalah karena tertipu oleh nutrisi semu. Hasil penelitian laboratorium, selalu dan akan selalu menghasilkan adanya perbaikan nitrisi terhadap bahan makanan ternak yang diberi larutan urea.
Protein, nutrisi terpenting dan relatif mahal ini menjadi begitu murah dan mudah didapat dengan pemberian urea. Bahan pakan pun secara laboratorium menunjukkan berbagai perbaikan. Serat kasar yang sulit dicerna rumen pun menjadi lebih bisa bermanfaat setelah melalui proses urease.
Hasil penelitian pengolahan jerami padi IR 38 dengan pemberian urea 4 % bukan hanya meningkatkan protein kasar secara drastis tetapi juga meningkatkan daya cernanya 50 % lebih baik, serat kasar bahkan menunjukan perbaikan daya cernanya lebih dari itu. Perbaikan juga terjadi pada daya cerna bahan kering dan bahan organik. (Komar, A, 1984 : 51).
Sekali lagi, mahasiswa mendapatkan amanat yang harus dipegang teguh bahwa sekalipun hasil kerja di laboratorium menunjukkan berbagai keindahan tetapi harus hati-hati dalam penerapannya di lapangan. Penggunaan protein semu tersebut telah menunjukkan berbagai bahaya. Misalnya, sapi laktasi tiba-tiba turun drastis produksinya, menyebabkan kemandulan, dan lain-lainnya. Masalah sosial-budaya peternak yang tidak setinggi manusia laboratorium memperparah keadaan, angka kematian tidak dapat dihindarkan.
Sejalan dengan bekal dari Kampus Rakyat, seorang nutrisionit dari Kansas University, Profesor Keith Bolsen, pada awal tahun 1990-an mengatakan bahwa, “Penggunaan urea untuk ternak, dengan metode dan cara apapun, lebih banyak kerugiannya daripada manfaatnya.”
Bila ditarik garis merah ke masa lalu, Penulis menemukan sebuah buku kecil yang sangat berharga tentang penggunaan urea pada peternakan di Amerika Serikat. Tidak tanggung-tanggung, terbitan 1918, sama dengan terjadinya Perang Dunia Pertama. Ternyata, sejak awal abad ke-20 atau bahkan abad sebelumnya, urea sudah lazim digunakan disana sebagai bagian penting dalam proses pengawetan hijauan, khususnya silase.
Buku kuno itu menjelaskan tentang berbagai aplikasi pengunaan urea dalam berbagai kadar terhadap berat badan sapi potong penggemukan. Juga terdapat berbagai informasi lain yang masih mengagungkan penghematan biaya produksi yang diperoleh dengan pemberian hasil urease ini.
Dikaitkan dengan pendapat Profesor Keith Bolsen di atas, maka diantara awal abad dan menjelang akhir abad ke-20 ini tentu ada perkembangan hasil penelitian dan penerepan penggunaan urea dalam pakan ternak di Negeri Paman Sam. Dapat dipastikan bahwa perkembangannya negatif, oleh karena itu di sana tidak lagi disarankan.
Ironisnya, banyak ahli nutrisi Indonesia, yang menggembar-gemborkan kehebatan urea sebagai sumber nutrisi dan bahkan bisa memperbaiki nutrisi pakan ternak. Para ahli lulusan dalam dan luar negeri itu tetap pada pendiriannya sekalipun di hadapan matanya banyak korban bergelimpangan. Mungkin mereka tidak menyadari bahwa ternak yang meregang nyawa tesebut adalah efek negatif dari formula yang di benaknya akan melejitkan pertumbuhan dan produksi ternak yang mengkonsumsinya. Kejadian ini bukan hanya terjadi pada ternak milik masyarakat awan tetapi juga terjadi di berbagai balai penelitian yang semestinya menjadi tempat berguru masyarakat dan praktisi serta ahli.
PESAN SPONSOR======================================================
Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :
http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto
========================================================TERIMAKASIH
ANJING MONYET DAN KUCING
Kalau berprikemanusiaan plus perikehewanan
Waspada terhadap hewan peliharaan
Pendahuluan
Dua diantara ketiga nama hewan di atas lebih diingat orang sebagai makian dari pada bahaya yang mengintai yang dapat ditimbulkan olehketiga hewan yang sangat dekat bahkan terlalu dekat dengan manusia itu.
Siapapun akan marah apabila dirinya diumpat dengan “Anjing” atau kata lain yang sepadan, asu di Jepara, Kirik di Cirebon atau yang lain-lain. Demikian juga darah akan cepat merambah keubun-ubun mendengar kata “Monyet” diarahkan. Yang berbeda mungkin kucing, yang menurut kebiasaan masyarakat umumnya memppunyai nilai dan arti tersendiri.
Antara Kegemaran dan Kewaspadaan
Lain di mulut, lain dihati. Demikian juga dengan makhluk yang bernama anjing, di Sumatera Barat misalnya, hewan ini dapat menghipnotis pemiliknya -terutama penggemar berburu fanatik- sehingga tiba-tiba dapat dengan tega mengumpat istri tersayangnya karena alpa memberikan hidangan khusus atau tak sempat mengajak jalan-jalan pagi koleganya itu di pagi dan sore hari. Atau mereka lebih baik menahan lapar dari pada teman berkaki empat-nya kelaparan. Bahkan sang bapak yang sama sekali tidak pernah memandikan anaknya seumur dia bergelar ayah akan dengan sangat tekun dan teliti, sabar plus telaten dan penuh sukacita membersihkan setiap celah dan sela sampai cakar peliharaannya dengan bersih dengan sabun wangi yang boleh jadi hanya sekedar dikenal oleh istrinya, entahlah kalau anaknya. Yang lebih dari itu, mudah-mudahan tidak pernah terjadi.
Monyet dipiara orang bukan hanya sebagai peracik hiburan tetapi juga sekaligus merupakan sumber penghasilan. Di beberapa daerah sering ada pertunjukan Doger Monyet, anjing dan monyet yang menunjukan kelihaiannya menari-nari dengan iringan musik dog-dog-cer, dari rumah kerumah dipandu tuannya yang sekaligus merupakan manajer merangkap bendahara yang juga menjadi asisten pribadinya. Demikian juga banyak Monyet yang telah bersosialisasi sehingga dapat menghibur penggunaan lika-liku dan naik turun jalan di Lembah Anai di Ranah Minang. Kejadiian serupa terdapat juga di Bulak Indramayu dan Plangon Cirebon. Saudara-saudaranya banyak dimanfaatkan orang untuk memanjat ketinggian pohon kelapa untuk menghidupi ribuan kepala manusia.
Lagi-lagi kucing nasibnya berbeda. Sekalipun sering dijadikan mascot yang selalu dengan gagah dan dengan penuh keberanian menantang lawan, tetapi lebih banyak dikaitkan dengan nasib sial. Bila pengendara mobil yang sedang asyk tancap gas kemudian di depannya berlalu kucing akan menafsirkan sebagai gagalnya mencapai tujuan. Raja jalanan sekalipun akan menjadi sangat ketakutan begitu rodanya menggilas seekor kucing. Dan sekali lagi, maknanya sama, sial! Dalam mendapat kasih sayang manusia, kucing sendiri sebenarnya yang menimpa nasib sial. Dia tidak boleh iri mendapat perlakuan yang berbeda dengan dua tetangganya terdahulu yang dibelikan kalung pengikat yang tidak murah. Namun dalamkesialannya kucing menjadi menjadi lebih bebas berlalu lalang di dalam rumah sampai di tempat tidur sekalipun.
Terlepas dari mudahnya ketiga kolega menuai itu bersosialisasi, bahaya yang dapat ditimbulkan tetap mengintai dan tidak sedikit. Kucing dan anjing merupakan tempat suburnya bakteri yang merupakan biang kerok sulitnya seorang wanita mendapatkan keturunan itu langsung kesalahannya dituduhkan kepada pihak istri. Sekalipun pada kenyataannya, survey membuktikan bahwa 65 prosen kasus keluarga tanpa anak merupakan dampak dari kelemahan di pihak suami!
Prof. Woodruf dari inggris mengemukakan bahwa virus-virus anjing dapat menyebabkan penyakit serius dan infeksi mematikan seperti lever, paru-paru, penyakit otak melalui kulit dan virus tersebut akan tetap aktif selama 4 tahun sejak dikeluarkan anjing. Beliau sampai pada satu kesimpulan, “ Anjing peliharaan mendatangkanbahaya yang sangat luar biasa”.
Kucing juga merupakan induk semang sejati dalam siklus hidup protozoa toxoplasma yang dapat menyebar kejaringan otak manusia sehingga bisa menimbulkan kelumpuhan dan keterbelakangan pada anak-anak.
Bahaya Rabies
Demikian juga penularan rabies dapat terjangkit dari ketiganya. Rabies memang bukan penyakit yang sempat menghantui kehidupan manusia seperti AIDS akhir- akhir ini sekalipun kedahsyatannya mengantar kematian penderitanya lebih hebat. Bukan perlahan-lahan dan sangat halus serta lemah gemulai mencabut nyawa penuh sopan santun_permisi terlebih dahulu_seperti AIDS, tetapi langsug tancap gas! Menurut Shadily dkk, jarang sekali penderita sembuh dari rabies.
Lebih lanjut shadily dkk menggambarkan kesadisan virus rabies memancing nyawa yang tetap berusaha bertahan dan gejala klinisnya digambarkan dalam tiga fase :
a. Fase Pertama, menunjukan gejala sakit kepala, mata berkunang dan rasa panas atau dingin pada luka dan sepanjang syaraf yang diserang. Gangguan rangsang ringan dan peka, mengeluarkan air liur, air mata, keringat, sukar tidur dan depresi.
b. Fase kedua, gangguan rangsangan bertambah sering dan timbul cemas serta ketakutan. Leher kaku dan kejang-kejang ringan, ditambah kerutan pada tenggorokan yang disertai rasa nyeri dan kesukaran menelan dengan rasa tercekik setiap kali penderita ingin menelan makanan bahkan jika melihatnya sekalipun. Jika terjadi kejang tonik dan kesukaran bernafas, maka pada fase ini sudah bisa timbul kematian. Suhu badanbiasanya meningkat tinggi dan dalam jangka waktu satu atau dau hari penderita memasuki Tahap Ketiga.
c. Tahap Ketiga, terjadi kelumpuhan berat, kejang-kejang hilang dan koma, lalu meninggal dalam jangka waktu satu atau dua hari.
Dari ketiga gambaran yang gamblang diatasdapat diambil hikmah, bahwa betapa kejinya rabies dalam berusaha menggapai nyawa manusia. Namun demikian bukan tidak bisa diobati, pencegahan pada manusia yang telah digigit binatang yang terkena rabies dapat dilakukan dengan penyuntikan vaksin rabies, sekalipun relatif mahal biaya yang harus dikeluarkan.
Cara yang paling murah dan efektif adalah tentu saja pencegahan, sebelum ada korban dan ada yang harus dikorbankan yaitu dengan cara vaksinasi binatang peliharaan itu sendiri. Tentu saja hewan yang sehat sebab vaksin yang akan disuntikan pada dasarnya adalah bibit penyakit juga sekalipun telah dilemahkan. Kalau yang divaksin anjing sakit misalnya malah bisa tumbuh hal-hal yang tidak diharapkan.
Dengan vaksinasi hewan peliharaan maka sebenarnya bukan hanya melindungi dari virus rabies tetapi juga menghemat biaya ratusan ribu atau bahkan jutaan rupiah plus penderitaan dan pertaruhan nyawa bila hal yang tidak diinginkan terjadi. Sebab jangan dianggap bahwa anjing yang dapat bermain dengan akrab bersama anak-anak adalah aman-aman saja. Virus rabies terus mengintai, beterbangan diudara dan siap hingga. Mereka dapat bertahan hidup di tubuh sisa hewan ataupun manusia yang pernah jadi korbannya sekalipun telah dikubur puluhan tahun sampai seratus tahun lalu. Kecuali yang dibakar terlebih dahulu sebelum disemayamkan.
Hewan yang sudah terinfeksi rabies juga tidak selalu galak dalammenunjukkan gejala- gejalanya . bisa juga justrua makin akrab dan mudah diajak bercengkrama sebelum akhirnya membuktikan keganasannya. Itulah yang disebut silent rabies.
Penutup
Kalau kita sayang hewan peliharaan tentu harus lebih cinta kesehatan serta keselamatan kita dan keluarga manusia pada umumnya. Pengorbanan sedikit waktu dan dana untuk memelihara kebersihan dan kesehatan lingkungan dan hewan peliharaan, termasuk memvaksin rabies secara teratur serta menjaga jarak (terutama anak-anak) dengan mereka tanpa harus mengurangi rasa perikehewanan merupakan solusi terbaik.
PESAN SPONSOR======================================================
Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :
http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto
========================================================TERIMAKASIH
Waspada terhadap hewan peliharaan
Pendahuluan
Dua diantara ketiga nama hewan di atas lebih diingat orang sebagai makian dari pada bahaya yang mengintai yang dapat ditimbulkan olehketiga hewan yang sangat dekat bahkan terlalu dekat dengan manusia itu.
Siapapun akan marah apabila dirinya diumpat dengan “Anjing” atau kata lain yang sepadan, asu di Jepara, Kirik di Cirebon atau yang lain-lain. Demikian juga darah akan cepat merambah keubun-ubun mendengar kata “Monyet” diarahkan. Yang berbeda mungkin kucing, yang menurut kebiasaan masyarakat umumnya memppunyai nilai dan arti tersendiri.
Antara Kegemaran dan Kewaspadaan
Lain di mulut, lain dihati. Demikian juga dengan makhluk yang bernama anjing, di Sumatera Barat misalnya, hewan ini dapat menghipnotis pemiliknya -terutama penggemar berburu fanatik- sehingga tiba-tiba dapat dengan tega mengumpat istri tersayangnya karena alpa memberikan hidangan khusus atau tak sempat mengajak jalan-jalan pagi koleganya itu di pagi dan sore hari. Atau mereka lebih baik menahan lapar dari pada teman berkaki empat-nya kelaparan. Bahkan sang bapak yang sama sekali tidak pernah memandikan anaknya seumur dia bergelar ayah akan dengan sangat tekun dan teliti, sabar plus telaten dan penuh sukacita membersihkan setiap celah dan sela sampai cakar peliharaannya dengan bersih dengan sabun wangi yang boleh jadi hanya sekedar dikenal oleh istrinya, entahlah kalau anaknya. Yang lebih dari itu, mudah-mudahan tidak pernah terjadi.
Monyet dipiara orang bukan hanya sebagai peracik hiburan tetapi juga sekaligus merupakan sumber penghasilan. Di beberapa daerah sering ada pertunjukan Doger Monyet, anjing dan monyet yang menunjukan kelihaiannya menari-nari dengan iringan musik dog-dog-cer, dari rumah kerumah dipandu tuannya yang sekaligus merupakan manajer merangkap bendahara yang juga menjadi asisten pribadinya. Demikian juga banyak Monyet yang telah bersosialisasi sehingga dapat menghibur penggunaan lika-liku dan naik turun jalan di Lembah Anai di Ranah Minang. Kejadiian serupa terdapat juga di Bulak Indramayu dan Plangon Cirebon. Saudara-saudaranya banyak dimanfaatkan orang untuk memanjat ketinggian pohon kelapa untuk menghidupi ribuan kepala manusia.
Lagi-lagi kucing nasibnya berbeda. Sekalipun sering dijadikan mascot yang selalu dengan gagah dan dengan penuh keberanian menantang lawan, tetapi lebih banyak dikaitkan dengan nasib sial. Bila pengendara mobil yang sedang asyk tancap gas kemudian di depannya berlalu kucing akan menafsirkan sebagai gagalnya mencapai tujuan. Raja jalanan sekalipun akan menjadi sangat ketakutan begitu rodanya menggilas seekor kucing. Dan sekali lagi, maknanya sama, sial! Dalam mendapat kasih sayang manusia, kucing sendiri sebenarnya yang menimpa nasib sial. Dia tidak boleh iri mendapat perlakuan yang berbeda dengan dua tetangganya terdahulu yang dibelikan kalung pengikat yang tidak murah. Namun dalamkesialannya kucing menjadi menjadi lebih bebas berlalu lalang di dalam rumah sampai di tempat tidur sekalipun.
Terlepas dari mudahnya ketiga kolega menuai itu bersosialisasi, bahaya yang dapat ditimbulkan tetap mengintai dan tidak sedikit. Kucing dan anjing merupakan tempat suburnya bakteri yang merupakan biang kerok sulitnya seorang wanita mendapatkan keturunan itu langsung kesalahannya dituduhkan kepada pihak istri. Sekalipun pada kenyataannya, survey membuktikan bahwa 65 prosen kasus keluarga tanpa anak merupakan dampak dari kelemahan di pihak suami!
Prof. Woodruf dari inggris mengemukakan bahwa virus-virus anjing dapat menyebabkan penyakit serius dan infeksi mematikan seperti lever, paru-paru, penyakit otak melalui kulit dan virus tersebut akan tetap aktif selama 4 tahun sejak dikeluarkan anjing. Beliau sampai pada satu kesimpulan, “ Anjing peliharaan mendatangkanbahaya yang sangat luar biasa”.
Kucing juga merupakan induk semang sejati dalam siklus hidup protozoa toxoplasma yang dapat menyebar kejaringan otak manusia sehingga bisa menimbulkan kelumpuhan dan keterbelakangan pada anak-anak.
Bahaya Rabies
Demikian juga penularan rabies dapat terjangkit dari ketiganya. Rabies memang bukan penyakit yang sempat menghantui kehidupan manusia seperti AIDS akhir- akhir ini sekalipun kedahsyatannya mengantar kematian penderitanya lebih hebat. Bukan perlahan-lahan dan sangat halus serta lemah gemulai mencabut nyawa penuh sopan santun_permisi terlebih dahulu_seperti AIDS, tetapi langsug tancap gas! Menurut Shadily dkk, jarang sekali penderita sembuh dari rabies.
Lebih lanjut shadily dkk menggambarkan kesadisan virus rabies memancing nyawa yang tetap berusaha bertahan dan gejala klinisnya digambarkan dalam tiga fase :
a. Fase Pertama, menunjukan gejala sakit kepala, mata berkunang dan rasa panas atau dingin pada luka dan sepanjang syaraf yang diserang. Gangguan rangsang ringan dan peka, mengeluarkan air liur, air mata, keringat, sukar tidur dan depresi.
b. Fase kedua, gangguan rangsangan bertambah sering dan timbul cemas serta ketakutan. Leher kaku dan kejang-kejang ringan, ditambah kerutan pada tenggorokan yang disertai rasa nyeri dan kesukaran menelan dengan rasa tercekik setiap kali penderita ingin menelan makanan bahkan jika melihatnya sekalipun. Jika terjadi kejang tonik dan kesukaran bernafas, maka pada fase ini sudah bisa timbul kematian. Suhu badanbiasanya meningkat tinggi dan dalam jangka waktu satu atau dau hari penderita memasuki Tahap Ketiga.
c. Tahap Ketiga, terjadi kelumpuhan berat, kejang-kejang hilang dan koma, lalu meninggal dalam jangka waktu satu atau dua hari.
Dari ketiga gambaran yang gamblang diatasdapat diambil hikmah, bahwa betapa kejinya rabies dalam berusaha menggapai nyawa manusia. Namun demikian bukan tidak bisa diobati, pencegahan pada manusia yang telah digigit binatang yang terkena rabies dapat dilakukan dengan penyuntikan vaksin rabies, sekalipun relatif mahal biaya yang harus dikeluarkan.
Cara yang paling murah dan efektif adalah tentu saja pencegahan, sebelum ada korban dan ada yang harus dikorbankan yaitu dengan cara vaksinasi binatang peliharaan itu sendiri. Tentu saja hewan yang sehat sebab vaksin yang akan disuntikan pada dasarnya adalah bibit penyakit juga sekalipun telah dilemahkan. Kalau yang divaksin anjing sakit misalnya malah bisa tumbuh hal-hal yang tidak diharapkan.
Dengan vaksinasi hewan peliharaan maka sebenarnya bukan hanya melindungi dari virus rabies tetapi juga menghemat biaya ratusan ribu atau bahkan jutaan rupiah plus penderitaan dan pertaruhan nyawa bila hal yang tidak diinginkan terjadi. Sebab jangan dianggap bahwa anjing yang dapat bermain dengan akrab bersama anak-anak adalah aman-aman saja. Virus rabies terus mengintai, beterbangan diudara dan siap hingga. Mereka dapat bertahan hidup di tubuh sisa hewan ataupun manusia yang pernah jadi korbannya sekalipun telah dikubur puluhan tahun sampai seratus tahun lalu. Kecuali yang dibakar terlebih dahulu sebelum disemayamkan.
Hewan yang sudah terinfeksi rabies juga tidak selalu galak dalammenunjukkan gejala- gejalanya . bisa juga justrua makin akrab dan mudah diajak bercengkrama sebelum akhirnya membuktikan keganasannya. Itulah yang disebut silent rabies.
Penutup
Kalau kita sayang hewan peliharaan tentu harus lebih cinta kesehatan serta keselamatan kita dan keluarga manusia pada umumnya. Pengorbanan sedikit waktu dan dana untuk memelihara kebersihan dan kesehatan lingkungan dan hewan peliharaan, termasuk memvaksin rabies secara teratur serta menjaga jarak (terutama anak-anak) dengan mereka tanpa harus mengurangi rasa perikehewanan merupakan solusi terbaik.
PESAN SPONSOR======================================================
Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :
http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto
========================================================TERIMAKASIH
KESEIMBANGAN KALSIUM DAN FOSFOR DALAM RANSUM
Dalam penyusunan ransum ternak, banyak hal yang perlu diperhatikan. Terutama zat makanan yang dikandungnya, karena akan menentukan kuantitas dan kualitas produksi ternak yang di hasilkan. Tentunya dengan tidak mengabaikan faktor yang lain, misalnya palatabilitas ransum.
Kandungan protein dan energi kerap dijadikan pertimbangan utama dalam penyusunan ransum. Walaupun demikian, tidak boleh mengabaikan zat makanan yang lain, misalnya mineral.
Mineral yang terbanyak dalam tubuh adalah kalsium (Ca) dan fosfor (P). Lebih dari 70 persen abu tubuh adalah Ca dan P. Sebagian besar Ca dan P terdapat dalam tulang (Peeler,1972).
Sekitar 99 persen Ca dan 80 persen P terdapat dalam tulang dan gigi (Mynard dan Loosly, 1956). Kedua mineral inilah yang selanjutnya kita bicarakan.
Kalsium (Ca)
Kalsium terdapat dalam tubuh lebih banyakdari pada mineral yang lain, merupakan 1,5 sampai 2,0 persen dari berat badan (Davies,1982). 99 persen Ca terdapat dalam tulang dan gigi. Sedangkan yang satu persen tersebar luas keseluruh organ dan jaringan sebagai unsur esensisal bagi sel dan cairan jaringan (Benerjee, 1982; Maynard dan Loosly, 1956).
Menurut Benerjee (1982), fungsi Ca adalah :
1. Merupakan penyusun tulang, termasuk gigi dan pertumbuhan.
2. Pembekuan darah.
3. Mengukur denyut jantung dan kerja otat.
4. Mengontrol sistem syaraf otot.
5. Memelihara keseimbangan asam basa.
6. Memelihara membran sel permeabel.
Fosfor (P)
Fosfor terdapat dalam semua sel tubuh. Banyak sekitar stu persen dari total berat badan (Dafies,1982). Sekitar 80persen P bergabung dengan Ca dalam tulang dan gigi. Kurang lebih 10 persen berkombinasi dengan protein, lemak dan karbohidrat, dan pada komponen lain dalam darah dan otot. 10 persen sisanya tersebar luas dalam berbagai senyawa kimia (Benerjee,1982).
Menurut Davies (1972), fungsi P adalah :
1. Esensial untuk pembentukan tulang.
2. Penting untuk pertumbihan tulang.
3. Esensial untuk pembentukan jaringan otot dan telur.
4. Esensial untuk esksresi susu secara normal.
5. Penting untuk mengaktifkan mikroba rumen.
6. Merupakan komponen asam nukleat.
7. Menjaga keseimbangan asam-basa.
8. Metabolisme protein, energi dan lemak.
9. Merupakan komponen danaktifator enzim.
Keseimbangan Kalsium dan Fosfor
Mengingat sangat pentingnya Ca dan P dalam metabolisme, maka dalam penyusunan ransum hendaknya benar-benar diperhatikan. Sehingga tidak terjadi kekurangan salah satu atau keduanya yang dapat menyebabkan tidak tercapainya produksi maksimal, tentunya sedapat mungkin optimal seperti yang diharpkan.
Kecukupan Ca dan P tergantung pada 3 faktor : (1) kecukupan kedua mineral dalam ransum, (2) kesesuaian perbandingan keduanya dan (3) ketersediaan vitamin D. Ketiga faktor ini saling berhubungan (Maynard dan Loosly, 1956).
Dari ketiga faktor tersebut, kesesuaian keseimbangan antara Ca dan P yang jarang diperhatikan. Masih banyak menyusun ransum tanpa memperhatikan keseimbangan Ca dan P. Asal sudah lebih dari yang dibutuhkan, dianggap cukup. Padahal keseimbangan kedua mineral ini sangat penting untuk diperhatikan. Perbandingan Ca dan P dalam ransum merupakan hal yang penting dalam absorpsi dan kadar Ca dan P darah (Benerjee,1982).
Anggorodi (1985) menyatakan bila penggunaan Ca lebih banyak dari pada P, maka kelebihan Ca tidak akan diserap tubuh. Kelebihan Ca tersebut akan bergabung dengan P membentuk trikalsium fosfat yang tidak larut. Sebaliknya, kebanyakan P akan mengurangi penyerapan Ca dan P. Terlalu kecilnya perbandingan Ca dan P (kurang dari 0,5 :1) dapat menyebabkan defisiensi Ca, demikian juga jika terlalu tinggi (lebih dari 5:1),adalah berbahaya (Davies, 1972).
Sebagai aplikasi, kami mencoba mengajak pembaca supaya mudah melihat ransum yang sudah ada disususn oleh saudara Wahyono, A (SPI Feb. 1990, hal 31). Untuk mempermudah kami cantumkan kembali (mohon izin dari saudara Wahyono):
Apabila diamati dengan teliti, banyak hal yang menarik dari ransum ini. Kejelian penyusun dalam menyesuaikan antara kebutuhan BK,DE dan Pr dd patut dapat acungan jempol, walupun masih ada sedikit kekurangan Pr dd. Yang kita lihat lebih teliti lagi adalah Ca dan P ransum. Kelebihan P akan tetapi kekurangan Ca.
Kekurangan 4.535 g Ca dan kelebihan 14,67 g P. Inilah yang akan kita bahas. Bagaimana menyeimbangkan keduanya agar sesuai dengan kebutuhan ternak.
Yang harus diketahui terlebih dahulu adalah :
1. Perbandingan Ca : P yang dibutuhkan ternak Ca : P = 17.4 : 10.9 = 1.6 : 1
2. Kandungan mineral dari sumber mineral yang digunakan. Dalam hal ini yang kekurangan adalah Ca dan sumber Ca yang digunakan misalnya CaCO3, 40% Ca (bukan 36 % Ca, karena Ba adalah 40 dan BM CaCO3 adalah 100).
Dari (1) dapat dilihat bahwa perbandingan Ca dan P yang dibutuhkan adalah sekitar 1.60 : 1. Ini harus jadi pegangan. Sehingga kalau disini terdapat 25.57 g p, maka agar terjadi keseimbangan 1.6 : 1 total Ca yang harus 25.57 X 1.6 = 40.912 g.
Ternyata jauh sekali dari Ca yang telah ada, yaitu kekurangan 40.912 – 12.865 = 28.047 g Ca lagi.
(28.407 + 12.865) : 25.57 = 1.6 : 1. Tercapailah keseimbangan yang diinginkan.
Sekarang tinggal hitung berapa banyak CaCO3 yang dibutuhkan untuk mengimpaskan kekurangan tadi (28.407 g Ca).
Banyak CaCO3 40% Ca yang dibutuhkan adalah : 28.407 X 100/40 = 71.018 gram
Jadi ransum tadi harus ditambah 71.018 gram CaCO3
Tiada salahnya perhitungan yang digunakan penulis terdahulu, sehingga Ca : P mendekati 1:1, yang diperoleh dari :
CaCO3 yang dibutuhkan 35.3 g, sehingga kandungan Ca nya : 35.5 X 36/100 = 12.708 g (CaCO3 nya 36% Ca) Ca yang sudah ada 12.865 sehingga setelah ditambah CaCO3, total Ca-nya menjadi :12.865 + 12.708 = 25.535 dan Ca : P menjadi 25.573 : 25.570 = 1:1.
Perbandingan Ca dan P, 1:1 masih masuk dalam jangkauan seperti yang dinyatakan Benerjee (1982) bahwa pada batas 1:2 sampai 2:1 memberikan daya guna optimum kedua mineral.
Sebagaimana penutup tulisan ini, bolehlah kita simak pesan parakkasi (1980), kedua mineral tersebut sama pentignya, akan tetapi P relatif lebih mahal (P merupakan mineral termahal bagi monogastri umumnya). Oleh karena itu usahakan agar P jangan sampai terbung atau penggunaannya kurang efisien.
Suatu tentang bagi nutritionist!
PESAN SPONSOR======================================================
Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :
http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto
========================================================TERIMAKASIH
Kandungan protein dan energi kerap dijadikan pertimbangan utama dalam penyusunan ransum. Walaupun demikian, tidak boleh mengabaikan zat makanan yang lain, misalnya mineral.
Mineral yang terbanyak dalam tubuh adalah kalsium (Ca) dan fosfor (P). Lebih dari 70 persen abu tubuh adalah Ca dan P. Sebagian besar Ca dan P terdapat dalam tulang (Peeler,1972).
Sekitar 99 persen Ca dan 80 persen P terdapat dalam tulang dan gigi (Mynard dan Loosly, 1956). Kedua mineral inilah yang selanjutnya kita bicarakan.
Kalsium (Ca)
Kalsium terdapat dalam tubuh lebih banyakdari pada mineral yang lain, merupakan 1,5 sampai 2,0 persen dari berat badan (Davies,1982). 99 persen Ca terdapat dalam tulang dan gigi. Sedangkan yang satu persen tersebar luas keseluruh organ dan jaringan sebagai unsur esensisal bagi sel dan cairan jaringan (Benerjee, 1982; Maynard dan Loosly, 1956).
Menurut Benerjee (1982), fungsi Ca adalah :
1. Merupakan penyusun tulang, termasuk gigi dan pertumbuhan.
2. Pembekuan darah.
3. Mengukur denyut jantung dan kerja otat.
4. Mengontrol sistem syaraf otot.
5. Memelihara keseimbangan asam basa.
6. Memelihara membran sel permeabel.
Fosfor (P)
Fosfor terdapat dalam semua sel tubuh. Banyak sekitar stu persen dari total berat badan (Dafies,1982). Sekitar 80persen P bergabung dengan Ca dalam tulang dan gigi. Kurang lebih 10 persen berkombinasi dengan protein, lemak dan karbohidrat, dan pada komponen lain dalam darah dan otot. 10 persen sisanya tersebar luas dalam berbagai senyawa kimia (Benerjee,1982).
Menurut Davies (1972), fungsi P adalah :
1. Esensial untuk pembentukan tulang.
2. Penting untuk pertumbihan tulang.
3. Esensial untuk pembentukan jaringan otot dan telur.
4. Esensial untuk esksresi susu secara normal.
5. Penting untuk mengaktifkan mikroba rumen.
6. Merupakan komponen asam nukleat.
7. Menjaga keseimbangan asam-basa.
8. Metabolisme protein, energi dan lemak.
9. Merupakan komponen danaktifator enzim.
Keseimbangan Kalsium dan Fosfor
Mengingat sangat pentingnya Ca dan P dalam metabolisme, maka dalam penyusunan ransum hendaknya benar-benar diperhatikan. Sehingga tidak terjadi kekurangan salah satu atau keduanya yang dapat menyebabkan tidak tercapainya produksi maksimal, tentunya sedapat mungkin optimal seperti yang diharpkan.
Kecukupan Ca dan P tergantung pada 3 faktor : (1) kecukupan kedua mineral dalam ransum, (2) kesesuaian perbandingan keduanya dan (3) ketersediaan vitamin D. Ketiga faktor ini saling berhubungan (Maynard dan Loosly, 1956).
Dari ketiga faktor tersebut, kesesuaian keseimbangan antara Ca dan P yang jarang diperhatikan. Masih banyak menyusun ransum tanpa memperhatikan keseimbangan Ca dan P. Asal sudah lebih dari yang dibutuhkan, dianggap cukup. Padahal keseimbangan kedua mineral ini sangat penting untuk diperhatikan. Perbandingan Ca dan P dalam ransum merupakan hal yang penting dalam absorpsi dan kadar Ca dan P darah (Benerjee,1982).
Anggorodi (1985) menyatakan bila penggunaan Ca lebih banyak dari pada P, maka kelebihan Ca tidak akan diserap tubuh. Kelebihan Ca tersebut akan bergabung dengan P membentuk trikalsium fosfat yang tidak larut. Sebaliknya, kebanyakan P akan mengurangi penyerapan Ca dan P. Terlalu kecilnya perbandingan Ca dan P (kurang dari 0,5 :1) dapat menyebabkan defisiensi Ca, demikian juga jika terlalu tinggi (lebih dari 5:1),adalah berbahaya (Davies, 1972).
Sebagai aplikasi, kami mencoba mengajak pembaca supaya mudah melihat ransum yang sudah ada disususn oleh saudara Wahyono, A (SPI Feb. 1990, hal 31). Untuk mempermudah kami cantumkan kembali (mohon izin dari saudara Wahyono):
Apabila diamati dengan teliti, banyak hal yang menarik dari ransum ini. Kejelian penyusun dalam menyesuaikan antara kebutuhan BK,DE dan Pr dd patut dapat acungan jempol, walupun masih ada sedikit kekurangan Pr dd. Yang kita lihat lebih teliti lagi adalah Ca dan P ransum. Kelebihan P akan tetapi kekurangan Ca.
Kekurangan 4.535 g Ca dan kelebihan 14,67 g P. Inilah yang akan kita bahas. Bagaimana menyeimbangkan keduanya agar sesuai dengan kebutuhan ternak.
Yang harus diketahui terlebih dahulu adalah :
1. Perbandingan Ca : P yang dibutuhkan ternak Ca : P = 17.4 : 10.9 = 1.6 : 1
2. Kandungan mineral dari sumber mineral yang digunakan. Dalam hal ini yang kekurangan adalah Ca dan sumber Ca yang digunakan misalnya CaCO3, 40% Ca (bukan 36 % Ca, karena Ba adalah 40 dan BM CaCO3 adalah 100).
Dari (1) dapat dilihat bahwa perbandingan Ca dan P yang dibutuhkan adalah sekitar 1.60 : 1. Ini harus jadi pegangan. Sehingga kalau disini terdapat 25.57 g p, maka agar terjadi keseimbangan 1.6 : 1 total Ca yang harus 25.57 X 1.6 = 40.912 g.
Ternyata jauh sekali dari Ca yang telah ada, yaitu kekurangan 40.912 – 12.865 = 28.047 g Ca lagi.
(28.407 + 12.865) : 25.57 = 1.6 : 1. Tercapailah keseimbangan yang diinginkan.
Sekarang tinggal hitung berapa banyak CaCO3 yang dibutuhkan untuk mengimpaskan kekurangan tadi (28.407 g Ca).
Banyak CaCO3 40% Ca yang dibutuhkan adalah : 28.407 X 100/40 = 71.018 gram
Jadi ransum tadi harus ditambah 71.018 gram CaCO3
Tiada salahnya perhitungan yang digunakan penulis terdahulu, sehingga Ca : P mendekati 1:1, yang diperoleh dari :
CaCO3 yang dibutuhkan 35.3 g, sehingga kandungan Ca nya : 35.5 X 36/100 = 12.708 g (CaCO3 nya 36% Ca) Ca yang sudah ada 12.865 sehingga setelah ditambah CaCO3, total Ca-nya menjadi :12.865 + 12.708 = 25.535 dan Ca : P menjadi 25.573 : 25.570 = 1:1.
Perbandingan Ca dan P, 1:1 masih masuk dalam jangkauan seperti yang dinyatakan Benerjee (1982) bahwa pada batas 1:2 sampai 2:1 memberikan daya guna optimum kedua mineral.
Sebagaimana penutup tulisan ini, bolehlah kita simak pesan parakkasi (1980), kedua mineral tersebut sama pentignya, akan tetapi P relatif lebih mahal (P merupakan mineral termahal bagi monogastri umumnya). Oleh karena itu usahakan agar P jangan sampai terbung atau penggunaannya kurang efisien.
Suatu tentang bagi nutritionist!
PESAN SPONSOR======================================================
Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :
http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto
========================================================TERIMAKASIH
KING GRASS ALIAS RUMPUT RAJA
Dua dekade lebih masa itu berlalu. Tetapi kenangan tinggal serta diskusi banyak tentang rumput dan peternakan bersama bule Australia (Christopher Gardener) selama lebih dari 9 bulan di JASTRU (Jonggol Animal Science and Research Unit) tetap terkenang. Lahan bergunung seluas 369 Ha yang semula tandus itu menghampar begitu hijau dan terlalu indah untuk dilupakan. Sebagian hasil riset disana saya tuangkan di sini ....
Salah satu daya tarik untuk dibudidayakan adalah produksinya yang tinggi. Rumput yang berproduksi tinggi atau rumput unggul telah banyak dienal masyarakat. Salah satu diantaranya rumput raja atau yang lebih dikenal dengan sebutan King grass, suatu jenis rumput unggul yang diintroduksikan ke Indonesia menyusul rumput gajah cv Hawaii dan cv Afrika yang telah masuk terlebih dahulu.
Sepintas, secara visual hampir tidak ada perbedaan antara ketiga jenis rumput yang tumbuh tegak seperti tebu atau kaso tersebut. Salah satu cara yang mudah untuk membedakannya ketiganya mudah saja, ambil daunnya dan amati. Rumput raja daunnya dipenuhi bulu, sedangkan rumput gajah cv Hawaii hanya terdapat pada bagian tepi daun dan tidak terdapat bulu pada rumput gajah cv Afrika.
Produksi Bahan Segar
Penelitian yang dilakukan oleh BPT Ciawi pernah membuat tercengang beberapa pakar hijauan dari Australia,sehingga mengatakan “It’s Impossible!’. Adalah terlalu berat untuk memvonis tidak mungkin hasil penelitian orang lain bagi penulis, walaupun penulis sendiri sebenarnya ragu-ragu untuk membenarkan 100%. Hal ini berhubung ada dua sumber yang dihasilkan oleh orang yang sama, dilokasi yang sama dengan produksi yang sama tetapi dengan jarak tanam dosis pemupukannya berbeda!.
Bisa pembaca bandingkan brosur “Apa itu KING GRASS?”” dengan produksi hijauan dan nilai nutrisi tiga jenis rumput pannisetum dengan sistem potong angkut “ yang dimuat di proceedings seminar ruminansia besar, keduanya dikeluarkan BPT Ciawi. Dapat dilihat dibrosur tersebut jarak tanamnya 100x100 cm, sedangkan pada procinding 50x50 cm. Pupuk yang digunakan kalau di proceending tercantum 30 ton pupuk kandang, 900 kg urea, 450 kg KCl dan 450 kg TSP per ha per tahun, maka di brosur tertulis 10 ton pupuk kandang, 50 kg TSP dan 50 kg KCl per ha yang diberikan tiga kali panen sekali dan pupuk urea sebanyak 50 kg per ha diberikan setiap habis panen dan ketika tanaman berumur dua minggu.
Apabila dihitung matematis, maka kebutuhan per tahun yang tercantum di brosur adalah :
Misalkan dalam setahun 9 kali panen (interval devoliasi 6 minggu).
Maka akan diberikan pupuk kandang, TSP dan KCl sebanyak 9:3=3 kali.
Jadi sebanyak :
Pupuk kandang : 3x10 ton/ha = 30 ton/ha/tahun.
TSP : 3x50 kg/ha = 150 kg/ha/tahun.
KCL : 3x50 kg/ha = 150 kg/ha/tahun.
Sedangkan pupuk urea yang diperlukan selama setahun sebanyak :
(*1+9)50 kg/ha = 500 kg/ha/tahun. *) 1 diperoleh dari pemberian pupuk urea pada saat rumput raja berumur dua minggu.
Jadi, kecuali pupuk kandang maka ketiga jenis pupuk yang lain lebih randah dosisnya dari pada yang tertulis di proceedings. Perlu dipertimbangkan juga adalah interval pemotongan, dalam setahun bisa saja 9 kali, (365:7):6 = kurang lebih 9. Tetapi apakah tidak terdapat perbedaan antara musim hujan dan kemarau? Biasanya musim kemarau lebih lama.
Alasan penulis keberatan setuju dengan “ Its imposibble”-nya ilmuwan dari Negri Kanguru adalah mungkin kalau di brosur hanya merupakan anjuran pada masyarakat sedangkan yang tertera di proceeding ‘asli’ sesuai dengan penelitian. Hal yang penting lagi adalah bahwa rumput raja merupakan rumput unggul yang kemungkinan mempunyai potensi genetik tinggi. Sehingga mungkin saja dapat berproduksi sangat tinggi apabila ditanam dilahan yang sesuia, misalnya pada lahan-lahan dengan kesuburan tinggi yang diimbangi dengan pemupukan yang sesuai.
Mungkin pembaca dapat mem -perbandingkan nya dengan ayam broiler. Ayam yang dapat mencapai berat 2 kg dalam waktu 2 bulan ini hanya dapat mencapai beberapa ratu gram saja apabila dibiarkan berkeliaran seperi ayam kampung (ekstensif) selama 2 bulan jadi perlu lingkungan yang sesuai untuk berkembang individu.
Lebih jelasnya mari kita bandingkan dengan hasil penelitian pada ilmuan dilokasi yang beda. (tabel)
Penulis sendiri mendapatkan produksi bahan segar rumput raja yang sangat bervariasi tergantung perlakuan pemupukan dan periode pemupukannya (gambar). Penelitian ini dilakukan dilahan marginal, sehingga kemungkinan produksinya akan lebih tinggi apabila digunakan lahan yang subur.
Terlihat bahwa makin tinggi dosis pupuk kandang yang diberikan (dosis KO
Umur juga berpengaruh terhadap produksi bahan segar, makin tua produksi bahan segarnya makin tinggi. Tetapi perlu diingat bahwa makin tua serat kasarnya makin tinggi. Pada tabel 1 misalny, BPT Ciawi, Natarajan et al. dan Muthuswami et al. masing-masing dengan interval devoliasi 6 minggu, 20 hari dan 40 hari.
Jadi produksi rumput raja sangat tergantung pada kondisi lahan tempat tumbuhnya. Sehingga penulis sarankan untuk budidaya rumput raja bukan hanya diberikan pupuk anorganik (urea, TSP dan KCl) tetapi perlu diberikan pupuk organik (pupuk kandang). Semoga bermanfaat.
Salah satu daya tarik untuk dibudidayakan adalah produksinya yang tinggi. Rumput yang berproduksi tinggi atau rumput unggul telah banyak dienal masyarakat. Salah satu diantaranya rumput raja atau yang lebih dikenal dengan sebutan King grass, suatu jenis rumput unggul yang diintroduksikan ke Indonesia menyusul rumput gajah cv Hawaii dan cv Afrika yang telah masuk terlebih dahulu.
Sepintas, secara visual hampir tidak ada perbedaan antara ketiga jenis rumput yang tumbuh tegak seperti tebu atau kaso tersebut. Salah satu cara yang mudah untuk membedakannya ketiganya mudah saja, ambil daunnya dan amati. Rumput raja daunnya dipenuhi bulu, sedangkan rumput gajah cv Hawaii hanya terdapat pada bagian tepi daun dan tidak terdapat bulu pada rumput gajah cv Afrika.
Produksi Bahan Segar
Penelitian yang dilakukan oleh BPT Ciawi pernah membuat tercengang beberapa pakar hijauan dari Australia,sehingga mengatakan “It’s Impossible!’. Adalah terlalu berat untuk memvonis tidak mungkin hasil penelitian orang lain bagi penulis, walaupun penulis sendiri sebenarnya ragu-ragu untuk membenarkan 100%. Hal ini berhubung ada dua sumber yang dihasilkan oleh orang yang sama, dilokasi yang sama dengan produksi yang sama tetapi dengan jarak tanam dosis pemupukannya berbeda!.
Bisa pembaca bandingkan brosur “Apa itu KING GRASS?”” dengan produksi hijauan dan nilai nutrisi tiga jenis rumput pannisetum dengan sistem potong angkut “ yang dimuat di proceedings seminar ruminansia besar, keduanya dikeluarkan BPT Ciawi. Dapat dilihat dibrosur tersebut jarak tanamnya 100x100 cm, sedangkan pada procinding 50x50 cm. Pupuk yang digunakan kalau di proceending tercantum 30 ton pupuk kandang, 900 kg urea, 450 kg KCl dan 450 kg TSP per ha per tahun, maka di brosur tertulis 10 ton pupuk kandang, 50 kg TSP dan 50 kg KCl per ha yang diberikan tiga kali panen sekali dan pupuk urea sebanyak 50 kg per ha diberikan setiap habis panen dan ketika tanaman berumur dua minggu.
Apabila dihitung matematis, maka kebutuhan per tahun yang tercantum di brosur adalah :
Misalkan dalam setahun 9 kali panen (interval devoliasi 6 minggu).
Maka akan diberikan pupuk kandang, TSP dan KCl sebanyak 9:3=3 kali.
Jadi sebanyak :
Pupuk kandang : 3x10 ton/ha = 30 ton/ha/tahun.
TSP : 3x50 kg/ha = 150 kg/ha/tahun.
KCL : 3x50 kg/ha = 150 kg/ha/tahun.
Sedangkan pupuk urea yang diperlukan selama setahun sebanyak :
(*1+9)50 kg/ha = 500 kg/ha/tahun. *) 1 diperoleh dari pemberian pupuk urea pada saat rumput raja berumur dua minggu.
Jadi, kecuali pupuk kandang maka ketiga jenis pupuk yang lain lebih randah dosisnya dari pada yang tertulis di proceedings. Perlu dipertimbangkan juga adalah interval pemotongan, dalam setahun bisa saja 9 kali, (365:7):6 = kurang lebih 9. Tetapi apakah tidak terdapat perbedaan antara musim hujan dan kemarau? Biasanya musim kemarau lebih lama.
Alasan penulis keberatan setuju dengan “ Its imposibble”-nya ilmuwan dari Negri Kanguru adalah mungkin kalau di brosur hanya merupakan anjuran pada masyarakat sedangkan yang tertera di proceeding ‘asli’ sesuai dengan penelitian. Hal yang penting lagi adalah bahwa rumput raja merupakan rumput unggul yang kemungkinan mempunyai potensi genetik tinggi. Sehingga mungkin saja dapat berproduksi sangat tinggi apabila ditanam dilahan yang sesuia, misalnya pada lahan-lahan dengan kesuburan tinggi yang diimbangi dengan pemupukan yang sesuai.
Mungkin pembaca dapat mem -perbandingkan nya dengan ayam broiler. Ayam yang dapat mencapai berat 2 kg dalam waktu 2 bulan ini hanya dapat mencapai beberapa ratu gram saja apabila dibiarkan berkeliaran seperi ayam kampung (ekstensif) selama 2 bulan jadi perlu lingkungan yang sesuai untuk berkembang individu.
Lebih jelasnya mari kita bandingkan dengan hasil penelitian pada ilmuan dilokasi yang beda. (tabel)
Penulis sendiri mendapatkan produksi bahan segar rumput raja yang sangat bervariasi tergantung perlakuan pemupukan dan periode pemupukannya (gambar). Penelitian ini dilakukan dilahan marginal, sehingga kemungkinan produksinya akan lebih tinggi apabila digunakan lahan yang subur.
Terlihat bahwa makin tinggi dosis pupuk kandang yang diberikan (dosis KO
Umur juga berpengaruh terhadap produksi bahan segar, makin tua produksi bahan segarnya makin tinggi. Tetapi perlu diingat bahwa makin tua serat kasarnya makin tinggi. Pada tabel 1 misalny, BPT Ciawi, Natarajan et al. dan Muthuswami et al. masing-masing dengan interval devoliasi 6 minggu, 20 hari dan 40 hari.
Jadi produksi rumput raja sangat tergantung pada kondisi lahan tempat tumbuhnya. Sehingga penulis sarankan untuk budidaya rumput raja bukan hanya diberikan pupuk anorganik (urea, TSP dan KCl) tetapi perlu diberikan pupuk organik (pupuk kandang). Semoga bermanfaat.
PEMALSUAN DEDAK HALUS DENGAN KAPUR
Perusahaan pakan ternak, terutama yang produksinya tidak bisa hanya mengan dalkan pada satu pemasok, bahkan tidak harus mendatangkan dari beberapa daerah untuk memenuhi kebutuhannya demi kelancaran prduksi.
Dibalik itu, untuk menjaga mutu kualitas ransum yang dihasilkannya, suatu perusahaan makanan ternak hanya akan menerima bahan baku yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
Misalkan jagung, sebelum diputuskan untuk diterima maka dianalisa dulu kadar airnya, aflatokxyn, prosentase biji kroposdan biji matinya juga diperhitungkan. Dedak halus yang merupakan bahan baku yang kebutuhannya relatif tinggi, khususnya ransum unggas, sering berasal dari berbagai pemasok yang sudah tentu bervariasi kualitasnya, bukan tidak mungkin ada oknum pemasok yang ingi mengeruk keininan tinggi tanpa memperhitungkan akibatnya. Dengan demikian dedak halus pun harus dianalisa sebelum diterima, antara lain kadar airnya , bau, warna, kekasaran, kadar menir dan juga kemungkinan tercampurnya dengan benda lain seperti kapur yang biasanya sengaja dicampurkan sehingga secara fisik mutunya terlihat lebih baik. Bahan baku yang lain juga seharusnya tidak lepas dari pengawasan qualiti control sebelum diputuskan untuk diterima.
Pemalsuan Bahan Baku
Dengan tujuan tertentu, biasanya berkaitan dengan membaiknya harga, bahan baku sering dicampur dengan bahan lainnya. Misalnya tepung ikan yang harganya makin membaik dengan meningkatnya kadar protein, tidak sedikit yang mencoba mencampurinya dengan tepung darah ataupun tepung bulu yang kadar proteinnya lebih tinggi, masing-masing 80 dan 84 persen (Wahju,1985).
Perusahaan makanan ternak yang selalu memperhatikan kepentingan konsumennya tentu tetap waspada akan hal ini, sebab walaupun bahan kedua terakhir kadar proteinnya lebih tinggi tapi daya cerna proteinnya rendah, terutama untuk monogastrik . pembaca juga tentu sudah tahu bahwa urea kadar proteinnya tinggi, bila demikian kenapa tepung ikan untuk ransum unggas tidak digantikan dengan urea saja, sehingga tidak perlu impor tepung ikan dan harga per-Kgnya juga lebih murah yang berarti juga harga ransum lebih terjangkau. Kerancuan ini terjadi karena kadar protein yang didapatkan dari analisa proksimat adalah kadar protein kasar yaitu banyaknya kandungan nitrogen, bukan kadar protein yang dapat dicerna yang dapat dimanfaatkan oleh ternak.
Adanya oknum perusahaan pemasok tidak segan-segan mencampurkan atau menggantikannya dengan bahan lain untuk meningkatkan keuntungan seharusnya membuat pihak quality control semakin dan selalu waspada. Mereka tidak menyadari bahwa kepercayaan adalah keuntungan plus, keuntungan yang berpengaruh terhadap keuntungan lainnya.
Percampuran Dedak Halus Dan Kapur
Orang awam sering menganggap bahwa dedak halus yang warnanya keputihan kualitasnya sangat baik. Alasannya cukup dapat diterima, berwarna keputihan karena banyak mengandung menir.
Pendapat yang tidak selalu keliru tetapi sangat mudah dipahami ini banyak dimanfaatkan oknum tertentu untuk meraup keuntungan yang berlebihan, yaitu mencampuri dedak halus dengan kapur sehingga secara visual lebih bermutu.
Uji physik yang biasa dilakukan seperti texture, bau dan warna sering terkelabui oleh kelihaian sang oknum. Oleh karena pengujian harus lebih seksama.
Pengujian Sederhana
Cara sederhana yang dapat dilakukan untuk menguji adanya kapur dalam dedak halus dengan memasukkan sampel kedalam air. Diaduk dan kemudian dibiarkan mengendap, endapan yang dapat berwarna keputihan (biasanya menir) diletakkan dialas kertas atau tangan dan ditekan dengan jari. Apabila padatan itu mudah sekali tertekan dan hancur perlu dicurigai sebagai kapur.
Akan tetapi secara sederhana ini sulit mendeteksi apabila kapur yang dicampurkan benar-benar halus sehingga tidak meninggalkan butiran padatan. Namun sangat mudah dilaksanakan, tidak terbatas oleh tempat dan waktu.
Analisa Kimia
Dilaboratorium biasanya dilakukan pengujian kimiawi. Selain cepat juga akurat. Caranya sangat sederhana, yaitu dengan menetesi sampel dengan larutan asam klorida (HC1) 10%. Apabila timbul gelembung-gelembung busa maka positif tercampur kapur, sederhana bukan?
Penutup
Keteledoran yang menyebabkan lolosanya dedak halus bercampur kapur sehingga menjadikan bahan baku ransum akan menyebabkan ransum yang dibuat tidak sesuai dengan formula yang diharapkan atau bahkan bisa fatal bagi ternak yang mengonsumsinya.
Semoga bermanfaat***
PESAN SPONSOR======================================================
Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :
http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto
========================================================TERIMAKASIH
Dibalik itu, untuk menjaga mutu kualitas ransum yang dihasilkannya, suatu perusahaan makanan ternak hanya akan menerima bahan baku yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
Misalkan jagung, sebelum diputuskan untuk diterima maka dianalisa dulu kadar airnya, aflatokxyn, prosentase biji kroposdan biji matinya juga diperhitungkan. Dedak halus yang merupakan bahan baku yang kebutuhannya relatif tinggi, khususnya ransum unggas, sering berasal dari berbagai pemasok yang sudah tentu bervariasi kualitasnya, bukan tidak mungkin ada oknum pemasok yang ingi mengeruk keininan tinggi tanpa memperhitungkan akibatnya. Dengan demikian dedak halus pun harus dianalisa sebelum diterima, antara lain kadar airnya , bau, warna, kekasaran, kadar menir dan juga kemungkinan tercampurnya dengan benda lain seperti kapur yang biasanya sengaja dicampurkan sehingga secara fisik mutunya terlihat lebih baik. Bahan baku yang lain juga seharusnya tidak lepas dari pengawasan qualiti control sebelum diputuskan untuk diterima.
Pemalsuan Bahan Baku
Dengan tujuan tertentu, biasanya berkaitan dengan membaiknya harga, bahan baku sering dicampur dengan bahan lainnya. Misalnya tepung ikan yang harganya makin membaik dengan meningkatnya kadar protein, tidak sedikit yang mencoba mencampurinya dengan tepung darah ataupun tepung bulu yang kadar proteinnya lebih tinggi, masing-masing 80 dan 84 persen (Wahju,1985).
Perusahaan makanan ternak yang selalu memperhatikan kepentingan konsumennya tentu tetap waspada akan hal ini, sebab walaupun bahan kedua terakhir kadar proteinnya lebih tinggi tapi daya cerna proteinnya rendah, terutama untuk monogastrik . pembaca juga tentu sudah tahu bahwa urea kadar proteinnya tinggi, bila demikian kenapa tepung ikan untuk ransum unggas tidak digantikan dengan urea saja, sehingga tidak perlu impor tepung ikan dan harga per-Kgnya juga lebih murah yang berarti juga harga ransum lebih terjangkau. Kerancuan ini terjadi karena kadar protein yang didapatkan dari analisa proksimat adalah kadar protein kasar yaitu banyaknya kandungan nitrogen, bukan kadar protein yang dapat dicerna yang dapat dimanfaatkan oleh ternak.
Adanya oknum perusahaan pemasok tidak segan-segan mencampurkan atau menggantikannya dengan bahan lain untuk meningkatkan keuntungan seharusnya membuat pihak quality control semakin dan selalu waspada. Mereka tidak menyadari bahwa kepercayaan adalah keuntungan plus, keuntungan yang berpengaruh terhadap keuntungan lainnya.
Percampuran Dedak Halus Dan Kapur
Orang awam sering menganggap bahwa dedak halus yang warnanya keputihan kualitasnya sangat baik. Alasannya cukup dapat diterima, berwarna keputihan karena banyak mengandung menir.
Pendapat yang tidak selalu keliru tetapi sangat mudah dipahami ini banyak dimanfaatkan oknum tertentu untuk meraup keuntungan yang berlebihan, yaitu mencampuri dedak halus dengan kapur sehingga secara visual lebih bermutu.
Uji physik yang biasa dilakukan seperti texture, bau dan warna sering terkelabui oleh kelihaian sang oknum. Oleh karena pengujian harus lebih seksama.
Pengujian Sederhana
Cara sederhana yang dapat dilakukan untuk menguji adanya kapur dalam dedak halus dengan memasukkan sampel kedalam air. Diaduk dan kemudian dibiarkan mengendap, endapan yang dapat berwarna keputihan (biasanya menir) diletakkan dialas kertas atau tangan dan ditekan dengan jari. Apabila padatan itu mudah sekali tertekan dan hancur perlu dicurigai sebagai kapur.
Akan tetapi secara sederhana ini sulit mendeteksi apabila kapur yang dicampurkan benar-benar halus sehingga tidak meninggalkan butiran padatan. Namun sangat mudah dilaksanakan, tidak terbatas oleh tempat dan waktu.
Analisa Kimia
Dilaboratorium biasanya dilakukan pengujian kimiawi. Selain cepat juga akurat. Caranya sangat sederhana, yaitu dengan menetesi sampel dengan larutan asam klorida (HC1) 10%. Apabila timbul gelembung-gelembung busa maka positif tercampur kapur, sederhana bukan?
Penutup
Keteledoran yang menyebabkan lolosanya dedak halus bercampur kapur sehingga menjadikan bahan baku ransum akan menyebabkan ransum yang dibuat tidak sesuai dengan formula yang diharapkan atau bahkan bisa fatal bagi ternak yang mengonsumsinya.
Semoga bermanfaat***
PESAN SPONSOR======================================================
Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :
http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto
========================================================TERIMAKASIH
DEDAK HALUS UNTUK PAKAN AYAM KAMPUNG
Seperempat abad lalu, tulisan ini menghiasi “Majalah Ayam & Telur”. Imbalannya waktu itu, wesel Rp. 10.000,- Lumayan, bisa traktir teman-teman. Sebuah kenangan yang tak terlupakan....
DEDAK HALUS
Satu Alternatif Efisiensi Biaya Ransum Ayam kampung
Dibandingkan dengan jumlah ternak yang lain, maka selama ini ayam kampung masih menduduki peringkat pertama. Hal tersebut menunjukkan betapa telah memasyarakatnya jenis unggas yang satu ini. Ayam “kampung”, nama yang selalu melekat dimanapun dia berada; sesuai dengan kondisi tempat tinggal masyarakat yang umumnya memeliharanya. Tidak heran apabila ada yang mengatakan ‘ada gula ada semut, dimana ada perkampungan disitu ada ayam kampung’.
Daya tahan yang tinggi terhadap berbagai penyakit, seperti tetelo, berak darah dan lain-lain merupakan salah satu sebab banyaknya masyarakat yang memelihara. Walaupun dalam hal ini masyarakat pedesaan umumnya tidak menyadari. Mereka hanya tahu kalau ayamnya tetelo ataupun berak darah maka kemungkinan besar akan mati, dan akan menulari kawanan ayam yang lain. Sehingga ada ayam yang ada di jual sebagian atau semua ataupun dititipkan pada sanak famili yang rumahnya berjauhan dengan daerah di mana wabah menyerang.
Selain itu pemeliharaan yang mudah, tidak terlalu perlu perhatian khusus. Cocok untuk kondisi masyarakat pedesaan yang umumnya sibuk dengan sawah dan kebunnya.
Menurut kingston(1982), umumnya ayam kampung dipelihara secara berkeliaran dan mendapatkan makanan dari timbunan sampah, di kebun, di sekeliling rumah, sepanjang jalan, dalam selokan dan sepanjang sisi rumah. Jadi campur tangan pemiliknya kecil sekali, kecuali pada saat pengambilan hasil. Baik berupa telur ataupun dagingnya.
Terlepas dari faktor genetis, pemeliharaan yang masih sederhana ini menyebabkan keteralambatan pertumbuhan dan produksi telur ya ng sedikit. Mungkin juga terlambat dewasa kelamin. Yang jelas Kingston (1982), melaporkan bahwa ayam kampung yang mendapatkan makanan dan pengelolaan yang baik mencapai berat badan 1718 gram pada umur 20 minggu, sedangkan di desa-desa hanya 1027 gram. Demikian halnya dengan produksi telur, sugandi dkk (1970) menyatakan bahwa produksi telur ayam kampung yang dipelihara secara berkeliaran per periode bertelur menghasilkan 10-11 butir per ekor per tahun dalam makanan dan pengelolaan yang baik (Kingston, 1982). Rata-rata iduk ayam kampung selama setahun mengalami 3 kali masa bertelur. Sehingga sangat jauh perbedaan produksi telur antara pemeliharaan yang baik dengan cara tradisional, sekitar 5 : 1. Produksi telur yang kecil seakli inilah kemungkinan merupakan salah satu penyebab mengapa perkembangan populasi ayam kampung tiap tahunnya selalu lebih kecil dari pada jenis unggas yang lain.
Yang akan dibahas lebih lanjut dalam tulisan ini adalah pertambahan bobot badan dan berat karkas yang diperoleh dari pengkombinasian ransum komersial periode starter dengan dedak halus. Yang diharapkan adalah kombinasi ransum yang memberikan keuntungan optimum, penggunaan sedikit mungkin biaya untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal. Bobot badan dan berat karkas yang tinggi serta harga ransum yang paling murah tidak selalu menunjukkan keuntungan yang optimum.
Dari beberapa penelitian mengenai kombinasi ransum komersial periode starter dengan dedak halus pada ayam kampung berumur 3 minggu selama 13 minggu.dapat dilihat pada tabel.......
Dari tabel diatas terlibat bahwa rata-rata berat badan, prosentase bobot karkas ataupun ransum yang dikonsumsi perekornya menurun dengan semakin meningkatnya kadar dedak halus dalam ransum. Berat badan tertinggi dicapai dengan perlakuan KD 0 dan yang terendah dengan perlakuan KD 80. Demikian halnya dengan prosentase karkas dan ransum yang dikonsumsi.
Konsumsi ransum rata-rata untuk masing-masing perlakuan selama 13 minggu adalah 4.990 kg, 4.912 kg, 4.823 kg, 4.376 kg dan 2.990 kg. Dalam perhitungan income over feed cost harga ransum komersial periode starter disesuaikan dengan harga sekarang, Rp 600 per kilogram. Demikian halnya harga dedak halus, Rp 120 per kilogram. Harga ayam kampung hidup dianggap rata-rata Rp 3000 perekor.
Sedangkan harga Karkas perkilogram dibuat selang antara 2500 sampai 3000 rupiah. Sengaja dibuat demikian selain karena harga karkas sering berfluktuasi juga harga didaerah sering berbeda. Dan yang lebih penting adanya semacam “gerak tipu”. Khususnya pada perlakuan KD 60.
Dari tabel 4 didapatkan pada harga karkas Rp. 2500/kg keuntungan tertinggi diperoleh dengan perlakuan KD 60. Demikian juga pada harga karkas Rp 2300/kg. Sebenarnya tidak demikian, karena prosentase karkas KD 60 sangat kecil sehingga untuk memperoleh berat karkas tertentu diperlukan lebih banyak ayam dari pada perlakuan KD 40, KD 20 apalagi dengan KD 0. Oleh karena itu diperlukan imput yang lebih besar. Sedangkan kita tahu dengan semakin tingginya input yang diperlukan untuk mendapatkan output yang sama berarti semakin tidak efisien.
Sebagai gambaran, misalnya untuk menghasilkan karkas sebanyak 7 kg maka dengan KD 60 diperlukan ayam 11 ekor sedangkan dengan KD 40 hanya perlu 8 ekor. Untuk pembelian ayam kampung berumur 3 minggu misalnya perekor Rp 500. Maka adengan KD 60 perlu input 11(500)+11(1365.31)= Rp 20518.41, dan dengan KD 40 : 8 (500) + 8 (1967.78) = Rp 19 742.24. jadi lebih banyak input untuk KD 60, sehingga lebih menguntungkan KD 40.
Lain halnya apabila membandingkan KD 0 dengan KD 40. dari tabel telah diketahui pada setiap tingkat harga karkas maka KD 40 lebiih menguntungkan dari pada KD 0. Memang demikian, karena input untuk menghasilkan karkas yang sama KD 0 lebih besar. Misalnya untuk menghasilkan karkas sebanyak 20 kg, dengan KD 0 perlu input 8(500+2994)= Rp 27952. Lebih besar dari pada KD 40 yang hanya 9(500+1967.78)= Rp 22 210.02, walaupun jumlah ayam yang diperlukan lebih banyak. Demikian pula apabila dibandingkan dengan perlakuan yang lain. Berdasarkan berat karkas yang dihasilkan maka KD 40 selalu lebih menguntungkan pada setiap harga karkas.
Pada tabel 4 tertera dengan penjualan dalam keadaan hidup keuntungan tertinggi pada KD 80, disususul KD 60, KD 40 KD 20 dan KD 0. Sebenarnya tidaklah demikian. Karena bila ditinjau berat badan maka berturut-turut 0.396, 0.940, 1.228, 1.301 dan 1.335. berat badan KD 40 tidak jauh berbeda dengan dengan KD 0, lain halnya dengan KD 60 dan KD 80 yang sangat berbeda. Ketidak terlalubesarnya perbedaan berat badan inilah yang menyebabkan konsumen akan berani akan memberi harga yang lebih rendah. Hal ini berlaku untuk setiap tingkat harga.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perlakuan KD 40 akan menghasilkan keuntungan yang lebih tinggi dari pada KD 0, KD 20, KD 60 ataupun KD 80 baik untuk dijual dalam keadaan hidup ataupun karkasnya.
PESAN SPONSOR======================================================
Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :
http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto
========================================================TERIMAKASIH
DEDAK HALUS
Satu Alternatif Efisiensi Biaya Ransum Ayam kampung
Dibandingkan dengan jumlah ternak yang lain, maka selama ini ayam kampung masih menduduki peringkat pertama. Hal tersebut menunjukkan betapa telah memasyarakatnya jenis unggas yang satu ini. Ayam “kampung”, nama yang selalu melekat dimanapun dia berada; sesuai dengan kondisi tempat tinggal masyarakat yang umumnya memeliharanya. Tidak heran apabila ada yang mengatakan ‘ada gula ada semut, dimana ada perkampungan disitu ada ayam kampung’.
Daya tahan yang tinggi terhadap berbagai penyakit, seperti tetelo, berak darah dan lain-lain merupakan salah satu sebab banyaknya masyarakat yang memelihara. Walaupun dalam hal ini masyarakat pedesaan umumnya tidak menyadari. Mereka hanya tahu kalau ayamnya tetelo ataupun berak darah maka kemungkinan besar akan mati, dan akan menulari kawanan ayam yang lain. Sehingga ada ayam yang ada di jual sebagian atau semua ataupun dititipkan pada sanak famili yang rumahnya berjauhan dengan daerah di mana wabah menyerang.
Selain itu pemeliharaan yang mudah, tidak terlalu perlu perhatian khusus. Cocok untuk kondisi masyarakat pedesaan yang umumnya sibuk dengan sawah dan kebunnya.
Menurut kingston(1982), umumnya ayam kampung dipelihara secara berkeliaran dan mendapatkan makanan dari timbunan sampah, di kebun, di sekeliling rumah, sepanjang jalan, dalam selokan dan sepanjang sisi rumah. Jadi campur tangan pemiliknya kecil sekali, kecuali pada saat pengambilan hasil. Baik berupa telur ataupun dagingnya.
Terlepas dari faktor genetis, pemeliharaan yang masih sederhana ini menyebabkan keteralambatan pertumbuhan dan produksi telur ya ng sedikit. Mungkin juga terlambat dewasa kelamin. Yang jelas Kingston (1982), melaporkan bahwa ayam kampung yang mendapatkan makanan dan pengelolaan yang baik mencapai berat badan 1718 gram pada umur 20 minggu, sedangkan di desa-desa hanya 1027 gram. Demikian halnya dengan produksi telur, sugandi dkk (1970) menyatakan bahwa produksi telur ayam kampung yang dipelihara secara berkeliaran per periode bertelur menghasilkan 10-11 butir per ekor per tahun dalam makanan dan pengelolaan yang baik (Kingston, 1982). Rata-rata iduk ayam kampung selama setahun mengalami 3 kali masa bertelur. Sehingga sangat jauh perbedaan produksi telur antara pemeliharaan yang baik dengan cara tradisional, sekitar 5 : 1. Produksi telur yang kecil seakli inilah kemungkinan merupakan salah satu penyebab mengapa perkembangan populasi ayam kampung tiap tahunnya selalu lebih kecil dari pada jenis unggas yang lain.
Yang akan dibahas lebih lanjut dalam tulisan ini adalah pertambahan bobot badan dan berat karkas yang diperoleh dari pengkombinasian ransum komersial periode starter dengan dedak halus. Yang diharapkan adalah kombinasi ransum yang memberikan keuntungan optimum, penggunaan sedikit mungkin biaya untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal. Bobot badan dan berat karkas yang tinggi serta harga ransum yang paling murah tidak selalu menunjukkan keuntungan yang optimum.
Dari beberapa penelitian mengenai kombinasi ransum komersial periode starter dengan dedak halus pada ayam kampung berumur 3 minggu selama 13 minggu.dapat dilihat pada tabel.......
Dari tabel diatas terlibat bahwa rata-rata berat badan, prosentase bobot karkas ataupun ransum yang dikonsumsi perekornya menurun dengan semakin meningkatnya kadar dedak halus dalam ransum. Berat badan tertinggi dicapai dengan perlakuan KD 0 dan yang terendah dengan perlakuan KD 80. Demikian halnya dengan prosentase karkas dan ransum yang dikonsumsi.
Konsumsi ransum rata-rata untuk masing-masing perlakuan selama 13 minggu adalah 4.990 kg, 4.912 kg, 4.823 kg, 4.376 kg dan 2.990 kg. Dalam perhitungan income over feed cost harga ransum komersial periode starter disesuaikan dengan harga sekarang, Rp 600 per kilogram. Demikian halnya harga dedak halus, Rp 120 per kilogram. Harga ayam kampung hidup dianggap rata-rata Rp 3000 perekor.
Sedangkan harga Karkas perkilogram dibuat selang antara 2500 sampai 3000 rupiah. Sengaja dibuat demikian selain karena harga karkas sering berfluktuasi juga harga didaerah sering berbeda. Dan yang lebih penting adanya semacam “gerak tipu”. Khususnya pada perlakuan KD 60.
Dari tabel 4 didapatkan pada harga karkas Rp. 2500/kg keuntungan tertinggi diperoleh dengan perlakuan KD 60. Demikian juga pada harga karkas Rp 2300/kg. Sebenarnya tidak demikian, karena prosentase karkas KD 60 sangat kecil sehingga untuk memperoleh berat karkas tertentu diperlukan lebih banyak ayam dari pada perlakuan KD 40, KD 20 apalagi dengan KD 0. Oleh karena itu diperlukan imput yang lebih besar. Sedangkan kita tahu dengan semakin tingginya input yang diperlukan untuk mendapatkan output yang sama berarti semakin tidak efisien.
Sebagai gambaran, misalnya untuk menghasilkan karkas sebanyak 7 kg maka dengan KD 60 diperlukan ayam 11 ekor sedangkan dengan KD 40 hanya perlu 8 ekor. Untuk pembelian ayam kampung berumur 3 minggu misalnya perekor Rp 500. Maka adengan KD 60 perlu input 11(500)+11(1365.31)= Rp 20518.41, dan dengan KD 40 : 8 (500) + 8 (1967.78) = Rp 19 742.24. jadi lebih banyak input untuk KD 60, sehingga lebih menguntungkan KD 40.
Lain halnya apabila membandingkan KD 0 dengan KD 40. dari tabel telah diketahui pada setiap tingkat harga karkas maka KD 40 lebiih menguntungkan dari pada KD 0. Memang demikian, karena input untuk menghasilkan karkas yang sama KD 0 lebih besar. Misalnya untuk menghasilkan karkas sebanyak 20 kg, dengan KD 0 perlu input 8(500+2994)= Rp 27952. Lebih besar dari pada KD 40 yang hanya 9(500+1967.78)= Rp 22 210.02, walaupun jumlah ayam yang diperlukan lebih banyak. Demikian pula apabila dibandingkan dengan perlakuan yang lain. Berdasarkan berat karkas yang dihasilkan maka KD 40 selalu lebih menguntungkan pada setiap harga karkas.
Pada tabel 4 tertera dengan penjualan dalam keadaan hidup keuntungan tertinggi pada KD 80, disususul KD 60, KD 40 KD 20 dan KD 0. Sebenarnya tidaklah demikian. Karena bila ditinjau berat badan maka berturut-turut 0.396, 0.940, 1.228, 1.301 dan 1.335. berat badan KD 40 tidak jauh berbeda dengan dengan KD 0, lain halnya dengan KD 60 dan KD 80 yang sangat berbeda. Ketidak terlalubesarnya perbedaan berat badan inilah yang menyebabkan konsumen akan berani akan memberi harga yang lebih rendah. Hal ini berlaku untuk setiap tingkat harga.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perlakuan KD 40 akan menghasilkan keuntungan yang lebih tinggi dari pada KD 0, KD 20, KD 60 ataupun KD 80 baik untuk dijual dalam keadaan hidup ataupun karkasnya.
PESAN SPONSOR======================================================
Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :
http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto
========================================================TERIMAKASIH
BALADA LOKOMOTIF KERETAAPI
Antara Rencana dan Bahaya
Kecelakaan keretaapi pada abad 21 ini semakin marak. Awal milenium dibuka dengan berbagai kecelakaan yang sangat menyayat hati. Tahun 2001 diawali dengan anjloknya KA Sapujagat, selanjutnya rentetan kecelakaan seperti rangkaian gerbong yang sambung-menyambung. Apakah PT Keretaapi akan menuai nasib serupa menjelang kesibukkan Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru 2002 ?
Suatu yang khas dalam setiap terjadi kecelakaan keretaapi adalah munculnya pertanyaan inti yang tidak pernah terjawab secara gamblang, “Apa penyebabnya ?” Kalau begitu, “Siapa yang salah ?” Ketidakjelasan ini lebih sering berakhir dengan pengkambinghitaman masinis, padahal kesalahan inti belum tentu pada pengendali handle itu.
Ada anekdot yang dapat menjawab pertanyaan itu secara pasti : General Electric sebagai produsen lokomotif tidak pernah melengkapi lokomotif dengan stang (setir, kemudi). Hal ini menyebabkan masinis mendapat kesulitan untuk membelokkan arah ketika bahaya menghadang di depannya.
“Ah, masa !” Mungkin itu sebagian komentar. Mereka yang lebih berfikir logis cukup mengungkapkannya dengan, “O-o ….”
Lokomotif memang tidak dilengkapi dengan kemudi sebagaimana layaknya kendaraan lain. Sebagai kendali arah adalah konstruksi roda baja yang khas sehingga sangat sulit untuk melenceng dari lintasan rel. Wesel merupakan faktor luar yang menentukan keretaapi harus melalui rel yang ditentukan.
Keadaan akan menjadi sangat membahayakan apabila lokomotif dilengkapi dengan stang. Keretaapi akan mudah keluar dari lintasan dan tabrakan antar keretaapi pun akan lebih marak.
Lokomotif dan Kelengkapannya
Lokomotif terbagi menjadi dua sisi, masinis berada di sisi kanan dan keretaapi melaju di lintasan kanan. Untuk menjalankan keretaapi dengan arah berlawanan lokomotif tidak perlu berputar haluan tetapi cukup dengan pindah kedudukan ke sisi yang lain. Kedua sisi sama sekali tidak dilengkapi dengan kemudi.
Di balik ketiadaan kemudi yang sebenarnya sangat menguntungkan, terdapat banyak peralatan dan perlengkapan administrasi yang dirancang pendahulu untuk keselamatan dan kelancaran ular besi itu.
Peralatan yang ada pada lokomotif antara lain :
1. R e m
Pada satu sisi lokomotif terdapat 3 (tiga) macam rem 2 buah rem angin, rem dynamic dan lokomotif merah masiih dilengkapi dengan sebuah rem tangan. Khusus yang terakhir sangat jarang digunakan, cara pengoperasiannya perlu pengalaman dan keahlian khusus.
2. Radio
Layaknya pada setiap lokomotif terdapat 2 radio duduk yang ada pada masing-masing handle. Radio SIMOCO ini merupakan alat komunikasi antara masinis dengan Pengatur Keretaapi (PK) yang suaranya dapat terdengan oleh masinis di lokomotif lain yang sedang melintas di daerah komunikasi yang sama. Namun, satu masinis dengan yang lain tidak dapat berkomunikasi secara langsung.
Pada setiap radio terdapat jam digital sehingga sebagai alat komunikasi, radiopun berperan sebagai penunjuk waktu.
Masinis yang membawa rangkaian eksekutif biasanya dilengkapi juga dengan handy talky (HT). Alat komunikasi bermerek MOTOROLLA ini hanya digunakan untuk berkomunikasi intern, antara masinis dengan Pimpinan Perjalanan Keretaapi (PPKA) yang ada di gerbong belakangnya.
3. Speedometer
Speedometer merupakan alat yang sangat vital keberadaannya di lokomotif. Hanya dengan alat pengukur kecepatan inilah masinis akan tahu secara pasti apakah keretaapi yang dikendalikannya melaju dalam batas-batas yang ditetapkan. Saat melintasi belokan, tanjakan atau lintasan tertentu ada batas maksimal. Bila ketentuan yang terdapat di Tabel Keretaapi (T-100) ini dilanggar dapat berakibat fatal seperti selip, anjlok dan lainnya.
Ketika sinyal menyala kuning, maksimal kecepatan yang dibolehkan hanya 20 km/jam untuk lokomotif dan KRD/KRL masih boleh melaju dengan kecepatan 40 km/jam. Sedangkan rambu darurat, sinyal merah dan segitiga putih menyala, hanya boleh dirambah dengan kecepatan tidak lebih dari 5 km/jam. Hal itu hanya tidak akan pernah dilanggar apabila di lokomotif terdapat speedometer yang normal.
Idealnya speedometer di-set oleh teknisi Dipo, sehingga apabila kecepatan keretaapi ekonomi melebihi 80 km/jam akan terdengar alarm. Demikian juga ketika jarum speedometer lokomotif yang membawa rangkaian eksekutif menyentuh angka 110.
Ada dua tipe speedometer yang biasanya terdapat di lokomotif, Speedometer dynamic bermerek HASLER dan PUSAKA yang digital. Pada kedua speedometer juga terdapat penunjuk waktu.
4. Dead Man Pedal
Dari namanya saja dapat diduga betapa fatal akibat yang ditimbulkan apabila peralatan ini diabaikan. Namun demikian, bentuknya tidak se-serem namanya. Imut-imut seperti anak kura-kura dan selalu bersembunyi di balik alas kaki masinis.
Masinis memang tidak boleh mengabaikan alat kecil ini, Kadaop I mengingatkan seperti tertulis pada pamflet, “Selama Dinas Keretaapi Dilarang Menon-aktifkan Dead Man Pedal !” Bila masinis melanggar maka akan sangat berat sanksinya, mulai peringatan keras, penurunan pangkat sampai pemecatan dari jabatan.
Idealnya Dead Man Pedal telah di-set oleh teknisi Dipo sepedikian rupa, sehingga apabila tidak diinjak atau terus menerus diinjak selama 60 detik misalnya akan terdengar alarm. Apabila kesalahan ini tidak digubris maka keretaapi akan berhenti dengan sendirinya. Dengan keberadaan alat ini, masinis harus tetap terjaga selama menjalankan tugasnya.
5. Handle
Untuk mengatur kecepatan dan kenyamanan perjalanan, gas, kopling dan gigi menyatu dalam satu handle. Pada setiap lokomotif terdapat dua handle yang terdapat di kedua sisi. Biasanya yang digunakan adalah handle kanan kecuali kalau ada kerusakan.
Hanya masinis yang boleh memegang kendali handdle. Tepat di depan tempat duduk masinis terpampang peringatan, “Masinis yang Baik tidak pernak Menyerahkan Handle kepada asisten Masinis !”
Ketika keretaapi masih benar-benar keretaapi, asisten masinis adalah juru api. Tugas mereka sekarang jauh lebih ringan, tidak lagi harus bergumul dengan abu dan terpanggang panas api.
6. Pemadam Kebakaran
Seperti halnya sarana lain yang rawan api, maka pada setiap lokomotif dilengkapi juga dengan alat pemadam kebakaran beserta petunjuk penggunaannya. Mainis pun sudah dibekali kealian menggunakan perlengkapan ini.
7. Administrasi dan Bentuk Tertulis
Bila dilihat dari segi kelengkapan maka mungkin tinggal keretaapi-lah warisan penjajah Belanda yang masih tulen kolonial. Berbagai hal yang dalam era sekarang “bisa diabaikan” masih tertera dalam format tertulis sehingga lokomotif penuh dengan administrasi yang menghendaki konsentrasi. Hal detail seperti itu merupakan salah satu faktor penting yang menyebabkab kecelakaan keretaapi sangat langka di jaman penjajahan.
Kelengakapan administrasi dan peringatan yang ada di lokomotif antara lain :
a. Tabel Keretaapi (T-100)
Tabel Keretaapi merupakan tabel yang menunjukkan nomor keretaapi yang dibawa, stasiun yang dilalui ataupun harus didinggahi. Lengkap dengan waktu tempuh dari satu stasiun ke stasiun dalam hitungan menit. Kecepatan maksimum pada setiap lintasan juga tertera jelas. Tidak luput dari tabel ini adalah tempat harus bersilangan atau mendahului keretaapi lain.
b. Buku Riwayat Lokomotif
Seperti halnya sebuah biodata maka buku ini memuat kondisi dalam lokomotif seperti data pribadi, jenis dan nomor lokomotif. Ukuran tekanan bahan bakar, tekanan angin pada rem dan lain-lain turut melengkapi. Selain itu terdapat juga catatan tentang gangguan dan perbaikan yang pernah dialami.
c. Catatan Harian Masinis
Setiap masinis yang bertugas di lokomotif harus mencatatkan identitas diri, asisten masinis yang mendapingi, rangkaian keretaapi yang dibawa dan catatan lain tentang kondisi lokomotif.
Selain itu asisten masinis juga harus mencatat pada lembaran khusus waktu dan tempat mendahului atau disusul atau bersilangan dengan keretaapi lain sampai hal detail seperti sinyal-sinyal yang tidak aman yang dilalui.
d. Pada dinding lokomotif banyak terdapat peringatan dan petunjuk praktis yang sangat bermanfaat bagi masinis, seprti :
i. Himbauan Kasi traksi Daeraha Operasi III Cirebon :
1. Berdo’alah selalu sebelum Saudara menjalankan keretaapi/tugas
2. Jagalah selalu kebersihan kabin lokomotif Saudara. Kebersihan adalah sebagian dari iman.
3. Insan yang bijak selalu taat peraturan-peraturan yang berlaku.
ii. Peringatan dari Kepala daerah Operasi VI Yogyakarta :
Awas …!
Yakinkan semboyan 40 – 41 sebelum Keretaapi berangkat
iii. Peetunjuk praktis untuk masinis dari Kepala Daerah Operasi I Jakarta :
……….. 6) Apabila keretaapi terganggu/mogok, melalui radio segera lapor PPKA terdekat. Hubungi masinis keretaapi di depan dan belakang.
Masih banyak lagi catatan yang tidak boleh diabaikan. Namun dengan bagi oknum masinis hal ini sangat mengganggu sehingga tidak jarang yang menyobeknya ataupun mengubah isinya dengan kata-kata yang dikehendaki.
PESAN SPONSOR======================================================
Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :
http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto
========================================================TERIMAKASIH
Kecelakaan keretaapi pada abad 21 ini semakin marak. Awal milenium dibuka dengan berbagai kecelakaan yang sangat menyayat hati. Tahun 2001 diawali dengan anjloknya KA Sapujagat, selanjutnya rentetan kecelakaan seperti rangkaian gerbong yang sambung-menyambung. Apakah PT Keretaapi akan menuai nasib serupa menjelang kesibukkan Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru 2002 ?
Suatu yang khas dalam setiap terjadi kecelakaan keretaapi adalah munculnya pertanyaan inti yang tidak pernah terjawab secara gamblang, “Apa penyebabnya ?” Kalau begitu, “Siapa yang salah ?” Ketidakjelasan ini lebih sering berakhir dengan pengkambinghitaman masinis, padahal kesalahan inti belum tentu pada pengendali handle itu.
Ada anekdot yang dapat menjawab pertanyaan itu secara pasti : General Electric sebagai produsen lokomotif tidak pernah melengkapi lokomotif dengan stang (setir, kemudi). Hal ini menyebabkan masinis mendapat kesulitan untuk membelokkan arah ketika bahaya menghadang di depannya.
“Ah, masa !” Mungkin itu sebagian komentar. Mereka yang lebih berfikir logis cukup mengungkapkannya dengan, “O-o ….”
Lokomotif memang tidak dilengkapi dengan kemudi sebagaimana layaknya kendaraan lain. Sebagai kendali arah adalah konstruksi roda baja yang khas sehingga sangat sulit untuk melenceng dari lintasan rel. Wesel merupakan faktor luar yang menentukan keretaapi harus melalui rel yang ditentukan.
Keadaan akan menjadi sangat membahayakan apabila lokomotif dilengkapi dengan stang. Keretaapi akan mudah keluar dari lintasan dan tabrakan antar keretaapi pun akan lebih marak.
Lokomotif dan Kelengkapannya
Lokomotif terbagi menjadi dua sisi, masinis berada di sisi kanan dan keretaapi melaju di lintasan kanan. Untuk menjalankan keretaapi dengan arah berlawanan lokomotif tidak perlu berputar haluan tetapi cukup dengan pindah kedudukan ke sisi yang lain. Kedua sisi sama sekali tidak dilengkapi dengan kemudi.
Di balik ketiadaan kemudi yang sebenarnya sangat menguntungkan, terdapat banyak peralatan dan perlengkapan administrasi yang dirancang pendahulu untuk keselamatan dan kelancaran ular besi itu.
Peralatan yang ada pada lokomotif antara lain :
1. R e m
Pada satu sisi lokomotif terdapat 3 (tiga) macam rem 2 buah rem angin, rem dynamic dan lokomotif merah masiih dilengkapi dengan sebuah rem tangan. Khusus yang terakhir sangat jarang digunakan, cara pengoperasiannya perlu pengalaman dan keahlian khusus.
2. Radio
Layaknya pada setiap lokomotif terdapat 2 radio duduk yang ada pada masing-masing handle. Radio SIMOCO ini merupakan alat komunikasi antara masinis dengan Pengatur Keretaapi (PK) yang suaranya dapat terdengan oleh masinis di lokomotif lain yang sedang melintas di daerah komunikasi yang sama. Namun, satu masinis dengan yang lain tidak dapat berkomunikasi secara langsung.
Pada setiap radio terdapat jam digital sehingga sebagai alat komunikasi, radiopun berperan sebagai penunjuk waktu.
Masinis yang membawa rangkaian eksekutif biasanya dilengkapi juga dengan handy talky (HT). Alat komunikasi bermerek MOTOROLLA ini hanya digunakan untuk berkomunikasi intern, antara masinis dengan Pimpinan Perjalanan Keretaapi (PPKA) yang ada di gerbong belakangnya.
3. Speedometer
Speedometer merupakan alat yang sangat vital keberadaannya di lokomotif. Hanya dengan alat pengukur kecepatan inilah masinis akan tahu secara pasti apakah keretaapi yang dikendalikannya melaju dalam batas-batas yang ditetapkan. Saat melintasi belokan, tanjakan atau lintasan tertentu ada batas maksimal. Bila ketentuan yang terdapat di Tabel Keretaapi (T-100) ini dilanggar dapat berakibat fatal seperti selip, anjlok dan lainnya.
Ketika sinyal menyala kuning, maksimal kecepatan yang dibolehkan hanya 20 km/jam untuk lokomotif dan KRD/KRL masih boleh melaju dengan kecepatan 40 km/jam. Sedangkan rambu darurat, sinyal merah dan segitiga putih menyala, hanya boleh dirambah dengan kecepatan tidak lebih dari 5 km/jam. Hal itu hanya tidak akan pernah dilanggar apabila di lokomotif terdapat speedometer yang normal.
Idealnya speedometer di-set oleh teknisi Dipo, sehingga apabila kecepatan keretaapi ekonomi melebihi 80 km/jam akan terdengar alarm. Demikian juga ketika jarum speedometer lokomotif yang membawa rangkaian eksekutif menyentuh angka 110.
Ada dua tipe speedometer yang biasanya terdapat di lokomotif, Speedometer dynamic bermerek HASLER dan PUSAKA yang digital. Pada kedua speedometer juga terdapat penunjuk waktu.
4. Dead Man Pedal
Dari namanya saja dapat diduga betapa fatal akibat yang ditimbulkan apabila peralatan ini diabaikan. Namun demikian, bentuknya tidak se-serem namanya. Imut-imut seperti anak kura-kura dan selalu bersembunyi di balik alas kaki masinis.
Masinis memang tidak boleh mengabaikan alat kecil ini, Kadaop I mengingatkan seperti tertulis pada pamflet, “Selama Dinas Keretaapi Dilarang Menon-aktifkan Dead Man Pedal !” Bila masinis melanggar maka akan sangat berat sanksinya, mulai peringatan keras, penurunan pangkat sampai pemecatan dari jabatan.
Idealnya Dead Man Pedal telah di-set oleh teknisi Dipo sepedikian rupa, sehingga apabila tidak diinjak atau terus menerus diinjak selama 60 detik misalnya akan terdengar alarm. Apabila kesalahan ini tidak digubris maka keretaapi akan berhenti dengan sendirinya. Dengan keberadaan alat ini, masinis harus tetap terjaga selama menjalankan tugasnya.
5. Handle
Untuk mengatur kecepatan dan kenyamanan perjalanan, gas, kopling dan gigi menyatu dalam satu handle. Pada setiap lokomotif terdapat dua handle yang terdapat di kedua sisi. Biasanya yang digunakan adalah handle kanan kecuali kalau ada kerusakan.
Hanya masinis yang boleh memegang kendali handdle. Tepat di depan tempat duduk masinis terpampang peringatan, “Masinis yang Baik tidak pernak Menyerahkan Handle kepada asisten Masinis !”
Ketika keretaapi masih benar-benar keretaapi, asisten masinis adalah juru api. Tugas mereka sekarang jauh lebih ringan, tidak lagi harus bergumul dengan abu dan terpanggang panas api.
6. Pemadam Kebakaran
Seperti halnya sarana lain yang rawan api, maka pada setiap lokomotif dilengkapi juga dengan alat pemadam kebakaran beserta petunjuk penggunaannya. Mainis pun sudah dibekali kealian menggunakan perlengkapan ini.
7. Administrasi dan Bentuk Tertulis
Bila dilihat dari segi kelengkapan maka mungkin tinggal keretaapi-lah warisan penjajah Belanda yang masih tulen kolonial. Berbagai hal yang dalam era sekarang “bisa diabaikan” masih tertera dalam format tertulis sehingga lokomotif penuh dengan administrasi yang menghendaki konsentrasi. Hal detail seperti itu merupakan salah satu faktor penting yang menyebabkab kecelakaan keretaapi sangat langka di jaman penjajahan.
Kelengakapan administrasi dan peringatan yang ada di lokomotif antara lain :
a. Tabel Keretaapi (T-100)
Tabel Keretaapi merupakan tabel yang menunjukkan nomor keretaapi yang dibawa, stasiun yang dilalui ataupun harus didinggahi. Lengkap dengan waktu tempuh dari satu stasiun ke stasiun dalam hitungan menit. Kecepatan maksimum pada setiap lintasan juga tertera jelas. Tidak luput dari tabel ini adalah tempat harus bersilangan atau mendahului keretaapi lain.
b. Buku Riwayat Lokomotif
Seperti halnya sebuah biodata maka buku ini memuat kondisi dalam lokomotif seperti data pribadi, jenis dan nomor lokomotif. Ukuran tekanan bahan bakar, tekanan angin pada rem dan lain-lain turut melengkapi. Selain itu terdapat juga catatan tentang gangguan dan perbaikan yang pernah dialami.
c. Catatan Harian Masinis
Setiap masinis yang bertugas di lokomotif harus mencatatkan identitas diri, asisten masinis yang mendapingi, rangkaian keretaapi yang dibawa dan catatan lain tentang kondisi lokomotif.
Selain itu asisten masinis juga harus mencatat pada lembaran khusus waktu dan tempat mendahului atau disusul atau bersilangan dengan keretaapi lain sampai hal detail seperti sinyal-sinyal yang tidak aman yang dilalui.
d. Pada dinding lokomotif banyak terdapat peringatan dan petunjuk praktis yang sangat bermanfaat bagi masinis, seprti :
i. Himbauan Kasi traksi Daeraha Operasi III Cirebon :
1. Berdo’alah selalu sebelum Saudara menjalankan keretaapi/tugas
2. Jagalah selalu kebersihan kabin lokomotif Saudara. Kebersihan adalah sebagian dari iman.
3. Insan yang bijak selalu taat peraturan-peraturan yang berlaku.
ii. Peringatan dari Kepala daerah Operasi VI Yogyakarta :
Awas …!
Yakinkan semboyan 40 – 41 sebelum Keretaapi berangkat
iii. Peetunjuk praktis untuk masinis dari Kepala Daerah Operasi I Jakarta :
……….. 6) Apabila keretaapi terganggu/mogok, melalui radio segera lapor PPKA terdekat. Hubungi masinis keretaapi di depan dan belakang.
Masih banyak lagi catatan yang tidak boleh diabaikan. Namun dengan bagi oknum masinis hal ini sangat mengganggu sehingga tidak jarang yang menyobeknya ataupun mengubah isinya dengan kata-kata yang dikehendaki.
PESAN SPONSOR======================================================
Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :
http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto
========================================================TERIMAKASIH
TEROWONGAN DAN JEMBATAN KERETAAPI
Paduan Kekuatan, Keindahan dan Kelestarian Alam
“Ini sich, belum seberapa,” ujar Ade, asisten masinis kelahiran Banjar, ketika KA Parahyangan yang dibawanya memasuki terowongan Sasaksaat, “Terowongan ke Banjar Baru, lebih panjang lagi,” lanjutnya. “Sayang, sudah tidak dipakai lagi.”
Terowongan yang dimaksud Ade tidak lain semula bernama Terowongan Wilhelmina, menghubungkan Banjar dan Cijulang. Terowongan yang panjangnya mencapai 1,116 km ini diresmikan 80 tahun lalu, tepatnya tanggal 1 Juni 1921 bersama dua terowongan di dekatnya yang relatif pendek, masing-masing 105 dan 147 meter saja. Ketiganya merupakan tripariat yang sekarang diberi nama Terowongan Sumber.
Sedangkan terowongan antara stasiun Sasaksaat dan stasiun Maswati yang baru dilalui Ade panjangnya mendekati, 949 meter. Pada dinding masuknya tertera angka “1902 – 1903”, mungkin pada tahun tersebut terowongan itu dibuat tetapi baru diresmikan 3 tahun kemudian. Sampai sekarang kegelapan terowongan ini masih dapat dinikmati penumpang keretaapi menuju Bandung seperti KA Argo Gede dan KA Parahyangan dari stasiun Gambir, keretaapi kelas ekonomi KA Cipuja dan KA Citrajaya dari stasiun Jakartakota atau KA Galuh dari stasiun Tanah Abang.
Dua terowongan di atas beru sebagian kecil dari rangkaian rel yang secara mengagumkan menembus gunung dan bebetuan. Masih banyak terowongan leretaapi warisan penjajah yang ditinggalkan kepada ahli waris para korban penembus bebatuan.
Tabel 1. Terowongan Keretaapi Terpanjang
NO NAMA TEROWONGAN PANJANG (meter) TANGGAL PERESMIAN
1. Sumber 1.116 01 Januari 1921
2. Sasaksaat 949 02 Mei 1906
3. Sawahlunto 827 01 Januari 1896
4. Mrawen 690 10 September 1902
5. Lampengan 687 10 Mei 1883
6. Ijo 580 20 Juli 1887
7. Muara Kalaban 545 01 Maret 1924
8. Tebingtinggi 424 01 Nopember 1932
9. Lahat 368 01 Nopember 1932
10. Batulawang 281 15 Desember 1916
Sumber : Sejarah Perkeretaapian Indonesia Jilid 2, Angkasa (1995)
Selain terowongan, asset PT Keretaapi yang sangat berharga adalah jembatan-jembatan tua yang merupakan paduan serasi antara faktor kekuatan dengan seni artistik merangkai baja.
Sebagai contoh adalah kerangka baja di Lembah Anai perbatasan Kabupaten Kanah Datar dan Kabupaten Padang Pariaman, jaraknya beberapa kilometer dari Padangpanjang menuju Padang Sumatera Barat. Bukan hanya kekuatannya menahan beban serangkaian panjang wagon penuh batubara yang mengandung decak kagum, tetapi juga lenggak-lenggok besi berpadu dengan tata-kait sekrup yang sangat artistik. Lebih mengagumkan lagi apabila dilihat tahun pembuatannya, akhir abad XIX, tepatnya tahun 1891 !
Keindahan alam Parahyangan juga makin lengkap dengan 3 buah jembatan keretaapi terpanjang di negeri ini (Tabel 2). Pengguna jalan raya Bandung – Jakarta via Purwakarta misalnya, dapat melihat dari jauh rangkaian indah baja yang menghubungkan dua bukit menjelang Pandeglang. Sementara dari balik kaca para penumpang keretaapi Bandung – Jakarta dapat melongok penataan lahan lestari secara teras sering di bawah ketiga jembatan yang dilewati.
Semua penumpang keretaapi menuju Jakarta atau sebaliknya pun bisa menatap anggunnya lekuk tubuh jembatan kembar yang melintasi Sungai Citarum dekat Stasiun Kedung Gedeh. Keindahannya dapat pula dinikmati para pengguna jalan raya yang mengapit kedua jembatan tersebut.
Masih banyak jembatan kuno yang panjangnya berbilang ratusan meter, yang paling tua adalah Jembatan Porong di Jawa Timur yang panjangnya mencapai 222,70 meter dan diresmikan lebih dari seabad lalu, yaitu tahun 1886. Selain Jembatan Batang Anai yang telah diulas di atas, jembatan lain yang juga dibuat abad XIX adalah rangkaian 4 buah Jembatan Bratas sepanjang 180 meter, diresmikan tahun 1899.
Tabel 2. Jembatan Keretaapi Terpanjang
NO NAMA TEROWONGAN PANJANG (meter) TAHUN PERESMIAN
1. Cikubang 300 1906
2. Cibisoro 290 1906
3. Cipembokongan 270 1912
4. Sungai Tulas 228 1912
5. Serayu 225 1916
6. Porong 223 1886
Sumber : Sejarah Perkeretaapian Indonesia Jilid 2, Angkasa (1995)
Hebatnya, selain berhasil memadukan kekuatan dengan keindahan, pembangunan jembatan dan terowongan khususnya dan pemasangan rel keretaapi pada umumnya itupun menunjukkan betapa concern-nya bangsa penjajah terhadap konservasi lahan. Sekalipun harus dengan investasi yang sangat mahal. Asal tahun saja, sebelum Perang Dunia II, perkeretaapian dan trem merupakan investasi terbesar Belanda di Indonesia, yang nilainya mencapai Rp. 500 juta. Sama besarnya dengan investasi bidang perminyakan saat itu (Djojohadikusumo, 1949).
Oleh karena itu jangan gondok dulu kalau ada yang mengatakan, “Untung kita pernah dijajah Belanga !” Namun ungkapan itu dapat dipetik sebagai cambuk bagi warga bangsa merdeka ini yang untuk membangun jalur ganda rel keretaapi Cikampek – Cirebon saja tidak pernah selesai. Atau yang lebih penting lagi adalah warning bagi pengambil kebijakan, agar dalam pembuatan jalan tol tidak lagi harus mengorbankan lahan produktif dan pembantaian aktifitas pertanian yang notabene menjadi jantung kehidupan sebagian besar warganya.
PESAN SPONSOR======================================================
Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :
http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto
========================================================TERIMAKASIH
“Ini sich, belum seberapa,” ujar Ade, asisten masinis kelahiran Banjar, ketika KA Parahyangan yang dibawanya memasuki terowongan Sasaksaat, “Terowongan ke Banjar Baru, lebih panjang lagi,” lanjutnya. “Sayang, sudah tidak dipakai lagi.”
Terowongan yang dimaksud Ade tidak lain semula bernama Terowongan Wilhelmina, menghubungkan Banjar dan Cijulang. Terowongan yang panjangnya mencapai 1,116 km ini diresmikan 80 tahun lalu, tepatnya tanggal 1 Juni 1921 bersama dua terowongan di dekatnya yang relatif pendek, masing-masing 105 dan 147 meter saja. Ketiganya merupakan tripariat yang sekarang diberi nama Terowongan Sumber.
Sedangkan terowongan antara stasiun Sasaksaat dan stasiun Maswati yang baru dilalui Ade panjangnya mendekati, 949 meter. Pada dinding masuknya tertera angka “1902 – 1903”, mungkin pada tahun tersebut terowongan itu dibuat tetapi baru diresmikan 3 tahun kemudian. Sampai sekarang kegelapan terowongan ini masih dapat dinikmati penumpang keretaapi menuju Bandung seperti KA Argo Gede dan KA Parahyangan dari stasiun Gambir, keretaapi kelas ekonomi KA Cipuja dan KA Citrajaya dari stasiun Jakartakota atau KA Galuh dari stasiun Tanah Abang.
Dua terowongan di atas beru sebagian kecil dari rangkaian rel yang secara mengagumkan menembus gunung dan bebetuan. Masih banyak terowongan leretaapi warisan penjajah yang ditinggalkan kepada ahli waris para korban penembus bebatuan.
Tabel 1. Terowongan Keretaapi Terpanjang
NO NAMA TEROWONGAN PANJANG (meter) TANGGAL PERESMIAN
1. Sumber 1.116 01 Januari 1921
2. Sasaksaat 949 02 Mei 1906
3. Sawahlunto 827 01 Januari 1896
4. Mrawen 690 10 September 1902
5. Lampengan 687 10 Mei 1883
6. Ijo 580 20 Juli 1887
7. Muara Kalaban 545 01 Maret 1924
8. Tebingtinggi 424 01 Nopember 1932
9. Lahat 368 01 Nopember 1932
10. Batulawang 281 15 Desember 1916
Sumber : Sejarah Perkeretaapian Indonesia Jilid 2, Angkasa (1995)
Selain terowongan, asset PT Keretaapi yang sangat berharga adalah jembatan-jembatan tua yang merupakan paduan serasi antara faktor kekuatan dengan seni artistik merangkai baja.
Sebagai contoh adalah kerangka baja di Lembah Anai perbatasan Kabupaten Kanah Datar dan Kabupaten Padang Pariaman, jaraknya beberapa kilometer dari Padangpanjang menuju Padang Sumatera Barat. Bukan hanya kekuatannya menahan beban serangkaian panjang wagon penuh batubara yang mengandung decak kagum, tetapi juga lenggak-lenggok besi berpadu dengan tata-kait sekrup yang sangat artistik. Lebih mengagumkan lagi apabila dilihat tahun pembuatannya, akhir abad XIX, tepatnya tahun 1891 !
Keindahan alam Parahyangan juga makin lengkap dengan 3 buah jembatan keretaapi terpanjang di negeri ini (Tabel 2). Pengguna jalan raya Bandung – Jakarta via Purwakarta misalnya, dapat melihat dari jauh rangkaian indah baja yang menghubungkan dua bukit menjelang Pandeglang. Sementara dari balik kaca para penumpang keretaapi Bandung – Jakarta dapat melongok penataan lahan lestari secara teras sering di bawah ketiga jembatan yang dilewati.
Semua penumpang keretaapi menuju Jakarta atau sebaliknya pun bisa menatap anggunnya lekuk tubuh jembatan kembar yang melintasi Sungai Citarum dekat Stasiun Kedung Gedeh. Keindahannya dapat pula dinikmati para pengguna jalan raya yang mengapit kedua jembatan tersebut.
Masih banyak jembatan kuno yang panjangnya berbilang ratusan meter, yang paling tua adalah Jembatan Porong di Jawa Timur yang panjangnya mencapai 222,70 meter dan diresmikan lebih dari seabad lalu, yaitu tahun 1886. Selain Jembatan Batang Anai yang telah diulas di atas, jembatan lain yang juga dibuat abad XIX adalah rangkaian 4 buah Jembatan Bratas sepanjang 180 meter, diresmikan tahun 1899.
Tabel 2. Jembatan Keretaapi Terpanjang
NO NAMA TEROWONGAN PANJANG (meter) TAHUN PERESMIAN
1. Cikubang 300 1906
2. Cibisoro 290 1906
3. Cipembokongan 270 1912
4. Sungai Tulas 228 1912
5. Serayu 225 1916
6. Porong 223 1886
Sumber : Sejarah Perkeretaapian Indonesia Jilid 2, Angkasa (1995)
Hebatnya, selain berhasil memadukan kekuatan dengan keindahan, pembangunan jembatan dan terowongan khususnya dan pemasangan rel keretaapi pada umumnya itupun menunjukkan betapa concern-nya bangsa penjajah terhadap konservasi lahan. Sekalipun harus dengan investasi yang sangat mahal. Asal tahun saja, sebelum Perang Dunia II, perkeretaapian dan trem merupakan investasi terbesar Belanda di Indonesia, yang nilainya mencapai Rp. 500 juta. Sama besarnya dengan investasi bidang perminyakan saat itu (Djojohadikusumo, 1949).
Oleh karena itu jangan gondok dulu kalau ada yang mengatakan, “Untung kita pernah dijajah Belanga !” Namun ungkapan itu dapat dipetik sebagai cambuk bagi warga bangsa merdeka ini yang untuk membangun jalur ganda rel keretaapi Cikampek – Cirebon saja tidak pernah selesai. Atau yang lebih penting lagi adalah warning bagi pengambil kebijakan, agar dalam pembuatan jalan tol tidak lagi harus mengorbankan lahan produktif dan pembantaian aktifitas pertanian yang notabene menjadi jantung kehidupan sebagian besar warganya.
PESAN SPONSOR======================================================
Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :
http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto
========================================================TERIMAKASIH
CILAKA ....
Dulu kecelakaan keretaapi selalu diakibatkan "human error" semata, masinis pun tak berdaya menolaknya. Sanksi dan hukuman adalah jatah orang kecil seperti mereka. Namun perlahan tapi pasti kenyataan pun sanggup mengubah anggapan jajaran pejabat penting di institusi perbuhungan itu. Sekarang, berbagai kecelakaan yang terjadi makin memudarkan anggapan kuno itu ....
CILAKA ....
Akhirnya Menteri Perhubungan Kabinet Gotong Royong, Agum Gumelar, mengumumkan bahwa penyebab tabrakan antara keretaapi langsam Tanah Abang – Rangkasbitung (KA 930) dengan KA 1213 yang mengangkut batubara adalah technical error. Yaitu blong-nya rem KA 930 ketika memasuki tujuan akhir, Stasiun Rangkasbitung. Walaupun seperti biasa, masih dibumbui dengan kemungkinan sabotase (Liputan 6 Terkini, 26/10/01).
Sudah terlalu lama jajaran perkeretaapian Indonesia khususnya dan insan perhubungan umumnya, selalu mencari kambing hitam bila kecelakaan armadanya terjadi. Human error, human error dan human error, ironisnya human error ini selalu tertuju kepada masinis. Sementara para teknisi yang bertanggungjawab terhadap peralatan selalu lepas dari tuduhan.
Adman bin Sunardi sekarang dapat tenang di pangkuan Sang Khalik, menyusul Suwanto yang sampai sekarang masih mewariskan PR misterius buat jajaran perkeretaapian negeri ini. Tetapi kalau pengakuan Agum Gumelar yang tulus ini, tanpa tindak lanjut yang terarah, maka kecelakaan-kecelakaan berikutnya akan tetap mengancam kelangsungan hidup PT Keretaapi.
Untuk menghentikan laju keretaapi yang dibawa Adman bin Sunardi dini hari itu, sebenarnya tidak terlalu perlu diganjal lokomotif BB 30421, apabila rem-nya tidak blong dan dead man pedal-nya aktif. Atau setidaknya bisa mewanti-wanti dahulu, seandainya radio lokomotif yang ada di sampingnya berfungsi.
Suwanto pun akan damai di akhirat jikalau jajaran PT Keretaapi mencabut ucapanya terdahulu, bahwa kecepatan KA Empu Jaya mencapai 70 km/jam ketika menghantam sebuah lokomotif yang sedang langsir di Cirebon. Karena besar kemungkinan, jangankan orang lain, Suwanto sendiri sejak dari Stasiun Jakartakota tidak pernah tahu secara tepat laju keretaapi yang dikendalikannya.
Speedometer, dead man pedal, radio lokomotif dan rem adalah peralatan vital tempat jejalan penumpang bertaruh nyawa. Cilaka … bila mengabaikan salah satu diantaranya, apalagi kombinasinya. Korbannya bukan hanya penumpang yang tidak pernah tahu permasalahan pokoknya, tetapi juga akan mencetak arwah masinis yang harus terus bertanya-tanya, apakah namanya tercatat di batu nisan sebagai pahlawan atau tertulis dalam daftar antre tukang sate, sebagai kambing hitam.
PESAN SPONSOR======================================================
Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :
http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto
========================================================TERIMAKASIH
CILAKA ....
Akhirnya Menteri Perhubungan Kabinet Gotong Royong, Agum Gumelar, mengumumkan bahwa penyebab tabrakan antara keretaapi langsam Tanah Abang – Rangkasbitung (KA 930) dengan KA 1213 yang mengangkut batubara adalah technical error. Yaitu blong-nya rem KA 930 ketika memasuki tujuan akhir, Stasiun Rangkasbitung. Walaupun seperti biasa, masih dibumbui dengan kemungkinan sabotase (Liputan 6 Terkini, 26/10/01).
Sudah terlalu lama jajaran perkeretaapian Indonesia khususnya dan insan perhubungan umumnya, selalu mencari kambing hitam bila kecelakaan armadanya terjadi. Human error, human error dan human error, ironisnya human error ini selalu tertuju kepada masinis. Sementara para teknisi yang bertanggungjawab terhadap peralatan selalu lepas dari tuduhan.
Adman bin Sunardi sekarang dapat tenang di pangkuan Sang Khalik, menyusul Suwanto yang sampai sekarang masih mewariskan PR misterius buat jajaran perkeretaapian negeri ini. Tetapi kalau pengakuan Agum Gumelar yang tulus ini, tanpa tindak lanjut yang terarah, maka kecelakaan-kecelakaan berikutnya akan tetap mengancam kelangsungan hidup PT Keretaapi.
Untuk menghentikan laju keretaapi yang dibawa Adman bin Sunardi dini hari itu, sebenarnya tidak terlalu perlu diganjal lokomotif BB 30421, apabila rem-nya tidak blong dan dead man pedal-nya aktif. Atau setidaknya bisa mewanti-wanti dahulu, seandainya radio lokomotif yang ada di sampingnya berfungsi.
Suwanto pun akan damai di akhirat jikalau jajaran PT Keretaapi mencabut ucapanya terdahulu, bahwa kecepatan KA Empu Jaya mencapai 70 km/jam ketika menghantam sebuah lokomotif yang sedang langsir di Cirebon. Karena besar kemungkinan, jangankan orang lain, Suwanto sendiri sejak dari Stasiun Jakartakota tidak pernah tahu secara tepat laju keretaapi yang dikendalikannya.
Speedometer, dead man pedal, radio lokomotif dan rem adalah peralatan vital tempat jejalan penumpang bertaruh nyawa. Cilaka … bila mengabaikan salah satu diantaranya, apalagi kombinasinya. Korbannya bukan hanya penumpang yang tidak pernah tahu permasalahan pokoknya, tetapi juga akan mencetak arwah masinis yang harus terus bertanya-tanya, apakah namanya tercatat di batu nisan sebagai pahlawan atau tertulis dalam daftar antre tukang sate, sebagai kambing hitam.
PESAN SPONSOR======================================================
Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :
http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto
========================================================TERIMAKASIH
ANTRI
Lebih dari 10 tahun lalu saya menulis untuk KABA LUHAK NAN TUO, tabloid milik Pemda Kabupaten Tanah Datar – Sumatera Barat. Aktivitas itu, saya bawa ketika pindah ke Indramayu. Sekalipun proposal yang saya ajukan dapat penolakan dan tantangan, akhirnya saya bangga ketika beberapa tahun kemudian “melihat dan dapat menjadi saksi” bahwa Pemda Kabupaten Indramayu berhasil menerbitkan tabloid yang secara fisik persis sama dengan tabloid kesayangan kami dulu ….
Sebagian tulisan penuh kenangan itu saya coba nukil di sini, mohon maaf kalau masih banyak menggunakan koso-kata urang awak alias dialek Minang. Selamat turut mengenang ….
A N T R I
Ibuk Maimunah, isteri Bapak Harun Al Rasyid yang mantan Bupati kabupaten Dati II Tanah Datar zaman pergolakan dulu, pernah menceritakan tentang kecanduannya berbelanja di sebuah took yang sama sekali bukan milik urang awak.
“Baru di pintu, pelayannya sudah menghampiri dan menyapa sopan.” Beliau memulai pembicaraan, “Atau kalau mereka semua sibuk dengan pembeli yang lain maka si-empunyanya terjun langsung. Dengan sabar pula melayani sesuai kebutuhan dan tidak mengeluh, apalagi marah karena sudah direpotkan.”
Dilain pihak, Bundo Kanduang itu juga punya pengalaman yang sangat sulit dilupakannya saat berbelanja di Pasar Kampung Jawa (tentu saja tidak ada di peta Pulau Jawa !), tepatnya di sekitar Matahari Departemen Store – Padang.
Ketika itu beliau datang ke sebuah took busana, tidak ada tanda-tanda bahwa pemuda yang ada di took itu ada perhatian, sekalipun mereka sesungguhnya seorang pelayan. Terus sahut-sahutan satu sama lain. Ketika ditanyakan harga sebuah barang, salah satu diantara mereka langsung menghampiri. Tetapi, sebelum sebuah katapun terucap, masuklah seorang gadis dan segenap perhatian para pelayan pun tertuju kepadanya. Sama sekali tidak peduli calon pembeli yang sudah sedari tadi menunggu jawaban. Pada saat itu juga beliau hengkang dengan penuh kesal dan bersumpah untuk tidak datang lagi ke took itu !
Dari pengalaman di atas dapat ditarik sebuah pelajaran, perlunya pelayanan yang baik bagi setiap konsumen. Salah satu strategi yang dapat ditempuh adalah menerapkan budaya antri. Antri dapat dikaitkan dengan menunggu, sebuah pekerjaan yang sangat membosankan seperti kata pepatah.
Namun demikian ada juga yang tidak mau antri gara-gara poster MINOLTA yang menggambarkan “Antri Dooooong”- nya dengan DOD (Day-Old-Duck), anak bebek umur sehari yang berduyun-duyun.
Pelayanan merupakan unsure utama yang sangat menentukan dalam keberhasilan suatu usaha di bidang barang ataupun jasa. Sebab dari pelayanan itulah mereka hidup . Dengan kata lain, pelayanan adalah nyawa mereka yang sesungguhnya.
Adegium lama selalu mengingatkan, konsumen adalah raja. Hal ini tidak hanya berlaku bagi dunia usaha tetapi juga dalam pemerintahan yang merupakan pelayan bagi masyarakat. Dalam hal jual beli seperti cerita di atas maka rajanya adalah pembeli, sementara dalam pelayanan kepada masyarakat maka yang menjadi the king of the king adalah rakyat !
Namun demikian, dalalam kehidupan sehari-hari malah terjadi sebaliknya. Penjual buah-buahan di Pasar Batusangkar misalnya, tidak jarang mengumpat dengan kata-kata tak sedap kepada calon pembeli yang menawar barang dagangannya yang dihargakan mereka setinggi langit. Demikian juga oknum aparat, masih terlalu banyak yang masih rela mengombang-ambingkan dalam melayani masyarakat agar dianggap orang penting.
Padahal di era Otonomi Daerah yang dititikberatkan di daerah Tingkat II maka pelayanan kepada masyarakat harus sebaik mungkin untuk dapat mendongkrak PAD. (Catatan: Kabupaten Dati II Tanah Datar merupakan Kabupaten/Kota Otonomi Daerah Percontohan terbaik di negeri ini, jadi ketika tulisan ini dibuat (Juli 1999) sudah beberapa tahun menjalankan otonomi daerah).
Sehingga sangat ketinggalan zaman kalau masih berpedoman pada istilah “Kalau bisa dipersulit, mengapa dipermudah ?” Jika masih memegang adegium lama seperti itu, jangan harap bisa melayani masyarakat secara memuaskan. Tragisnya, kadang-kadang, kalau tidak dibilang –betapa sering, urusan sesame korps pun masih di bawah garis kepuasan.
Oleh karena itu, sudah saatnya adegium lama itu diputar-kata menjadi kalimat yang sangat mudah diucapkan tetapi teramat sulit dilakukan “Kalau bisa dipermudah, mengapa harus dipersulit ?”
Pelayanan sector swasta sering diagungkan pun banyak dijumpai kejadian yang tidak seindah gaungnya. Padahal seperti dikemukakan di atas, kehidupan mereka tergantung pada pelayanan yang diberikan. Misalnya, antrian pengambilan gaji di sebuah bank swasta ternyata lebih menyiksa daripada rangkaian panjang pembayaran rekening listrik di Kota Budaya ini.
Sebab utamanya adalah pelayanan yang dikaitkan dengan budaya antri. Kalaulah yang datang duluan harus ngantuk dulu di kursi tunggu dan mimpi sudah sampai ke rumah dengan membawa uang bulanan, lumrah saja, mengingat banyaknya nasabah. Tetapi, kalau saat yang sama, tiba-tiba ada beberapa orang yang baru datang, dapat pelayanan langsung ekstra cepat, mereka segera hengkang membawa harapan. Sungguh luar biasa !
Apalagi tidak jarang kuliah terbuka yang sangat memalukan biasa digelar, materinya yang itu-itu juga, “Nasabah membludak, bukan hanya Saudara yang kami layani !” Sebuah ucapan yang semestinya diiringi istighfar, mereka keberatan dengan banyaknya nasabah.
Jadi tidak selalu pelayanan swasta yang sering diharapkan orang sebagai pelarian dari birokrasi yang sering dianggap terlalu panjang-lebarnterkadang lebih menjengkelkan.
Belum lama ini ada nasehat yang dilontarkan Profesor Emil Salim kepada seorang perantau dari seberang yang merasa tertekan dengan perbedaan pelayanan tukang sayur di komplek tempatnya tinggal antara kepada urang awak dengan pendatang, “Kalau mau bisa hidup di sini, belajarlah cara mencerca seperti orang di sini. Sangat menusuk hati, bagi yang mengerti.”
Namun untuk kondisi sekarang, di saat globalisasi akan datang menjelang, dimana persaingan akan berjalan sebagaimana hokum pasar yang tidak akan lepas dari pelayanan, maka petuah Begawan Muda Ekonomi itu sangat tidak realistis, kecualikalau yang sedang kita tuju adalah zaman gombalisasi. Konsumen yang kena caruik akan dapat dengan mudah lari ke pelukan Si Ramah. Lebih parahnya, mereka pun akan menjadi agen promosi kebobrokan yang sangat ampuh.
Antri adalah bagian kecil dari pelayanan, bukan harga mati karena masih banyak aspek pelayanan yang lain. Tetapi antri merupakan barang antik, gratis tetapi sangat tak ternilai harganya. Senilai dengan senyum pramugari Garuda yang sering mendapat kritik dari banyak wisatawan asing, agar mereka ikut kursus senyum, karena sesungguhnya mereka berasal dari sebuah negeri yang terkenal murah senyum !
PESAN SPONSOR======================================================
Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :
http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto
========================================================TERIMAKASIH
Sebagian tulisan penuh kenangan itu saya coba nukil di sini, mohon maaf kalau masih banyak menggunakan koso-kata urang awak alias dialek Minang. Selamat turut mengenang ….
A N T R I
Ibuk Maimunah, isteri Bapak Harun Al Rasyid yang mantan Bupati kabupaten Dati II Tanah Datar zaman pergolakan dulu, pernah menceritakan tentang kecanduannya berbelanja di sebuah took yang sama sekali bukan milik urang awak.
“Baru di pintu, pelayannya sudah menghampiri dan menyapa sopan.” Beliau memulai pembicaraan, “Atau kalau mereka semua sibuk dengan pembeli yang lain maka si-empunyanya terjun langsung. Dengan sabar pula melayani sesuai kebutuhan dan tidak mengeluh, apalagi marah karena sudah direpotkan.”
Dilain pihak, Bundo Kanduang itu juga punya pengalaman yang sangat sulit dilupakannya saat berbelanja di Pasar Kampung Jawa (tentu saja tidak ada di peta Pulau Jawa !), tepatnya di sekitar Matahari Departemen Store – Padang.
Ketika itu beliau datang ke sebuah took busana, tidak ada tanda-tanda bahwa pemuda yang ada di took itu ada perhatian, sekalipun mereka sesungguhnya seorang pelayan. Terus sahut-sahutan satu sama lain. Ketika ditanyakan harga sebuah barang, salah satu diantara mereka langsung menghampiri. Tetapi, sebelum sebuah katapun terucap, masuklah seorang gadis dan segenap perhatian para pelayan pun tertuju kepadanya. Sama sekali tidak peduli calon pembeli yang sudah sedari tadi menunggu jawaban. Pada saat itu juga beliau hengkang dengan penuh kesal dan bersumpah untuk tidak datang lagi ke took itu !
Dari pengalaman di atas dapat ditarik sebuah pelajaran, perlunya pelayanan yang baik bagi setiap konsumen. Salah satu strategi yang dapat ditempuh adalah menerapkan budaya antri. Antri dapat dikaitkan dengan menunggu, sebuah pekerjaan yang sangat membosankan seperti kata pepatah.
Namun demikian ada juga yang tidak mau antri gara-gara poster MINOLTA yang menggambarkan “Antri Dooooong”- nya dengan DOD (Day-Old-Duck), anak bebek umur sehari yang berduyun-duyun.
Pelayanan merupakan unsure utama yang sangat menentukan dalam keberhasilan suatu usaha di bidang barang ataupun jasa. Sebab dari pelayanan itulah mereka hidup . Dengan kata lain, pelayanan adalah nyawa mereka yang sesungguhnya.
Adegium lama selalu mengingatkan, konsumen adalah raja. Hal ini tidak hanya berlaku bagi dunia usaha tetapi juga dalam pemerintahan yang merupakan pelayan bagi masyarakat. Dalam hal jual beli seperti cerita di atas maka rajanya adalah pembeli, sementara dalam pelayanan kepada masyarakat maka yang menjadi the king of the king adalah rakyat !
Namun demikian, dalalam kehidupan sehari-hari malah terjadi sebaliknya. Penjual buah-buahan di Pasar Batusangkar misalnya, tidak jarang mengumpat dengan kata-kata tak sedap kepada calon pembeli yang menawar barang dagangannya yang dihargakan mereka setinggi langit. Demikian juga oknum aparat, masih terlalu banyak yang masih rela mengombang-ambingkan dalam melayani masyarakat agar dianggap orang penting.
Padahal di era Otonomi Daerah yang dititikberatkan di daerah Tingkat II maka pelayanan kepada masyarakat harus sebaik mungkin untuk dapat mendongkrak PAD. (Catatan: Kabupaten Dati II Tanah Datar merupakan Kabupaten/Kota Otonomi Daerah Percontohan terbaik di negeri ini, jadi ketika tulisan ini dibuat (Juli 1999) sudah beberapa tahun menjalankan otonomi daerah).
Sehingga sangat ketinggalan zaman kalau masih berpedoman pada istilah “Kalau bisa dipersulit, mengapa dipermudah ?” Jika masih memegang adegium lama seperti itu, jangan harap bisa melayani masyarakat secara memuaskan. Tragisnya, kadang-kadang, kalau tidak dibilang –betapa sering, urusan sesame korps pun masih di bawah garis kepuasan.
Oleh karena itu, sudah saatnya adegium lama itu diputar-kata menjadi kalimat yang sangat mudah diucapkan tetapi teramat sulit dilakukan “Kalau bisa dipermudah, mengapa harus dipersulit ?”
Pelayanan sector swasta sering diagungkan pun banyak dijumpai kejadian yang tidak seindah gaungnya. Padahal seperti dikemukakan di atas, kehidupan mereka tergantung pada pelayanan yang diberikan. Misalnya, antrian pengambilan gaji di sebuah bank swasta ternyata lebih menyiksa daripada rangkaian panjang pembayaran rekening listrik di Kota Budaya ini.
Sebab utamanya adalah pelayanan yang dikaitkan dengan budaya antri. Kalaulah yang datang duluan harus ngantuk dulu di kursi tunggu dan mimpi sudah sampai ke rumah dengan membawa uang bulanan, lumrah saja, mengingat banyaknya nasabah. Tetapi, kalau saat yang sama, tiba-tiba ada beberapa orang yang baru datang, dapat pelayanan langsung ekstra cepat, mereka segera hengkang membawa harapan. Sungguh luar biasa !
Apalagi tidak jarang kuliah terbuka yang sangat memalukan biasa digelar, materinya yang itu-itu juga, “Nasabah membludak, bukan hanya Saudara yang kami layani !” Sebuah ucapan yang semestinya diiringi istighfar, mereka keberatan dengan banyaknya nasabah.
Jadi tidak selalu pelayanan swasta yang sering diharapkan orang sebagai pelarian dari birokrasi yang sering dianggap terlalu panjang-lebarnterkadang lebih menjengkelkan.
Belum lama ini ada nasehat yang dilontarkan Profesor Emil Salim kepada seorang perantau dari seberang yang merasa tertekan dengan perbedaan pelayanan tukang sayur di komplek tempatnya tinggal antara kepada urang awak dengan pendatang, “Kalau mau bisa hidup di sini, belajarlah cara mencerca seperti orang di sini. Sangat menusuk hati, bagi yang mengerti.”
Namun untuk kondisi sekarang, di saat globalisasi akan datang menjelang, dimana persaingan akan berjalan sebagaimana hokum pasar yang tidak akan lepas dari pelayanan, maka petuah Begawan Muda Ekonomi itu sangat tidak realistis, kecualikalau yang sedang kita tuju adalah zaman gombalisasi. Konsumen yang kena caruik akan dapat dengan mudah lari ke pelukan Si Ramah. Lebih parahnya, mereka pun akan menjadi agen promosi kebobrokan yang sangat ampuh.
Antri adalah bagian kecil dari pelayanan, bukan harga mati karena masih banyak aspek pelayanan yang lain. Tetapi antri merupakan barang antik, gratis tetapi sangat tak ternilai harganya. Senilai dengan senyum pramugari Garuda yang sering mendapat kritik dari banyak wisatawan asing, agar mereka ikut kursus senyum, karena sesungguhnya mereka berasal dari sebuah negeri yang terkenal murah senyum !
PESAN SPONSOR======================================================
Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :
http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto
========================================================TERIMAKASIH
Langganan:
Postingan (Atom)