Selasa, 11 Mei 2010

SAPI POTONG & POTONG SAPI

Peternakan memang sangat potensial untuk mensejahterakan anak bangsa ini, namun lembaga yang mengurusinya semakin diper-kerdil, 10 tahun pasca otonomi daerah berlaku penuh, hanya sedikit Kabupaten/Kota yang mempunyai Dinas Peternakan.
Maka, wajar saja kalau Depsos segera turun tangan. Membantu ternak kepada masyarakat yang membutuhkan. Soal sapi-nya segede domba atau masalah non-teknis lainnya, toch mereka tidak pernah kuliah peternakan kok ....


Seorang Manager Pemasaran produsen benih jagung hibrida pernah berpesan kepada para field-force-nya yang dengan senang menunjukkan kehebatan demplotnya, “Jangan bandingkan benih kita dengan jagung lokal. Itu sama dengan membandingkan jeruk dengan semangka !” Satu kalimat singkat yang bisa menggantikan perumpamaan Sang Manager adalah, “yang wajar-wajar saja !”

Sapi potong memang bukan jagung hibrida, kegiatan penggemukan sapi potong pun berbeda dengan bercocoktanam jagung hibrida. Tetapi keduanya punya kesamaan, yaitu kalau mau diperbandingkan harus “yang wajar-wajar saja !”

Pencarian teknologi tepatguna untuk penggemukan sapi potong bagi peternak di Kabupaten Indramayu menjadi tidak wajar ketika harus dengan berbondong-bondang ke suatu tempat dimana penggemukan sapi potong dikelola dengan sistem pemeliharaan dan manajemen pengelolaan sumberdaya dan sumberdananya yang sama sekali berbeda. Pemborosan luar biasa besar itu bertambah tidak wajar ketika ingin diulangi untuk yang kedua kali.

Teknologi penggemukan sapi potong sapi lokal seperti PO (Peranakan Ongole) ataupun anak-cucu Brahman atau bahkan jantan FH dan akfiran FH tua yang tidak produktif lagi (FH = Friesen Holland, salah satu jenis ternak perah) bukanlah barang asing bagi masyarakat Kabupaten Indramayu. Selain praktis juga sangat mudah diserap dengan sedikit sentuhan penyuluh dan praktek petani lain sebagai teladan. Pada tahun 1995 masyarakat Truwali-Karangampel membuktikan hal ini. Beberapa peternak di Gabuswetan dan Kandanghaur kemudian mengikuti kisah suksesnya.

Penggemukan sapi potong impor pun sangat tidak terlalu berbeda, sedikit kendalanya adalah kemampuan penanganan sapi yang biasa hidup di ranch itu. Keganasan dan kekuatan tenaga liarnya memerlukan tenaga ekstra dan perkandangan permanen yang lebih kuat daripada pemeliharaan sapi lokal yang berbanding lurus dengan pendanaan. Sedangkan pakan dan manajemen lainnya sudah tidak perlu jauh-jauh belajar dari daerah lain. Peternak yang pernah memelihara jantan FH tentu pernah membuktikannya.

Sehingga untuk menggemukan sapi potong baik lokal maupun impor tidak perlu jauh-jauh studi banding. Cukup menggali potensi yang ada dan pengalaman yang sudah menumpuk di daerah sendiri, baik keberhasilan maupun kegagalan yang dijadikan tantangan untuk perbaikan. Toch semuanya sudah jelas, ilmunya sudah ada, “dosen dan praktisi ahli” berpengalaman sangat banyak. Yang tidak pernah ada adalah kemauan untuk belajarnya, kecuali belajar ke luar daerah. Apalagi menindaklanjuti hasil belajar itu sesuai dengan TOR yang disepakati sebelum berangkat belajar.

Secara teori usaha penggemukan sapi potong memang sangat menguntungkan, praktek yang telah lama dilakukan masyarakat juga membuktikan kebenarannya. Petani yang menggunakan modal sendiri, hanya dengan memelihara satu ekor setiap bulannya bisa mengantongi Rp. 300.000,-. Mereka yang menggunakan jasa perbankan, bukan hanya dapat membayar cicilan hutang tepat waktu tetapi juga kelebihan yang relatif cukup dibanding usaha pertanian yang lain.

Kecuali dalam keadaan sangat gawat, peternak tidak perlu harus didampingi dokter hewan dalam penanganan kesehatan ternaknya. Cukup pemberian obat cacing, vitamin dan antibiotika dengan tablet yang bebas beredar di pasaran seperti halnya orang-orang mencegah cacingan, ingin tambah stamina atau menghilangkan sedikit gangguan flu. Makanan pun tidak pernah ada kendala baik untuk sapi lokal maupun impor, rumput sebagai sumber serat kasar dan penguatnya dengan konsentrat. Dedak halus saja sudah merupakan makanan penguat yang baik, apalagi ditambah sedikit bungkil kedelai atau bahkan konsentrat buatan pabrik.

Itulah gambaran sekilas usaha penggemukan sapi potong yang pernah diterapkan masyarakat, di Kabupaten Indramayu, di mana pun tidak jauh berbeda karena usaha ini sangat menguntungkan dengan resiko yang relatif rendah. Kemungkinan sakit sangat kecil, kematian pun Insya Allah hanya datang ketika sapi sampai di RPH (Rumah Potong Hewan).

Petani di Truwali yang tumbuh berkembang dengan modal sendiri membuktikannya. Sapi bakalan didatangkan dari Jawa Timur dan dipelihara 3 – 6 bulan dulu sebelum akhirnya dijual kepada jagal. Memelihara satu ekor sudah untung, memelihara 2 ekor tambah beruntung, memelihara 6 bisa mengeluarkan satu ekor setiap bulan secara periodik. Pakan yang diberikan tidak lain dari rumput secukupnya dan 3 kg dedak halus setiap harinya.

Namun keadaan menjadi lain kalau urusan penggemukan sapi potong ini dicampuri bumbu masak bermerek birokrasi. Budidaya sapi potong penggemukan sering berubah menjadi upaya potong sapi penggemukan !

Peternak di Truwali adalah saksi dari campur tangan yang sangat merugikan itu. Kelompok Sapi Potong Penggemukan terbaik kedua tingkat nasional itu kini tinggal kenangan.

Akan halnya kejadian yang sekarang ramai sampai di kursi Dewan adalah ulangan kegagalan yang hampir sama dengan PPWT hampir sewindu yang lalu. Peternak di Haurkolot-Haurgeulis yang dengan tekun dan telaten selama 6 – 9 bulan memelihara sapi potong bagiannya, pada saat penjualan harus gigit jari. Harga jual tidak bergiming dari nilai beli bakalan yang ditetapkan petugas. Jadilah kerja keras mereka kerja paksa yang dipaksakan.

Haurkolot bukanlah Truwali, peternak Truwali membeli sendiri bakalan yang umurnya berkisar 2 tahun. Kondisinya yang memelas, ceking namun jangkung sangat tepat untuk diisi kasih sayang dan makanan sederhana yang akhirnya berubah menjadi daging dengan marbling yang seimbang. Berbeda dengan peternak Haurkolot yang tinggal mengantri untuk mendapatkan bagian sapi tanpa tahu asal-usul dan ukuran besar, apalagi umurnya. Mereka mendapatkan pedet namun harga mati telah dipatok sebagai bakalan.

Peternak Truwali benar-benar berusaha menggemukan sapi potong sesuai dengan sebutannya, sedangkan yang di Haurkolot hanya tertera di plang nama. Mereka melakukan pembesaran. Pedet-pedet itu masih perlu waktu satu setengah tahunan untuk membentuk kerangka. Proses pembuatan tulang ini terus berjalan ketika sampai pada waktunya untuk dijual. Wajar saja kalau harganya lebih rendah daripada harga yang ditetapkan sebelumnya, karena sapi yang dijual pun statusnya masih pedet-pedet juga. Belum seharga bakalan seperti yang ada di dokumen ! Karena sapinya pun sama sekali belum pantas disebut bakalan.

Saat ini Bank Mandiri yang pernah menjalin kerjasama dengan peternak secara langsung sudah menyatakan ketidakpercayaannya pada usaha ternak yang sangat menguntungkan ini. Dalam dunia peternakan, usaha penggemukan sapi potong adalah yang paling menguntungkan selain budidaya babi pedaging.

Sementara perbankan di Indramayu sama sekali tidak melirik usaha yang sangat menggiurkan ini, maka secara tiba-tiba Departemen Sosial akan mengucurkan dana Rp. 10.000.000.000,- (sepuluh milyar) untuk memberdayakan para fakir miskin di Kabupaten Indramayu dengan bakalan impor.

Upaya ini benar-benar luar biasa, bukan hanya dananya yang sangat besar tetapi juga manfaatnya akan benar-benar bisa mengentaskan para fakir miskin untuk menuju kesengsaraan yang baru akibat kebijakan yang diterapkan tanpa ilmu. Soal kemiskinan, Departemen Sosial adalah pakarnya tetapi mereka keliru ketika menyamakan biaya pakan sapi impor penggemukan dengan biaya hidup fakir miskin yang bisa bertahan nafas hanya dengan Rp. 1.000,- (seribu rupiah) per-hari.

Selain ketidakwajaran dalam menganggarkan jatah pakan, pihak Departemen Sosial pun ternyata tidak tahu kalau yang namanya fakir miskin di Kabupaten itu benar-benar miskin, bukan mereka yang ngotot mendapatkan jatah berobat gratis JPSBK padahal nyetir mobil pribadi. Menggemukan sapi potong, apapun jenisnya, seperti diuraikan di atas sangat mudah. Tetapi ada catatan untuk sapi impor yang biasanya digembalakan di padang rumput, tenaganya luar biasa besar dan juga liar. Oleh karena itu perlu perkandangan yang relatif kuat dan permanen. Bagaimana mereka bisa menyiapkan kandang yang representatif ?

Dua faktor itu adalah sisi lemah analisis Departemen Sosial yang mudah terlihat. Bila dana ini dipaksakan untuk diterima Kabupaten Indramayu maka beberapa gelintir orang akan sangat diuntungkan atas insentif yang terselip sementara para fakir miskin makin merana.

Peternak Truwali dan Haurkolot adalah sekolahan khusus penggemukan sapi potong. Selama ini mereka terlupakan atau sengaja dilupakan. Belajar sukses sapi potong tidak harus pergi jauh-jauh dengan hamburan dana yang tidak sedikit, ilmu itu sudah di tangan. Tinggal pilihan pertanyaan yang harus dijawab, “Apakah kita mau berbuat dengan ilmu itu ?” atau “Apakah kita terus berbuat tanpa ilmu ?”

Kalau pertanyaan pertama yang dipilih, Yahudilah jadinya. Tidak berbeda dengan Nasrani pula bila alternatif kedua dilakukan tanpa koreksi sama sekali.

PESAN SPONSOR======================================================

Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :

http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto

========================================================TERIMAKASIH

POSISI TAWAR PEMDA DALAM USAHA PENGGEMUKAN SAPI POTONG POLA KEMITRAAN

Tulisan tua ini (ditulis 2001) menyebabkan saya dianggap sebagai “orang asing dengan sejuta cela” oleh seorang Kepala Dinas dimana saya bertugas. Soalnya, pertengahan tahun 2005 saya bertugas di Dinas Pertanian dan Peternakan, beliau masih memimpin lembaga yang mengajukan proposal spektakuler itu.


Di era otonomi daerah ini maka berbagai upaya harus dilakukan oleh Pemerintah Daerah untuk meningkatkan PAD. Bagi Indramayu, potensi penggemukan sapi potong merupakan usaha yang patut dilirik. Bagi masyarakat pelakunya usaha ini bukan hanya dalam waktu yang relatif singkat dapat menghasilkan uang yang relatif banyak tetapi juga hampir tanpa resiko. Sedangkan bagi pemerintah daerah secara langsung maupun tidak akan mendorong peningkatan PAD.

Secara teori usaha ini sangat menguntungkan, praktek yang telah lama dilakukan masyarakat juga membuktikan kebenarannya. Petani yang menggunakan modal sendiri, hanya dengan memelihara satu ekor setiap bulannya bisa mengantongi Rp. 300.000,-. Mereka yang menggunakan jasa perbankan, bukan hanya dapat membayar cicilan hutang tepat waktu tetapi juga kelebihan yang relatif cukup dibanding usaha pertanian yang lain. Oleh karena itu maka tidak mengherankan apabila usaha ini dikembangkan di Kabupaten Indramayu maka bisa menyumbang PAD minimal 600.000.000,- (enam ratus juta rupiah) seperti diekspose Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Indramayu. Namun keikutsertaan pemerintah daerah langsung sebagai mitra keuangan ini perlu dikaji ulang dan diwaspadai.

Pola seleksi yang ketat seperti dilakukan perbankan akan sangat banyak membantu kesuksesan program ini namun menjadi tidak lagi aman apabila kita menyadari bahwa sudut pandang masyarakat akan dana pemerintah sangat berbeda dengan pemikiran mereka bila berhutang murni pada bank. Sekalipun mekanismenya sudah diatur sedemikian rupa sehingga seolah-olah hanya terdapat peran masyarakat dan perbankan, namun kemungkinan besar masyarakat akan terprovokasi oleh pihak tertentu sehingga sikap mereka akan memandang sebelah mata tanggungjawab pengembaliannya. Pandangan mereka tidak akan bergiming bahwa modal yang dipinjamkan sama dengan KUT, yang tanpa dikembalikan pun akan hangus tertelan waktu.

Kalau semata-mata untuk menyumbang PAD, dengan perhitungan sederhana apabila dana yang harus ditanamkan pemerintah daerah sejumlah Rp. 5 milyar maka dengan bunga bank 1 % perbulan saja maka dalam satu tahun jumlah Rp. 600.000.000,-/tahun untuk PAD akan mudah didapat tanpa harus kerja keras dan menanggung resiko. Oleh karena itu usaha ini menjadi sangat rentan dan penuh resiko.

Alternatif bandingan untuk menge-bank-an dana itu tentu saja menyalahi aturan yang berlaku, dikemukakan hanya sebagai pembanding. Hasilnya cuma Rp. 600.000.000,-/tahun, mungkin paling tinggi. Namun uang rakyat yang Rp. 5.000.000.000,- tetap utuh, tanpa merugikan siapapun.

Sebaliknya, mengingat berbagai kegiatan sub bidang peternakan selama ini, khususnya dalam pengelolaan dana yang dibantukan kepada masyarakat maka proposal Kepala Dinas Pertanian jika dilaksanakan sesungguhnya bukan hanya menghasilkan Rp. 600.000.000,-/tahun. Bisa lebih, bahkan sangat lebih banyak. Resikonya cuma satu, uang yang di tangan masyarakat itu sangat repot kembali. Hanya sedikit, paling besar sama seperti semula, Rp. 5.000.000.000,- saja !

Oleh karena itu, untuk sementara waktu sebaiknya pemerintah daerah cukup berperan sebagai pembina saja. Baik dalam perencanaan usaha, pembinaan kelompoktani, penerapan paket teknologi dan juga pengawasan baik terhadap keamanan modal yang digunakan maupun kesehatan ternak dan kelanjutan usahataninya.

Namun bukan nilai mati, sebab apabila pola pikir masyarakat sudah berubah positif terhadap dana pemerintah maka hal ini menjadi sumber dana yang sangat potensial.

Catatan :
Pendapat ini merupakan uraian dari Telaahan Staf yang saya buat untuk Kepala Bapeda menanggapi proposal Kepala Dinas Pertanian. Alhamdulillah, dukungan terhadap proposal itu sangat kuat dan segera dilaksanakan. Hasilnya sangat fantastis, puluhan atau bahkan sertifikat tanah anggota kelompok sampai saat ini (tahun 2010) masih disimpankan Bank Jabar karena mereka tidak mampu melunasi hutang-hutangnya !!!

PESAN SPONSOR======================================================

Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :

http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto

========================================================TERIMAKASIH

Senin, 10 Mei 2010

NYAMAN

Belasan tahun lalu, penumpang mencari kenyamanan perjalanan. Ekarang pun sama. Toch, dari dulunya juga sebenarnya seperti itu kok.

”LORENA memang sedang naik daun !” Ujar juru parkir tak resmi di halaman rumah makan Umega Gunung Medan ketika menyaksikan jubelan di pintu bus yang berbanding terbalik dengan penumpang yang baru turun dari Super Executive-nya ANS.
Angkutan umum yang bermarkas di Tajur dekat Kota Hujan itu sebenarnya baru seumur jagung menjelajahi Ranah Minang, tetapi karena keberadaannya dengan AKAP yang selama ini merajai jalan Lintas Andalas maka dalam waktu yang relatif singkat telah menjadi legenda tersendiri. Makin tenar berkat promosi dari mulut ke mulut para konsumen yang menikmati pelayanannya ataupun para pendengar cerita yang tidak pernah mau kalah untuk dapat lebih banyak lagi bercerita.
Tidak mengherankan kalau kepopuleranya mampu menembus ruang dan waktu. Bahkan dalam sebuah rumah tua di Piliang Labuah – Lima Kaum – Tanah datar, para ibu setengah abad-an tak mau ketinggalan membicarakan kenyamanan yang didapat bila ke Jakarta dalam pelukan LORENA. Padahal di Batusangkar sama sekali tidak terdapat billboard perusahaan bus tersebut, bahkan di terminal antar kotanya sekalipun. Untuk mendapatkan tiketnya harus ke Padang atau terminal Solok yang jaraknya tidak dapat dibilang dekat.
Pelayanan AKAP dengan motto Sabar-Sopan-Senyum ini telah mengikis anggapan awam, seperti obrolan para awak bus Sumatera Barat yang sangat yakin dan terpercaya bahwa para pelanggan fanatiknya tidak akan kepincut ke ain hati.
Bila dititik lebih jauh, maka keberhasilan bus bergaya interior Italia ini terletak pada trik-trik pelangganya yang dapat mengubah perjalanan panjang menyusuri kepadatan labar jalan bebas hambatan sampai ke pelabuhan dan liku-liku Bakauheni – Padang yang membosankan menjadi terasa nyaman.
Akankah AKAP urang awak terancam? Tidak perlu merasa demikian, bahkan kedatangan competitor dari tanah seberang ini hendaknya menjadi pemicu untuk terus berbenah diri, mungkin selama ini ada yang terlupakan diri sebagai raja lapangan. Bahkan tergodanya urang awak kepada warga baru itu hendaknya menjadi bahan koreksi yang selama ini mereka selalu dapati.
Tidak dapat dipungkiri bahwa selama ini bus-bus lokal memang sudah berusah menyesuaikan diri dengan kehendak konsumen yang semakin menyadari arti sebuah kenyamanan dalam perjalanan. Untuk dapat nyaman dalam bus ekonomi tersedia jumbo 2-2 dengan recleaning seat dan sedikit longgar daripada berdasarkan dalam kepadatan kursi 2-3. demikian juga sarana penunjang seperti televisi, cassete bahkan VCD sebagaian perusahaan neenjadikannya sebagai bahan pemikat, sekalipun lebih sering dalam perjalanan mereka tetap membisu tak pernah menjumpai penumpang kecuali tampangnya yang sudah tak pantas sebagai panajngan.
Tetapi apakah dalam perjalanan panjangnya mereka mendapatkan kenyamanan yang sangat diharapkan? Banyak yang menyatakan setuju dan berkata dengan semangat 45, ”Ya !” Tetapi tidak sedikit pengalaman menggeliti yang sangat menarik untuk diotak-atik.
Penumpang bus biasa memang harus terbiasa kalau tumpangannya bejalan dut-dutan dan awak bus belepotan akibat buka bengkel sepanjang jalan. Demikian juga harus maklum kalau banyak berhenti ditengah jalan karena kondektur menjajangkan kursi dan bangku cadangan. Soal kenyamanan, tak perlu dibayangkan hanya bisa dirasakan.
Naik bus yang jelas-jelas memajang EXECUTIVE CLASS di kaca depannya, tidak jarang harus terasa dieksekusi. Bahkan sakit hati dengan banyaknya penumpang jalanan yang hanya merogoh kocek setengah harga, karena yang demikian sudah membudaya. Kondisi armada yang tak lagi prima sering kali menjadi kendala tambahan.
Perjalanan dengan bus SE pun sering diluar harapan, Susah Enak. Bengkel jalan tetap kerap mewarnai. Bisa dimaklumi kalau sekedar ganti ban yang memang tak dapat dihindarkan, tapi kalau awak bus jadi juru mesin yang belepotan? Lebih menyedihkan kalau deru mesinya empot-empotan sehingga dijalan datar sangat mudah ditilap bus ekonomi atau bahkan sangat menyakitkan ketika di tanjakan dapat gilas truk tua penuh muatan. Mana tahan ....
Disamping itu keramahan awak bus yang seharusanya ditunjukan sering dilupakan. Sehingga penumpang merupakan orang asing selama perjalanan dan harus menyadari dengan sepenuh hati bahwa mereka hanyalah berkedudukan sebagi orang yang menumapang pada tempat duduk yang di miliki awak bus. Wajar dong kalau mereka sangat angkuh. Namanya juga penumpang, ya ... cuma numpang sekalipun bayar uang! Hubunga diantra keduanya terjadi semata-mata hanya karena selembar uang.
Sedemikian remeh arti penumpang, sehingga merekapun harus menahan hati ketika awak bus dengan seenaknya berhenti di tengah toang yang jauh dari perkampungan dan bongkar membongkar sepeda motor agar bisa dikemas dan masuk dalam bagasi. Dan sekali lagi harus berbesar hati ketika mereka merakitnya kembali di terminal tujuan sampai sepeda motor di kemudikan. Kesabaran luar biasa, termasuk didalamnya tidak melaporkan kepada pihak berwajib tentang semua yang disaksikan. Tanpa sadar bahwa kesabaran mereka yang berlebihan pun sebenarnya kesabaran semu yang merupakan bagian dari tindak kriminal.
Kejadian-kejadian tak mengenakkan yang akan cepat tersebar tanpa diiklankan ini terjawab dengan kehadiran bus dari Jawa. Awak bus berseragam yang ramah pada setiap penumpang tanpa disertai alih profesi jadi juru bengkel jalanan. Selain laju kendaraan dengan kondisi prima yang dapat diandalkan juga pemberhentian hanya ditempat tertentu yang telah ditentukan. Yang paling menentukan adalah kekonsekuenan manajemen dalam mengiklankan kelas busnya sehinggayang dinikmati penumpang sesuai dengan yang dibayarkan.
Adegium lama mengingatkan, semut diseberang lautan jelas kelihatan sedangkan gajah di pelupuk mata tak kentara. Demikian juga kesenyapan Terminal Bareh yang merupakan pintu gerbang awal penyebrangan penumpang keberbagai tujuan di Ranah Minang dan kelenggangan Terminal Lintas Andalas ketika melam menjelang (tentu akan jauh lebih mati lagi keadaan Terminal Aie Pacah bila nanti difungsikan lagi). Yang terbaca justru gemerlap Rawamangun sekalipun malam telah gelap ataupun senandung malam sekitar Pulo Gadung.
Bertahun-tahun bus AKAP urang awak mencapai tujuan dalam gelap. Tidak akan menjadi masalah kalau tujuannya Jakarta, tetapi kalau sebaliknya? Tidak ada jalan lain kecuali harus menunggu matahari muncul kembali di lorong sepi dengan segala resikonya atau merogoh kocek tambahan untuk menumpang tidur atau mencarter omprengan yang bisa lebih mahal daripada ongkos ribuan kilometer perjalanan. Padahal Jakarta – Padang dalam keadaan normal dapat ditempuh dalam 24 jam.
Kehadiran bus yang menjamin sampai ke terminal antara yang masih melayani berbagai tujuan tentu sangat didambakan, sekalipun harus membayar di atas harga rataan. Ironisnya, justeru pengusaha Jakarta yang terlebih dahulu membaca peluang pasar yang demikian.
Kenymanan yang didapakan selama dalam perjalanan sampai ke tempat tujuan adalah dambaan setiap penumpang. Mau tak mau AKAP urang awak pun harus berbenah bila tidak ingin ditinggalkan para langganan. Apalagi di masa yang aan adatang, buka hanya LORANA yang akan hadir diantara kita. Pasti akan menyusul AKAP profesional lain, seperti KRAMATDJATI yang sudah mengintai dari Jambi dan Pekanbaru.
Tak ada salahnya belajar dari cara berbenah JUSUF SEKELUARGA yang selamat dari kehancuran usaha AKAP JS Cirebon- Bandung-nya setelah berusaha ati-matian untuk tampil beda dalam melayani enumpangnya. Demikian juga SINAR JAYA yang hampir saja kejayaannya tidak bisa lagi bersinar kalau saja manajemennya tidak merubah hauan sehingga kenyamanannya dikenal bukan hanya diberikan keada para langganan tetapi juga menjadi milik para awaknya.
Pengalaman lain adalah runtunya SETIA NEGARA yang sempat menjadi raja jalanan akibat ditinggalkan para langganan setelah mereka harus berdiam diri dalam bus yang selalu dipotong SAHABAT dari kanan dan kiri jalur tengkorak menuju Jakarta. Demikian juga tenggelamnya legenda SARI BUKIT MULYA dalam lenggok-gontai Cadas Pangeran yang juga dibabat SAHABAT yang tidak mau bersahabat.
Keberhasilan manajemen SINAR JAYA, kesuksesan JUSUF SEKELUARGA menunjukkan bahwa masih banyak cara untuk bangkit sekalipun terasa sulit dan dalam keadaan serba terjepit. Kondisi mereka saat itu nyarir tenggelam dari peredaran, JS hanyalah besi tua yang merayap di jalan sangat perlahan. Para penumpangnya hanya bisa mengurut dada ketika deru SARI BUKIT MULYA mengejek dengan kepulan asapnya. SINAR JAA pun tidak lain dari pelengkap pembuat derita para penumpangnya yang tidak tahu sampai tertipu atau kecewa berat tidak termuat dalam badan WARGA BARU yang selalu menderu dan terus melaju.
Tarian lincah manajemen pulalah yag akhirnya membawa SAHABAT yag semula jagoan merambat dan merayap sangat lambat serta tersendat-sendat menjadi raja jalanan seanteri Jawa Barat.
Bukan berarti manajemen yang naik daun boleh lupa diri, beajar dari sua-duka AKAP urang awak selama ini tidak dapat dihindari. Mulai dari otak-atik mesin di perjalanan sampai angkut-mengangkut para diplomat jalanan sehingga harus menyediakan kursi cadangan. Bahkan pemanfaatan agen-agen perjalanan yang banyak berperan sebagi calo. Hal terakhir sanat sulit dihindari kaena berhubungan erat dengan nasib kocek para awak bus yang sulit tergoda untuk badoncek.
Penyakit yang menyerang kenyamanan penumpang selama dalam perjalanan ii akan terus berupaya menggerogti, sehingga AKAP profesional bukan hanya harus tetap melayani dengan armada yang selalu prima tetapi juga dalam penempanan para awaknya. Dalam menebar agen pun harus super hati-hati kecuali mau ikut-iktan membuat penumpang sakit hati.
Kalau tidak demikian, kemashuran akan segera meninggalkan. Nama besar LORENA bisa loreng dan jadi bahan pertanyaan baru, ”LO, RE-butan NA-ikin penumpang di jalanan ?” Kalu sudah demiian, maka kenyamanan tinggalah impian. Seperti yang terjadi pada ANS yang didamba pelanggan agar dapat Aman Nyaman dan Sampai tujuan sesuai dengan namanya tetapi malah tergores selalu dalam ingatan dan tidak dapat terlupakan karena perjalanan ribuan kilometer terasa Amat Nelangsa dan Sakit hati sampai tujuan.
Bukan berarti AKAP urang awak tidak ada yang bisa bersaing. Armada prima sebagian TRANSPORT EXPRESS yang bisa menembus Ranah Minang ketika senja belum menjelang adalah sebuah contoh nyata. Hadirnya PALAPA TRANSPORT pun patut dapat acungan jempol. Bagaimana dengan yang lain ?
Hanya bersaing dengan cara yag baiklah yang akan membuahkan hasil terbaik. Hendaknya gaya sebuah AKAP yang mengklain kata ”TRANSPORT” sebagai milik pribadinya seperti ermuat dalam berita picisan tidaklah perlu terulang. Bisa-bisa malah terkena gugatan warga Union Jack. Demikian juga pemanfaatan kolom koran untuk menjatuhkan saingan bukanlah cara terpuji, sebaliknya merupakan tindakan yang mat keji.
Pelaku persaingan tak terpuji tak lain adalah mereka yang tega berbuat keji dan perlakuan mereka terhadap penumpang tidak akan berbeda. Pelaku terbaik sesungguhnya hanya akan bersaing dengan cara yang baik pua.
Selamat bersaing.

PESAN SPONSOR======================================================

Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :

http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto

========================================================TERIMAKASIH

DEMO

Demo, demo, semua harus diselesaikan dengan aksi massa. Benarkah ?

Setelah aksi mahasiswa dengan aksi demo-demonya yang tanpa diduga sebelumnya dapat menggulingkan pemerintah Orde Baru yang bercokol begitu lama dan tertata secara profesional maka seperti biasa kita jadi latah, seakan-akan segala sesuatu harus diselesaikan dengan yang namanya aksi masa, demo. Demonstrasi menjadi kunci sukses dari segala upaya.
Tidak ketinggalan para sopir AKDP (Antar Kota Dalam Provinsi) jurusan Padang Batusangkar yang beberapa minggu yang lalu juga menggelar unjuk gigi. Mulai dari mogok mengangkut penumpang yang notabene menjadi sumber hidup dari mereka sendiri, aksi yang agak seram (Menjadi lebih ngeri karena dibesar-besarkan oleh yang mengucapkan) terhadap partner bisnis yang untuk sementara dianggap musuh sampai pamer poster yang isinya tidak pantas sama sekali dibaca siapapun apalagi bapak-bapak yang notabene sedang diminta fungsi perlindungan oleh mereka.
Semua pembaca pasti tahu, masalah yang jadi momok adalah adanya bus ANS yang melayani trayek Padang-Batusangkar. Padahal bagi sebagian pembaca, yang sebagian besar tidak lain adalah konsumen AKDP tersebut, kehadiran ANS justru bak Dewa Penolong dari segala kelebihan yang selama ini ada dalam pelayanan YANTI, APB dan SOVIA. Yaitu kelebihan penumpang sehingga berjejal-jejal bak pindah hidup karena masih berkeringat, kelebihan waktu untuk menempuh dua kota yang jaraknya cuma 110 km, kelebihan perlakuan, mulai dari para calo yang merajai terminal sampai oknum awak bus yang kadang-kadang lupa mengontrol ucapan saat meminta ongkos ataupun dengan penuh kuasa menurunkan penumpang yang tiba-tiba harus menjadi tidak berdaya ditengah jalan karena cuma numpang sampai Padangpanjang karena banyak penumpang ke Padang banyak yang belum terangkut misalnya, dan beberapa kelebihan lain yang selama ini menjadi rahasia antara penumpang saja karena tidak ada alternatif lain kecuali tetap menjadi penumpang!
Kelebihan-kelebihan inilah menjadi bahan-bahan celotehan yang banyak dibicarakan sekalipun ada juga yang mendukung aksi mereka karena katanya Batusangkar belum siap menerima oto gadang. Supir-supir jurusan lain, Bukitinggi-Batusangkar misalnya tidak semua setuju aksi mereka. Ada yang menganggap merugikan diri sendiri karena dengan mogok otomastis pemasukan uang untuk dapur juga macet, ada yang menuduh mereka sebagai biang keladi perpecahan persahabatan atau bahkan persahabatan antar awak angkutan disamping ada juga menganggap aksi mereka sangat positif untuk kehidupan di kota Batusangkar yang mereka anggap terlalu dini memasuki perusahaan bus bonafide.
Adapun tanggapan yang ada dan dari siapapun datangnya serta bagaimanapun akibatnya baik terhadap penumpang langganan ataupun pengusaha beserta awak busnya, yang jelas, penikmat untung besardari seminggu mogoknya AKDP Batusangkar – Padang adalah siapa lagi kalau bukan pengusaha travel yang kebanjiran pemesan.
Dari poster yang masih pantas dibaca, misalnya KAMI BELUM SIAP BERSAING, sesungguhnya harus dibaca lagi oleh para demonstrasi itu sendiri. Terus bertanya lahi-lagi bertanya pada diri sendiri,”Kapan bis a bersaing?” Tetapi sebelum menjawab coba berfikir dulu. ”Sejak kapan sich kamu belum siap bersaing?” Tentu saja sudah terlalu lama dan masih sangat lama untuk bisa bersaing serta tidak akan mampu untuk berival. Karena selama ini tidak ada upaya untuk berbenah diri. Dari hari ke hari, dari minggu ke minggu bahkan dari tahun ketahun pelayanan seperti itu-itu juga. Penumpang itu, penumpang yang sekedar menumpang, penguasanya adalah yang menjalankan bus, para awak bus yang tentu saja dibawah kendali pemiliknya.
Jadi, penumpang sebagai orang yang cuma nebeng harus pasrah dan tunduk pada aturan mereka. Suatu konsep pemasaran yang sangat lama sudah harus ditinggalkan karena sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman. Konsumen adalah Raja, pepatah yang belaku sekarang. Bukan pengusaha yang raja. Sekaya-kayanya seorang pengusaha dia adalah seorang hamba, yang mengumpulkan sekeping demi sekeping pemberian dari sng majikannya bukan pengusaha itu sendiri tetapi Sang Raja, sedangkan Sang Raja itu adalah konsumen dalam konteks ini adalah penumpang yang sudah seharusnyalah mendapat pelayanan layaknya sebagai seorang raja setidaknya pelayanan yang patut bagi orang yang turut memberikan kehidupan bagi nyala api dapur pemilik angkutan.
Terlalu lamanya bercokol menguasi pelayanan penumpang Batusangkar-Padang menyebabkan pengusaha dan awak bus terlena, lalai mendudukkan penumpang sebagai orang yang penting bagi mereka. Sehingga pelayanan jadi sangat memprihatinkan YANTI menjadi angkutan YA N TIdak (baca: Ya end Tidak) alias ya klo mau numpang dan tidak perlu naik kalau tidak mau alias tidak ada pilihan lain di APB penumpangpun sikut kanan sikut kiri, berjejel-jejel mencari celah dibawah ketiak tetengga seperti dalam Angkutan Petai dan Bengkuang dan perjalanan seratus kilo meter lebih menjadi perjalanan yang memakan waktu lama, jauh dari janji-janji calo dan awak bus akan secepatnya pergi dan cepat mencapai tujuan SOVIA (Baca: SOk VIA (lewat) tol.
Nah, kalau sudah demikian parah pelayanan yang diberikan apa tidak salah mengapa mereka berdemo yang katanya menuntut keadilan? Sebab yang seharusnya berdemonstrasi adalah para penumpang yang selama ini manut terus dengan perlakuan awak bus. Apakah para pengusaha dan awak bus tidak pernah berfikir bakal didemo penumpang yang merasa tidak mendapat pelayanan yang layak senilai dengan uang yang mereka bayarkan?.
Di akhir tulisan ini, tak ada salahnya kita petik beberapa hikmah dari masuknya ANS ke kota Budaya, antara lain membangun para pengusaha dan awak bus yang telah terlalu lama terlelap dalam tidur panajng dalam melayani penumpang serta membuka mata penumpang itu sendiri akan pentingnya nilai uang yang harus dibayar awak bus dengan waktu tempuh dan kenyamanan sekalipun uang tidak selalu dapat membeli semu itu. Yang lebih penting adalah membuka jalinan promosi kota kita ke luar daerah yang akan sangat mudah di lakukan ANS via cetak karcis misalnya, bahwa Sumatera ada kota Batusangkar. Karena sekalipun pusat Kerajaan Minangkabau berpusat disini, jarang yang tahu kecuali pusat Kerajaan Minangkabau ya....di Pagaruyung yang ada di Ranah Minang di Provinsi Sumatra Barat sekarang.
Tidak lupa ada ajakan untuk para pengusaha dan awaknya mari berbenah diri. Kapan lagi, sebab bila tidak akan mengahadapi tantangan zaman yang makin menggelebu jangankan bersaing dengan yang lebih dahulu memasuki pasar luas seperti ANS misalnya, bila terus menerus jalan ditemapat akan sangat beruntung kalau cuma ditinggalkan teman tanpa terinjak-injak. Dan demo bukanlah selalu menjadi cara yang baik untuk mencapai tujuan. Apalagi disrtai dengan poster-poster yang nadanya menjatuhkan martabat orang yang mau diminta bantuannya coba kita renungkan bersama, bagaimana kalau anak kita minta dibelikan speaker tapi dia maki-maki kita dulu sebelumnya. Kira-kira kita mau kasih uang? Jangan-jangan malah dengan speaker itu ia makin galak mencaci maki.
Lantas bagaimana caranya? Layani penumang dengan sebaik-baiknya. Manfaatkan potensi yang ada, jalan Padang-Batusangkar yang berkelok dan sempit misalnya. Bukankah jalan yang demikian menguntungkan AKDP untuk berlenggak-lenggok memamerkan kelincahan tubuh mungilnya? Dengan demikian waktu tempuhpun akan menjadi lebih pendek. Suatu keunggulan tersendiri. Bukankah masyarakat sekarang makin menyadari pentingnya ketepatan waktu? Asalkan jangan sampai keunggulan ini dinodai sendiri dengan menambah waktu untuk ngatem dan maju mundur di terminal misalnya.
Kehadiran ANS bukanlah monster yang siap menerkap AKDP tetapi mitra berusaha yang sangat baik. ANS memang datang dengan banyak keunggulan tetapi bukan berarti tanpa kelemahan, sama seperti AKDP yang tidak selalu penuh kekurangan. AKDP dan ANS bisa saling melengkapi. Penumpang yang ingin santai diperjalanan bisa pilih ANS namun kalau memburu waktu AKDP bisa jadi pilihan untuk mengejarnya.
Semua tergantung kepada pengusaha dan awak bus AKDP sendiri. Yang jelas, sebagai penumpang, kami tidak akan meninggalkan kamu kalau kamu tidak meningalkan kami. Selamat berbenah dan semoga sukses!

Tulisan ini dibuat sebagai bukti rasa persaudaraan penulis terhadap saudara-saudara kami pengusaha awak bus di Ranah Minang, dimana kita harus saling mengingatkan karena pada dasarnya kita saling membutuhkan. Kalau ada saran dan sumbang yang menyengat mohon maaf dengan penuh rasa hormat.

PESAN SPONSOR======================================================

Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :

http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto

========================================================TERIMAKASIH

PRIT

Temanku bilang, sekarang semua sudah berubah. Syukurlah, awal reformasi, ”Prit Ceban” sekarang ”Prit Goban !”

Prit adalah mahluk unik dengan gelar yang selalu berkembang, tumbuh seirama kesejahteraan masyarakat dan goyang dollar Amerika Serikat. Sebelum krismon, nama lengkap prit goceng. Dulu sempat bergelar seceng setelah sebelumnya menyelesaikan program gope. Dulu-dulunya, bisa cepe atau gope ataupun jigo atau malah masih berakhiran tun-tun-an yang sama sekali tidak bisa dipakai sebagai pedoman.
Beberapa tahun lalu namanya hampir berubah menjadi prit goban atau bahkan prit cape-ceng atau bahkan prit cetiau berkat restu Undang-Undang lalu lintas yang lebih sering ditayangkan sekilas dan hanya dimengerti kalangan terbatas sehingga sangat ampuh sebagai sarana penindas.
Prit ceban, jangan mencoba mencari padanan kata di kamus lengkap Hasan Sadely atau Kamus Besar Bahasa Indonesia Lukman Ali ataupun Jus Badudu yang kelewat tebal. Tidak akan ketemu, sekalipun keduanya sudah sangat akrab dengan telinga masyarakat Indonesia.
Prit adalah prit, bunyi tetap peluit yang biasa jadi senjata polisi untuk mematahkan niat lawan. Mengendor urat gas yang lebih sering tegang sekalipun tidak pernah dikasih warga, mengingat wajah seram untuk tidak asal tabrak rambu mati, awal dari proses lanjutan yang sering harus berakhir dengan campur tangan Srikandi Tjut Nyak Dien, lembaran ceban.
Prit ceban seperti banyak dilakukan sungguh beralasan, seperti yang dituturkan seorang pengeprit di jalanan. Soalnya, untuk bisa prit-mengeprit itu orang tua mereka sempat rela nggak makan makanan tambahan, sawah digadaikan dan bebagai tindakan dilakukan demi masa depan anak dan kemenakan. Kalau sudah demikian, bagaimana lagi, kecuali ambil tindakan pengamanan untuk merintis jalan pengembalian. Ironisnya, prit ceban dengan terpaksa dilakukan karena harus mengejar sinkron.
Prit ceban boleh saja dianggap sebagai hujatan yang menyakitkan bagi keluarga besar polisi negeri ini, tetapi itulah kenyataan yang sudah terjadi dan sudah bukan rahasia lagi dalam suatu razia di jalan raya. Resmi atau tanpa surat perintah komandan, pengendara tidak perlu bertanya karena yang resmi bisa jadi langkah kunci untuk menang remis dan surat perintah komandan bisa diplesetkan menjadi surat perintah komandan... soal pengisih titik-titik, sangat beraneka, tergantung kebutuhan. Bisa juga kebutuhan akan sembako atau se-hisap rokok karena saku berkokok.
Prit sudah sangat melekat dengan kehidupan kepolisian yang sudah lebih dari lima puluh tahunan. Tumbuh berkembang sesuai perkembangan zaman seperti halnya polisi negeri ini yang sering mempraktekkan teori demokrasi sebagai sing gede diemek, sing cilik dikerasi (yang besar dipegeng, yang kecil digencet).
Prit ceban juga jadi alasan untuk tidak mensyukuri gaji bulanan yang rutin didapatkan. Padahal kalau dihitung-hitung sudah cukup lumayan. Apalgi kalau ditambah bergagai tunjangan yang dapat melengkapi kebutuhan keuangan.
Prit bukan hanya mahluk yang berganti gelar dan wajah samaran, tetapi juga selekif sehingga terkesan sering pilih pandang bulu. Teman instruktur P-4 pernah mengalaminya, ketika di-prit dari kedai rokok (rupanya sumber kerindangan adalah bayangan dinding seng). Tunjukin salah sana salah sini, akhirnya UUD juga. Ujung-ujungnya damai dan mungkin akhirnya akan mengarah kepada kepanjangan yang lain. Untungnya, instruktur itu baru saja memberikan materi almamater yang mengasuh mereka dengan banyak teori yang kini sudah banyak berceceran sepanjang jalan atau bahkan telah dilupakan. Ditunjukan surat resmi bercoret-coret komandan. Sekali lagi berlaku UUD, ujung-ujungnya dibebaskan.
Prit ! Itu zaman dahulu, paradigma lama, sebelum reformasi bergulir. Sebelum polisi memisahkan diri dari ABRI. Sebelum mereka memproklamirkan diri untuk lebih mandiri.
Prit mulai ditiup keras, mulai 10 April lalu memang polisi keluar dari ABRI. Kembali bertekad jadi pelindung, pengayom masyarakat tanpa mengenal pendekatan kekuasaan. Back to basic, sesuai dengan fungsinya dulu. Sebelum di paksakan menjadi angkatan yang kehabisan kekuasaan. Sampai ada anekdot, bukankah darat sudah dibooking Angkatan Darat, demikian juga Angkatan Laut menguasai ombak samudra dan juga udara bebas dicarter Angkatan Udara? Dimana kekuasaan polisi? Di ketiga wilayah kekuasaan angkatan. Sesuai dengan namanya, polisi..... si Darat, si Laut, dan si Udara.
Prit juga untuk penghargaan kepada jago tembak jantung hati yang bikin lawan tersungkur mati. Karena itulah yang membedakan para angkatan dengan polisi, menembak bukanlah selalu untuk membunuh tetapi membikin lumpuh, hanya melukai sehingga sasaran yang tepat adalah tangan dan kaki.
Prit terhadap pembuatan yang selalu menunjukan organisasi sebagai bagian dari korps kepolisian. Sebab polisi lahir dari rakyat, hidup dengan uang rakyat dan pada akhirnya harus kembali lagi merakyat.
Tamtama, bintara ataupun perwira kepolisian adalah bagian dari masyarakat yang harus menyadari arti penting bahwa di negeri demokrasi ini rakyat adalah sumber segalanya, seperti kata orang Singapura, ”Our people are, and always will be, our most precous reources.” ( Rakyat kita adalah, sumberdaya kita yang paling berharga ).
Prit! Citra jelek polisi dimata masyarakat harus segera diakhiri. Stop perkembangan noda hitam kepolisian yang sering menjadi kebanggaan sekaligus pembatas dengan lingkungan. Loyal keatas, dibawah tindas. Target dan upeti adalah peti mati yang dipersiapkan sendiri, kecuali tanpa tekad untuk makin mandiri karena masyarakat sudah semakin mengerti dan berani, berkat reformasi disana-sini.
Prit keras untuk polisi didekatkan dengan kolusi, yang harus dimulai dari koreksi diri. Hilangkan watak kolu ngepusi (tega menipu) terutama terhadap diri sendiri. Muaranya adalah pada mentality yang berjalan dalam rel public morality (etika sosial). Tanpa itu, polisi hanya akan jadi biang polusi.
Prit, minggir. Minggirnya AKPOL dan AKABRI misalnya, hendaknya bukan mengurangi jumlah mata pelajaran yang menurut mantan Gubernur Akpol Kusparmono Irsan tidak dibutuhkan oleh polisi, tetapi juga menuntas habiskan calon sisiwa yang masuk melalui jalur kiri. Kalau saja masih terus terjadi, maka setelah hengkang dari kawah candradimuka juga akan tega ngapusi.
Demikian juga penanaman public morality harus lebih ditekankan sehingga para lulusannya sadar bahwa segala jenis penyimpangan selalu diiringi dengan biaya sosial tidak murah, dan yang menanggungnya adalah rakyat yang tidak lain ibu kandung dari polisi itu sendiri. Hal ini bukan hanya sangat diperlukan para siswa, tetapi juga pelajar yang menempuh karir kepolisian via tamtama ataupun bintara. Toh mereka semuanya pada akhirnya kembali kemuara sama merakyat,
Prit! Hentikan organ kekuasaan sebagai senjata, jangan jadikan kokang sebagai senjata panglima. Tetapi polisi harus menjunjung tinggi moralitas dan etika kalau mau sejalan dengan petuah Jendral Douglas Mc Atur ”Old soldier never die, they just fade away”. Kecuali sudah bertekad untuk tidak akan kembali kepada masyarakat setelah habis masa tugas nanti akibat rakyat tidak menghendaki.
Prit! Bersiaplah kini untuk di-prit pihak lain. Terbuka menerima saran dan pendapat untuk kemajuan dan kemandirian kepolisian yang dicita-citakan.
Dengan membuka lebar-lebar pintu kritik, telah mengajak masyarakat turut menjadi pemilik.
Prit!. Viva Polri dan selamat hari Bhayangkara.
Prit, Prit, Prit !

PESAN SPONSOR======================================================

Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :

http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto

========================================================TERIMAKASIH

KAMBING HITAM

Kambing, kambing, kambing, setiap saat negeri ini selalu perlu an memerlukan yang namanya kambing hitam.

Semua orang kenal kambing, sekalipun sering keliru dengan saudara dekatnya domba. Namun mereka yang sudah pernah belajar sedikit tentang peternakan akan tahu perbedaanya, punya jenggot bagi yang jantan dan ekornya mencungak keatas yang tampak jelas apabila dilihat dari belakang, tertutup bulu licin tersram minyak alami dengan bau khas menyengat yang selalu mengkilatkannya.
Seperti halnya domba, ada yang berbulu coklat, putih ataupun hitam. Bahkan yang terakhir memegang rekor karena jumlahnya dibantu dengan antrian kambing jadi-jadian.
Kambing termasuk makhluk yang suka beramal. Selalu mengikhlaskan namanya dicatut pihak manapun, mulai sesama hewan sampai manusia yang sering mengaku makhluk ciptaan Tuhan sebagi makluk paling sempurna sekalipun paling doyan menurunkan derajat, atau mungkin hanya menunjukan jiwa sosial mereka dengan merndahkan diri sebagai rasa toleransi terhadap makhluk lain?
Keistimewaan kambing memang patut dicatut. Serat kenyalnya patut dipuji sekalipun banyak yang harus menghindari anjuran Bu Dokter, kelincahan dan kelihaiannya panjat-memanjat patut di acungi jempol untuk kaki empat sebesar ukuran badannya, demikian juga kemampuan si jenggot nongkrong di pundak lawan jenis sering membuat manusia risih tapi iri dan kepincut ingin juga nyatut dan menirunya, sekalipun belum pernah di beritakan bahwa pria mampu menyaingi kehandalan bandot yang sanggup main 32 babak sehari semalam.
Kadang ada untungnya dicatut, terutama oleh pengipas bara. Sate kambing yang banyak dijual di seantero Jakarta misalnya, sekalipun di etalase disertai karkas bergantung plus kepala kambing lengkap dengan jenggotnya, bagi yang mengerti akan segera tahu kalo yang dimakan tidak mengandung minyak sengak khas kambing. Memang tidak semua begitu, namun banyak karkas yang bergantung dan daging cacah yang ditusuk-tusuk itu memiliki domba yang tentu berbeda dengan judul cerita.
Manusia Indonesia lebih sering lagi mencatut karena propesi sebagai plagiat masih cukup terbuka lebar. Apalagi kambing tidak pernah mendaftarkan hak kehitamannya di Biro Hak Paten swasta yang mulai bermunculan. Tidak heran yang pencatut kambing lebih banyak yang bukan mamaliasekalipun jagoannya sama berjenggot, namun jari kaki demapnnya lebih sempurna sekalipun yang sebelah kiri kebahagian menyetuh ampas buangan. Tetapi sering merasa beberapa tingkat lebih tinggi sekalipun tidak hanya insting, lebih suka nyate walaupun sekali-kali juga disate sesamanya dan berbagai keutamaan lain yang lebih sering hanya dikumandangkan ayat suci dari pada diamalkan sehingga tidak sedikit martabat mereka yang terlaknat daripada mahluk yang bernama kambing.
Sebagimana yang dibanggakan, mahluk yang sempurna tentu tidak sembarang catut. Tidak mengherankan kalau dalam aliran masa kehidupan sering bermunculan kambing-kambing pilihan. Bukan kambing sembarang kambing, hanya kambing hitamlah yang sering jadi obyekan. Tidak jarang mereka juga terpaksa ditangkap basah pada saat malam gulita kecebur lumpur kolam kelam penuh polutan di tengah hutan nan tanpa kebutuhan.
Kambing-kambing dalam berbagai warna banyak bermunculan, sedari zaman nabi Adam masih sendiran. Istimewahnya yang hitam lebih dominan dari hari ke hari.
Sengkon dan Karta adalah dua makhluk mulia yang sempat menderita setelah lelah melewai lika liku laki-laki perjalanan panjang yang harus dilalui dan akhirnya terpaksa pasrah disihir menjadi kambing hitam. Makan, minum dan tidur gratisdi hotel prodeo. Mereka berdua adalah bandot jadi-jadian yang sengaja dibikin untuk menyelamatkan yang mau selamat sekalipun mesti salah alamat, meratap di balik terali besi yang sama sekali bukan atraksi ilusi David Copperfield.
Manusia memang suka kambing, terutama yang hitam. Tidak mengherankan kalau masyarakat pun banyak yang rela dan tidak sedikit yang suka bila gadis cantik pujaannya disulap menjadi kambing hitam. Yurike Prastika yang sedang praktek sempat berubah kulit sebagai tumbal produsr film tanpa teks yang sudah kehabisan ide cerita sampai-sampai kualat gara-gara berani nyerempet kehidupan sangat pribadi Nyi Roro Kidul, senyum ceria Ria Irawan juga sempat tak lagi menawan ketika sempat diberitakan akan tega meninggalkan pengemar karena ingin hidup di bulan namun pesawatnya tersangkur. Beruntung masih nyangkut di bulan-bulanan sebagai imbas seorang kawan. Banyak lagi cewek lain yang telanjur di jerat sesama dalam kandang embek, termasuk Zarimah yang jari-jemari gemulainya lengkap lima. Bahkan yang disebut terakhir ini, sekalipun banyak yang mengelarinya Sang Ratu tetap saja harus menikmati hari-hari berjubah biru di luar shooting sinetron atau ... akibat sulap Mr. Robin yang salah sasaran?
Namun karena kelamnya malam, tidak semua kambing hitam yang terjerat harus sekarat seperi Karta ataupun mendekam lama di kandang situmbin seperi Zarima. Edy Tanzil adalah contoh kambing yang sangat lihai melumuri tubuhnya dengan berbagai jenis dan merek minyak-minyakan sehingga bukan hanya baunya yang sudah tidak karuan tetapi juga licin bulu alaminya bukan main dan dengan mudah aji belut putih warisan titisan Dewa Korup diterapkannya.
Kepopulerannya pun lenyap dan senyap bersama sirnahnya harta negara kaya raya ini dan cukup dengan kalimat sim salabim berubah wujudlah semuanya itu menjadi beban hutang rakyatnya.
Kambing hitam kadang bikin repot pandangan, Tan Hok Ling yang sekarang berjubah putih dianggap sebagai biang dari massa yang mengamuk, menjarah dan membakar hangus griya Oom Liem, kelihatan hitam. Apalagi dunia yang dulu diguleti Anton Medan itu memang hitam.
Kambing-kambing hitam berkeliaran. Kambing hitam pun bukan hanya hak milik para madani, apalagi belum dipatenkan di paramadina. Kasus penculikan aktivis meluluh lantakkan karir sang kambing hitam yang berbintang-bintang. Demikian juga penembakan mahasiswa Trisakti diawal gejolak reformasi juga tidak mau ketinggalan kereta. Sate kambing bukan hanya idola orang sipil, kelezatannya bisa dinikmati semua orang. Kecuali bagi yang sudah di-warning si jantung-mati.
Sejak dulu kambing tidak pernah pandang bulu, kalau sudah saatnya tiba pasti bandot akan memenuhi kewajibanya tanpa pilih-pilih. Kambing hitam pun demikian, lebih-lebih karena memang bulunya jarang ditampakkan. Sehingga orang nomor satupun bisa dibidiknya. Kegagalan Orde Lama misalnya sempat menghitamkan jasa Bung Besar sekian lama, demikian juga keruntuhan masa berikutnya melegamkan kulit Anak Desa. Bagaimana seterusnya? Mudah-mudahan tidak demikian, sebab yang berbuat bukan kambing hitam tetapi oknum manusia yang paling demen mengatasnamakan kambing kepada sesama, patut di curigai.
Kambing-kambing yang sebagian berbulu hitam, damai di kandang peternak, dijual dipasar dalam tangan taoke dan menjatuhkan leher di mata pisau jagal, sebagian sempat teriak minta tolong dengan dengan jawaban mantap echo dinding slaughter house.
Kambing-kambing hitam jadi-jadian pun demikian, akankah terus berkembang atau bahkan makin jadi? Sebab paling mudah mendapatkannya sekalipun cahaya matahari telah surup mirip lampu 5 watt, bahkan saat sudah terlalu gelap untuk disebut kelam. Suatu peluang bisnis yang sangat menantang bagi yang suka melanggar pantangan dan ingin berekspresi dengan pentungan.
Sekarang, di saat rumah Allah terbesar di Asia Tenggara porak-poranda seperti judul sebuah berita sebuah harian yang terbit di Barat Sumatra, basar harapan agar yang ditangkap bukanlah kambing hitam. Mereka hanya tahu rumput yang telah disabit dan tidak tahu rakit-merakit dinamit apalagi sekolah BOMB yang tentunya jauh lebih rumit.
Sudah waktunya manusia menunjukan jati diri, tanpa harus malu-malu sehingga tega menutupinya dengan atas nama kambing hitam yang terhormat sekalipun perilakunya kadang kelewat jahat. Tidak perlu merendahkan diri sampai mengibaratkan badan hina bak bintang apalagi direndahkan, dengan berbagai amcaman pula!

PESAN SPONSOR======================================================

Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :

http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto

========================================================TERIMAKASIH

ASPIRASI POLITIK BOLAK BALIK

Seorang Kepala Dinas pernah menggelari saya sebagai Pengamat Politik setelah membaca tulisan ini. ”Lulusan dari mana ?” Tanya beliau. ”Institut Politik Bogor, Pak!” Sebuah jawaban yang ringan itu membuat kami berdua tergakak-galak, sangat bebas. Sebuah kenangan lebih dari dua-belas tahun yang lalu ....

Mengamati perkembangan politik negara kita akhir-akhir ini tidak bisa dilepaskan dari krisis ekonomi yang berkepanjangan yang akhirnya melibas juga kepercayaan terhadap Pemerintah, dan mencpai puncaknya saat presiden kedua yang bercokol teramat lama di singgasananya, tergilas arus reformasi yang dipelopori mahasiswa.
Kejadian yang seperti ini bukanlah yang pertama di republik yang kita cintai, tetapi seperti merupakan ualangan dari masa lalu yang terjadi secara periodik, seiring berputarnya roda kehidupan. Akankah ini merupakn yang terakhir dan dijamin tidak terjadi ualangan yang sama di masa-masa yang akan datang?
MMasa Lalu 1
Melengok ke masa lalu, mulai dari merdeka sampai saat-saat terakhir pemerintahan Bung Besar. Presiden pertama republik ini namun meletakan jabatannya karena atas nama ketidak percayaan pemilik negeri tehadap kepemimpinannya, diikuti sikap pelucutan sikap politik, ajaran dan pemikiran sebangsanya yang tiba-tiba berubah menjadi barang najis yang harus dijauhi. Bung Karno dan segala berbau Penyambung Lidah Rakyat dikubur dalam-dalam di tanah air yang diproklamirkannya.
Nama dan jasa Pemimpin Besar Revormasi dalam membidani kelahiran Ibu Pertiwi dan menjalankan roda kehidupan berbangsa dan bernegara berakhir tragis di tangan bangsanya sendiri. Bahkan karena ualh segelintir orang memanipulasi sejarah dan memutarbalikkan fakta untuk kepentingan pribadi dan golongannya.
Bapak Bangsa ini hanya dikenal sebagai generasi pewarisnya sebagai proklamator bersama Bung Hatta, dan tidak lain tidak bukan hanya seonggok makhluk tua penyakitan tidak beradaya tetapi penuh ambisi, tak tahu malu. Semua terlihat jelas dalam film ”Penghianatan G 30 S/PKI” yang wajib diputar semua stasiun televisi dalam negeri, setahun sekali.
Putera Fajar yang akhirnya diakui juga oleh penggantinya sebagai Penggali Pencasila dasar negara negeri yang diproklamirkannya, terpatri dengan kekuasaan yang penuh korupsi, kesewenang-wenangan, ambisi pribadi dan sgala kebobrokan yang lain.
Adegium lama mengingatkan ”Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama”. Namun akibat kesan yang serba salah dan negatif itu maka mendengar namanya saja sudah sulit didapat sekarang ini, kecuali Soekarno sebagai bagian dari Dwi Tunggal bersama Proklamator Bung Hatta. Universitas Bung Karno berubah menjadi Universitas Pancasila dan banyak lagi usaha penghapusan yang dilakukan pada saat penguasaan baru memproklamasikan Orde Baru dan mengutuk habis-habisan masa lalu yang dinamakannya Orde Lama.

Masa Lalu II
Pengalaman masa lalu yang dianggap salah dan negatif oleh Orde Baru. Orde Baru konsisten dengan ke-Baru-annya dan berusaha memberi pelajaran berharga dalam menjalankan perputaran roda pemerintahan negeri ini ke arah yang lebih baik. Segala yang berbau Orde Lama dihancurkan, kalau masih diperlukan maka diganti dengan yang baru.
Begitulah kenyataannya, perbaikan dan kemajuan pembangunan seprti selalu digembar-gemborkan corong negara tercapai di segala bidang. Kesetabilan politik dan keamanan tidak diragukan tercipta diseluruh penjuru plosok tanah air. Masyarakat adil dan makmur tercapai sudah. Semua merupakan wujud nyata dari koreksi terhadap kesalahan masa lalu, katanya.
Disamping perubahan-perubahan kearah yang lebih baik, ada juga yang berubah wujud bak macan berbulu ayam, nyata-nyata tidak pas tetapi dipaskan. Presiden seumur hidup gaya MPRS diproklamirkan sebagai presiden seumur-umur, pembreidelan partai berubah menjadi fusi partai yang akhirnya disertai penyusupan calon jadi pemimpin baru. Belum lagi korupsi, kolusi dan nepotisme yang sedemikian rapih bak mahluk halus sehingga tak kasat mata. Tidak dapat dipungkiri kalau semua itu juga, merupakan manifestasi dari belajar kepada kegagalan Orde Lama.
Jadi kesimpulan sementara, yang namanya orde baru itu sama saja atau setali tiga uang alias sami mawon dengan segala borok yang dituduhkannya kepada masa lalu. Seperti menelan ludah yang sudah dibuang.
Dilihat dari kejatuhannya pun tidak berbeda nyata, sama-sama berasal dari krisis perut naik ke kepala menghasilkan ketidakpercayaan. Seakan ada memandang keruntuhan Bung Karno lebih terhormat, karena sebelum meletakkan jabatan sudah mempertanggungjawabkannya kepada mandat dengan Jasmerah yang akhirnya menjadi lampu merah bagi dua windu kekuasaannya. Lebih parah lagi, lengsernya Pak Harto diikuti penjarahan dan gugatan harta pribadi dan keluarga yang semua orang tahu tidak semuanya berasal dari gaji dan penghasilan seorang presiden.
Yang menarik, hal kedua ini tidak terjadi di masa lalu. Padahal kekayaan Sang Arsitek bercecer disepanjang jalan. Tidak ada masa yang menjarah huruf alif raksaksa di Masjid Istiqlal, memboyong patung pemuda ke rumah atau mimindahkan air mancur menari-nari ke halaman tempat tinggal pribadi, bahkan puluhan kilogram emas di Monumen Nasional tidak dilirik.
Kepergian Pak Harto dari singgasana juga diusir oleh kadernya sendiri, orang-orang yang sebelumnya matur dan nutur untuk dapat duduk dikursi dewan yang terhormat. Puncak pimpinan yang secara resmi memaklumatkan ketidakpercayaan masyarakat atas kepemimpinannya juga tidak lain dari orang yang semula dimomong dan ditimang-timangnya.
Barisan strategis yang telah disusun sedemikian rupa porak-poranda pada akhir kekuasaannya. Berubah haluan, berbalik menyerang. Tidak sedikit yang tanpa malu-malu menjadi Pahlawan Kesiangan menyalamatkan diri dan berkoar, mencaci-maki. Padahal saat beliau berkuasa, mereka bertekuk lutut jadi penurut yang selalu manggur-manggut dan rajin berdzikir, ”Inggih, Inggih, Inggih !”
Senasib dengan orator ulang yang digantikannya, kepergian Anak Desa dengan diikuti pengikis habisan segala bentuk dari yang berbau Soeharto. Semua dikubur dalam tumpukan jutaan lembar kertas-kertas pidato yang pernah dibacakannya.
Masa Kini
Reformasi total, mengoreksi segala yang diwariskan Bapak Pembangunan. KKN yang sudah membudaya dari tingkat pusat sampai ke RT, bahkan mencemari organisasi kecil sekalipun baik yang berhubungan dengan pemerintah maupun tidak, kebebasan yang terkekang atas nama demi kestabilan politik dan keamanan negara dengan penciptaan Undang Undang dan peraturan dan masih banyak lagi PR-PR lain yang harus dikerjakan Pemegang Tampuk Pimpinan Masa Reformasi kalau tidak mau didepak karena krisis kepercayaan berikutnya.
Tidak dapat dipungkiri banyak yang berubah pasca puncak aksi reformasi, angin kebebasan mulai berhembus. Partai-partai baru tumbuh subur bak cendawan di musim hujan. Mulai organisasi tua seperti Kosgoro, NU, Muhammadiyah dan saudara-saudara se-jaman-nya sampai kepada partai yang tidak bisa dilepaskan dari munculnya koreksi terhadap Orde Baru seperti PUDI.
Yang sangat memprihatinkan justru mulnculnya partai-parti yang diproklamirkan oleh para Pahlawan Kesiangan yang sebenarnya hanya mendomleng momentuk reformasi padahal, sama sekali tidak ikut andil dan bisa jadi anti reformasi itu sendiri. Bahkan ditengah kebutaan generasi muda tentang Proklamator bangsanya, muncul pula partai-partai yang berusaha memunculkan ajaran-ajaran beliau......Sang Marhaen.
Kegamangan generasi muda akan politik yang merupakan wujud nyata keberhasilan kurikulum sekolah ciptaan Orde Lama. Ironisnya dimanfaatkan menjadi ajang pesta partai yang lebih banyak menyorti keadaan politik yang sangat menarik sebab di sanalah tersebunyi harapan dan ambisi. Sementara krisis ekonomi tetap dibiarkan menjadi tontonan, sekali-sekali menjadi materi pidato yang enak untuk diucapkan. Padahal, akan jadi seperti apa bangsa ini kalau dikendalikan oleh orang-orang yang terus menari-nari di atas penderitaan rakyat, dengan dalih atas nama reformasi. Tidak mengherankan kalau keadaan yang dihasilkan hanyalah repot-nasi.
Retrospeksi kedua masa sebelumnya, tanpa belajar yang sebenar-benarnya dan mengambil pelajaran dari masa lalu maka Ibu Pertiwi akan kembali menangis karena putra bangsa yang sangat sedikit wawasan politiknya dan rakyat jelata yang merupakan kebanyakan anak-anak yang dilahirkannya hanya akan menjadi benteng nyawa bagi kenyamanan cita-cita para Pahlawan Kesiangan yang penuh semboyan. NATO, No Action Talk Only. Keadaan masa lalu yang dulu dikutuk. kembali terbentuk.
Clifford Ceertz tahun tujuh puluhan mengungkapakan pendapatnya tentang Orde Lama dimana dikatakanya bahwa Indonesia selalu tersandung dari satu sisitem ke sistem yang lainnya. Tetapi raun-raun tanpa ujung kejelasan ujungnya atau dikatakannya sebagai ”A State Manque” yang berarti suatu keadaan negara dimana aspirasi politiknya hanya bolak-balik dari satu sistem kesistem yang lain tetapi semuannya tak kunjung tercapai.
Bagaimana tidak, kenangan Orde Lama yang selama empat windu dikubur sekarang dibangkitkan lagi dengan segala pujian kefair-annya dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara. Akankah itu benar-benar terjadi? Hal ini tidak dapat dilepaskan dari kebiasaan untuk yang selalu mengutuk Si Terpuruk, memuja penguasa atau akan berkuasa dan mengenang masa lalu yang tidak pernah dialami langsung, sebagai sesuatu yang lebih indah indah dari segalanya.
Tidak menutup kemungkinan Orde Baru yang sekarang dihajat habis-habisan pada saat ini juga akan menjadi barang berharga penuh pujaan disuatusaat nanti, dipasca reformasi? Akankah terus bolak-balik seperti ini? Tanpa ujung pangkal yang jelas dan mantap.

PESAN SPONSOR======================================================

Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :

http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto

========================================================TERIMAKASIH

IBU

Tidak ada manusia yang pernah meremehkan peran-mu, kecuali mereka yang termasuk golongan bukan manusia !


Ibu. Begitu besar makna tiga huruf itu bagi kelangsungan perputaran roda bumi sehingga penghuninya sangat mengagumkannya.
Dalam tangis, anak kecil memulai isaknya dengan, ”Ibu...! Keselamatan disyukuri sebagai, ”Berkat doa Bunda,” Ketidaksengajaan dan keterkejutan pun diselingi, ”Duh, Biyung !” ”Akh, Ibu”. Juga menjadi awal kesalahan yang tetap dijalankan. Masih banyak kejadian lain yang menyentakkan hati nurani lebih sering membuat latah,”.....Ibu”.
Ibu pun merupakan suatu gelar kehormatan yang disandang seorang istri. Orang rumah Pak Lurah otomatis dipanggil Bu Lurah. Istri Pak Guru tidak sedikit memanggilnya sebagai Bu Guru. Tidak ada pembawa acara yang berani menolak bila harus menyebut pendamping setia Pak Gubernur sebagai ”Ibu Gubernur yang kami hormati”.
Namun sebaliknya kepada pendamping hidup Ratu Britania Raya di singgasana, tentu tidak akan ada wartawan yang menulisnya sebagai ”Raja Inggeris” karena artinya bertolak belakang. Demikian juga suami Bu Desa tidaklah patut disebut Pak Desa karena sekalipun setiap hari beliau hadir di Kantor Kepala Desa bukan untuk ngantor tapi untuk ngantar isteri ngantor.
Penghargaan untuk ibu bukan hanya sampai di situ, hubungan personal semata, tetapi terkait dengan hal lain sehingga melahirkan berbagai pesonifikasi. Penduduk negeri nan indah permai bak hamparan zamrud di katulistwa ini denan bangga menyebut tanah leluhurnya sebagai Ibu Pertiwi. Penghuni Batavia juga lebih senang menyebut dirinya tinggal di Ibukota, sama sekali bukan Ibukota Kecamatan ataupun Ibukota Kabupaten atau bahkan Ibukota Provinsi DKI Jakarta.
Dunia sana punya The Mother’s Day. Selain itu, negeri permai ini punya hari khusus untuk kaum ibu, yang diperingati setiap tanggal 22 Desember seperti yang baru saja kita peringati bersama yang belum lama ini. Terlepas dari anggapan bahwa hari yang lain adalah milik bapak-bapak toch sampai sekarang tetap tanpa peringatan hari Bapak. Pencetusan Hari Ibu merupakan pengejawantahan dari penghargaan yang sangat tinggi terhadap ketulusan seorang ibu.
Makna ibu sedemikian agung, tetapi berbeda nasib dengan ciri, sifat serta fungsi ibu sendiri. Di KTP ibu-ibu di tulis jenis kelaminya wanita, ada juga yang menuliskannya sebagai perempuan. Biodata yang dibagikan kepada peserta penataran-penataran sering mencantumkan status kawin/janda tetapi jarang yang menyertainya dengan kata duda buat pilihan janda jantan.
Konotasi negatif diarahkan orang bila kata ”wanita” disebut. Ada Wanita Tuna Susila (WTS), buat penghibur pria hidung belang yang lebih favorit daripada PTS, Pria Tuna Susila yang boleh jadi jumlahnya lebih banyak lagi bahkan bisa jadi pabrik WTS. Padahal kata WTS tidak selalu miring, bisa jadi sebutan yang pas untuk istri-istri yang ditinggal merantau oleh suami tercinta Wanita Tinggal Suami, demikian juga pas untuk gadis tetangga yang wajib dilirik Wanita Tetangga Sebelah.
Wanita sering dipanjangkan sebagai ”wani ditata” yang artinya bisa diatur alias bisa dibentuk sesuai keinginan, sehingga banyak ibu-ibu yang tidak mau menulis jenis kelaminnya dengan wanita. Banyak yang lupa, ada Polisi Wanita yang dikenal lebih konsisten dalam menjalankan tugasnya daripada yang tanpa embel-embel wanita.
Denikian juga kata ”perempuan” tidak lebih baik nasibnya daripada kata wanita. Per-empu-an, dapat di-empu-kan persembahan, dapat dipersembahkan. Tidak sedikit yang terpengaruh oleh pandangan sinis Motinggo Busye dalam romannya ”Perempuan” yang menceritakan perempuan pendamping hidup Maeda sebagai mahluk misterius yang dengan bangga dapat menari-nari lemah gemulai di balik kelambu perih dan derita suami yang sebenarnya sangat tahu apa yang selalu dilakukannya.
Sekarang dikalangan jet set populer istilah PIL yang lebih diartikan sebagai Perempuan Idaman Lain daripada Pria Idaman Lain yang menjadi penyebabnya. Tidak kalah negatifnya istilah perek (permpuan eksperimen) untuk menggantikan sebutan WTS. Bagi yang cuma sekedar bisa dipandang disebut sebagai perek juga, perempuan eksotis. Demikian juga kalau tingkatnya dianggap sedikit ganjil yang bisa dijadikan pengamatnya kelewat usil, permpuan eksentrik.
Banyak yang lupa perek-perek yang lain, yang sangat berjasa memanjakan sesama mahluknya dengan barang-barang elektronik yang tercipta dari kepiawaian tangan trampil mereka, perempuan elektro yang banyak bekeja di berbagai perusahaan elektronika.
Status janda, terutama yang cantik dan kaya akan segera diarahkan ke makna yang sangat buruk terutama oleh mereka yang merasa tersaingi, sebagai penggoda suami-suami daripada bahan koreksi para ibu dalam melayani para suami yang tanpa di goda sekalipun sudah lebih dulu menggoda karena sangat tergoda. Padahal status demikian tentu bukanlah harapan seorang istri, bahkan mungkin tidak terbayang tentunyakan sebelumnya. Apalagi dulu, saat-saat indah merangkai kata berencana untuk membentuk sebuah bahtera rumahtangga. Dia adalah tamu tak diundang yang datang dan memaksakan diri untuk disandang. Apapun sebabnya.
Ironisnya ejekan kepada para janda yang lanjut usiapun tidak kalah menyiksa. Tidak banyak yang berfikir, bahwa tanpa ibu yang merelakan suaminya berlaga di medan juang, tanpa ke ikhlasan mereka bila memikul gelar yang sering menjadi bahan cemoohan itu, maka Taman Makam Pahlawan yang sampai sekarang masih banyak lowongan itu akan lebih kekurangan penghuni lagi.
Istri-istri yang jelas-jelas punya suami sekarang dapat juga diartikan menyimpang. Istri simpanan makin jadi sorotan tetapi kameramen lupa atau pura-pura tidak tahu, siapa orang yang menyimpan istri bahkan digambarkan sebagai monster yang menakutkan. Sementara suami-suami yang penuh pengertian akan kebersamaan dalam mengarungi lautan kehidupan berumahtangga dianggap sebagai angota ISTI, Ikatan Suami Takut Isteri. Tauladan dari Siti Khodijah, istri Nabi Muhammad SAW sering dilupakna.
Dalam lajang awalpun, sebelum menjadi seorang istri, calon ibu yang disebut sebagai perawan sering menjadi bahkan gunjingan. Bukan terpengaruh ”Perawan di Sarang Penyamun” atau pun keberhasilan detektif swasta dalam ”Mencari Pencuri Anak Perawan”. Mereka yang baru tumbuh dewasa itu disebut juga ABG, Anak Baru Gede, suatu sebutan yang seharusnya juga diberi kepada anak laki-laki yang baru minginjak akil baligh. Demikian juga ada yang mengolok-olok dengan kepangkatan militer, Prada dan Pratu. Jarang yang melirik kilas balik perjuangan perawan suci Maryam yang melahirkan Utusan Allah, Nabi Isa a.s.
Kembali ke soal ibu-ibu yang begitu berat fungsi dan tugasnya sekalipun sekarang bisa tidak berkurang karena tidak langsung menjadi ketua Organisai ini-itu dan sebagainya. Seorang ibu mantan walikota mengungkapkan bahwa tugas yang paling membebaninya adalah tugas sehari-hari di rumah. Kewajiban sebagai ibu rumah tangga.
Ibu tersebut memang sarat dengan pengalaman bertahun-tahun menjadi ibu nomor satu di puluhan organisasi. Beliau sangat menyadari tugasnya sebagai seorang istri.
””Rumah tangga adalah nomor satu !” Begitu beliau selalu mengingatkan kami,” kata Bu RT yang pernah dicatat penghulu sebagai seorang istri mantan Ketua RT kami almarhum menimpali.
”Tugas-tugas yang lain, sesulit apapun akan dapat diatasi dengan otak ataupun tangan. Sendiri, berkelompok atau bisa juga minta bantuan orang lain. Namun soal beban membebani, itu bukan sembarang masalah, Nak!”

PESAN SPONSOR======================================================

Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :

http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto

========================================================TERIMAKASIH

MINYAK

Suatu saat, negeri kaya raya dengan hasil alam melimpah ini pernah harus mengimpor minyak goreng untuk masyarakatnya yang sebagian besar harus hidup di bawah garis kemiskinan ....

Yang dibaca seorang sarjana baru pertama kali yang baru lulus dari almamater tercintanya koran atau tabloid atau majalah setebal apapun tidak lain kecuali salah satu kata kunci ”lowongan”.
Entah makna apa yang lebih jauh menusuk nurani dan menjadi sangat berarti dari makna literlijk yang dikandungnya sehingga rangkaian delapan huruf tersebut sangat menentukan masa depan seorang intelektual muda. Sehingga berbingar-bingarlah hati ketika saat disibukkan membolak-balik halaman mencari judul iklan tersebut, ada yang menawarkan lowongan sebuah pekerjaan yang sangat menantang. Di pertamina pula.
Namun apa daya, tidak semua sarjana dapat diterima di perusahaan BUMN itu. Tetapi tawaran kali itu ternyata lain dari biasanya, semua jurusan bisa diterima. Akan ditraining sebagai tenaga pemasaran. Marketing executive, sebuah posisi ujung tombak bagi setiap perusahaan yang sangat menggelitik semua insan muda yang menyukai tantangan.
Tenaga marketing memang sangat menjanjikan. Bukan hanya penghasilan lebih yang dapat dicapai (tentu saja tergantung prestasi) tetapi juga sarana yang diberikan perusahaan biasanya maksimal. Anak emas perusahaan. Apalagi produk pertamina adalah kebutuhan yang sangat diperlukan masyarakat secara keseluruhan, tentu akan sangat mudah memasarkannya. Soal fasilitas, tentu saja lebih baik dari pada perusahaan BUMN lain yang bila dikalkulasikan dari tahun ke tahun hanya menggerogoti uang negara yang sudah kelewat baik.
Ternyata bukan hanya sarjana, bahkan yang tidak pernah menginjak bangku sekolahan pun dapat ikut meperebutkan tantangan itu. Bukan hanya yang pandai berdiplomasi dalam meyakinkan konsumen, karena produk perusahaan ini dapat dipasarkan siapa saja. Sampai yang gagap atau bisu sekalipun, sebab yang diperlukan hanya meneriakkan satu kata atau menuliskannya besar-besaran, ’Minyak !’.
Terlepas dari rumor yang menggelitik tentang sarjana baru di atas, kehidupan manusia memang tidak bisa lepas dari benda bernama ’minyak’.
Plastik tipis yang digunakan sehari-hari untuk membunkus ikan asin sekalipun berasal dari minyak bumi yang diolah dengan teknologi modern, demikian juga aspal yang menguatkan ataupun hanya mengotori jalan adalah bagian dari minyak bumi yang telah lama digali dan diolah di negeri kita. Sekarang bahkan minyak bumi dimanfaatkan sedemikian rupa sehingga residunya pun dapat digunakan untuk memperindah wajah yang sudah cantik, padahal selama ini terbuang atau bahkan mengotori produk yang dihasilkan.
Melirik masa lalu, nenek moyang kita pun sudah telah mewariskan berbagai macam minyak. Minyak kelapa yang diolah dari kopra dengan cara yang sangat sederhana tetapi sangat besar manfaatnya sampai minyak untuk kepentingan tertentu seperti minyak nyong-nyong untuk mendekatkan satu hati ke hati lain yang menghendaki. Ada juga minyak landak untuk mengobati luka dan borok yang tidak dapat disembuhkan dokter karena jaman mereka memang belum ada dokter. Selain itu ada lagi minyak binatang yang lain seperti minyak lintah dan minyak kecoa untuk kepentingan calon ibu dan bapak.
Sesuai dengan perkembangan teknologi, maka minyak yang dikenal masyarakat pun sudah dalam berbagai bentuk dan dari berbagai negara. Sejak bayi merah baru lahir paraji yang menanganinya sudah mengenalkan mereka dengan minyak bayi atau yang lebih populer dengan baby oil. Anak kecil pun sekarang bisa menikmati ekstrak penghuni laut raksaksa yang ganas cukup dengan menelan butiran bening minyak ikan. Yang dewasa lagi dapat memperindah rambutnya dengan minyak rambut.
Bau khas yang menjadi ciri manusia hidup warisan leluhur yang melekat dengan keringat pun dapat berubah setelah hidung menciumnya, dikelabui minyak wangi ekstra melekat dan sebangsanya. Ketika ada yang tidak sadarkan diri untuk sementara maka minyak kolonyo mengambil peranan. Bahkan saat jasad melepas dari alam kehidupan untu selama-lamanya pun kepergiannya masih di iringi dengan minyak wangi air mata duyung.
Ternyata manusia semenjak hadir ke permukaan dunia menjemput hayat sambai akhirnya disholatkan sebelum ditinggalkan sendirian di liang lahat tidak pernah terlepas dari benda ajaib bernama ’minyak’.
Berbicara tentang minyak dan teknologi, maka entah hanya sekedar rumor atau ejekan bahwa negara kita ternyata beberapa langkah lebih maju. Bukan hanya mengolah minyak bumi yang makin maksimal ataupun pemanfaatan sumber daya hayati sebagai bahan ekstarak yang makin meluas tetapi juga penggunaan bahan baku non hayati yang sudah dari dulu ada.
Minyak angin adalah bagian kehidupan penghuni pertiwi. Menurut sumber yang dapat dipercaya, selama perjalanan keliling dunia, seorang pejabat mendapat kesulitan bahkan tertawaan ketika berusaha membeli untuk bahan yang namanya air oil di apotik. Tidak pernah ada. Apalgi tejual bebas di warung-warung kecil seperti disini.
Di tengah kencangnya promosi untuk mencintai produk dalam negeri ternyata justru makin banyak beredar minyak import. Setidak-tidaknya import numpang nama semata. Minyak lintah dan minyak kecoa misalnya, keduanya lebih dikenal para bapak dan ibu sebagai minyak Cina. Padahal sama sekali bukan produk asal impor dari negeri Ho Chi Min tetapi hanya buatan lokal. Seratus prosen produk lokal, karena di Indonesiapun banyak kampung Cina, bahkan tidak jauh dari Batusangkar ada juga Guguak Cino yang dilafalkan dengan bahasa Indonesia sebagai Guguk Cina.
Sampai sekarang, kehidupan manusia tidak dapat terlepas dari minyak. Mungkin karena menurut perhitungan yang menuturkan bahwa keberadaan manusia itu sendiri tidak pernah lepas dari minyak! Itu hanya cerita, entah siapa narasumber utama cerita itu, mungkin dari si Parni Hastjuti atau pun Parno Gentolet bin Porno Amat.
Oleh karena itu betapa keras jeritan ketika harga minyak naik, sebagai dampak hukum pasar ataupun karena standar harga disesuaikan oleh pemerintah. Tak sedikit mengundang protes. Tentu saja teriaknya akan lebih garang dan lantang lagi. Apalagi minyak sempat menghilang di pasaran.
Dari sekian banyak yang menjadi jalan hidup ataupun melengkapi kehidupan manusia, maka minyak goreng merupakan minyak yang paling dibutuhkan sekaligus paling gampang naik. Sebagaimana minyak lainnya, minyak goreng pun selalu mendapat kesulitan menurunkan harga dirinya.
Minyak goreng atau orang Batusangkar dan masyarakat Minangkabau menyebutnya sebagai minyak makan, sekitar dua atau tiga tahun lalu menjadi pembicaraan yang sangat hangat karena harganya yang semakin menanjak. Bahkan beberapa waktu yang lalu saat krismon menjadi bagian latah lidah nenek-nenek sekalipun. Cairan pengisi penggorengan ini sempat sembunyi dari bisingnya teriakkan ibu-ibu di pasar, kalau tidak dibilang lenyap dari pasar dan disertai harga yang melambung tinggi, kalaupun ada.
Problematika kenaikan harga minyak goreng sebenarnya dari tahun ke tahun sama saja alias sama mawon. Harga bahan baku Crude Palm Oil atawa minyak kelapa sawit yang merupakan bahan baku minyak goreng sangat banyak diproduksi di Indonesia, mencapai 4,5 juta ton per tahun. Kemudian kapasitas produksi pabrik minyak goreng juga tidak sedikit, mencapai 4,0 juta ton per-tahun. Belum lagi minyak goreng yang diimpor atau berbahan lain selain CPO itu, seperti minyak jagung, minyak zaitu, minyak kedelai dan sebagainya.
CPO yang dihasilkan perkebunan tanah negeri ini, 1,9 juta ton diantaranya diizinkan untuk diekspor yang berarti kebutuhan untuk dalam negeri berkurang. Jangan harap kapasitas produksi pabrik minyak goreng yang kekurangan bahan baku itu dimaksimalkan dengan CPO impor. Soalnya harga CPO di pasar internasional jauh lebih tinggi daripada minyak goreng yang dihasilkan dalam negeri sekalipun.
Sebagai bandingan, sekalipun pada dua tahun terakhir sempat dikenakan pajak ekspor sebesar 40 hingga 70 prosen, pengusaha tetap meraih keuntungan yang menggiurkan dengan mengalirkan CPO ke negeri seberang. Nah, kalau demikian, tentu bisa saja bukan hanya 1,9 juta ton jatah ekspor itu saja yang keluar. Maklum, namanya minyak, daya kohesinya cukup tinggi. Apalagi ditambah gaya tarik yang membengkakkan kocek.
Kalau dipikir balik, dua tahun lalu, dimana uang mata uang Monica baru beberapa ribu lebih sedikit saja pengusaha lebih memilih mengekspor CPO-nya yang notabene disubsidi dengan pajak rakyat. Apalagi saat sekarang, ketika reformasi bergulir dan kurs dollar setinggi Monica dan berbanding terbalik dengan Ateng yang makin jungkir balik. Tidakmengherankan apabila minyak goreng makin hengkang dari pasaran dalam negeri. Sekalipun ada, harganya susah direm seperti halnya ibu-ibu yang sangat sulit mengurangi laju keinginannya menggunakan minyak goreng diantara kepul dapurnya.
Minyak goreng bersama saudara lain pabriknya, mentega, merupakan salah satu bahan pokok yang sangat diperlukan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan ditetapkan dengan keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan nomor 115/MPP/Kep/2/1998 tanggal 27 Februari 1998, minyak gorang dan mentega sebagai salah dua bahan pokok dari sembilan bahan pokok setelah beras dan gula pasir. Kemudian baru disusul daging sapi dan ayam, telur ayam, susu, jagung, minyak tanah dan garam beryodium.
Di tengah krisis yang terus membuntuti, harga minyak goreng juga bervariasi menyesuaikan dengan keadaan. Sungguh bertolak-belakang dengan penghasilan masyarakat yang relatif tetap atau bahkan makin berkurang, kecuali bagi sebagian petani yang disaat seperti ini justeru sedang menikmati harga produk perkebunannya yang sangat melambung. Tidak ada kata yang lebih tepat kecuali berhemat !
Menghemat minyak goreng berarti menghemat dalam banyak hal. Bukan hanya minnyak goreng cair yang dapat dibeli saat pasar murah dan disimpan lamadalam drum sampai tengik. Tetapi juga harus memikirkan masa depan, menghemat biaya kesehatan akibat mengkonsumsi lemak tak jenuh. Mulai dari obesitas yang membuat badan semakin gembul dan berat, jerawat yang ringan sehingga dengan mudahnya menempel di hidung remaja, sampai beberapa gangguan kesehatan lainnya yang berhubungan langsung dan tak langsung dengan konsumsi minyak goreng.
Mengurangi pemakaian minyak goreng tanpa mengurangi nikmat masakan memang tidak mudah tetapi akan sangat banyak manfaatnya untuk meningkatkan nikmat sehat. Menggunakan minyak goreng secara berulang-ulang juga bukan bukan cara penghematan yang tepat. Bahaya kanker mengincar konsumen yang umumnya tidak tahu pasti kalau minyak goreng yang digunakan adalah jelantah.
Kalau upaya yang ditempuh untuk menghemat tidak tepat dan menjadi rawan kanker maka buka lagi menghemat namanya. Apalagi kalau tidak ada usaha untuk melakukan penghematan, apalagi disaat sulit seperti sekarang ini. Kanker ganas yang lebih ganas dari yang paling ganas siap mengintai.
Bisa-bisa kantong kering atau kata Dewi Sukarno, ”Saku rata !” alias indak bapitih ....

PESAN SPONSOR======================================================

Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :

http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto

========================================================TERIMAKASIH

Minggu, 09 Mei 2010

K K N

Banyak sekali kepanjangan KKN, dirangkai menjadi kalimat atau sekedar dipantas-pantaskan saja.

Karuhun Kenegerian Ngastina mungkin satu-satunya dialami ini yang dulunya tgak berdiri dengan sponsor para mahasiswa yang hampir mengakhri masa kuliahnya, dengan mengabdikan kepada masyarakat atawa kuliah kerja nyata. Selain jelas berbeda dengan Negeri Astina yang ada dalam alam pewayangan juga sebenarnya Ngastina hanya merupakan bagian dari Negeri Khayal yang tidak ada di alam nyata.

Sebagai negeri yang didirikan oeleh para idealis dari pusat penggodongan intelek, tentu saja Ngastina sustu negeri republik yang menanut sistem demokrasi. Ada Kongres Kenegrian Ngastina yang tidak kalah majemuknya daripada Kongres di Negeri Paman Sam. Demikian juga ada Kabinet Kekayaan Ngastina merupakan susunan dewan menetri yang berada dibawah Kepala Kabinet Ngastina setingkat Perdana Mentri di Buckinghum. Tetapi sebagai bagian dari Negeri Khayal tentu pucak tertinggi kekuasaan dijalankan oleh seorang raja.

Adalah merupakan salah stu kisahkasih kalau dalm kekuasaan raja yang telah turun temurun juga sedikit imbas negatifyang juga ikut-ikutan turunmenurun plus senggol sana senggol sini sehingga kedamaian demokrasi Ngastina yang dirintis para pelopor makin lama makin jauh dari harapan., makin melenceng dari tujuan negara seperi halnya yang tertuang dalam undang-undang.

Perhatian yang berlebihan terhadap golongan tertentu misalnya, yang jelas-jelas melanggar aturan main yang telah digariskan bukan hanya menyebabkan kelompok yang lain merasa tersingkirkan tetapi benar-benar dibuang jauh-jauh dari kekuasaan atau bahkan terpuruk ke dalam kandang sitimbin. Keadaan demikian merupakan salah satu warisan kecil-kecil numpuk, mungkin lama ngastina mengarungi kedemokrasianya ternyata makin ada kecenderungan ke arah sana.

Boleh saja kalau kantong-kantong nasi yang dikambinghitamkan, boleh jadi dialah sebab utamanya yang akhirnya mendorong untuk menghalalkan segala cara termasuk kasak-kusuk nyebeng. Hal inilah yang akhirnya terwujud dalam bentuk personil Karena Korupsi Nyangkut, Kenal Kolusi Nempel dan tidak boleh dilupakan Kong Kalingkong Nepotisme pun ada disegala bidang kehidupan bangsa dan bernegeri.

Perjalanan panjang yang di alami ngastina dalam mengarungi peredaran galaksinya yang sudah demikian mengakar atu bahkan boleh disebut mendarah daging atu tidak bisa lagi menolak kalau dikatakan sudah membudaya, tentu hal yang demikian yang berlangsung dari waktu ke waktu menjadi bahan kajian para intelek. Kaum Kerja Negeri ngastina tidak lepas menjadi sorotan, karena memang mereka adalah salah satu penikmat semacam upeti yang disetor masyarakat kepada bangsanya tercinta. Sementara para pembayar sendiri sebenarnya kebanyakan termasuk pelaku kerja ngelangsa alias menderita. Sehingga tak mengherankan, begitu gelombang kehidupan ekonomi negeri terguncang menyulut terbakarnya kumpulan krisis nyusup atau tersembunyi termasuk Krisis Kepercayaan Negeriawan yang dianggap sebagai bagian yang terlibat dalam menodai nilai perjuangan para pendahulu.
Sorotan utama tentu saja diarahkan kepada para wakil masyarakat yang duduk di Kursi Kerja Ngantuk, yang mestinya mereka menyerahkan jeritan hati nurani rakyat dengan kekhasan gayanya, kritis-kritis ngomongnya. Bukan hanya Keluh Kesah Nangis seperti merasa ketakutan Kehilangan Kursi Nantinya, pada periode pemilihan umum kedua setengah tahun berikutnya. Sehingga mereka tidak berbeda dengan Kumpulan Kepala Nunduk karena asik merasakan kontak kantuk nikmat dan kalau ada ketukan palu ketua sidang jadilah suara mereka alunan Koar Kepala Ngangguk.

Padahal anggota Kongres Kenegrian Ngastina jelas-jelas dipilih melalui prosedur yang sangat lama dan mahal serta melibatkan segenap isi negeri Ngastina tetapi ternyata tidak lepas dari intaian inyiak balang untuk Kedap-Kedip Numpang, sehingga muncullah orang-orang yang kadang tak tentu rimbonya tapi bisa dikenal dari empal-empal di belakang nama kecilnya ada hubungan dengan si anu plus dan ada gesekan dari si Ani dan tidak lupa salam tempel untuk si Ana. Jadilah pemilihan umum menjadi pemilihan orang-orang tak dikenal orang partainnya seklipun tetap harus jadi karena memang Kecil-Kecil Nomornya.

Padahal betapa sulitnya untuk dapat sepuluh besar sekalipun kontestan pada setiap pemilu tidak pernah kurang kurang dari oleh 123 partai. Berberapa ketua partai malah harus hilang dari peredaran, namanya sekalipun tidak dalam daftar yang di umumkan kepanitiaan pemilu, ngastina atawa tidak kebahagiaan nomor. Nama-nama meraka hanya ada di Kepanitiaannya Kepiluan Ngastina.

Sementara itu cendiak pandai membuktikan kekonsistenan dan kecendekiawanan mereka dengan menyeruhkan suara hati rakayat yang makin menderita dalam berbagai krisis dan tiba-tiba ditambah dengan kebijakan baru yang justeru makin menindih kehidupan Keluarga Kecil Ngisor (dibawah) sehingga mereka bak jatuh dari tangga kejebur sumur, eh dinding sumurnya runtuh! Reformasi total! Mau tidak mau harus dilakukan sehingga roda kenegerian tidak jadi kenegerian, jalan normal seperti harapan seluruh rakyat dan cita-cita pendiri negeri di alam kelanggengan. Tentu saja sorotan tajam reformasi pada keadaan sumber daya manifulasi eh manusia di Ngastina yang sudah begitu melekat dengan korupis, kolusi dan nepotisme yang merupakan sumber musibah bagi rakyat tetapi menjadi ladang berkah bagi para pejabat.

Kurung Koruptor Negeri! Kikis Kolutor Nyinyir! Dan juga singkirkan sistem Kerabat Keluarga Nepotis! Dan berbagai jargon lain bermunculan memenuhi semua sudut jalan di Negeri Ngastina yang memang cuma sedikit. Inti dari semuanya tidak jauh berbeda memerangi jajaran kenegerian dari para koluptro, kolutor, dan nepotis.

Namun demikian karena ketebatasan news, entah bagaimana kelanjutan perjuangan para intelek itu sekarang. Tetapi berita terakhir yang sempat tersiar melalui media elektronik yang makin dekatdan berpihak kepada para reformis, mereka tidak sikucapang sikuacapeh sikua tabang sikua lapeh yang akhirnya malah dapat mngakibatkan iklim kehidupan bernegeri makin ngeri dan tidak menentu tetapi akan selalu mehasilkam produk reformasi yang dapat membangkit batang tarandam karena sadar akan nasib negeri Ngastina yang makin terpuruk dimata negeri ngeri khayal tetangganya.

PESAN SPONSOR======================================================

Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :

http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto

========================================================TERIMAKASIH

DEMONSTRASI INTELEK DAN DEMONSTRASI IN TELEK

Demo, demo dan demo. Setiap ari ada demo, itulah keadaan kita saat menuju orde impian, repot-nasi, eh ... reformasi.

Intelek dan in Telek adalah dua buah kata yang boleh saja dibilang ’bagai pinang dibelah dua’ dengan mandau karatan, tumpul pula. Jadilah kedua belahannya tidak saling sama.

Dalam kamus umum bahasa Indonesia (KUBI) yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, tertulis, bahwa intelek dapat diartikan sebagai daya atau proses pikiran yang lebih tinggi yang berkenaan dengan pengetahuan, daya akal budi, dapat juga diartikan sebagai terpelajar atau cendekia.

Sedangkan in Telek adalah dua kata yang tidak hanya mengandung kesatuan arti tetapi juga asal muasalnya dari dua negeri yang saling berjauhan. In sendiri berasal dari negeri Tante Elizabeth dan Telek adalah salah satu kata yang ada dalam bahasa sehari-harinya Si Mas yang beratnya tidak pernah dinyatakan dalam gram.

In artinya di dalam dan Telek kira-kira analog dengan ransum bermutu tinggi yang di patuk ayam, selanjunya mengalami proses biologis yang sedemikian rumit dalam tubuh dan setelah zat-zat yang berguna untuk hajat hidupnya sebagian besar terserap, ya.....dikeluarkan! Kira-kira begtulah telek dan jadilah telet untuk sebutan jelek-jelek.

Lantas apa hubungannya dengan demonstrasi? Sekali lagi, kata KUBI yang sama, demonstrasi adalah pernyataan proses yang dikemukakan secara massal atau unjuk rasa. Suatu kegiatan yang sedang marak akhir-akhir ini.

Tidak boleh dilupakan bahwa sangat besar peran demonstrasi dalam perjuangan berdiri dan tegaknya Orde Baru yang penuh liku-liku. Kalau diumpamakan Orde Baru adalah suatu mahluk dengan sejuta nyawa, maka tidak kurang dari puluhan atau ratusan bahkan ribuan nyawa cadangannya adalah demonstrasi.

Demonstrasi-demonstrasi intelek yang dilakukan para cendekia yang digodog dalam Kawah Candradhimuka, penuh pemikiran murni dan jernih menyebulkan inspirasi suci dalam menjalankan roda kehidupan berbangsa dan bernegara.

Namun demikian tidak boleh dilupakan atau diabaikan, bahwa demonstrasi intelek pun bisa tiba-tiba berubah menjadi demonstrasi in Telek. Karena dalam ketertiban unjuk massal cendekia muda dengan misi sucinya sering menyusup oknum-oknum yang sengaja ataupun tidak sengaja tetapi dapat merusak keluhuran perjuangan mahasiswa, memanfaatkan situasi untuk perut yang perlu diisi dengan sedikit aksi atau cuma sensasi.

Demonstrasi intelek mempunyai misi yang berbeda dengan para demontrasi in Telek yang sering tiba-tiba ada di tengah-tengah dan tidak bisa dibedakan lagi (sekilas) dengan para cendekia. Warga kampus membawa pemikiran idealis yang realistis, sedang golongan penyusup berpola pikir kolonialis yang kapitalis, sehingga tidak jarang merampas hak-hak orang lain seperti halnya penjajah dan tidak segan-segan menjadi penjara dan tempat yang paling tepat buat mereka sebenarnya bukan ikut dalam barisan demonstrasi intelek tetapi membuat aksi sendiri berbondong-bondong masuk penjara.

Penyusupan pendatang gelap dan akibat-akibat yang ditimbulkannya dalam unjuk rasa bukanlah masalah baru. Sejarah negeri ini mencatat suatu kejadian yang tidak boleh dilupakan, Malari. Peristiwa yang hampir membumihanguskan Ibukota tercinta dan seluruh negeri ini.

Malapetaka 15 Januari, tepatnya terjadi tahun 1974. Yang semula hanya aksi mahasiswa di lingkungan Kampus Kuning. Kemudian turun ke jalan penuh yel-yel tapi akhirnya masuklah para intelek diantara gegap gumita langkah intelek dan suasana menjadi huru-hara yang brutal. Perusakan pembakaran dan penjarahan!

Sementara Hariman Siregar, Sang Singa Dewan Mahasiswa The Yellow Jaclet (DM-UI), jadilah Bung kita ini bak singa ompong yang tidak lagi dapat mengendalikan massa yang semula digerakkannya. Karena memang sebagian bukan lagi massanya, para singa kampus. Fatalnya gigi palsu buat sing belum ada atau tidak ada yang mau ambil resiko untuk memesangkannya? Sudah bisa ditebak, tak lama kemudian perintah penahanan terhadapnya turun langsung dari Pangkopkamtib Jendral Soemitro. Jadilah Bung gagah kita Penghuni Hotel Prodeo.

Salah satu arsitek Orde Baru yang baru saja meninggalkan kesemua fana ini menghadap Sang Kholiq, Jendral Soemitro mewariskan Kepada kita catatan kejadian yang sangat memprihatinkan dan tejadi hampir 2 windu yang lalu itu scara rinci, gambalng dan jelas dalam ”Pengkopkamtib Jendral Soemitro dan Peristiwa 15 Januari 1974” yang diterbitkan sebuah penerbit di Jakarta.

Belajar dari sejarah maka par cendekiawan muda dalam menyampaikan aspirasi sucinya bukan bukan hanya harus tetap lurus dalam jalur ke-intelekkannya tetapi juga harus membentengi barisannya dari para intelek yang punya niat jelek. Pagar betis lengan dan pikiran!

Yang lalu biarlah berlalu sekarang tinggal penghuni kawah candradimuka wujudkan suatu penyampaian aspirasi yang intelek dalam situasi yang intelek pula, sehingga semuanya benar-benar menunjukan ke-Intelekan.

PESAN SPONSOR======================================================

Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :

http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto

========================================================TERIMAKASIH

KRISIS MONETER

Krisis Moneter, sebuah kenangan .... Saat yang menyedihkan, lebih sedih lagi kalau saja Tuhan tidak memperkenankan saya menjadi saksi kenyataan itu.


Menikah :

CHRIST (Ish)

dengan

MONT (Ether)



Mungkin baru kali ini judul sebuah tulisan merupakan bagian dari sebuah undangan atau pemberitahuan tentang pernikahan sepasang merpati. Boleh jadi untuk pertama kali pula ada pernikahan yang lebih sepektakuler dari pada pernikahan Charles-Diana yang super dahsyat itu. Dan tidak akan pernah terjadi bagi Raja-Ratu Sehari yang lain adalah nikmat pernikahannya bukan hanya diperbolehkan menjadi buah bibir yang suka mencibir tetapi juga kenikmatannya boleh dinikmati kalau tidak dibilang harus dirasakan oleh semua orang.

Begitu mahalnya harga sebuah pesta pernikahan, sampai-sampai menimbulkan efek yang menyebabkan harga barang berpindah. Sabun colek yang sebenarnya tercolek sedikit dalam pesta itu karena dibutuhkan untuk cuci piring hijrah memakai ke tangga Rinso yang entah akhirnya harus melejit ke barisan yang lebih tinggi. Kiwi pindah lokasi ternyata bukan hanya terjadi di Chilie sebagai peristiwa tahunan tetapi harus tiba-tiba mengepakan sayapnya yang tidak pernah untuk terbang karena mungkin sudah sangat tidak betah harus memoles-moles alas kaki, tanpa balas kasih seorang ibu maka kaleng yang tidak jarang menjadi ”ibu-ibu” bagi tangis rengek balita pun berdenteng-denteng melantunkan irama turut meramaikan pesta pernikahan Christ dan Month. Barang-barang Pramuniaga berinisiatif bertanya, ” Nyari apa sich, Bang?” Bukankah menjadikan orang kreatif suatu hal yang baik?

Sebagai orang awam, bisa saja terima alasan kalau semua ini terjadi disebabkan oleh pernikahan keduanya yang keberat-beratan sehingga kurs dollarnya The Six Million Dollar Man naik daun. Terutama untuk barang-barang import atau bahan bakunya harus didatangkan dari manca negara yang notebennya harus dibayar dengan mata uang Oom Clinton. Tetapi juga ada yang tidak bisa diterima akal sehatnya Bimoli sekalipun, harga seikat bayam saja tiba-tiba menjadi seiris paha ayam, harga kangkung tiba-tiba bergelayutan di leher kaya kalung. Atau kita tiba-tiba jadi linglung demi untung memenfaatkan suasana yang seharusnya kita tidak bingung.

Sehingga produk lokal yang jelas-jelas tumbuh berkembang di tanah warisan leluhur ini, dipelihara oleh tenaga ahli yang sama sekali tidak pernah tahu bau sabun import sekalipun, disuburkan oleh pupuk yang bukan hanya produk dalam negeri tetapi juga berasal dari diri sendiri, eh dengan alasan krismon ikut-ikutan pindah harga.


Sementara lidah masyarakat semakin fasih mengucapkan ”krismon”, terbentuknya kabinet pembangunan VII yang dimotori oleh Presiden dan BJ Habibie sebagai wakilnya merupakan titik cerah yang sepenuhnya haus didukung oleh segala lapisan masyarakat. Tidak ikut-ikutan mencari ikan di limbah pabrik kimia kecuali kalau ingin mati karena kalau makan ikan yang keracunan ataupun mampus sebelum dapat ikan.

Kalau melihat aksi-aksi mahasiswa di ”dunianya” yang semakin semarak, karena dalam dunia mereka semua bisa dengan mudah dapat diatur seperti membalikkan telapak tangan. Hanya satu hal yang sangat sulit dilakukan mahasiswa dalam menjelajahi kehidupannya, yaitu memikirkan studi dan masa depannya sendiri! Padahal itulah perasan keringat orang tuamereka, mereka memasukkan mereka ke bangku perkuliahan yan tidak murah. Fatalnya pemikiran seperti itu mukin belum ada di dunianya.

Ketegaran dan ketenangan masyarakat dalam menghadapi cobaan dari Yang Maha Kuasa ini akan melapangkan setiap jalan dari segala usaha yang dilakukan Pemerintah. Semua kita percayakan kepada mereka membidani dampak pernikahan Christ dan Month ini.

Kebijakan Pemerintah untuk menikan suku bunga Sertifikasi Bank Indonesia (SBI) hingga 45 persen untuk waktu satu bulan yang mau tak mau mencongkel bunga deposito bank-bank hingga melambung tinggi mencapai 67.5 persen merupakan usaha untuk menyiasati pernikahan sejoli yang tidak dikehendaki di atas, yang seharusnya mendapat dukungan plus memanfaatkannya (kalau punya rupia berlebih tentunya). Setidak-tidaknya tidak iktan sikap Kurt Schuler dengan pengalaman Schulernya bersama CBS alias Dewan Mata Uang untuk menjadi Dewan Penyelamat Uang bagi beberapa negara.

Sebagai bagian akhir dari tulisan ini tidak da salahnya kalau penulis berpesan agar Christ dan Month yang memaksakan diri menikah untuk segera berpisah setidaknya pisah ranjang yang akhirnya cepat bercerai atau:

Hai Month dan Christ
Kalian bikin kami harus makin irit
Padahal kehidupan sudah sedemikian pahit
Atau kalian puas melihat kami semakin pelit
Jangan bikin kami semakin sulit
Berpisahlah walau sakit
Segeralah pergi walau ke lanit
Atau....Kami usir kau hingga terbelit-belit!

PESAN SPONSOR======================================================

Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :

http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto

========================================================TERIMAKASIH