Rabu, 10 Februari 2010

KABUPATEN KANDANGHAUR

Sebuah cita-cita yang maju-mundur, sampai 10 tahun setelah ditulisnya artikel ini pun belum juga tercapai ….


Pertengahan tahun 1990-an, terbetik berita bahwa Kabupaten Indramayu akan dimekarkan menjadi dua. Kabupaten baru itu nantinya akan diberi nama Kabupaten Kandanghaur.

Bagi masyarakat Indramayu pada umumnya, apabila ditanyakan kepada mereka sebuah tempat bernama Kandanghaur maka akan segera dengan tegas menunjuk sebuah lokasi tempat Wedana dulu bermarkas, atau sebagian memberi alamat Kantor Camat Kandanghaur sekarang. Padahal apabila dilongok KTP para penghuni sekitar dua kantor tersebut, sangat mustahil ada yang beralamat Desa Kandanghaur. Bukankah di Indramayu tidak ada pernah desa bernama Kandanghaur ? Di manakah Kandanghaur sebenarnya ?

Kandanghaur adalah misteri, sangat jarang yang mengetahui keberadaan tempat yang mengandung nama besar itu. Calon sebutan untuk Kabupaten, pernah menjadi nama tempat para Wedana bergantian membantu Bupati dan sampai sekarang menjadi nama salah satu kecamatan di Kabupaten Indramayu.

Alkisah, hampir di ujung selatan Indramayu terdapat sebuah perkampungan yang sangat unik. Di sekelilingnya ditanami bambu (Sunda : haur) ori yang sangat lebat yang menutup rapat lokasi itu, meng-kandang-nya dari dunia luar dengan duri tajamnya. Hanya melalui satu pintu gerbang yang dijaga ketat para penghuni yang terdiri dari para jawara, orang boleh berlalu lalang. Tamu tak diundang sangat dipantang, seorang ksatria pun akan lenyap ditelan bumi bila kedatangannya tidak dikehendaki.

Kehebatan mereka yang diiringi sifat isolasi bukan hanya membuat iri penduduk sekaitarnya tetapi juga juga berulangkali merepotkan para prajurit kulit putih yang selalu bertindak “Atas Nama Ratu” untuk menguasai negeri ini. Berbagai tindakan, mulai jalan damai sampai penyerangan selalu membuahkan kekecewaan. Kandanghaur tidak pernah dapat ditembus sama sekali apalagi tertaklukan. Mereka harus mengakui bahwa kekuatan onak dan duri jauh lebih hebat daripada benteng-benteng beton yang pernah mereka buat.

Sadar bahwa upaya yang dilakukan selalu menemui kegagalan, Belanda memutar otak. Tidak lagi melalui perang senjata ataupun kata-kata tetapi berubah gaya seakan menjadi Santa Claus. Mereka membagi-bagikan kepingan uang emas kepada anak-anak Kandanghaur yang sedang main di luar pagar. Kilau gulden yang semula ditampik para jawara menjadi benda menarik bagi anak-anaknya.

Hal ini terus berlangsung sampai mereka tumbuh dewasa, ketika para orangtua sebagian telah menyerahkan tongkat kekuatan kepada penerusnya. Saat itu mereka sadar bahwa emas bukan sekedar mainan belaka tetapi menjadi sarana untuk mencapai segala yang diinginkan. Tanpa sadar, ketergantungan terhadap uang mulai merasuk dalam jiwa.

Mengetahui hasil kerja kerasnya selama puluhan tahun mulai menampakkan hasil, prajurit Belanda merancang strategi lanjutan. Gulden bukan lagi dibagi-bagikan dari tangan ke tangan tetapi di-sawer-kan, dilempar jauh menembus onak dan duri pagar bambu. Koin-koin emas berselipan diantara batang bambu yang sangat sulit ditembus manusia.

Wong Londo memang cerdas. Keinginan memiliki gulden membuat penghuni kampung ber-kandang haur ini nekad, dengan menggunakan golok, parang dan wadung. Bambu ori satu-persatu dibereskan. Dilumatkan dengan tanah sampai akhirnya mereka mendapatkan uang emas yang diharapkan. Perkampungan itu lambat laun tidak lagi dikurung bambu, menjadi terbuka dengan dunia luar seperti halnya para penghuni kampung tetangganya.

Pucuk dicinta, ulam tiba, di saat itulah Belanda melampiaskan dendam kesumatnya. Jawara Kandanghaur tidak lagi punya perlindungan kuat, benteng pertahanan telah jebol. Berbagai sisi yang telah terbuka dengan dimanfaatkan penjajah dengan sebaik-baiknya. Kejayaan dan kesatriaan Ki Geden Kandanghaur amblas terkubur nafsu angkara anak-cucunya sendiri.

Sejak itulah mereka berpencar, sebagian tetap di tempat dan yang lain hidup dalam kesuksesan merantau di pinggiran laut bergabung dengan para keturunan Nyi Ageng Parean.

Kandanghaur sendiri sampai sekarang tinggallah sebuah nama besar, yang tidak akan pernah mudah ditemui kecuali oleh mereka masih mau menyempatkan diri untuk menelusuri perkampungan di Desa Sukaslamet.

Dari sejarah Kandanghaur itu dapat dipetik pelajaran bahwa kekuatan sehebat apapun akan luluh-lantak bila penghuninya secara serakah dan membabi-buta tergiur pada harta. Harta siapa saja, termasuk penghasilan penjajah ataupun istilah sekarangnya ‘investor” yang digali di depan mata dari tanah milik kita.

Dalam rangka menuju kemuliharjaannya, Indramayu harus pun melalui lenggak-lenggok godaan. Gelimangan dollar Pertamina hasil sedotan kekayaan bumi Wiralodra membuat dada berdegup keras dan telinga memanas ketika mendengarnya. Beberapa pihak mencoba membakar jiwa perang dengan selebaran dan isyu-isyu logis, mudah dicerna dan sangat masuk akal sehat.

Tetapi hendaknya masyarakat menyadari bahwa untuk urusan itu sudah ada jalurnya. UU Nomor 22 Tahun 1999 (Bab IV, Pasal 7, ayat (2)) telah menggariskan dan peraturan-perundangan yang lain juga menetapkan. Walaupun kesemuanya itu menjadi daya tarik untuk bergabung bersama mereka yang ber-yel-yel, “Kita sangat dirugikan !”

Bupati Indramayu dengan forum komunikasi yang dipimpinnya pun sedang berusaha menggapai harapan masyarakat. Tidak perlu seluruh anggota masyarakat panas dan gelisah yang akhirnya justeru dapat menghancurkan segala rencana yang sudah disusun sedemikian rupa.

Pertamina memang telah meninggalkan Kota Sanga-Sanga dan Samboja sumber minyaknya dulu, dalam keadaan bak kerakap tumbuh di batu. Kehidupan di kedua kota itu sekarang, sangat bisa membuat masyarakat Indramayu khawatir dan menjadi merah mata.

Jalan damai yang ditempuh Walikota Tarakan sangatlah bijak. Pertamina bukan hanya dengan lega menyerahkan beberapa assetnya yang ditinggalkan tetapi juga kesatuan dan persatuan sebagai insan ber-satubangsa tetap terpelihara.

Hal terakhir adalah faktor terpenting apabila warga Indramayu masih menaganggap bahwa mereka adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, bukan suatu negara di dalam negara. Meskipun selama ini Pertamina di Indramayu bak Pemerintahan Daerah di dalam Kabupaten, sehingga berbagai kebijakannya termasuk yang menyangkut masyarakat Indramayu tidak pernah diketahui Pemerintah Kabupaten Indramayu.

Tragedi seperti dialami anak-cucu Ki Geden Kandanghaur dulu tentu tidak perlu terulang dalam menuju Indramayu Mulih Harja. Tindakan gegabah penuh dendam dan kebencian, seperti aksi massa yang sudah pasti diiringi kekerasan dan kehancuran, hanyalah jalan menjadikan Indramayu sebagai Kandanghaur kedua.

PESAN SPONSOR======================================================

Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :

http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto

========================================================TERIMAKASIH

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar